Ipar Laknat

Ipar Laknat
CH 33 • IPAR LAKNUT - Kenyataan •


__ADS_3

Pagi itu, Damar dan Nadia mengantar Nathan kesekolah, sementara Damar mengambil cuti untuk pindahan skaligus berberes di rumah baru. Karena mereka sudah di usir oleh pak Budi.


"Mas..."


"Heemm?"


"Sampai kapan kita kek gini?" Tanya Nadia dengan nada menuntut, saat mereka tengah membongkar beberapa pakaian dan barang.


"Kek gini gimana Nad?"


"Papa, nggak merestui kita."


"Kita nggak bisa maksa papa buat Nerima kita Nad. Kita usaha dulu. Seenggaknya, mama udah berpihak sama kita. Nanti mama bakal bantu kok Nad."tutur Damar mencoba memberikan pengertian pada Nadia.


Nadia bernafas lesu. "Iya mas."


###


Hari berikutnya, Damar sudah masuk kerja lagi, hari ini ia dipusingkan oleh beberapa tuntutan dari papaa dan pemegang saham karena beberapa proyek yang sempat mangkrak.


Tentu saja, Damar menekan bawahannya agar semua berjalan sesuai rencana. Dan tak ada yang mencurigai.


"Sialan! Aku harus menutup semua segera sebelum ketahuan papa."


"Bagaimana bisa seorang pemegang saham melakukan audit seperti ini."


"Siapa sebenarnya yang sudah mengusikku itu?"


"Aku harus membuat perhitungan dengannya."


Damar berbicara pada dirinya sendiri diruang kerjanya dengan emosi yang meletup-letup. Mengacak rambutnya dengan frustasi.


"Aaaarrrgg...." Damar mengusap meja kerja nya hingga semua yang ada diatasnya jatuh berhamburan.


Telpon selulernya berdering, beberapa kali. Damar yang masih emosi itu dengan kasar merogoh kantong celananya. Melihat layar pada hapenya. Panggilan dari Nadia.


Damar mengusap dada nya yang naik turun. Setelah agak tenang. Ia pun mengusap layar hpnya keatas, hingga panggilan tersambung. Lalu ia dekatkan ketelinga.


"Ada apa Nad?"


Suara tangisan Nadia terdengar lirih disebrang sana. ("Mas.... ")


"Ada apa Nad, kenapa nangis? Bicara yang jelas. Mas nggak paham."


Suara Nadia masih terdengar sesenggukan, ia mencoba bicara ditengah isakannya.


("Mas, Nathan mas...")


"Iya Nathan kenapa? Jangan bikin mas....."


("Nathan kecelakaan mas, didepan TK. Sekarang kami dirumah sakit bunda hati.")


Mata Damar melebar, ia pun segera berlari keluar dari ruangan nya. Damar memacu mobilnya dengan kencang menuju rumah sakit. Dalam pikirannya hanya Nathan, terus berdoa Nathan baik-baik saja.


Dirumah sakit, Nadia sudah menangis tersedu di lorong rumah sakit. Damar yang berlari mendekat dan memanggil istrinya.


"Nadia."


Nadia menoleh kearah sumber suara.

__ADS_1


"Mas Damar."


Nadia berhambur dalam pelukan Damar. Ia menangis tersengal-sengal.


"Mas, Nathan mas...." Tangisnya memeluk tubuh Damar.


"Tenang sayang. Ada mas disini. Kita hadapi bersama-sama." Damar mengelus kepala Nadia dengan sayang. Ia juga memeluk tubuh Nadia agar tenang.


Seorang dokter jaga di UGD keluar dan memanggil anggota keluarga Nathan.


"Wali Nathan Rahardian."


"Iya." Sahut Damar melepas pelukan Nadia, lalu menggandeng nya mendekati Dokter.


"Kami kekurangan stok darah golongan anak ini." Ucap Dokter itu.


"Apa?"


Mimik muka Nadia berubah, ia sangat terkejut dan bingung. Menatap Damar dengan gelisah lalu berganti menatap sang dokter.


"Baik dok. Ambil saja darahku." Ucap Damar cepat.


"Golongan darah bapak AB?"


"AB?" Damar mengernyit. Terlihat seberkas keterkejutan diwajahnya. Ia menatap wajah istrinya yang sudah pucat. Lalu berganti menatap sang dokter.


"Iya, golongan darah Nathan AB."


Nadia meremas tangannya sendiri. Wajahnya semakin pucat. Keringat dingin mengucur di sekujur tubuhnya. Merasakan tatapan tajam dari Damar.


"Saya O. Ambil darah saya saja."


Damar mengikuti dokter itu dan juga perawat yang bersamanya. Damar menoleh sesaat pada Nadia yang masih mematung dengan tubuh gemetar dan wajah yang pucat. Lalu Damar berbalik dan mengikuti langkah perawat yang memanggilnya. Hingga mereka menghilang dibalik sebuah pintu ruangan.


Nadia masih menatap punggung Damar hingga pintu yang suaminya masuki itu tertutup. Tubuh Nadia terkulai dan lemas seketika merosot kelantai rumah sakit. Air matanya kembali menetes.


###


Damar keluar setelah transfusi darah. Dengan wajah lesu. Ia menatap Nadia yang masih menunggu dengan wajah pucat.


"Ma-mas...."


Nadia berdiri memandang Damar dengan takut-takut.


"Apa yang terjadi?"


"Nathan tertabrak saat aku menjemputnya, tiba-tiba saja ada motor yang melintas. Aku sangat takut sesuatu terjadi pada Nathan mas." Jelas Nadia dengan mata bersalah dan menyesal."Maafkan aku."


Damar tertawa getir.


"Dokter bilang, setelah malam ini, Nathan akan melewati masa kritisnya."


Nadia sesenggukan, ia memajukan tubuhnya hendak memeluk Damar, namun suaminya itu menghindar. Nadia melayangkan tatapan seperti protes pada suaminya. Namun tak berani mengungkapkan.


"Maaf Nad. Aku lelah. Kamu juga istirahatlah dulu. Aku mau cari udara segar dulu keluar."


"Mas Damar..." Lirih Nadia dengan air mata yang bercucur di pipinya.


Damar berjalan menjauh, meninggalkan Nadia. Ia merasa kesal, marah, kecewa pada Nadia. Bagaimana bisa dia yang bergolongan darah O, dengan Nadia yang juga bergolongan darah O. Bisa lahir seorang anak bergolongan darah AB.

__ADS_1


Damar berjalan dengan gontai dan lemas. Ia berhenti dan bersandar pada pilar lorong rumah sakit. Bahunya berguncang hebat. Ia merasa bodoh, merasa dihianati. Merasa buruk.


"Nathan.... Nathan... Nadia.... Nadia...."


Damar membiarkan bulir bening lolos dari bola matanya. Ia meruntuki dirinya dan sangat marah pada Nadia.


###


Damar memasuki kamar rawat inap milik Nathan, dengan lemas dia berjalan mendekati istrinya yang langsung berdiri begitu melihat Damar memasuki ruang VIP itu.


"Mas..." Tatap mata Nadia sangat memohon pada suaminya itu.


"Bagaimana keadaannya."


"Sudah lebih baik."


"Jujurlah padaku Nad, bagaimana bisa anakku bergolongan darah AB?"


Bahu Nadia berguncang hebat, wanita itu menunduk, menangis tersedu dengan terus berdiri di samping brankar Nathan terbaring. Ia bahkan tak berani melihat wajah Damar.


"Lihat kemari Nad. Lihat aku."


Nadia tak menyahut, ia hanya menangis tersedu dengan bahu yang terus berguncang hebat. Dengan kepala yang melihat kebawah.


"Lihat aku Nadia!" Damar menaikkan nada bicaranya, namun masih berusaha menguasai emosinya.


"Bagaimana bisa Nathan bergolongan Darah AB? Bagaimana bisa anakku berbeda denganku, Nadia?" Damar berusaha mengatur emosinya yang sudah naik.


"Maafkan aku mas Damar...." Lirih Nadia disela-sela isakan tangisnya.


"Siapa? Dengan siapa kamu melakukannya, Nad?"


Nadia terus menangis hingga tersengal. Damar yang mengharapkan jawaban dari Nadia. Sudah tak sanggup lagi menahan segala gejolak di dadanya. Ia memilih pergi meninggalkan ruangan itu. Meninggalkan Nadia yang masih terus menangis.


Didalam mobil, Damar meruntuki dirinya. memukul setir berulang kali. Ia terus merasa frustasi dengan keadaannya, belum selesai dengan masalah di Rubian. Masih ia mengetahui kenyataan bahwa Nathan kemungkinan bukanlah anaknya.


"ARRRRGGGG..." Teriak Damar dengan sangat frustasi.


"Tenang Damar. Tenang, kamu dan Nadia sudah menjalin hubungan yang sangat lama, kamu juga sangat mengenal Nadia. Tak mungkin dia menghianati mu. Mungkin saja dia mengalami pelecehan atau apapun, hingga dia hamil."


"Iya, hanya itu kemungkinannya. Lagi pula dia tadi sangat sedih, betapa jahatnya aku jika menuduhnya yang bukan-bukan. aku harus membicarakan ini padanya." lanjut Damar bergumam pelan.


Ia lalu memutar mobilnya berbalik ke rumah sakit.


________


Bersambung...


$$$$


My Readers kasih Othor ini dukungan dong, biar up terus setiap hari.


Like


Komen


Terima kasih.


Salam hangat.

__ADS_1


☺️ ...


__ADS_2