
Nadia memandang resto Samudra milik Rinjani. Tempat itu sangat kosong. Tak ada kehidupan disana. Ia bingung kenapa tempat itu bisa sepi, seperti tak ada yang jaga. Nadia mendekati pagar resto setinggi satu setengah meter itu. Dari sana Nadia melihat sebuah tulisan libur tiga hari.
"Libur tiga hari?" Gumam Nadia mengerutkan alisnya heran.
Nadia lalu membawa mobilnya menjauh, ia melihat lagi alamat resto Samudra milik Rinjani di jalan Suprapto dan jalan brikjen katamso. Selang beberapa saat setelah mobil Nadia berlalu, mobil Oren milik Damar berhenti didepan resto itu. Damar juga merasa heran karena resto itu tutup dan tidak beroperasi.
"Padahal catring nya tetap melayani, kenapa restonya tutup?" Gumam Damar merasa heran. Ia lalu mengambil hpnya, ia menghubungi nomor management pengelola resto.
"Selamat siang..."
("Selamat siang, dengan management resto Samudra, saat ini kami sedang tidak ada ditempat. Silahkan tinggalkan pesan, kami akan membalas secepat mungkin ketika kembali.")
"Sial! Mesin lagi yang jawab." Gumam Damar mematikan sambungan telponnya.
Sementara itu di dalam kantor resto.
"Huufft.... Sebenarnya apa hubungan Bu Rinjani dengan pak Damar? Sampai kami harus ikut bersandiwara seperti ini." Gumam salah satu tim manajemen yang menjawab telpon Damar tadi.
"Untung saja dia langsung mematikannya. Jadi nggak terlalu banyak drama."
"Ada apa sin?" Salah satu koki di resto Samudra yang bertugas menyiapkan catring pesanan.
"Inilah.... Pengagum nya Bu Rinjani."
"Oohh, ya sudah. Yang penting kita stanby di sini. Mastikan semuanya aman dan lancar."
"Aamiin.. uugg, padahal pingin datang ke acaranya Bu Rinjani.." keluh wanita yang di panggil sin itu.
"Sudahlah, toh kita dapat bonus lumayan juga .."
"Iya sih...."
*
*
Di lokasi lain, Zeo duduk di depan penghulu dan wali hakim. Mengingat Rinjani seorang yatim piatu. Setelah selesai melakukan ijab kabul, dan suara syukur yang bergema di ruangan yang hanya berkapasitas 200 orang itu. Zeo dan Rinjani berganti pakaian dari kebaya putih ke model gaun pengantin berwarna merah muda.
__ADS_1
Diruang ganti.
"Kenapa masih membuat pesta?"
"Ini bukan pesta sayang."
"Lalu?"
"Hanya syukuran. Lagi pula kita hanya mengundang tetangga komplek dan beberapa rekan kerjaku yang dekat saja."
Rinjani mengulas senyumnya. "Ini sudah termasuk pesta."
"Bukan. Kalau pesta, aku tak hanya akan menggunakan gedung kecil seperti ini." Elak Zeo memeluk pinggang ramping Rinjani.
"Hei! Siapa bilang gedung kecil?"
Suara asing yang mengagetkan Zeo dan Rinjani. Kedua nya menoleh kearah pintu rias yang terbuka lebar. Disana berdiri seorang lelaki yang lebih tua dari Zeo. Pria itu tersenyum nakal.
"Aku tidak mengundangmu. Kenapa kau datang?" Tegur Zeo dengan memasang mimik kesal.
Zeo menoleh memandang Rinjani, "sayang, aku tidak melihat Sam dari tadi."
"Apa kamu sedang mengusirku?" Selidik Rinjani dengan lirikan curiga.
"Tentu saja tidak. Siapa yang mau jauh-jauh darimu. Aku hanya mengkhawatirkan Sam." Elak Zeo sambil mengendikkan bahunya.
Rinjani mengulas senyum paham.
"Baiklah, akan kuberi kalian ruang. Aku akan berpura-pura mencari Sam." Rinjani berjalan perlahan keluar dari ruang rias memberi ruang bagi Zeo dan pria yang menurut Rinjani cukup asing itu. Karena ini pertama kali nya ia melihat pria itu. Mungkin saja mereka ingin membicarakan bisnis, hingga Rinjani memilih pergi agar mereka lebih leluasa berbincang.
Setelah kepergian Rinjani,
"Apa sudah tidak ada lagi informasi yang bisa kamu bagi?" Tanya laki-laki itu pada Zeo.
"Untuk saat ini belum." Tegas Zeo membetulkan letak dasinya. "Aaa... Tapi, aku tidak tau kamu masih berminat atau tidak."
"Soal?"
__ADS_1
"Wanita yang pernah berkencan denganmu dulu."
"Yang mana? Aku berkencan dengan banyak wanita."
Zeo tersenyum licik, "Kau lupa? Nanda?"
Pria itu tertawa geli, "Aku tidak mendapatkan informasi apapun darinya. Untuk apa mengungkitnya?"
"Dia memiliki seorang anak berusia sekitar 8tahun sekarang."
Wajah pria itu beriak, lalu ia tertawa lagi.
"Itu bukan urusanku." Ucapnya kemudian, sembari melangkah keluar dari ruang rias. Lalu ia berhenti tepat diambang pintu, menoleh memandang Zeo dengan mata sejuk.
"O iya, mengenai gedung ini kamu tak perlu membayarnya, anggap saja sebagai tanda terima kasih atas informasi internal di Rubian grup. Hingga aku memenangkan banyak tender."
Lalu ia menghilang dari pandangan Zeo. "Simbiosis mutualisme, Harris." Gumam Zeo memgulas senyum liciknya.
________
Bersambung...
.
.
My Readers kasih Othor ini dukungan dong, biar up terus setiap hari.
Like
Komen
Terima kasih.
Salam hangat.
☺️
__ADS_1