Ipar Laknat

Ipar Laknat
CH 52 • IPAR LAKNAT - SATU PER SATU •


__ADS_3

Wajah Nadia terlihat sangat ketakutan, keringat mengalir di leher belakangnya. Ia menatap lurus pada pria yang duduk di depan nya kini. Pria itu tersenyum sinis padanya.


"Jika tidak ingin ini tersebar luas. Pergilah tanpa suara."


"A-apa maksudmu?"


"Maksudnya adalah, pergi dari kehidupan Haris sebelum hidupmu hancur."


"Tapi....."


"Selagi aku masih berbaik hati padamu. Simpan ini, sebagai peringatan."


****


Nadia terbangun dari tidurnya. Ia mengusap wajahnya.


"Kenapa aku memimpikan pria itu lagi?" Gumam Nadia lirih. Ia melirik suaminya yang masih terbaring di sampingnya.


Nadia turun dari pembaringan. Lalu melangkah pelan menuju lemarinya. Nadia menarik pintu berbahan kayu jati itu, lalu mengulurkan tangannya menerobos masuk kedalam lemari.mengambil satu kotak. Ia membuka kotak itu. Lalu mengambil sebuah foto.


Nadia mengusap foto itu. "Apa reaksi mas Damar jika tau masalah ini?"


_____


Nadia sebenarnya berasal dari keluarga berada. ia memang sudah dari dulu bergaya sosialita. Semua yang ia kenakan pasti branded. Namun, ia tak memiliki cukup uang untuk mendukung gaya hidupnya itu, hingga menjalin hubungan dengan beberapa pria yang bisa memberinya kepuasan materi. Damar yang masih sekolah tentu tak bisa diandalkan, walau ia sangat mencintai Damar. Tapi, cinta tak membuat gaya hidupnya naik.


Setelah menjalani hubungan dengan banyak pria di belakang Damar, hingga ia menikah dengan pujaan hatinya. Nadia tak lagi bermain belakang. Namun, jerat cinta dari seorang Haris yang lebih mempesona dan lebih kaya dari Damar membuatnya sempat terlena walau ia sudah memiliki Damar.


Haris yang hanya memanfaatkan Nadia demi bisa mengorek informasi akhirnya mundur karena tak mendapatkan apapun. Namun, Nadia masih terus mengejar Haris. Saat itulah ia bertemu dengan Zeo. Dan mendapat foto dirinya bersama beberapa pria.


"Ini hanya masa lalu Nadia. Aku yakin mas Damar tak akan mempermasalahkan nya." Pikir Nadia lagi malam itu.


"Apa itu Nad?"


Nadia terlonjak kaget. Ia berbalik dan meremas foto ditangannya. Menyembunyikan semua itu di balik punggungnya.


"Ma-mas Damar." Gugup Nadia dengan raut wajah gelisah.


"Apa itu yang kamu sembunyikan?"


"Bu-bukan apa-apa mas."


"Lihat."


"Nggak."


"Lihat!" Damar meninggikan suaranya.


Nadia semakin gusar, ia tetap menyembunyikan foto dan box itu dibalik punggungnya. Damar yang semakin curiga dan tak sabar mendorong tubuh Nadia kesamping hingga box itu terlepas dari tangan Nadia dan jatuh berserakan dilantai. Mulut Nadia terbuka lebar.


Damar melirik Nadia dengan mata elangnya. Ia lalu mendekati kumpulan foto yang berserak dilantai itu.


"Mas jangan lihat." Pekik Nadia mencoba menahan Damar. Namun damar menepisnya, hingga Nadia terhempas kebelakang dan terjerembab di lantai.


Damar mengambil kumpulan foto itu. Foto-foto Nadia dengan banyak pria yang berbeda. Terakhir foto Nadia dengan Haris. Pesaing bisnis ayahnya yang kini gencar merebut klien dan tender Rubian Grup.


Dada Damar naik turun karena marah, ia sangat marah dan meremas foto itu. Damar berbalik dan menatap Nadia penuh permusuhan.


"Jelaskan ini Nad!"

__ADS_1


"Maafkan aku mass...." Tangis Nadia bersujud memeluk kaki Damar dengan tangisan.


Damar semakin emosi. Sikap Nadia sudah menjelaskan semuanya. Ia melepas pelukan Nadia di kakinya. Damar mulai mengerti mengapa dulu papanya sangat menentang hubungan mereka. Pastinya, tak lepas dari ini, Papanya tau hubungan Nadia dengan Haris.


"Na-di-ya......" Geram Damar dengan suara tertahan karena emosinya sudah memuncak coba ia redam.


"Kau...."


"Aku talak kau malam ini. Aku talak kau malam ini Nadia."


Nadia mendongakkan kepalanya menatap Damar dengan wajah terkejud dan menolak. Menggelengkan kepalanya dengan kuat.


"Mas... Aku bisa jelaskan mas..."


"Apa lagi yang harus dijelaskan Nad? Semua sudah jelas. Ternyata kamulah informan dalam tubuh Rubian grup."


"Mas.. aku bahkan tidak bekerja disana. Tak mungkin aku ...."


"NADIA!"


Tubuh Nadia seketika mematung mendengar sentakan suaminya yang sudah marah besar itu. Wajah wanita itu sangat gusar dan takut.


"Nadia Saphira, mulai malam ini kau haram kusentuh. Kau bukan lagi istri ku." Lontar Damar tanpa memandang Nadia sedikitpun pergi melintasi wanita yang termangu dan syok karena talak darinya.


______


"Aku tidak mengerti, kenapa bisa begini?" Gumam Pak Budi melihat pergerakan tabel sahamnya yang terus menurun. Ditambah beberapa bulan ini Rubian grub terus kehilangan tender.


Pak Budi selalu kalah cepat dengan perusahaan saingannnya. Haris CORP. Ia juga tak habis pikir bagaimana bisa beberapa klien nya memutuskan kontrak dan tidak menyambung kerja sama lagi.


Pria tua itu memijit pelipisnya karena pusing. Ia juga masih dituntut oleh beberapa pemegang sahamnya.


"Masuk"


Seorang asisten pak Budi mendekat. Lalu membungkuk


"Ada apa?"


"Pak, apa anda sudah melihat pergerakan saham kita?"


"Sudah. Skrang para memegang saham sedang rapat."


"Apa?" Pak Budi langsung bangkit dari kursi.


"Dan mereka seperti nya menuntut untuk menarik saham mereka sebelum benar-benar jatuh."


"Apa?" Pak Budi merasa marah. Ia memegangi kepala bagian belakang, rasa sakit tiba-tiba menyerang tengkuknya.


"Pak, anda baik-baik saja?"


Pak Budi mengangkat tangannya menahan agar asistennya itu diam ditempatnya.


"Aku tidak apa-apa. Bawa aku ke ruang rapat."


"Baik."


###


Kepala pak Budi semakin terasa berat dan sakit setelah rapat dengan para pemegang saham. Akhirnya ia memutuskan kembali saja kerumah.

__ADS_1


Sesampainya Pak Budi dirumah, ia merebahkan tubuhnya di sofa tamu. Terdengar suara istrinya dari pintu depan. Pak Rudi hanya melirik sekilas kearah sana.


Ratna tampak membawa tentengan belanjaan yang sanga banyak. Ia pun terlihat sangat riang dan bahagia. Tersenyum lebar melihat suaminya pulang lebih awal.


"Pa, tumben udah balik."


"Papa sedikit kurang sehat." Balas pak Budi malas.


"Papa sakit?" Ratna melihat sekeliling mencari bi Ijah."bi, bi Ijah."


"Iya nyah." BI Ijah datang dengan tergopoh-gopoh.


"Tolong bikinkan bapak bandrek ya."


"Siap nyah." Lalu BI Ijah pergi. Sementara Ratna sibuk melihat-lihat lagi hasil belanjaannya itu.


"Banyak banget belanjanya mah."


"Ih, papa kan cuma segini. Biasanya juga lebih banyak, cumaan papa kan bilang kita harus berhemat. Ya udah." Ratna bicara sambil melihat-lihat koleksi barunya dengan bibir sedikit mengerucut. Ia lalu melirik suaminya.


"Pah, mama pake kartunya papa ya, kartu mama nggak tau kok nggak bisa dipakai tadi."


BRAK!


Ratna terlonjak kaget karena tiba-tiba suaminya itu menggebrak meja.


"Makanya, kamu tu jangan boros ma. Setiap hari belanja, apasih ini?"


Ratna hanya membulatkan mulutnya terkejut dengan reaksi pak Budi.


"Papa nih kenapa sih? Gitu aja pake marah."


"Mah, keadaan perusahaan sedang tidak baik. Sudah dari kemarin papa bilang untuk berhemat. Tapi mama malah menghamburkan uang terus."


"Papa kok malah jadi nyalahin mama sih?"


"Kalau mama tetap begini terus, kita pasti akan bangkrut." Pak Budi berjalan meninggalkan Ratna yang melongo mendengar kan ucapan suaminya.


"Bangkrut?"


Bersambung...


.


.


My Readers kasih Othor ini dukungan dong, biar up terus setiap hari.


Like


Komen


Kasih Gift dan vote Othor tambah seneng.


Terima kasih.


Salam hangat.


☺️

__ADS_1


__ADS_2