Ipar Laknat

Ipar Laknat
CH 57 • IPAR LAKNAT -


__ADS_3

Damar memejamkan matanya. Ia duduk di depan pintu penghubung balkon dan kamarnya menginap. Sangat menyakitkan mendengar suara dessahan Rinjani dari kamarnya. Ekor matanya masih melihat bagaimana Zeo mencumbui mantan istrinya itu. Memeluk wanita yang terlihat sangat menikmati setiap kecupan dan sentuhan dari pria bule itu.


Damar menjejak kasar pintu didepannya, lalu beranjak dengan sempoyongan. Ia mengusap wajah dan rambutnya kasar.


"Apa yang kulakukan disini? Melihat mereka bercinta? Hah-ha-ha-ha...."


Damar tertawa frustasi. Ia mengusap lagi wajah dan rambut nya dengan kasar. Ia mengambil lampu duduk lalu membantingnya di tembok. Suara pecahana dan benturan keras terdengar sampai di telinga dua insan yang di mabuk asmara itu.


Zeo dan Rinjani menatap kearah kamar Damar. Lalu saling melempar tatapan tanya. Rinjani segera melepas kan diri dari dekapan hangat suaminya.


"Se-sebaiknya kita hentikan saja."


"Buat apa?" Zeo menarik lagi tubuh Rinjani kedalam pelukannya."Kalau kau tidak yakin, kita bisa lakukan di dalam."


Zeo mendorong tubuh Rinjani yang masih dalam dekapan nya itu masuk kedalam kamar.


"Zeo, bagaimana jika dia mencelakai dirinya sendiri."


"Kau masih perduli? Kau masih mencintainya?"


"Ze, ini bukan masalah itu."


"Lalu?"


Rinjani hanya menatap manik mata Zeo yang terus menatap tajam padanya, bisa Rinjani lihat, ada kecemburuan di sana.


"Maaf, tak seharusnya aku.... Aku hanya berfikir, dia tetaplah ayah Sam... Hanya itu."


"Sam sudah memiliki aku. Apa itu tak cukup?"


Rinjani sontak menatap mata Zeo lebih dalam.


"Iya, kamu benar. Maafkan aku, aku tidak memikirkan perasaanmu. Maaf." Rinjani mengangkat tangannya memeluk leher Zeo.


Lama mereka saling bertukar kehangatan, sampai gawai Zeo berdring memecah kesunyian diantara mereka. Zeo mengambil gawainya dari saku celananya. Lalu mendekat kannya ke telinga. Tanpa melepas pelukannya


"..........."


"Okey."


Rinjani melonggarkan pelukannya, menatap wajah Zeo dengan tanya tanpa suara.

__ADS_1


"Damar sudah meninggalkan kamar."


"Kemana perginya?"


"Yang kudengar dia melakukan perjalanan ke bandara." Jelas Zeo melempar hpnya ke atas ranjang.


"Sepertinya, rencana berjalan dengan lancar, dia pasti sangat kepanasan sampai memilih pergi kebandara." Zeo dengan senyum tipis.


Rinjani yang hanya menyimak sembari menatap iris mata Zeo, mendekatkan wajahnya, mencium bibir suaminya. Keduanya saling membelit lidah, menggerakan rahang dan bibir seirama. Hingga hawa panas di dalam diri menguasai. Zeo melepas pakaian yang melekat padanya. Tangannya mulai nakal menjelajahi tubuh istrinya.


Dan wik wik wok wok... (Udah sensor aja ya)


Keesokan harinya, Zeo membawa Rinjani beserta keluarga kecilnya mengunjungi makam ibunya. Setelah tabur bunga dan membersihkan pusara sang ibu. Mereka berdoa.


Selesai mendoakan Rihanna, Zeo menyentuh batu nisan ibunya, saat itu ia hanya sendiri. Rinjani memang memberinya ruang untuk menuntaskan rindu pada sang mama tercinta. Ia menunggu di luar area pemakaman. Bersama Bu Ros dan Sam. Di depan pemakanan itu ada RTH hingga Sam bisa bermain-main disana.


"Ibu, sebentar lagi semuanya selesai. Mereka akan membayar semua yang sudah mereka lakukan pada kita... Membayar semua penderitaan dan kesedihan kita." Lirih Zeo dengan kilatan dendam yang masih berkobar di matanya.


_______


"Pak Damar, kenapa anda telat sekali. Pergerakan saham kita turun drastis. Dan beberapa klien kita membatalkan kerja sama karena bapak terus mangkir dari rapat."


"Kau menyalahkan ku? Bukankah kau ada untuk mwnghendel selama aku pergi? Bagaimana bisa kau membiarkan mereka membatalkan kerja sama?" Sentak Damar yang sudah dibatas amarahnya.


"Panggil mereka lagi, aku yang akan selesaikan."


"Tapi pak, sudah ada perusahaan lain yang menarik mereka. Dan tawaran yang di ajukan tidak kecil."


"Apa? Perusahaan mana yang berani lancang berebut klien denganku?"


"Zeos.... Zeos CORP."


"Apa?"


###


Sementara itu, Ratna yang baru bangun dari tidurnya, mengerjab, dan mengedarkan pandangannya. Ia melihat kesamping. Tak ada Suaminya disana.


"Apa papa sudah bangun? Sepagi ini? Ini kan hari libur." Gumam Bu Ratna.


Ia berjalan kekamar mandi membersihkan dirinya. Lalu ia menuruni tangga dengan pakaian cerah. Dari sana dia mendengar suara pak Budi yang sedang marah-marah.

__ADS_1


Ratna berjalan mendekat. Melihat sang suami yang marah-marah pada seseorang yang bertelpon dengannya.


"Harris dari Horison grup. Ha-ha-ha, mereka lagi?" Suara pak Budi dengan nada tertekan. "Sialan!"


Pak Budi mengumpat dan membanting bantal sofa yang dia ambil dari sampingnya berdiri.


"Brengsek!"


Tampak pak Budi mencoba meredam emosinya. Namun, sepertinya darah tinggi menyerang. Ia memegangi tengkuk nya sendiri dan berjalan terhuyun.


"Suami ku, kamu tak apa?" Gegas Ratna menopang tubuh suaminya. Namun karena berat dan Ratna kehilangan keseimbangan, akhirnya mereka jatuh berdua.


Ratna bangkit, namun tidak dengan suaminya.


"Pa kamu kenapa? Pa?" Ratna menggoyangkan tubuh pak Budi.


"Bu Ijah!" Panggilnya panik dan gusar. "BI Ijah."


"Iya nyah?" Bu Ijah datang dengan tergopoh-gopoh."Bantu aku membawa bapak ke rumah sakit."


Bersambung....


Wah, reader kuh, gimana nasipnya pak Budi ya? Kasih jawabannya di kolom komentar dong, biar othor ada pertimbangan untuk nasip pak Budi.


.


.


My Readers kasih Othor ini dukungan dong, biar up terus setiap hari.


Like


Komen


Kasih Gift dan vote Othor tambah seneng.


Terima kasih.


Salam hangat.


☺️

__ADS_1


__ADS_2