Ipar Laknat

Ipar Laknat
CH 6 • IPAR LAKNUT - Aku Menginginkanmu Menjadi Kekasihku •


__ADS_3

Pria itu melepas panggutannya, tersenyum dengan nakalnya menatap wajah Rinjani. Mata Rinjani membulat saking terkejutnya menyadari siapa orang yang sudah memaksa menciumnya.


"Pak Zeo?"


"Morning kiss." Zeo tersenyum lebar penuh kemenangan melepas cengkeramannya pada lengan Rinjani. Lalu mengedipkan sebelah matanya dengan genit.


Rinjani mematung, ia begitu terkejut sampai tak bisa bereaksi apa-apa. Zeo berjalan menjauh dengan senyum dan lirikan yang masih ia tujukan pada Rinjani yang membeku.


Zeo semakin jauh, dan hilang dibalik pintu lift di ujung lorong.


Rinjani melemas, kakinya serasa tak memiliki tulang. Sarapannya pun seperti menguap begitu saja, tak meninggalkan tenaga untuknya. Dalam beberapa saat membeku, Rinjani tersadar.


"Bos sinting, ini namanya pelecehan." Gumamnya dengan wajah kesal hampir menangis. Dengan tekat dan amarahnya, Rinjani berjalan cepat ke ruangan Zeo. Tanpa mengetuk pintu lagi, Rinjani asal membukanya. Untuk apa ia harus beramah tamah pada pria yang sudah berbuat kurang ajar padanya. Kalau pun harus dipecat karenanya, Rinjani juga mau sekalian menuntutnya atas pelecehan ini.


Dada Rinjani naik turun karena amarah yang terpendam disana. Ia menatap nyalang pada pria yang duduk di kursi kerjanya. Menatap Rinjani dengan keheranan.


"Don't you know manners?"(Apa kau tak punya sopan santun?)


Tegur Zeo menatap Rinjani dengan pandangan tak suka dan tanpa rasa bersalah atas apa yang tadi dia lakukan.


"Knock on the door before entering my Room."(ketuk pintu sebelum masuk keruangan ku.)


Lanjutnya dengan penuh penekanan dan tatapan yang tak lepas dari wajah Rinjani.


"Siapa yang tidak tau sopan santun? Kenapa anda menciumku?" Geram Rinjani


"What you saying?" Zeo berucap sok nggak paham, dan itu terlihat jelas hingga membuat Rinjani mengepalkan tangannya menahan emosi yang sudah di ubun-ubun.


"Whose doesnt have manners? Why did you kiss me?"(siapa yang tak punya sopan santun? Kenapa kau menciumku?)


Hardik Rinjani menatap nyalang pada bosnya.


"Who?" Zeo bertanya balik dengan hambar.


"What?" Rinjani mengernyit kesal,


'Bisa-bisanya dia bertanya seperti itu? Dia yang lakukan tapi sok nggak paham. Benar-benar munafik.' batin Rinjani yang makin kesal.


"Who kissed you?" Ulang Zeo wajah di buat tak paham. Tak lupa senyum yang seperti mengejek di wajah tampannya.


Rinjani membuang nafasnya dengan emosi yang makin tinggi. Ia merasa di permainkan dengan sikap bosnya yang malah sok tidak terjadi apa-apa padahal jelas-jelas dia menciumnya di lorong tadi.


Zeo berjalan mendekat, membuat Rinjani bersikap waspada. Jangan sampai ia dilecehkan lagi oleh pria blasteran itu.


"Wake up! ITS still early to day dream." (Bangun! Terlalu pagi untuk menghayal.)


Zeo berbisik dengan mendekatkan wajahnya pada wajah Rinjani yang mengernyit ngeri sekaligus sebal karena ucapan bosnya yang kelewat menyebalkan.


"Kau... Aku... Aku...." Rinjani memalingkan wajahnya yang sedikit memerah karena pria tampan itu begitu dekat dengan wajahnya.


Jantung Rinjani pun berdetung tak karuan kala ia teringat pada malam laknut itu. Zeo tersenyum licik, ia mengangkat tangannya hingga menyentuh dagu Rinjani yang mulai bernafas cepat.


Merasa telah di permainkan oleh bosnya, Rinjani menginjak kaki Zeo dengan kuat. Hingga membuat pria bule itu memekik memegangi kakinya.

__ADS_1


"Aaaarrrgg....."


"Kau, aku wanita bersuami, kalau kau mempermainkan ku dan melecehkan ku lagi, aku tidak segan bertindak lebih jauh." Ancam Rinjani menuding bagian pusat Zeo yang sedang memegangi kakinya. Dengan dada yang naik turun menahan amarahnya, Rinjani berbalik dan keluar dari ruangan Zeo.


Sepanjang jalan, Rinjani hanya nggedumel dan menggerutu tak jelas. Ia kesal dengan bosnya, mau melawan lewat jalur hukum pun mungkin akan percuma, tak ada saksi dan bukti kuat, ditambah Zeo pria yang cukup berkuasa dan berpengaruh. Tentu ia hanya akan jadi bahan tertawaan saja, mengingat begitu banyak wanita yang terpikat pada Zeo.


Bisa saja Orang-orang justru menganggap dia hanya mencari perhatian pada pria tampan dan mapan itu.


Rinjani duduk dengan hati yang masih dongkol, ia sedikit lupa dengan sakit hatinya pada sang suami gara-gara sikap dari bosnya. Rinjani mengatur nafasnya, menghirup dalam-dalam dan menghembuskan perlahan. Begitu terus sampai emosinya menurun. Barulah dia mulai mengerjakan pekerjaannya.


Hari semakin siang, dan pekerjaan Rinjani tak kunjung selesai. Banyak laporan yang tiba-tiba harus selesai hari ini. Ia saja sedikit heran, kenapa semua serba mendadak, terlebih laporan tentang projek baru yang beberapa saat yang lalu mereka akuisisi.


Rinjani menyenderkan tubuhnya pada punggungan kursi, lelah sekali rasanya, kerjaan tiada habisnya. Saat itu, telpon mejanya berdering, dengan malas Rinjani mengangkatnya.


"Halo?"


"Submit my spatial Arrow project progress right now." ("Serahkan progres projek Arrow ke ruanganku sekarang.")


Tanpa menunggu jawaban dari Rinjani, sambungan dari seberang sana sudah ditutup.


Mulut Rinjani membulat sempurna menatap ganggang telpon yang masih dalam genggaman nya. Ia membanting benda itu ke tempatnya karena kesal. Tentu saja pada orang yang dengan seenaknya memberi perintah langsung padanya, siapa lagi kalau bukan bosnya, Zeo.


Rinjani menyenderkan lagi punggungnya, rasa lelah makin mengrayanginya.


'Laporan masih belum selesai, bagaimana bisa dia meminta semuanya selsai secara serentak.' pikir Rinjani tak habis pikir dengan bosnya.


Telpon kantornya berdering lagi, Rinjani mengangkat ganggang telpon dan mendekatkannya di telinga.


"How long should i wait? My times very presius."("Berapa lama aku harus menunggu? Waktu sangat berharga.") Klik.


"Faster!"("Cepat!") Klik.


"Dia sengaja, dasar bos gila." Geram Rinjani berjalan dengan menyaut berkas laporan di atas meja setelah membanting lagi ganggang telpon ditempat nya.


Rinjani berdiri dengan gelisah, sementara Zeo terlihat serius memeriksa hasil laporan pada berkas yang Rinjani bawa.


"Is this what you called a report?"("Apa ini kau sebut laporan?")


"Repeat! I don't received this kind of report!" ("Ulangi! Aku tidak menerima laporan seperti ini.")


"Faster!"


Rinjani keluar dari ruangan Zeo dengan diliputi kemarahan, rahangnya mengeras, matanya berkilat dan wajahnya memerah.


Sudah hampir satu Minggu lamanya Zeo meminta Rinjani bolak-balik menyerahkan laporan, mesti dia sudah menyarankan untuk mengiriminya lewat email saja. Akan tetapi, Zeo menolak dengan berbagai macam alasan.


Rinjani membanting setumpuk berkas laporan yang sudah dia buat ke meja kerjanya, lalu menyenderkan punggungnya. Serasa begitu berat, pekerjaannya seminggu terakhir ini. Rinjani menatap langit-langit kantornya. Memijit pelipis yang terasa terus berdenyut. Sudah tak bisa digambarkan lagi seberapa emosinya dia pada sang bos yang banyak maunya.


"Sebenarnya apa maunya pria brengsek itu?"


"Kenapa dia terus mengusikku? Kepala bagian lain tidak ada yang dimintai laporan seperti ini. Dia memang punya dendam pribadi padaku."


Rinjani terus bergumam-gumam. Rinjani teringat kembali saat ia dan Zeo bercinta juga ciuman terakhir mereka. Sebenarnya itu tak bisa disebut ciuman, Karena pria bule itu langsung menyerangnya tanpa permisi.

__ADS_1


Setelah cukup menenangkan diri, Rinjani merevisi semua laporannya, dan membawa ke ruangan sang bos.


.


.


.


Zeo mengernyit, ditangannya memegang berkas yang Rinjani serahkan. Pria bule itu menatap wajah Rinjani.


"Kau sudah berulang kali merevisi dan terus ada kesalahan. Apa kau sengaja melakukannya?"


"Sorry?"


"Ini! Kau begitu sangat ingin bertemu denganku sampai terus-menerus melakukan hal yang sama. Ini bahkan tidak direvisi sama sekali."


"Pak....."


Zeo berjalan mendekat setelah meletakkan berkas yang Rinjani serahkan. Berdiri tepat didepan Rinjani dengan tangan yang dia lipat.


"Apa kau sangat tertarik padaku?"


"Apa?"


"Kau sangat menyukaiku?"


"Apa? Pertanyaan macam apa ini?"


"Kau pasti sangat menyukaiku sampai berkali-kali membuat kesalahan dan membuatku terpaksa menemuimu."


"Pak, anda salah paham."


"Yah, karena kau begitu sangat ingin bertemu denganku, akan aku kabulkan."


'apa? Apa dia sama sekali tidak mendengarkan ku? Siapa memangnya yang mau bertemu?' batin Rinjani kesal.merasa apa yang dia ucapkan tidak didengar oleh Zeo.


"Aku mengijinkanmu jadi kekasihku."


"Apa?"


Bersambung...


$$$$


My Readers kasih Othor ini dukungan dong, biar up terus setiap hari.


Like


Komen


Terima kasih.


Salam hangat.

__ADS_1


☺️


__ADS_2