
Zeo berdiri di ruang kerja di kantor Zeoz CORP pusat. Ia membuang nafasnya, menatap melalui jendela kaca, hamparan gedung dan bangunan dibawah kakinya. Pintu ruangannya terbuka, salah satu asistennya, Jiechi masuk dan memberi salam.
Zeo menoleh menatapnya dengan mata tajam menyala siap menerkam pria yang kini berdiri didepannya.
"Kau tau, karena ketidak becusanmu, aku hampir menyakiti orang yang tidak bersalah." Zeo melangkah mendekat.
"Maaf kan saya." Jiechi membungkuk dengan dalam.
"Gara-gara keteledoranmu aku hampir menyakiti wanita yang seharusnya tidak terlibat."
Zeo menendang tubuh Jiechi yang membungkuk hingga asistennya itu jatuh terjerembab kebelakang.
"Maafkan saya tuan." Jiechi bergegas membetulkan posisinya, membungkuk sambil berlutut ditempatnya.
Tanpa menjawab pernyataan Jiechi, Zeo masih menatap tajam dengan rahang yang makin mengeras menahan amarahnya, agar ia tak melakukan hukuman fisik lebih lanjut.
"Saya akan memperbaiki semuanya." Lanjut Jiechi tanpa berani menegakkan kepalanya.
"Tidak perlu." Tegas Zeo tanpa merubah mimik mukanya yang masih murka. "Selama beberapa Minggu kedepan kau dibebas tugaskan."
"Tuan." Jiechi mendongakkan kepala dengan terkejut, ia menatap Zeo dengan permohonan."Ampuni saya."
"Aku akan memanggilmu saat emosiku sudah reda dan saat kau benar-benar dibutuhkan."
Jiechi menunduk dengan mimik kekecewaan pada dirinya sendiri, karena ialah yang memberi informasi mengenai istri Damar, Rinjani, tanpa mencari tau tentang Nadia. Hingga, beberapa Minggu yang lalu, Zeo menugaskannya mengikuti Damar dan menemukan fakta jika Damar memiliki istri lain yang bahkan mereka sudah memiliki seorang anak laki-laki berusia lima tahun.
"Baik, tuan."
Setelah Jiechi meninggalkan ruangan Zeo, pria bule itu menghenyakkan tubuh di kursi kebesarannya. Zeo bersandar dan menutup matanya. Ia teringat akan Rinjani, teringat kembali akan percintaannya dengan wanita yang berstatus sebagai kakak ipar.
Zeo memijit pelipisnya yang terasa pening. Ia teringat lagi, saat Rinjani menangis dalam pelukannya semalam. Juga, saat ia membuat Rinjani mabuk dan bercerita tentang rumah tangganya, tentang Damar yang hampir selama enam bulan tak memberinya nafkah batin. Dan terjadilah malam laknut itu.
Semula Zeo hanya ingin memanfaatkan Rinjani sebagai salah satu alat untuk memuluskan balas dendamnya pada keluarga Papa Budi. Pria yang sudah menelantarkan Rihana dan dirinya dulu. Juga pada wanita bernama Ratna yang membuat ibunya sakit dan sangat menderita. Ia ingin membuat Damar merasakan perihnya di hianati dan ditinggalkan dengan menggunakan Rinjani.
Zeo juga sudah memiliki rencana lain mengenai perusahaan keluarga Budi. Ia ingin menghancurkan dan membuat keluarga itu menjadi gembel. Zeo mengepalkan tangannya kuat-kuat. Amarahnya semakin meningkat sejak ia mengenal Rinjani, dan menyadari betapa kesepiannya wanita itu. Dan Ia memanfaatkannya. Zeo marah pada dirinya sendiri, yang kini justru menaruh minat yang besar pada istri sah kakaknya, Damar.
_______
Rinjani hari itu selepas kerja, berjalan-jalan dengan rekan kerjanya di sebuah mal yang tak jauh dari kantor nya berada.
"Maya, apa lagi yang mau dicari?"
"Aku sih udah ya, kamu masih ada?" Maya bertanya balik setelah melihat-lihat tas belanja berisi make up-nya.
__ADS_1
"Masih ada satu sih yang belum. Baju perang ku."
"Heemmm.....yang mau pulang ... Ntar malem sampe siapin baju perang segala." Goda Maya dengan kerlingan genitnya, mencowel perut Rinjani.
Rinjani tersipu, kedua nya berbincang yang entah apa. Dikejauhan, Zeo yang masih sibuk berjalan dengan beberapa orang disamping dan belakangnya. Tanpa sengaja melihat Rinjani dan Maya yang sedang berjalan berdua, bercanda dan tersenyum bersama.
Beberapa saat kemudian dari kejauhan, tampak Maya yang berjalan mendahului dan melambaikan tangannya, yang dibalas lambaian tangan juga oleh Rinjani. Wanita itu masih berjalan mengelilingi mal seorang diri, melihat satu toko ke toko yang lain. Pandangan matanya terhenti pada satu toko khusus underwear.
Rinjani memasuki toko itu, memilah-milah linggeri dengan berbagai macam model dan warna. Di kedua tangannya menggenggam masing-masing satu dengan model dan warna berbeda. Rinjani menjembreng satu yang berwarna merah, ia kesulitan memilih mana yang mungkin Damar sukai.
"Itu tidak bagus."
Rinjani menoleh pada suara tak asing yang bersumber dari belakang telinga kirinya.
"Kau tidak pandai memilih benda seperti ini rupanya."
"Kau keberatan?"balas Rinjani dengan mata malas.
"Yeah, aku jelas tidak akan tergoda."
"Ini bukan untuk menggoda mu."
Zeo tertawa kecil,
"Kenapa kau tertawa?" Rinjani melayangkan tatapan tidak terima.
Rinjani membuang nafas kesal dan sabar. Ia memandang Zeo dengan sedikit arogan.
"Okey, wanita yang payah ini ingin meminta rekomendasi linggeri pada pria sepertimu."
Zeo mengukir senyum yang sedikit mengejek.Ia menarik semua baju tipis yang ada di tangan Rinjani. Meletakkan begitu saja pada tempatnya semula, lalu menarik lengan Rinjani mendekati satu linggeri yang di pasang di display manekin. Lalu menunjuk dengan kedua tangannya.
"Maksud mu aku memakai ini?"
Zeo mengangguk dengan yakin dan senyuman mesumnya. Sedangkan Rinjani memindai lingerie berwarna merah muda yang hanya menutupi sebagian kecil saja di bagian itu. Ia begidik, lalu menoleh pada Zeo dan mentoyor kepala pria itu.
"Apa kau sedang membayangkan ku memakainya?"
"Aku bahkan sudah pernah melihat dan merasakan tubuhmu. Untuk apa membayangkannya." Sergah Zeo sembari mengusap-usap kepalanya yang kena toyor Rinjani.
Mulut Rinjani terbuka lebar. Menoleh kesana kemari memastikan tidak ada orang disekitar yang mendengar ucapan Zeo barusan.
"Kau! Kenapa harus mengatakan...?" Saking geramnya Rinjani bahkan tak bisa melanjutkan lagi kalimatnya, ia memilih membuang muka kesamping dan diam.
__ADS_1
"Maaf."
Rinjani menoleh tak percaya, Seorang Zeo meminta maaf padanya. Serasa sangat menggelikan, pria itu bahkan tak pernah mengucapkan kata itu selama mengenalnya.
"Kenapa menatapku seperti itu?"
"Aku hanya tak percaya kau minta maaf."
"Aku hanya ingin membantu." Zeo berjalan ke sisi kirinya lalu berhenti tepat di depan sebuah display yang terpasang pakaian dalam yang sebagian besar berupa tali dengan bentuk bunga di bagian itu dan itu saja.
"Ambil yang ini juga." Ucapnya menunjuk manekin didepannya sambil menoleh pada Rinjani yang langsung membelalakkan matanya.
"Kau ini! Benar-benar mesum!" Rinjani memukul bahu dan punggung Zeo. Pria itu hanya memutar matanya malas.
"Wah, anda sungguh jeli tuan." Suara seorang karyawan dengan seragam toko menyapa."Ini memang banyak dicari. Apa kalian pasang muda yang baru saja menikah?"
"Tidak! Kami tidak..." Rinjani menggeleng dengan cepat dan mengibaskan tangannya di udara.
"Benar, apa ini cocok untuk nya?"
"Tentu saja. Pasti nyonya ini akan sangat menggoda bila memakainya. Seksi!" Ujar si karyawan mengerling nakal pada Rinjani.
"Selera anda bagus sekali dalam memilih. Jadi apa nyonya mau mengambil ini?"
Rinjani melirik Zeo dengan kesal dan malu.
"Iya, yang itu juga." Zeo menunjuk yang tadi dia pilih pertama kali. Karyawan itu tersenyum lebar.
"Baiklah, akan saya bungkus kan."
Zeo mengeluarkan dompetnya dan menarik sebuah kartu, lalu menyerahkannya pada karyawan itu.
"Kau! Kenapa sembarangan."
"Harusnya, kau berterima kasih padaku."
"Karena kau yang membelinya, kau pakai saja sendiri."
Zeo mengulas senyum lucu,
"Ayo kita taruhan, kalau suamimu tergoda saat kau memakai barang yang aku pilihkan, kau kabulkan satu permintaanku. Jika tidak, aku akan lakukan hal yang sebaliknya. Bagaimana?"
______
__ADS_1
Bersambung...
Kira-kira Rinjani setuju nggak ya?🤔