
Damar menajamkan lagi pendengarannya, lirih ia mendengar suara Rinjani di kamar sebelah, lebih tepatnya dari balkon kamar sebelah.
"Jangan.....
"Jangan Ze...."
Suara Rinjani membuat rahang Damar mengeras.
'Apa yang pria itu lakukan padanya? Apa dia memaksa Rinjani? Apa dia sedang melecehkan mantan istrinya itu? Berani sekali dia pada wanita lemah seperti rinjani.' batin Damar semakin marah dan menajamkan lagi pendengarannya.
"Jangan....
Zee.... Jangan... Hentikan..."
"Hihihi... Berteriak lah, tidak akan ada yang dengar." Suara Zeo yang terkekeh dan terkesan nakal semakin membuat darah di dalam dirinya mendidih.
"Kurang ajar....." Rahang Damar sudah mengeras, dia sudah tak sanggup lagi mendengar, ia harus datang menyelamatkan Rinjani dari pria mesum yang kini berada di kamar sebelah.
Damar berlari, bergegas keluar dari kamar yang ia sewa disebelah kamar Rinjani.
"Dia, sudah menghancurkan hidupku, berani sekali dia mau menghancurkan Rinjani." Gumamnya dengan tangan mengepal keras.
Didepan kamar sebelah, Damar berdiri. Pintu kamar itu sedikit terbuka, sehingga kunci otomatisnya tidak bekerja karena diganjal benda celahnya. Damar menyeringai, ia mendorong pintu itu hingga terbuka lebar, berjalan mengendap-endap.
"Dimana? Dimana mereka?" Gumam Damar menyapu ruangan itu dengan pandangannya.
"Balkon."
Damar berjalan ke arah balkon. Suara ******* Rinjani dan suara Geraman Zeo terdengar semakin tajam di telinganya.
"Zeo.... Jangan....."
"Jangan.... Hentikan....."
Zeo terkekeh, disusul suara geraman pria itu seolah menikmati. Rahang Damar semakin mengeras. Rasanya semakin panas saja. Ia melangkahkan kaki semakin dekat pada pintu kaca yang menghubungkan kamar dengan balkon. Pintu yang terbuka lebar itu dengan tidak sabar Damar tapaki.
"Jangan..... Hentikan.... Ze...."
"Jangan hentikan? Hihihi.... Kamu mau melanjutkan sampai mana...."
Damar yang sudah sangat panas langsung menerjang, matanya semakin panas melihat pemandangan, Zeo yang dengan erat memeluk tubuh Rinjani yang menempatkan tangannya di lengan pria didepannya. Seolah ingin menolak tapi tak kuasa, sementara wajah Zeo tenggelam di leher Rinjani. Menyesapi kulitnya yang terbuka.
Rinjani hanya terlihat mengenakan baju berbahan kaus bertali spageti. Yang talinya turun hingga di lengan atas wanita itu.
"Zeee.... Jangan....."
Dengan emosinya Damar menarik tubuh Zeo dan langsung memukul wajah Zeo, hingga pria bule itu sedikit mundur karena kuatnya pukulan Damar.
"Kau..... Beraninya kau melecehkan seorang wanita!" Teriak Damar dengan menggebu-gebu.
Rinjani hanya melongo kaget dengan apa yang terjadi, ia melihat Zeo yang sedikit tergeser karena pukulan Damar diwajahnya.
Zeo melirik tajam pada Damar, pria yang sudah mengganggu kesenangannya. Zeo melepas kausnya dengan cepat dan memberikannya pada Rinjani.
__ADS_1
"Tutupi tubuhmu!" Rinjani bergerak kebelakang tubuh Zeo yang melangkah sedikit maju agar tubuh Rinjani yang hanya memakai tengtop bertali spageti dan celana pendek beberapa senti diatas lututnya tak terlihat oleh pria asing yang berani menerobos masuk ke dalam rumahnya.
"Apa urusanmu kemari?" Ucap Zeo dengan wajah dingin dan tajam. Sementara Rinjani sudah memakai baju yang Zeo sodorkan tadi.
"Apa yang kau lakukan padanya?" Damar tak kalah emosi. "Rinjani kemarilah, tak akan kubiarkan pria brengsek ini menyentuhmu lagi."
Damar mengangkat tangannya menengadah berharap Rinjani akan menyambutnya. ini adalah kesempatan emas untuk membuat wanita itu berpaling padanya.
"Apa?"
Zeo tertegun, begitupun Rinjani.
"Rinjani kemarilah." Tatapan tajam Damar terus tertuju pada Zeo. Ia siap jika harus bertarung dengan pria yang sudah dia anggap sedang melecehkan mantan istrinya itu.
Zeo tergelak. Tentu saja dengan tawa mengejek.
"Kau...." Geram Damar mengepalkan tangannya bersiap untuk memukul Zeo lagi.
"Daddy..."
Suara Sam di ambang pintu menatap ketiga orang dewasa yang sepertinya sedang salah paham.
"Sam..." Lirih Rinjani.
"Daddy?" Damar mengulang dengan raut wajah tercengang tak percaya.
"Yeaahh,, Daddy." Ulang Zeo dengan senyum mencemooh. Lalu ia menoleh pada Rinjani.
"Baiklah." Rinjani mengayunkan langkah kakinya. Namun pinggangnya ditahan oleh lengan Zeo yang kekar. Pria itu langsung mencium bibirnya dengan lembut.
Rinjani memejamkan matanya menikmati sebentar kecup dari Zeo. Lalu mendorong tubuh pria itu.
"Jangan lakukan ini didepan Sam!" Rinjani memukul dada Zeo dengan kesal.
Zeo hanya tersenyum tipis, melirik Damar yang sudah semakin kesal dan mengepalkan tangannya.
Rinjani berjalan begitu saja tanpa memperdulikan Damar, ia tersenyum pada Sam yang menatapnya dengan mata bulatnya yang menggemaskan.
"Bunda..."
"Ayo main pasir di pantai." Ajak Rinjani menuntun Sam menjauh dari balkon.
"Yeeeyy,, bagaimana dengan Daddy dan om Damar."
"Nanti nyusul. Dimana Bu Ros?" Suara Rinjani semakin samar dan jauh tak terdengar lagi.
Zeo menatap tajam pada Damar yang melakukan hal yang sama.
"Kau punya keluhan apa sampai menerobos masuk ke kamar kami? Ini adalah perbuatan tidak menyenangkan." Tukasnya tanpa sedikitpun menurunkan ketajaman matanya pada Damar.
Damar tertawa tanpa suara. Ia memandang Zeo remeh.
"Bukankah kau yang sudah melakukan perbuatan tidak menyenangkan? Bahkan lebih mengarah pada pelecehan."
__ADS_1
"Dia menyukainya, ini bukan pelecehan."
"Kau.... Kau pikir aku tidak dengar bagaimana dia terus meminta mu untuk berhenti? Bagaimana dia terus mengatakan jangan, dan kau malah semakin menjadi."
Zeo tertawa.
"Move on. Kau pasti tak bisa melupakannya Sampai menyewa kamar di sebelah kami." Zeo dengan nada merendahkan. "Dia sangat menikmati sentuhan ku, dia bilang, jangan hentikan."
"Aahh, kau pasti sangat tergoda dengan suara desahannya. Sampai menguping dan menerobos kemari." Sambung Zeo lagi penuh ejekan.
Rahang Damar semakin mengeras.
"Aaahh, ia, for your information, Rinjani is my wife."
"Apa?" Damar terlihat sangat syok mendengarnya. Senyum Zeo semakin tersungging dengan smirk.
Zeo berjalan mendekat dan berbisik di telinga Damar.
"Dulu kau pernah bilang, permainan nya mengagumkan. Kau sangat benar. Aku bahkan tak bisa melepaskan diri memeluk tubuhnya. Hanya ingin melakukan itu setiap saat dengannya."
Damar menelan ludahnya.
"Malam ini, akan ku perdengarkan suara desahannya padamu. Selamat menikmati, hal mengagumkan yang sudah kau tinggalkan."
Zeo mengulas senyum tipis lalu berjalan menjauh dari balkon.
"Aku beri kamu waktu beberapa jam untuk keluar dari kamar kami yang penuh cinta ini." Sambung Zeo lalu melanjutkan jalannya menjauh.
Damar mengepalkan tangan. Ia meruntuki kesalahan nya. Meruntuki kebodohannya.
"Rinjani... Rinjani...." Lirihnya mengusap wajahnya dengan kasar."Apa yang harus kulakukan?? Rinjani...."
Tubuh Damar merosot kebawah. Ia terus menggeleng tak percaya jika Rinjani dan Zeo telah menikah. segala pengharapan dan angannya kabur entah kemana.
Bersambung...
.
.
My Readers kasih Othor ini dukungan dong, biar up terus setiap hari.
Like
Komen
Kasih Gift dan vote Othor tambah seneng.
Terima kasih.
Salam hangat.
☺️
__ADS_1