
"Bukan!"
"Rinjani... Sam anakku. Anak kita.."
"Bukan! Bukankah kau vasektomi mas? Jadi tidak mungkin dia anakmu. Sam adalah anakku, anakku seorang."
Damar menunduk malu dan sesal. "Benar, aku vasektomi saat itu, tapi, ada kesalahan saat operasi. Sayangnya dokter yang menangani ku saat itu sudah meninggal."
"Ha-ha-ha, jangan beralasan."
Damar menelan ludahnya dengan sangat susah.
"Bocah itu sangat mirip denganku Rinjani."
Rinjani tertawa muak, ia tak habis pikir dengan mantan suaminya yang dulu sangat menolak bayi yang bahkan belum lahir. Kini malah ngotot mengakuinya.
"Tidak ada kemiripan pun dia padamu. Kau hanya berhalusinasi." Mata Rinjani membulat dengan mimik muka marah. "Apa kau lupa kau punya anak lain yang sangat kau sayangi itu Damar..."
"Rinjani... Piss... Jangan bawa-bawa Nathan. Ini tentang kita. Anak kita. Samudra."Mohon damar dengan menggenggam tangan Rinjani, berharap wanita itu luluh. Rinjani langsung menarik tangannya.
"Hentikan. Jangan sebut-sebut Sam lagi. Jangan temui dia. Dia bukan anakmu." Rinjani berbalik dan hendak melangkah meninggalkan Damar.
"Aku sudah melakukan tes DNA, dan itu menunjukan dia adalah anakku." Damar mengeluarkan sebuah kertas hasil tes DNA yang dia lakukan beberapa hari yang lalu.
Rinjani menoleh melihat berkas itu menjadi sangat marah. Dan merebut kertas ditangan Damar lalu merobeknya dengan kasar.
"Damar Aji! Kau... Betapa lancangnya dirimu! Samudra anakku! Selamanya dia hanya anakku!" Rinjani melempar begitu saja sobekan kertas itu.
"Tidak ada andil sedikitpun dirimu didalamnya. Dia hanya anakku saja."
Damar menatap pilu mantan istrinya itu. Ia pun sangat menyesali semua yang pernah terjadi. Damar mengangkat tangannya hendak memeluk Rinjani, tapi dengan cepat Rinjani menepisnya.
"Apa kau lupa bagaimana dulu kau menolaknya? Apa kau lupa bagaimana dulu kau menatap kami jijik? Dia bahkan belum lahir! Kau sudah dengan tegas mengatakan dia bukan anakmu! Beraninya sekarang kau melakukan tes DNA pada anakku! Apa kau tidak tau malu mengakuinya sebagai anak? Dasar Baji**** kau Damar! Kenapa kau tidak mati saja!"
Rinjani yang sangat marah itu menangis histeris sambil memukuli Damar yang diam mematung.
Damar juga sadar akan kesalahannya dulu. Damar sangat menyesal, wanita yang ia cintai dengan tulus justru menghianati nya dan menipunya. Bahkan untuk melihat Nadia lagi saja Damar sudah enggan. Kini, ia hanya ingin memperbaiki hubungan dengan Rinjani. Sebelum, wanita itu jatuh kedalam pelukan Zeo.
"Kau jahat Damar! Kau jahat sekali..."tangis Rinjani di iringi pukulan tangannya yang semakin melemah.
"Maaf, maaf aku melakukan ini... Aku hanya .. ingin menebus semuanya." Lirih Damar memeluk tubuh rapuh Rinjani. "Maafkan mas Rin..."
__ADS_1
________
Rinjani terdiam di dalam kantor resto nya. Setelah sempat menasehati Sam agar jangan mau pergi dengan orang asing seperti damar. Hanya bunda dan Daddy Z serta Bu Ros yang boleh menjemputnya. Selain itu, Rinjani juga menelpon pihak sekolah. Memberi mereka teguran karena membiarkan Sam di jemput oleh Damar yang bukan siapa-siapa Sam.
Setelah memastikan Damar pergi dan memastikan Sam kembali kerumah bersama Jiechi. Rinjani menyenderkan punggungnya padaa sofa tamu di ruangannya. Ia memijit pelipisnya yang terasa pusing tiba-tiba.
"Maaf Bu Rinjani."
Rinjani menoleh pada suara yang memanggilnya di ambang pintu ruangan kantor.
"Iya..."
"Ada yang mencari ibu di dluar."
Rinjani mengerutkan keningnya, "siapa ya?"
'semoga bukan mas Damar. Enggan banget aku menemuinya.' pikir Rinjani.
"Seorang wanita bernama Nadia."
Rinjani tersenyum kecut. "Lucu sekali pasangan itu, tadi suaminya, sekarang istrinya. Apa sih maunya?"
Rinjani beranjak dari duduknya. "Dimana? Biar kutemui."
"Oke. Terima kasih, lanjutkan bekerja."
Rinjani berjalan ke meja nomor 13. Disana Nadia sudah duduk menunggu. Rinjani menjatuhkan bobotnya di kursi sebrang Nadia.
"Ada apa?"
"Aku kemari hanya ingin memperingatkan mu."
Rinjani tertawa geli,
"Apa ini masalah Damar?"
"Dengar! Rinjani, apa di dunia ini audah tak ada laki-laki lain lagi sampai kau menggoda suamiku?"
Rinjani tertawa geli lagi. Tentu saja itu membuat Nadia tersinggung.
" Apa ini lucu buatmu? Aah, tentu saja lucu, dulu kau sudah pernah menjadi adik maduku, dan kini kau berusaha merebutnya lagi. Dengan menggunakan aanakmu." cerca Nadia lagi dengan emosi yang meluap-luap.
__ADS_1
"Betapa liciknya dirimu. Apa selama ini kau masih belum puas mengusik ketenangan ku? Hah? Apa tak bisa kau pergi diam-diam dan tidak menggangu kebahagiann keluarga kami?"
"Rinjani, kita ini sama-sama wanita, aku mohon, jangan ganggu mas Damar. Carilah pria lain yang masih single. Jangan mengambil milik orang. Apa kamu sungguh mau berprofesi sebagai pelakor?"
Rinjani yang Dari tadi hanya terdiam dan tersenyum geli dengan semua yang Nadia tuduhkan pun angkat bicara.
"Apa kamu sudah selesai bicara?" Ucap Rinjani,"Kalau begitu, sekarang giliran ku. Katakan pada suamimu itu untuk tidak menggangguku dan juga anakku. Jujur saja aku sangat terganggu dengan keberadaannya di sekitarku. Aku mohon padamu untuk mengurung nya saja dirumah."
Rinjani berdiri dari duduknya, mencondongkan tubuhnya kedepan hingga hanya berjarak sejengkal dari wajah Nadia,
"Aku tidak berminat pada barang bekas. Ambillah Damar. Aku punya selusin pria yang mengantri dibelakang. Dan aku hanya memilih satu yang terhebat. Suamimu? Hahaha.... Dia bahkan tidak memenuhi syarat untuk sekedar mengantri." Gumam Rinjani mencemooh.
Lalu berlalu pergi. 'kenapa hari ini sangat melelahkan sekali.'
Sedangkan Nadia mengepalkan tangannya, menatap punggung Rinjani dengan sangat marah.
"Sombong sekali dia..." gumam Nadia dengan lirikan sinis.
ia lalu berdiri menatap punggung Rinjani.
"Awas saja jika kamu masih menemui suamiku!"
"Katakan itu pada suami mu!" balas Rinjani menoleh dan menatap sinis wanita yang mencoba mengancam nya itu.
_________
Bersambung....
.
.
My Readers kasih Othor ini dukungan dong, biar up terus setiap hari.
Like
Komen
Kasih Gift dan vote Othor tambah seneng.
Terima kasih.
__ADS_1
Salam hangat.
☺️