Ipar Laknat

Ipar Laknat
CH 65 • IPAR LAKNUT - Wanita dari masa lalu•


__ADS_3

"Memangnya ini bekerja?" Gumam Zeo tak Habis pikir. Zeo pun langsung menyetor kan tubuhnya pada Rinjani yang sudah tenang dan tak menangis sehisteris tadi. Rinjani mendekat dan membaui aroma tubuh Zeo. Cukup lama. Dan Zeo hanya membatu saja.


"Sudah." Ucap Rinjani dan berlalu pergi.


"Sudah? Begitu saja?" Zeo merasa sangat kosong, heran, ia udah berjalan keliling komplek demi agar bau segar sehabis mandi hilang.


"Aku sampai berlari keliling komplek dan hanya begitu saja? Sudah?" Protes Zeo tak habis pikir dengan ibu hamil satu ini.


Bu Ros terkekeh geli.


"Hihihi, tuan muda, kamu belum merasakan keluar malam hanya untuk cari pecel, atau buah mangga."


"Sungguh, apa dulu Bu Ros juga begitu?"


"Kalau ibu dulu, justru tidak suka bau badan suami, sampai paksu mandi lima kali hanya untuk bisa dekat dengan ibuk." Kekeh Bu Ros.


Zeo tertawa yang sangat di paksakan.


"Tapi itu tidak selalu kok."


###


Rinjani siang itu menyiapkan beberapa kotak makanan untuk dia bawa ke kantor suaminya. Ini untuk pertama kalinya ia datang berkunjung. Entah mengapa Rinjani sangat ingin makan siang bersama Zeo, hingga ia menyiapkan beberapa box makanan.


Rinjani menghubungi suaminya selama dalam perjalanan. Namun tidak ada jawaban.


"Sudahlah aku kesana saja dulu." Gumam Rinjani, akhirnya karena tak juga bisa menghubungi suaminya.


Di lain pihak,


Zeo yang sedang meting dengan beberapa orang klien nya, tak tau jika sang istri sedang menghubunginya. Ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya.


"Mister Zeo?"


"Bagaimana jika kita lanjutkan meting sekalian makan siang?"


"Baiklah."

__ADS_1


Rombongan yang terdiri dari tiga orang pria dan dua orang wanita itu bergerak ke arah cafe dekat gedung Zeos CORP. Dan sangat asyik dengan obrolan yang entah apa.


Tepat saat itu, mobil yang ditumpangi Rinjani berhenti di depan gedung.


"Terima kasih, aku akan lama, jadi kamu pulang dulu tak apa."


"Baik nyonya," patuh sang supir.


Memang sejak tau Rinjani hamil, Zeo tak mengijinkannya untuk bepergian sendiri. Harus ada supir yang menemani.


Rinjani menatap gedung yang tinggi itu, dimana suaminya bekerja selama ini.


"Dulu aku belum sempat menginjakkan kaki di sini." Gumamnya dengan senyuman di wajahnya.


Rinjani berjalan menuju lobi. Ia bertanya pada reception wanita yang tengah berjaga.


"Saya ingin bertemu dengan Tuan Zeo Ferdinand."


"Dengan siapa? Apa anda sudah membuat janji."


Rinjani menggeleng, "Belum."


Rinjani tersenyum kecil."bukan dari perusahaan manapun."


Karyawati itu mengernyit,


"Saya tadi sudah menghubunginya, tapi tidak ada jawaban."


"Presdir kami sangat sibuk,nona jadi itu sangat wajar."


"Aaahh, iya, begitu ya...."


"Ini jam makan siang apa dia tidak keluar?"


Karyawan itu tidak menjawab hanya tersenyum tipis.


"Dimana saya bisa menunggunya."

__ADS_1


"Disana ada sofa tamu nona." Jawab karyawati itu sembari menunjuk sofa tunggu di sisi mejanya.


"Baiklah, terima kasih." Ucap Rinjani dengan senyum kecil.


Ia mencoba menghubungi nomor Zeo lagi, namun nomornya justru kini tidak aktif. Rinjani bernafas panjang.


"Apa ku kembali aja?" Gumamnya pelan sembari menjatuhkan bobotnya di atas sofa tunggu.


Cukup lama Rinjani menunggu, entah apa yang menahannya. Ia hanya ingin makan siang bersama suaminya. Hingga wanita itu tertidur.


Zeo memasuki gedung Zeos CORP masih bersama beberapa orang kliennya. Ia memasuki lobi, berjalan dengan langkah lebar. Lalu ia tiba-tiba terhenti. Merasa melihat sesuatu di sofa tunggu. Ia menoleh, melihat seorang wanita yang tertidur dengan sangat pulas.


Zeo melirik kearah karyawan di lobi. Lalu berjalan mendekat. Karyawati itu merasa gugup seorang diantaranya bangkit dan berjalan kearah sofa tamu.


"Kenapa dia tidur disitu?" Tanyanya pada karyawannya.


"Maaf tuan, kami akan membangunkannya. Tadi dia mencari anda dan ijin menunggu disana."


Zeo menoleh kearah Rinjani terlelap, dan seorang karyawannya hendak membangunkan istrinya. Zeo menahan lengan karyawannya itu.


Karyawannya itu menunduk. "Maaf tuan, ini tak akan terjadi lagi. Dia tidak memiliki janji jadi kami pikir... Lain kali tidak akan saya biarkan dia menunggu dan tertidur disini."


Zeo tak begitu memperhatikan karyawan nya itu mengangkat tubuh Rinjani yang terlelap. Tentu itu membuat karyawan ya terkejut.


"Lain kali, jika dia datang lagi, biarkan dia masuk keruangan ku."


"Iya?" Kedua karyawannya itu menatap tak percaya.


"Ingat-ingat lah wajahnya. Dia istriku, jadi tak perlu membuat janji. Lain kali langsung antarkam saja dia ke ruang ku. Paham?"


"Ba-baik. Maaf tuan. Kami sungguh tidak tau..."


"Tidak apa, aku tidak ingin hal seperti ini terjadi lagi..." Ucapnya acuh berjalan menuju lift ekslusif.


Tak lupa Zeo juga berpesan pada klien nya, bahwa asistennya lah yang akan melanjutkan semuanya, mengingat mereka sudah mencapai titik kesempatan.


Diantara kliennya itu, seorang wanita dari masa lalu Zeo menyipitkan matanya. Memandang Zeo yang semakin jauh dengan Rinjani dalam gendongannya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2