Ipar Laknat

Ipar Laknat
CH 32 • IPAR LAKNAT -


__ADS_3

Damar memasuki kamarnya dengan gontai. Setelah pertengkarannya dengan sang papa, ia berfikir keras besok pagi mereka harus meninggalkan rumah utama. Damar menghela nafasnya, Ia ingat sesaat ia akan menaiki tangga hendak tidur, mama Ratna menahan lengannya dan berbisik.


"Dam, mama akan mencoba membujuk papamu."


"Maa....." Binar harapan terpancar di mata Damar.


"Walau bagaimanapun juga mama dan papa ingin seorang cucu. Dan kalian sudah memiliki sebesar itu. Mama yakin seiring berjalannya waktu, papamu akan menerima kalian."


"Terima kasih ma."


"Karena itu, sementara ini turuti dulu kemauan papamu. Pergilah sementara nanti kita bujuk sama-sama."


Ada gurat kecewa di wajah Damar namun, ini lebih baik. Setidaknya, ada mama yang sudah mendukung."Baiklah ma."


"Ada apa mas?" Tanya Nadia begitu Damar menjatuhkan bobotnya di bibir ranjang. Nadia yang semula tiduran memeluk Nathan yang pulas itu bangun terduduk dan mensejajari suaminya.


"Gimana papa?" Tanyanya lagi dengan harap cemas.


"Papa mau kita meninggalkan rumah ini besok pagi."


Bahu Nadia berguncang. Ia sedikit Terisak. Bagaimana bisa mertuanya itu masih tak mau menerima nya setelah sekian lama.


"Kenapa mas? Kenapa hati papa masih seperti batu? Bahkan setelah kita membawa Nathan kerumah ini. Sedikitpun dia tak mau memandangnya. Nathan juga cucu papa mas." Isaknya menatap wajah Damar dari samping. Bibir nya bergetar oleh luapan emosinya.


"Nad, plis, jangan nangis. Papa memang belum membuka hati nya, tapi mama, dia menyambut kita. Kita hanya perlu bersabar. Mas yakin, papa akan luluh juga setelah lebih lama mengenal kamu dan Nathan."


Damar menyeka pipi Nadia yang basah. Lalu ia memeluk tubuh istrinya.


"Nad,"


Pelukan Damar merenggang, ia memandang lekat mata Nadia.


"Nad, apa kamu pernah bertemu papa sebelumnya? Entah dimana mungkin? Apa kamu pernah melakukan kesalahan padanya?"


Nadia tersentak mendengar penuturan Damar.


"Maksud mas?" Tanya Nadia dengan sedikit ragu dan gugup.


"Papa bilang, untuk bertanya padamu kenapa dia sangat tidak menyukaimu. Kenapa dia tidak memberi restu. Mungkinkah kamu pernah membuat papa marah?"


Nadia menggeleng, "Tidak mas. Aku bertemu dengan papa juga saat kamu membawaku ke rumahmu saat kuliah dulu." Jelas Nadia dengan wajah bingung.


Damar membuang nafasnya, "Ya sudah, ayo kita tidur."


_________


"Daddy!"


"Ayo panggil Daddy."


Zeo yang sedang menggendong Baby Sam mengajari bocah kecil itu untuk memanggilnya Daddy. Walau dia dan Rinjani belum menikah, nyicil panggilan dulu boleh lah ya.


"Dddd dddaaaaadddy....." Suara Latah bocil berusia hampir dua tahun itu menirukan Zeo.


"Kamu mengajari anakku apa?" Rinjani yang baru muncul dari dalam rumah ke teras mencubit pinggang Zeo yang meringis kecil.


"Nyicil panggil Daddy boleh kan?" Zeo memainkan alisnya sembari mengerling nakal.


"Jangan! Nanti dia beneran berfikir kamu Daddy-nya." Rinjani meletakkan dua gelas teh hangat di meja samping kursi kayu tempat Zeo duduk.


"Kenapa nggak boleh? Kamu sudah punya calon?" Tanya Zeo melirik Rinjani dengan senyum tipis.

__ADS_1


"Zeo...."


"Oohh, jadi calonmu namanya Zeo?"


Rinjani menepuk lengan Zeo dengan senyum kesal. Zeo nyengir, lalu bermain-main dengan Samudra yang lincah. Keduanya sama-sama diam. Seolah menunggu satu sama lain memulai bicara.


"Ini sudah dua tahun Rinjani, tak bisakah kamu membuka hati untukku?"


"Zeo... Plis deh...." Rinjani menatap Zeo dengan memohon. Zeo menatap bola mata Rinjani dengan senyum tipis diwajahnya. Yang jelas, Zeo tak ingin memaksanya. Ia tau Rinjani pasti masih trauma dengan pernikahannya dengan Damar.


"Yah, baiklah, aku masih bisa bersabar dan menunggu lagi. Tapi, setiap harinya, aku akan datang melamar mu."


"Kenapa mesti melakukan hal yang sia-sia?"


"Enggak sia-sia, kamu pasti akan luluh juga jika kulakukan terus menerus."


Rinjani tertawa, "pede banget."


"Ya pede dong mbak Rinjani, orang ibuk-ibuk komplek sini ngefans sama mister Zeo." Bu Ros menimpali, wanita tua itu keluar dengan membawa sepiring pisang goreng dan mendoan. Lalu ia letakkan di atas meja samping teh.


"Denger tuh."


Tak lama, lewat seorang ibu-ibu didepan rumah Rinjani, yang pandangan matanya menatap kearah teras. Ia tersenyum ramah sambil mengangguk kan kepalanya.


"Mari.."


"Iya Bu Ris, mau kemana?"


"Ini mau ke warung."


"Oo yaa..." Bu Ros berbasa-basi. Wanita yang di panggil Bu Ris itu masih terus menatap ke teras, sampai-sampai ia tersandung sesuatu. Lalu melihat lagi keteras rumah Rinjani dengan cengiran seperti menahan malu, sembari bergegas pergi. Bu Ros hanya mengulas senyum geli, begitupun dengan Rinjani.


"Ini ibu-ibu komplek udah yang ke lima lewat sini." gumam Bu Rosmala pada Rinjani. Rinjani hanya menyahutinya dengan senyuman geli.


"Gula apa? Putih apa yang merah Bu SAS?"


"Yang putih."


"Ada, Bu."


"Ini,mau masak gula nya habis, mau ke warung kok jauh." Ujar ibu itu dengan sedikit melirik kearah Zeo lalu tersenyum.


"O iya, sebentar Bu, saya ambilkan." Bu Ros mengerling pada Rinjani sebelum ia masuk kedalam rumah.


Sementara si ibu yang menunggu masih berdiri sembari menatap kagum pada Zeo yang asyik bermain dengan Sam dipangkuan nya.


"Mendoan buk," tawar Rinjani sembari mengangkat piring berisi mendoan dan pisang yang masih hangat, lalu membawanya sampai didepan ibuk-ibuk itu.


"Waah, makasih mbak Rinjani, jadi enak ini. Udah minta gula masih dikasih mendoan." Kekehnya sambil sesekali mencuri pandang pada Zeo.


Zeo melihat si ibuk lalu tersenyum nakal, ia mengedipkan sebelah matanya hingga membuat si ibu tersipu. Rinjani yang melihat itu,tersenyum geli mencubit pinggang Zeo.


"Auuw... Jangan kasar-kasar sayang."


"Ini buk Sasmi gula nya." Bu Ros muncul dengan seplastik gula putih.


"O iya, makasih ya." Ucap Bu Sasmi. Ia menatap Zeo dan Rinjani.


"Makasih ya Mbak, mister. Saya permisi pulang dulu."


"Iya," sahut Rinjani ramah, tak lupa senyum mengembang di wajahnya.

__ADS_1


Bu Sasmi berjalan menjauh, sekali menoleh menatap ke arah teras sambil terus berjalan. Sampai ia menabrak pagar.


"Aduh." Erangnya.


"Eehh, ibuk nggak papa?" Rinjani.


"Makanya buk, kalau jalan lihat depan. Jadi nabrak kan?" Bu Ros.


"Ha-ha-ha,"


Bu Sasmi yang terlanjur malu itu langsung mengambil langkah seribu.


"Tuh, bener kan mbak Rin." Gumam Bu Ros menyenggol lengan Rinjani.


"Ini masih ibuk komplek, belum yang anak muda."


"Oh ya?" Rinjani berganti menatap Zeo."kamu laris juga ya?"


"Makanya, terima aja mister Zeo ini, keburu di Embat sama ibuk-ibuk komplek."


Rinjani tak menjawab, ia hanya terkekeh kecil.


"Kamu sedang menghina ku Haahh?" Protes Zeo


"Makanya jangan genit-genit sama ibu komplek."


"Kok jadi aku sih?"


"Emang kamu kegenitan, buat apa tadi pake kedip-kedipan segala sama Bu Sasmi?"


"Kamu cemburu?"


Rinjani tertawa lagi, "Ha-ha-ha... Buat apa cemburu sama ibuk-ibuk?"


"Oke, nggak apa kalau nggak mau ngakuin." ucap Zeo sembari berdiri karena Sam melorot minta turun dan berlarian.


Pria itu tersenyum menyebalkan, lalu berjalan ke jalan depan. Mata Rinjani hanya mengikuti punggung Zeo yang menjauh. Dan berhenti menghampiri seorang wanita muda yang sedang berhenti di jalan depan rumah mereka. Sepertinya motor yang dia kendarai bermasalah.


Rinjani hanya memperhatikan Zeo yang seolah sedang mengamati dan mengecek keadaan motor. Lama-lama makin banyak ibuk-ibuk komplek yang mengerumuni. Rinjani tertawa kecil.


"Apa dia sedang mengejekku?" gumam Rinjani.


"Sam?" panggil Rinjani karena tak melihat anak lelakinya itu.


Ia tertegun, ternyata Sam sudah dalam gendongan Bu Ros yang ikut berkerumun dengan ibuk-ibu komplek. Rinjani menepuk jidatnya.


"Ya ampun... Dah kek duren aja dia, banyak banget yang ngerubungi."


________


Bersambung...


$$$$


My Readers kasih Othor ini dukungan dong, biar up terus setiap hari.


Like


Komen


Terima kasih.

__ADS_1


Salam hangat.


☺️ ...


__ADS_2