Ipar Laknat

Ipar Laknat
CH 8 • IPAR LAKNUT - Ternyata Ipar •


__ADS_3

Rinjani berjalan memasuki pintu utama rumah yang besar itu. Langkah kakinya memelan seketika, saat ia mendengar suara yang sudah sangat ia hapal sedang berbincang dengan pak Budi, mertuanya. Rinjani masih berjalan pelan dan ragu hingga netranya melebar melihat sosok yang duduk di seberang papa Rudi.


"Rinjani, kemarilah." Seru pak Budi dengan riang gembira memanggil Rinjani disertai lambaian tangan agar mendekat.


"Ini Zeo...."


Pria itu tersenyum smirk.


"Hay!"


Rinjani panas dingin, tangannya berkeringat dan jantungnya berdetak kuat.


"Apa yang si gila ini lakukan di sini? Tak mungkin dia benar-benar meminta ijin kan?" batin Rinjani meremas tangannya cemas, 'Sudah berapa lama dia disini? Apa saja yang sudah dia katakan?'


Peluh Rinjani menetes dari pelipis hingga ke dagunya. Mimik mukanya cemas sekaligus takut.


'Tenang Rin, tenang. Ingatlah kamu baru saja pulang, harusnya dia juga belum lama disini. Tentu saja dia belum mengatakan sesuatu yang berbahaya.'


Rinjani membatin dengan tatapan kewaspadaan dan menyelidik pada Zeo. Pria itu tersenyum misterius tapi terkesan mengejeknya.


"Papa dengar kamu kerja di perusahaan Milik Zeo ya?"


Pak Budi membuka suara begitu Rinjani meletakkan bokongnya di sofa samping dia duduk yang terletak diantara sofa yang pak Budi dan Zeo duduki. Rinjani tersenyum kecil dengan dipaksakan. Dan bawaannya di atas meja dengan lemas.


"Kok nggak bilang sih sama papa kalau kamu kerja di Zeos?" Pak Budi menatap Rinjani dengan mata berbinar penuh minat.


"Do you know what? if Zeo doesn't tell me, i Will never know."sambung pak Budi menatap Zeo lalu berganti memandang anak menantunya.


"EHEM, sorry papa."


"Ini pesanan papa ya?" Pak Budi membuka bungkus plastik yang Rinjani bawa. Dan mempersilahkan Zeo untuk mencicipinya.


"Rinjani is a good employee. She was never absent and she did good job. Its turn out your daughter-in-law, dad." ("Rinjani karyawan yang baik. Dia tidak pernah absen dan juga kerjanya sangat bagus. Ternyata dia menantu Ayah.")


"Dad?" Rinjani mengerutkan alisnya.


"Ha-ha-ha, apa kami tidak memiliki kemiripan?" Pak Rudi tergelak mendengar pertanyaan Rinjani.


"Oiya Rin, malam ini Zeo akan menginap disini. Tolong bantu dia menemukan kamarnya disamping kamar kalian."


"APA?" Rinjani memekik sambil berdiri.


Sedangkan Zeo tersenyum puas sambil memasukkan lumpia basah kemulutnya, lalu mengunyah dengan santai dan mata penuh kemenangan.


_____


"What it this Mr Zeo? Why you come to my house and stay here?("Apa-apan ini pak Zeo? Kenapa tiba-tiba datang ke rumahku dan menginap disini?")


"Why? Didnt you say i should ask permision?"("Kenapa? Bukankah kau bilang aku harus meminta ijin?"

__ADS_1


"Apa? Apa kau tidak waras? Aku tidak sungguh-sungguh...."


"So, is this my room? Next your door."("Jadi ini kamarku? Disebelah kamarmu.") Ucap Zeo tersenyum tipis dengan lirikan menggoda pada Rinjani, lalu berganti melihat seluruh ruangan dengan pandangan matanya.


"This is where i sleep? Next to your room.("Jadi aku akan beristirahat disini."


Rinjani geram dengan Zeo yang bahkan seolah tak menyimak perkataannya. Dengan tangan terkepal hendak memukul bagian belakang Zeo yang kini berjalan didepannya dengan mata yang masih memandang seisi ruangan. Pria itu tiba-tiba berbalik hingga Rinjani urung dan berpura-pura sedang menangkap nyamuk.


"What are you doing?" Dengan mengernyit.("Apa yang kau lakukan?")


Rinjani jadi salah tingkah,


"Don't you see that? I'm cacthing mosquitoes. Its so fierce. Don't get bitten.("Kau tak lihat? Aku sedang menangkap nyamuk. Nyamuk disini ganas-ganas, jangan sampai kau digigit.")


"You care about me."("Kau sangat perhatian padaku.")


'Iisshhh,, ge er. Siapa juga yang perhatian, mau mukul iya.' gumam Rinjani dalam hati.


"Apa kau mau terus disini?" Zeo mulai melonggarkan dasi dan membuka kancing kemejanya.


"Wha-what you doing?" ("A-apa yang akan kau lakukan?")


"This ia my room, actually i wanna change my clothes. Do yo want to stay any longer?"("Ini kamarku tentu saja berganti baju, atau kau memang sengaja mau tetap disini?") Zeo melangkah maju hingga wajahnya sangat dekat dengan wajah Rinjani.


Tentu saja dengan bagian tubuh depannya yang sudah terbuka hingga tubuh atletis nya terekspos. Rinjani memandangnya dengan mata melebar dan jantung tak karuan.


"Dont you missing the night? We can do it more and more couse im here for a long time." ("Apa kau rindu malam itu lagi? Kita bisa lebih sering melakukannya karena aku tinggal disini.")


Rinjani yang sudah salah tingkah itu berlari keluar dari kamar Zeo. Rinjani mengibas-ngibaskan tangannya didepan wajahnya yang terasa panas terbakar. Rinjani membuang nafasnya berkali-kali.


Rinjani wanita normal, walau bagaimanapun ia sedikit tergoda oleh tubuh indah Zeo, apa lagi ia sudah tak terjamah Damar sejak beberapa bulan lamanya, ditambah dia pernah merasakan tubuh itu sebulan yang lalu. Rinjani cukup bersyukur karena ia tak hamil karena malam laknut itu.


'Apa yang papa pikirkan sampai membiarkan si gila itu menginap disini?' pikir Rinjani meneruskan langkahnya sambil masih mengipasi wajahnya yang terasa panas.


"kenapa aku harus satu atap dengannya."


Saat makan malam, Rinjani melirik papa mertuanya, lalu berganti melirik Zeo.


"Dimana Damar? Kenapa dia belum pulang jam segini?"


"MMM.. mas Damar bilang masih ada meeting."


"Selarut ini?"


"Sekalian makan malam dengan klien."


"Papa sudah memintanya untuk segera kembali. Kenapa lagi dengan anak itu?" Gerutu pak Budi dengan mimik muka kesal."Mama mu bagaimana? Papa sudah menelponnya tapi tidak diangkat."


"Mama bilang malam ini ada arisan di rumah saudaranya."

__ADS_1


"Ck! Ibu sama anak sama saja."pak Budi mengomel-ngomel,"ayo kita mulai saja makan malamnya."


Rinjani mengambil entong , nyendok nasi dan mengisi piring papa mertuanya, berikutnya mengambil beberapa lauk dan menempatkannya diatas nasi sang mertua.


Rinjani mengambil satu centong nasi lalu mengisi piring miliknya sendiri, mengambil lauk dan bersiap menyendok untuk melahabnya.


"What about me?"


Rinjani mengangkat kepalanya, memandang Zeo yang menunjuk piringnya yang masih kosong.


'Apa maksudnya? Dia mau aku mengambilkan dia makanan juga? Dia pikir dia siapa? Banyak sekali tingkahnya.'


"What up, Zeo?"pak Budi.


"Shes get you food and served you very well. But ignored me.("Dia mengambilkanmu makanan, melayanimu dengan sangat baik. Tapi aku diabaikan.")


"Aha-ha-ha, do you expect me to serving you too?" ("Aha-ha-ha, apa kau mau aku juga melayanimu juga?")


"Absulutely. You make me feel discremination against."("Tentu saja. Kau membuat aku merasa di diskriminasi.")


'Ya ampun, apa yang si gila ini pikirkan? Apa menurutnya aku ini pelayan? Yang siap melayaninya kalau mau?' dalam pikiran Rinjani.


Rinjani melirik mertuanya yang tersenyum kecil.


"Mungkin kamu nggak tau karena terlalu lama tinggal di luar negri. Rinjani adalah menantuku, sudah menjadi tradisi dan adat disini, jika menantu melayani suami dan mertuanya di meja makaan sebagai bentuk pembaktian, meski pun itu nggak harus." Pak Budi menerangkan.


"Maaf mama telat pulang, arisannya belum selesai, tapi karena papa bilang ada tamu penting jadi....." Mama Ratna yang setengah berlari mendekat dengan suara sedikit panik dan cepat.


"Aaa.... Siapa dia?" Mama memandang Zeo dengan mata menyelidik setelah menetapkan langkahnya di antara sang suami dan Rinjani duduk.


"Duduklah dulu sayang." Pinta pak Budi sedikit mendongak memandang wajah istrinya yang berdiri disampingnya. Mama pun duduk disamping Rinjani tanpa melepas tatapannya pada Zeo dengan pandangan curiga. Lalu mama bergantian menatap suaminya.


"Dia Zeo, anakku."


"APA?" Rinjani dan mama melebarkan mata menatap serentak pak Budi.


Bersambung....


_______


$$$$


My Readers kasih Othor ini dukungan dong, biar up terus setiap hari.


Like


Komen


Terima kasih.

__ADS_1


Salam hangat.


☺️


__ADS_2