
"Hamil?"
Baik Zeo dan Rinjani sama-sama terkejut. Rinjani memang ingat ia sempat membuang tespack nya di sampah kamar mandi belakang tanpa sempat ia melihatnya dengan jelas. Tapi ia tidak menyangka hasil nya akan positif. Ia pun perebut benda pipih itu dari tangan Zeo.
"Jadi, maksud Bu Ros adalah, istriku hamil anakku?"
"Benar sekali tuan muda Zeo."
Antara syukur dan bahagia. Entah bagaimana Zeo menggambarkannya. Yang jelas ia sangat bahagia, Zeo memandang Rinjani yang juga masih terdiam menatap benda pipih ditangannya. Menanti bagaimana reaksi istrinya.
"Aku hamil?" Gumamnya menegakkan kepalanya."Aku hamil Ze."
Zeo mengangguk dengan senyum yang sangat lebar. Ia tau Rinjani pasti tak percaya. Karena memang Zeo tau, selama menikah dengan Damar dia udah beberapa kali kecewa, hingga berfikir dirinya tak subur. Padahal Damar lah yang bersalah, karena mantan suami Rinjani itu vasektomi.
Rinjani bahkan sempat menuduh Zeo vasektomi Karena tak kunjung hamil begitu mereka menikah. Zeo tau, Rinjani pastilah sangat tertekan dan trauma akan rasa percaya pada pasangan nya.
"Aku hamil Ze... Huhuhu..."
Zeo melebarkan senyumnya. Lalu bergerak memeluk istrinya. Mengusap punggung dan lengan Rinjani. Ia paham. Rinjani pastilah sangat bahagia. Mungkin melebihi rasa yang dia punya. Mengingat wanita itu sangat menginginkannya.
"Iya kamu hamil. Bagaimana kalau kita cek kandungan biar kamu makin percaya."
"Huhuhu.... Aku hamil Ze... Aku hamil anak siapa Ze?"
Zeo tercenung, pertanyaan macam apa itu? Rinjani punya suami, dirinya, jika bukan dia, lalu siapa lagi yang mungkin menghamili. Zeo melonggarkan pelukannya. Namun masih memeluk pinggang istrinya. Pandangannya bertumpu pada wajah istrinya yang mulai basah oleh air mata. Zeo mengusap pipi wanitanya dengan lembut.
"Sayang.... Apa kamu tak melihatku? Kita bahkan melakukannya setiap malam. Bagaimana bisa kamu bertanya siapa yang menghamilimu?"
Rinjani menatap balik wajah Zeo dengan wajah seperti puppy yang manis dan menggemaskan.
"Siapa yang menghamiliku?"
Zeo mau tak mau tertawa juga.
"Aku. Kamu puas?" Lontar nya sembari memeluk erat istrinya. Ia kecup punca kepala Rinjani berulang.
Rinjani tersedu, memeluk balik suaminya.
"Bunda... Daddy...."
Zeo menoleh dan meraih tubuh Sam tanpa melepas pelukan pada Rinjani.
"Kemari sayang."
Mereka bertiga berpelukan dengan haru.
Bu Ros pun tersenyum juga. Ia turut berbahagia melihat keluarga kecil itu. Ia mengusap sudut matanya yang basah. Lalu meninggalkan keluarga yang sedang berbahagia itu.
"Sam."
Zeo melepas pelukannya dan menyamakan tinggi dengan Samudra."Sebentar lagi, kamu bakal punya adik."
"Adik?"
"Hemmm..."
"Mana?"
Zeo tersenyum kecil, ia lalu menyentuh perut Rinjani yang masih rata.
"Di sini."
"Bunda menyembunyikan adik Sam di situ?"
Zeo dan Rinjani saling berpandangan lalu tersenyum bersamaan mendengar ocehan Sam. Lalu Zeo mengangguk kecil.
"Bunda...." Sam merengek pada bundanya. "Keluarkan adik Sam sekarang, Sam mau liat, dia laki-laki atau perempuan? Sam pingin main sama Adek Sam."
"Nanti Sam. Kita cek dulu ke dokter. Adik Sam masih sangat kecil, jadi bunda harus menjaganya di dalam perut bunda. Kalau adik Sam sudah cukup kuat dan besar untuk melihat dunia, Sam bisa melihatnya. Heemm?" Tutur Zeo memberi pengertian.
"Yaahh...." Rasa tak rela Sam dessaahkan.
Zeo berdiri dan menatap istrinya,"Bagaimana kalau kita cek ke dokter kandungan dulu malam ini?"
Rinjani mengangguk patuh.
__ADS_1
Malam itu, keluarga kecil Zeo berangkat ke dokter kandungan setelah melakukan registrasi online.
"Dari hasil USG, dan perhitungan siklus haid ibu Rinjani, sudah hamil 4minggu ya." Tutur Dokter Sofia, dokter kandungan itu sedang menggerakkan alat USG nya. Ia menjelaskan secara runtun dan rinci.
Setelah urusan selesai, Rinjani dan Zeo kembali. Dalam perjalanan pulang, Zeo menautkan jemarinya dan mencium punggung tangan Rinjani berulang kali.
"Terima kasih hubby."
"Aku masih tidak percaya."
"Aku juga."
"Ze..."
"Heeem?"
"Malam ini, bagaimana kalau kita nggak pulang?" pinta Rinjani menatap suaminya dari samping.
Wajah Zeo tergambar keterkejutan.
"Kenapa?"
"Aku ingin menghabiskan waktu denganmu."
"Di rumah kan bisa. Lagian kasian Sam, dia pasti sudah menunggu kita."
"Aku... Hanya ingin kita berdua saja."
Zeo terkekeh kecil. Rinjani melirik kecil suaminya tidak suka.
"Kenapa tertawa?"
"Kamu tau? Kamu beneran manja akhir-akhir ini. Selalu minta dan melakukan hal yang tidak bisa kamu lakukan. Seperti sekarang. Kamu bahkan meminta untuk tak pulang, lucu..."
"Kalau tidak mau, ya sudah." Rinjani menarik tangannya ngambek.
"Sam gimana?"
"Kan ada Bu Ros."
Rinjani membuang nafasnya mendengar ucapan Zeo yang begitu menohok.
"Kenapa bicaramu jadi begitu?"
"Kenapa memangnya?"
"Aku nggak berniat ninggalin Sam. Sam tetap anakku, aku hanya ingin bersamamu saja malam ini. Berjalan-jalan berdua. Menikmati malam romantis. Kalau tidak mau, kamu tak perlu mengucapkan hal yang menyakitkan dan berlebihan begitu." Tukas Rinjani sembari mengusap air matanya.
Zeo hanya diam, saat ini Rinjani sedang masa hamil, sudah tentu emosi dan hormonnya tidak stabil. Jadi, Zeo memutuskan menuruti saja maunya sang istri. Zeo mengambil hpnya dan menghubungi Bu Ros.
"Bu Ros?"
"...."
"Apa Sam sudah tidur?"
"..."
"Bagus kalau begitu, bunda nya Sam ngambek nggak mau pulang. Jadi, saya titip Sam dulu ya."
"..."
Tentu saja ucapan itu membuat Rinjani melirik tajam pada suaminya. 'Enak saja bilang aku ngambek.' batin Rinjani mendengus kesal.
"Hihihi.... Baiklah. Selamat malam." Tutup Zeo dengan kekehan kecil. Zeo meletakan hpnya di dasboard. Lalu menoleh.
"Sekarang kamu mau kemana?"
"Pulang."
"Nggak jadi pergi?" Zeo menoleh sekilas dengan mimik wajah heran.
"Nggak."
Zeo mendesah pelan.
__ADS_1
"Ngambek lagi, keknya aku salah terus deh."
Rinjani tetap terdiam dan melihat ke arah luar.
Sesampainya di rumah, Rinjani masih mengambek. Bu Ros yang membukakan pintu pun merasa sangat heran. Karena tadi ijin nggak pulang, eh, sekarang malah minta di bukakan pintu.
"Ngambek." Bisik Zeo pada mantan pengasuhnya itu yang menatapnya dengan tanya.
"Oohh..." Bu Ros manggut-manggut."Biasa mister, kalau lagi hamil emang suka nggak ketebak emosinya. Bentar-bentar seneng, bentar-bentar marah, bentar-bentar sedih, yang sabar aja." Lanjutnya mengurut punggung anak asuhnya dulu.
Zeo hanya melempar senyum.
"Dimaklumi aja ya, tuan muda."
###
Hari terus berlalu, Rinjani tak pernah absen untuk bermanja-manja pada suaminya, seperti sore ini. Begitu Zeo kembali, Rinjani menyambut prianya dengan pelukan. Menghirup dalam-dalam aroma tubuh Zeo yang sudah seharian bekerja. Terutama di bagian lehernya. Dimana kulit Zeo terpampang jelas.
"Hei, sudah malu dilihat Sam."
Rinjani menggeleng, "Aroma tubuhmu sangat enak."
"Daddy Z belum mandi bunda Rin."
Rinjani tak bergeming. Ia terus saja bergelayut manja dan menghirup dalam-dalam aroma tubuh Zeo. Menempelkan hidungnya pada leher Zeo.
"Bunda... Ini masih didepan pintu..."
Rinjani masih tak bergeming. Membuat Zeo mengulas senyum, senang dan juga geli. Ia mengangkat tubuh Rinjani. Membawanya menaiki tangga dan memasuki kamar mereka. Lalu berbaring diatas ranjang. Zeo memilih pasrah saja dengan hobi baru istrinya.
Zeo masih ingat, kejadian kemarin sore. Hanya gara-gara ia langsung mandi begitu pulang kerumah, Rinjani sampai menangis semalaman. Sangat aneh memang hormon dan hoby nya bumil satu ini.
Flashback dikit:
"Sayang, aku sudah mandi. Kemarilah, cium Daddy, pasti lebih segar." Ucap Zeo merentangkan tangannya dengan wajah segar dan masih berbalut handuk kimono ditubuhnya.
Rinjani mendekat, namun tak seantusias biasanya. Ia membaui tubuh suaminya. Yang tentu saja tersenyum lebar karena sudah mandi. Sudah pasti enak bau nya, segar dan wangi. Namun reaksi yang Rinjani benar-benar di luar dugaannya.
"Kenapa baunya seperti ini?" Protes Rinjani menatap suaminya tak suka.
"Aku udah mandi sayang. Ayoo..." Zeo memajukan tubuhnya agar istri ya itu menghirup aroma tubuhnya seperti biasanya. Namun lagi-lagi Rinjani menjauh.
"Nggak mau! Kenapa baunya kek gini. Kamu apain?"
"Apain? Aku cuma mandi sayang."
"Mandi?"
Zeo mengangguk ragu, melihat wajah Rinjani yang hampir menangis.
"Kok malah mandi sih?" Tangis Rinjani, "aku nggak mau, kenapa malah mandi?"
Zeo menjadi bingung dengan tingkah istrinya yang justru menangis itu hanya gara-gara mandi.
"Sayang..." Zeo merengkuh tubuh istrinya yang menangis itu, namun dengan cepat Rinjani menepisnya.
Bu Ros yang sedari tadi melihat wanita yang tengah ngidam itu tersenyum dan mendekat. Lalu mengelus pungung majikannya yang menangis itu.
"Mister Zeo, wanita hamil memang seperti ini jangan bingung. Kenapa mbak Rinjani malah begini, padahal mister Zeo sengaja mandi biar mbak Rinjani nyaman menghirup aroma tubuh mister kan?"
Zeo mengangguk.
"Padahal, mbak Rinjani hanya ingin aroma tubuh mister Zeo yang baru pulang kerja. Aromanya berbeda, dan hidung ibu hamil itu sangatlah sensitif. Jadi ia akan tau bau mana yang dia suka dan tidak. Jadi, saran saya, mister Zeo, cobalah keliling kompleks agar aroma tubuh Mister keluar..."
"Maksud Bu Ros keringat? Itu kan bau.."
"Ya itu yang mbak Rinjani suka."
"Baiklah..." Tunduk Zeo lalu iapun berlari keliling komplek setelah mengganti pakaiannya. Zeo kembali begitu merasa cukup memproduksi keringat.
"Memangnya ini bekerja?" Gumam Zeo tak Habis pikir. Zeo pun langsung menyetor kan tubuhnya pada Rinjani yang sudah tenang dan tak menangis lagi. Rinjani mendekat...
Bersambung...
Wah kira-kira gimana ya reaksinya Bumil satu itu? Masih rewel nggak ya sama aroma tubuhnya Zeo?
__ADS_1