
Bruuaakkk...
"Aaaarrrgg..."
Tubuh Aira terhempas di lantai, ia terkejut dengan penolakan dari Zeo. Pria itu mendorong tubuhnya tanpa ampun.
"Zeo..."
Pria itu menatap dingin padanya.
"Kelak, tidak ada lagi pertemuan diantara kita. Aku masih memandang mu sebagai rekan kerja, tidak lebih dari itu, tapi sepertinya kamu berfikir terlalu jauh."
"O... Bagaimana bisa kau berpaling secepat itu?"
Zeo menyungging senyum,"Semua sudah berakhir sejak kau pergi waktu itu."
Zeo memulai langkah nya. Ia terhenti sesaat menoleh menatap Aira yang masih terduduk di lantai.
"Jangan temui istriku lagi. Aku tak akan memandang hubungan kerja sama kita, jika harus berakhir, bukan aku yang mengalami kerugian."
Zeo melanjutkan langkahnya lagi, tanpa menoleh.
Wajah Aira menjadi pucat.
"Jangan temui istrinya lagi? Apa wanita itu mengadu? Sialan! Apa yang harus aku lakukan? Aku harus dapatkan Zeo kembali, kalau tidak, hidupku akan..." Aira bergumam sembari menggigiti kuku jempolnya.
Wajah wanita itu terlihat sangat gusar. Ada banyak kecemasan di sana.
###
"Sayang, aku sedang dalam perjalanan pulang, kamu mau nitip beliin apa?"
("Sam?") Suara teriakan Rinjani terdengar sedang memanggil anak lelakinya,
("Daddy mau pulang, kamu pesen apa?") Lalu terdengar suara samar Sam di kejauhan.
("Sam nitip kebab") suara Rinjani setelah ada jeda sesaat.
Zeo tersenyum sembari masih fokus menyetir dengan headset yang terpasang di telinganya.
"Kalau kamu? Pesen apa?"
("MMM... Sosis bakar aja, yang di jual jalan Tamrin. Terus, sama buah melon yang berwarna Oren.")
"Harus yang warna Oren ya?" Tanya Zeo dengan dahi mengernyit.
("Heemm... Nggak suka yang warna putih, hiiiyy....")
Zeo tertawa geli, "Kenapa?"
("Nggak suka, aku geli memikirkan nya.")
"Okey, Sam kebab, istriku tercinta Rinjani sosis bakar dan melon berwarna Oren."
("Heemm... Jangan sampai keliru ya.")
Sambungan telpon di tutup, Zeo mengendarai kendaraan nya mencari kebab. Ia lalu membelinya, kebetulan gerobak kebab itu juga menjual Sosis, akhirnya, Zeo putuskan sekalian membeli sosis disana. Dari pada harus bolak-balik ke jalan Tamrin.
Lalu ia mencari penjual buah, banyak memang dia temui, namun, tak ada yang menjual melon berwarna Oren. Zeo menghela nafasnya.
"Haaahh,, kenapa susah sekali mencari nya, ini sudah yang kios yang ke lima. Apa aku cari kepasar aja?" Gumam Zeo sembari keluar dari kios buah terakhir.
__ADS_1
Sesampai nya di pasar, ternyata ia juga tak mendapati penjual melon Oren. Pria bule itu menggaruk kepalanya.
"Kebab udah dingin, melon Oren pun tak dapat." Gumamnya membuang nafas.
Saat itu, ia melihat ada satu kios di pasar yang menjual melon Oren setengah bagian. Bergegas dia menghampiri, melon itu sudah semakin dekat, wajah Zeo sudah sumringah sebentar lagi perjuangan nya mendapatkan melon itu berhasil.
Tangan Zeo terulur, tinggal sejengkal lagi, namun tangan lain sudah lebih dulu mengambilnya.
"Hei!"
Emak-emak menoleh padanya. "Maaf Bu, saya sudah akan mengambilnya. Kenapa ibu menyerobot." Tukas Zeo dengan kesal and tidak sabar.
"Tapi melon ini sudah lebih dulu di tanganku. Jadi ini milikku."
"Bu, tolong berikan melon itu padaku."
"Tidak bisa, aku sudah lebih dulu mengambilnya. Mau main minta saja. Dasar bule nggak ada akhlak."
Rasanya, Zeo sudah hampir meradang, hampir ia dapatkan malah di serobot pulak oleh emak-emak yang ngatain nggak da akhlak.
"Ada apa ini sih?" Seru si penjual buah.
"Ibu ini, saya udah mau mengambilnya, tapi ibu ini malah menyerobot." Adu Zeo cepat, walau bagaimanapun ia harus mendapatkan melon ini.
Si mbak-mbak penjual melirik emak-emak yang membawa melon.
"Enak saja, saya duluan yang ambil kok bilang menyerobot, situ yang lamban kenapa malah nyalahin emak." Ujarnya tak mau kalah.
"Saya akan Bayar lebih banyak, dua kali lipat jika embak menjual nya pada saya." Tawar Zeo sangat tak sabar. Sudah lelah, masih harus berdebat pulak. Males.
"Apa? Bule sombong! Mana boleh begitu. Itu namanya monopoli! Mentang-mentang ganteng terus begitu..." Hardik si emak kesal menatap Zeo. Ia lalu berganti menatap wajah Embak penjual.
"Mbak, plis! Saya berani beli lebih tinggi lagi, saya sudah mencari kemana-mana, dan nggak dapat, hanya ini harapan saya. Tolong jual pada saya." Zeo mengiba.
Embak penjual melirik Zeo, sepertinya ia cukup tergiur juga dengan penawaran sang Bule. Ia melirik emak-emak agar mengalah namun malah membuang muka.
"Mister kenapa sih ngotot banget mau melon ini?"
"Istri saya hamil mbak, dia ngidam pingin melon Oren, saya udah keluar masuk kios dari siang sampai semalam ini, tapi nggak Nemu juga. Saya capek, pingin pulang, tapi kasihan sama istri saya yang lagi ngidam nungguin. Jadi saya terus cari. Ini sudah dapat tapi..."
Zeo memasang tampang kasihan. Mencoba bernegosiasi dengan menjual simpati, sembari melirik emak-emak yang sepertinya menyimak juga. Dari wajahnya ia terlihat iba juga pada Zeo.
"Buk, kasih saja sama mister ini, kasihan. Dari siang loh nyarinya, buat istrinya yang ngidam lagi." Bujuk si embak pada emak-emak.
Emak-emak itu mendessaah pelan, ia melihat Zeo dengan tatapan iba dan salut, karena sudah seberjuangan itu untuk istrinya yang Edang hamil.
"Ya sudah, ini buat mu saja." Ucap si emak akhirnya, Zeo pun tersenyum lebar."tapi kamu cium pipi emak dulu sebagai gantinya." Sambung si emak tersenyum-senyum.
Zeo menggaruk kepalanya.
"Iya deh."
"Mister, ini melonnya jadi dibayar dua kali nggak?"
Zeo tersenyum kecil lalu mengangguk.
'Sudahlah, yang penting dapat melonnya.' pikir Zeo pasrah.
Setelah mencium pipi si emak-emak, dan membayar pada embak penjual buah. Zeo membawa melon Oren itu dengan hati berbunga. Semua pesanan sudah di dapat. Ia pun bergegas pulang.
Zeo melangkah di teras rumahnya, ia mengecek lagi bawaan nya.
__ADS_1
Kebab kesukaan Sam, roti bakar kesukaan Bu Ros dan sosis bakar pesanan istrinya, juga buah melon Oren yang dengan susah payah Zeo dapatkan. Semua sudah dalam genggaman.
Pintu di buka. Seperti biasa, ia disambut oleh Rinjani dengan pelukan hangat. Tak lupa istrinya itu menghirup dalam-dalam aroma tubuhnya di tempat favorit. Leher Zeo.
Di ruang tengah, Zeo segera membaginya.
"Kebab Sam."
"Horree... Makasih Dad."
"Pesanan Bunda..."
"Makasih hubby." Kecupan mendarat di pipinya. Zeo tersenyum lebar.
"Dan sepesial buat Bu Ros. Roti bakar."
"Wah, ibuk juga dapat ya?" Lontar Bu Ros sembari menerima roti bakar dari Zeo.
"Heemm,, terima kasih sudah menjaga Rinjani dan Sam." Ucap Zeo bersemangat.
Pria bule itu tersenyum dengan lebar tat kala melihat Rinjani membuka sosis, ia membauinya, lalu menggigit sedikit.
"Ini... Bukan yang di jalan Tamrin ya?"
"Eehh? Kenapa?" Tanya Zeo heran.
"Ini bukan yang di jalan Tamrin kan?" Selidik Rinjani menatap dengan mata memicing sebelah.
"Ng... Bukan... Itu... Tadi beli sekalian di tempat kebab, mereka jual sosis bakar juga." Jawab Zeo ragu.
"Yaahh,, aku kan pesan yang di jalan Tamrin." Ucap Rinjani lemas, meletakan sosis di tangannya.
Zeo menautkan alisnya. "Sama aja kan?"
"Beda mister," balas Bu Ros. Yang diangguki oleh Rinjani. Zeo yang bingung menautkan alisnya meminta penjelasan.
"Kan, mbak Rinjani lagi hamil. Jadi..."
"Aahh, begitu..." Zeo manggut-manggut, ia ingat akan penjelasan dari Bu Ros, jika hormon ibu hamil berubah-ubah dan sangat sensitif. Jadi Rinjani bisa membedakan bau makanan yang di inginkan atau bukan. Ngerii... Zeo bergidig.
Rinjani tampak datar, ia tak menangis, berarti Zeo tak perlu begitu mempermasalahkan nya. Kini Rinjani berganti mengambil melon berwarna Oren. Wajah istrinya itu tampak sumringah dan berbinar. Ia membuka bungkus plastiknya. Lalu membauinya dalam-dalam dan lama.
"Sudah." Ucap Rinjani enteng sembari meletakkan melon itu di meja.
Zeo terpaku. 'Sudah?' batinnya merasa tak enak.
"Baunya enak. Terimakasih hubby." Rinjani mengusap pipi Zeo dan menciumnya. Lalu tanpa dosa ia berjalan menaiki tangga.
"Sudah? Begitu saja? Hanya di baui?"
Bu Ros terkekeh kecil.
"Hamil mister..."
Zeo merasa kosong seketika.
"Ha-ha-ha.... Rasanya aku sudah mencair saja..."
Bersambung...
Wah, kasihan sekali ya Readers perjuangan Zeo mendapatkan melonnya, ternyata Rinjani hanya mau membauinya saja. Bagaimana pengalaman kalian semasa ngidam? Pernah ngerjain suami seperti Rinjani nggak?
__ADS_1