
Langkah kaki Sahara turun dari lantai dua, terlihat wanita itu berjalan menuruni anak tangga kemudian pergi ke dapur.
Mami." Panggil Ronald kepada Sahara.
"Sayang." jawab Sahara yang kemudian memberikan pelukan kepada putranya tersebut.
"Mami ke mana, tadi malam kok Ronald tidak bisa menemukan Mami?" tanya Ronald.
Terlihat Sahara hanya bisa menunjukkan senyumnya, tidak mungkin dia mengatakan dia pergi keliling kemanapun untuk mencari ketenangan hatinya.
"Tadi malam mama keluar sebentar." jawab Sahara yang kemudian membuka lemari es untuk mencari air putih.
"Memangnya tadi malam kamu minum berapa ratus botol?" tanya Javier yang tiba-tiba. Hal itu membuat Sahara langsung menoleh menatap Javier. Tak ada kata yang dikeluarkan oleh Sahara wanita itu nampak menelan air putih itu dengan sangat susah.
"Memangnya Mama minum apa, Pa?" tanya Ronald kepada Papanya.
Javier nampak tidak menjawab pertanyaan putranya tersebut, dia hanya menggerakkan alisnya tanda tidak tahu.
"Oh ya Ronald, nanti minta diantarkan paman Harold dulu ya, Mama lagi tidak enak badan." pinta Sahara yang membuat Ronald menganggukkan kepalanya.
"Iya Mama." jawab Ronal penuh semangat.
Sedangkan Sahara nampak menatap Javier datang dengan tatapan mata yang penuh pertanyaan.
"Memangnya tadi malam aku melakukan apa ya? Kenapa pria itu menatapku seperti itu, apakah kemarin malam aku melakukan sesuatu ataukah aku membuat ulah?" Sahara yang mulai bingung dengan apa yang dia lakukan.
Ronald akhirnya berangkat sekolah diantarkan oleh Harold, sedangkan Sahara sendiri nampak wanita itu kebingungan. tatapan mata yang begitu tajam ditunjukkan oleh Javier, Hal itu membuat Sahara nyalinya langsung menciut.
"Lebih baik aku segera pergi dari sini, jika tidak pria ini pasti akan ngamuk." guman Sahara dalam hati yang terlihat berjalan hendak pergi dari ruang makan.
"Seharian kemarin kamu dari mana saja?" tanya Javier yang membuat Sahara langsung menghentikan langkah kakinya. wanita itu nampak sangat kebingungan dengan semua yang harus dia jawab. Dia sudah pergi dari rumah kemudian tiba-tiba mabuk dan dia tidak ingat pulang jam berapa.
"Apa telingamu itu masih bisa dipakai?kemarin malam kamu pulang jam berapa?" tanya Javier yang membuat Sahara memikirkan mengenai kepulangannya kemarin.
"Memangnya kamu pulang pukul berapa kemarin?" tanya Javier kembali.
Sahara hanya bisa mengedipkan matanya berulang kali, dia tidak ingat pukul berapa dia pulang. sekitar beberapa menit kemudian tiba-tiba saja Sahara melihat sesuatu di bibir Javier
__ADS_1
"Apakah kemarin kamu jatuh?" tanya Sahara yang membuat Javier menatap Sahara
DEG..
mendengar pertanyaan seperti itu tentu saja Javier langsung tersentak. mengingat kejadian tadi malam Hal itu membuat jantung Javier kembali berdebar begitu kencang.
"Apakah tadi malam Tuan habis jatuh? kenapa bibirnya kok agak merah darah seperti itu?" tanya Sahara kembali yang membuat Javier malah kebingungan.
"Aku mau jatuh, aku mau apapun itu urusanku. Kenapa kamu bertanya seperti itu, kalau kamu menanyakan sesuatu kepadaku tidak usah sok-sokan kamu ya." tegas Javier yang membuat Sahara malah mencibirkan bibirnya.
"Ditanya baik-baik kok malah marah-marah, ini orang punya perasaan nggak sih? kalau orang ditanya itu tandanya masih punya hati, Dasar orang tidak punya perasaan." gerutu Sahara dalam hati.
"Hari ini kamu ada janji ketemu dengan orang kan?" tanya Javier kepada Sahara.
"Memangnya ada apa?" tanya Sahara yang membuat Javier berusaha menahan amarahnya.
"Sekarang segeralah berangkat ke perusahaan, karena aku tidak mau perusahaanku terbengkalai gara-gara ulahmu yang konyol itu." jawab Javier yang kemudian pergi dari tempat itu.
PERUSAHAAN JL GROUP
Hari ini Samuel dan Sahara akan melakukan pertemuan dengan beberapa kolega bisnisnya, ternyata Javier ingin ikut karena dia tidak percaya dengan Sahara.
Wanita itu menganggukkan kepalanya,
"Buat apa kamu membawa barang-barang segitu banyaknya. apakah kau ingin bersenang-senang di sana atau kau ingin mencari pria kaya yang akan kau grogoti hartanya." ucap Javier.
Sahara hanya menghela nafasnya secara kasar, berbicara seperti apapun tetap saja perkataan yang keluar dari mulut Javier bagaikan bola api yang selalu mengenai Sahara. panas, itu adalah perasaan yang selalu dirasakan oleh Sahara Jika dia sedang bersama pria itu.
"Tentu saja tuan, buat apa aku harus membawa pakaian banyak. toh aku bisa mencari pria kaya dan membelikanku apa saja kan? bahkan pria itu lebih baik daripada dirimu. sempurna, tidak cacat, Bahkan dia bisa mencintaiku dan menerimaku apa adanya." sebuah rentetan kalimat yang langsung mengenai hati Javier.
Pria itu begitu marah, Bagaimana tidak seolah kata-kata yang diucapkan Kania adalah sebuah penghinaan yang begitu besar.
PRANGG..
Saat mendengar kata-kata yang keluar dari Sahara, spontan salah satu tangan Javier langsung meraih vas kecil yang ada ada di meja pajangan rumah itu. pria itu langsung menghantamkan vas bunga itu hingga melukai kening Kania.
"Nona!" seru Jeremy yang melihat vas bunga yang sebesar telapak tangan pria itu telah mengenai dahi Sahara. tentu saja wanita itu langsung terduduk di lantai dengan dahi yang mengeluarkan darah.
__ADS_1
Tidak ada kata yang keluar dari mulut Sahara, wanita itu hanya menatap Javier dengan tatapan benci. jika dia tidak terjebak pada pernikahan ini dan begitu menyayangi Ronald. wanita itu tidak akan mau untuk menjadi istri bayaran dari Javier.
"Mama!" seru Ronald yang melihat Sahara sudah terduduk di lantai. dengan segera wanita itu langsung mengelap dahinya yang mengeluarkan darah dengan sapu tangan yang dia bawa. secepat itu Sahara langsung menutup lukanya dengan poni yang jarang dia arahkan ke depan.
"Ada apa Sayang?!" seru Sahara yang melihat Ronaldo telah berlari dan memeluk dirinya.
"Mama kenapa? Mama kok jatuh?" tanya Ronald kepada Sahara.
"Tidak apa-apa sayang, Mama tadi cuma terpeleset sama tangan Mama meraih vas bunga yang ada di sana." Jawab Sahara yang tidak ingin melihat putranya itu merasa sedih.
Tatapan mata Javier menatap Sahara yang begitu lembut kepada putranya, tidak ada rasa sakit yang ditunjukkan kepada putranya ketika tubuhnya telah disakiti oleh Ronald.
"Ayo kita ke mobil, Jeremy. karena aku tidak ingin telat ke tempat itu!" seru Javier yang kemudian meminta Jeremy untuk mendorong kursi rodanya menuju mobil.
"Baiklah sayang, Mama akan pergi Kamu baik-baik di rumah ya. Nanti Mama tidak akan lama." ucap Sahara yang kemudian memberikan kecupan di kening putranya itu.
Sahara merasakan kepalanya mulai sakit saat darah telah menetes kembali dari dahinya.
CEKLEK..
Sahara memasuki mobil sambil membersihkan luka yang ada di dahinya, Javier tidak menghiraukan wanita itu. malah dengan sangat arogan dan egoisnya pria itu malah mendorong tubuh Sahara dengan sangat kasar.
** bersambung **
Mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.
- my little wife
- Isteri kesayangan tuan besar
- ku balas pengkhianatan mu
- I love you uncle Bastian
-Terlempar ke dimensi kerajaan
-Isteri simpanan bos kejam
__ADS_1
-One night stand with mister William
-Isteri pengganti tuan William