
"Dasar tidak waras." cibir Sahara.
"Siapa yang tidak waras, aku masih waras kok." jawab Javier.
"Tentu saja kamu tidak waras, Lalu kenapa kamu bilang aku yang harus merawat putramu? kamu itu kan bapaknya ya kamu rawat sendiri dong." Sahara yang tidak terima.
"Tadi kamu bilang meminta persetujuanku sebagai syarat kontrak kerjasama ini, aku menyetujuinya bahkan aku juga bilang kamu boleh mendekati Putraku lagi. lalu ketika aku minta kamu untuk merawatnya Kenapa kamu tidak mau?" tanya Javier yang terlihat terus memancing kemarahan Sahara.
"Tentu saja aku tidak mau, aku mau melanjutkan hidupku aku mau mencari seorang pria untuk kujadikan suami. Lalu kenapa aku harus merawat anakmu? enak banget sih." jawab Sahara yang terlihat langsung mengemas seluruh barang-barangnya.
"Kamu mau ke mana, Ini masih jam kerja?!" seru Javier.
"Aku mau keluar, hari ini ada janji pertemuan dengan pihak bank terkait mengenai investasi bodong dari beberapa pengusaha." jawab Sahara yang kemudian menutup pintu kantor Javier dengan sangat keras.
BRAKK..
"Kenapa dia marah? aku kan tidak bilang apa-apa, dia malah ngambek." ucap Javier yang melihat putranya.
"Salah Papa sendiri kenapa Papa selalu membuat Mami seperti itu, papa itu kalau bicara yang enak gitu loh pa," Ronald yang terus mencibir Papanya karena tidak bisa membuat kata-kata yang romantis.
"Sudahlah Ronald, memang seperti itu kan mamimu. dia selalu tersinggung dengan kata-kata papa." ucap Javier.
"Ya Papa aja yang nggak bisa mendapatkan hati Mami, apabila papa berjanji sama aku untuk membuat Mami kembali pulang, apa papa berbohong padaku?" tanya Ronald yang membuat Javier malah kebingungan dengan pertanyaan putranya tersebut.
"Tentu saja Papa tidak akan membohongimu, Kenapa kamu bilang Papa membohongimu?" tanya Javier yang membuat Ronal seketika mengambil beberapa barangnya untuk pergi dari perusahaan Papanya.
"Kamu mau ke mana, Ronald?!" seru Javier.
"Mau pulang, Papa tidak berguna sama sekali. tidak bisa membuat Mami kembali padaku, Ronald benci papa!!" seru Ronald yang kemudian meninggalkan perusahaan Papanya.
Ternyata dua orang itu benar-benar mempunyai pemikiran yang sama, mereka sama-sama membuat Javier kebingungan.
"Bicara begini salah bicara begitu Salah, Memangnya di mana letak kesalahanku." ucap Javier yang kemudian menelpon Jeremy.
"Ada apa, tuan?" tanya Jeremy.
"Akhirnya kamu datang juga, Jeremy. Aku ingin mengatakan sesuatu karena dari tadi kepalaku sudah pusing mendengarkan ceramah dari dua orang yang membuatku bingung." jawab Javier.
"Memangnya ada apa, tuan?" tanya Jeremy.
"Ada sesuatu yang membuatku sangat pusing." jawab Javier.
"Maksud Tuan?" tanya Jeremy yang kebingungan.
"Tadi aku selalu diceramahin sama anakku, bocah itu bilang aku tidak becus membuat kata-kata. Bahkan aku juga tidak becus merayu Sahara." jawab Javier yang membuat Jeremy malah tiba-tiba tersenyum.
__ADS_1
"Kenapa kamu senyum-senyum seperti itu? memangnya kata-kataku lucu?" tanya Javier yang sedikit marah dengan Jeremy karena pria itu tiba-tiba tertawa karena perkataannya.
"Bukan seperti itu, Tuan. Maksud saya itu anak kecil seperti Ronald saja bisa mengerti situasi Anda. malah anda sendiri tidak memahami situasi Anda." jawab Jeremy.
"Maksudmu?" tanya Javier.
"Cobalah untuk bersikap sebagai seorang pria romantis, Tuan. rayu saja Nona Sahara beri dia kata-kata yang lembut, kata-kata yang menggoda atau bagaimana." jawab Jeremy.
"Mana mungkin aku melakukan hal itu, Jeremy. aku bukanlah tipe pria seperti itu." jawab Javier.
Dari hari ke hari Sahara dibuat sibuk oleh Javier, bahkan pria itu benar-benar super sibuk dengan seluruh urusan perusahaan.
"Huh.... capeknya." ucap Sahara sembari menggerakkan tubuhnya.
"Huk..huk.." terdengar suara batuk Javier.
"Ada apa?" tanya Sahara.
Tak ada jawaban dari Javier, terlihat pria itu menundukkan kepalanya. Sahara menatap Javier yang sedang terduduk sembari menundukkan kepalanya.
"Kau sakit ya." ucap Sahara saat menyentuh dahi Javier.
"Tidak, aku tidak apa-apa..aku cuma capek saja." jawab Javier yang terlihat wajahnya sudah memerah. tubuhnya benar-benar begitu lemah serasa tubuh itu disiram dengan air panas.
"Aku tidak apa-apa, kau jangan terlalu mengkhawatirkannya." jawab Javier.
Sahara menatap wajah yang benar-benar begitu pucat, kedua bola mata Javier benar-benar begitu sayu bahkan hembusan nafas pria itu terasa panas. Sahara mencoba untuk melakukan sesuatu wanita itu meminta Javier untuk segera kembali ke rumah.
"Kamu demam, Javier. sebaiknya kita pulang karena badanmu sangat panas." ucap Sahara. yang kemudian menelpon Jeremy untuk membawanya pulang bersama Javier, terlihat pria itu tidak menggerakkan tubuhnya sama sekali.
"Aku tidak apa-apa, kamu jangan khawatir." ucap Javier.
"Tidak apa-apa bagaimana, dahimu ini panas tubuhmu panas." jawab Sahara.
"Aku tidak apa-apa, kamu tenang saja." jawab Javier.
"Dari tadi kamu bilang tenang saja Tenang saja. Apa kamu itu Superman? Apa kamu bisa menghilangkan panas tubuhmu dalam sekejap." Sahara yang mulai marah karena Javier menganggap sakitnya itu biasa-biasa saja.
"Ada apa, Nona?" tanya Jeremy kepada Sahara.
"Cepat kau tolong aku untuk membawa bosmu ini, bosmu ini benar-benar menyebalkan. dia sakit tapi mengatakan kalau semuanya baik-baik saja. dia itu Superman atau apa!!" seru Sahara yang kemudian membawa Javier kembali pulang ke rumahnya.
"Apa yang terjadi dengan Nona?" tanya Jeremy.
"Tuanmu ini sakit, cepat bantu dia untuk pergi ke dokter atau bawa dia pulang." jawab Sahara.
__ADS_1
"Sekarang? tapi bagaimana ya hari ini di rumah tidak ada pembantu, mereka sedang cuti secara bersamaan." jawab Jeremy.
"Maksudmu?" tanya Javier.
"Apa saya bawa aja dia ke rumah saya?" tanya Jeremy yang membuat Sahara langsung memijat kepalanya.
Di rumah itu tidak ada pembantu sama sekali, Javier mengerjakan semuanya sendiri, hanya ada satu pembantu rumah tangga yang tugasnya hanya untuk membersihkan rumah setelah itu pulang.
"Kok bisa begitu?" tanya Sahara.
"Entahlah, saya juga tidak tahu." jawab Jeremy.
"Kamu ini kan tinggal di rumah, Javier. lalu bagaimana kamu tidak tahu, Jeremy. kamu itu mau membuatku marah ya?" tanya Sahara yang membuat Jeremy terdiam.
"Sudahlah, biar aku nanti istirahat di rumah saja." ucap Javier yang terlihat begitu kasihan.
Raut wajahnya sudah berubah begitu merah, panas tubuhnya kelihatannya sangat tinggi.
"Kalau kamu di rumah sendirian Lalu bagaimana dengan Ronald? Bagaimana jika dia meminta sesuatu?" tanya Sahara yang membuat Javier menunjuk Jeremy.
"Memang pria ini bisa masak ya?" tanya Sahara.
Javier menggelengkan kepalanya, terlihat pria itu hanya menggerakkan tubuhnya Jika ditanya oleh Sahara.
** Bersambung **
Mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.
- my little wife
- Isteri kesayangan tuan besar
- ku balas pengkhianatan mu
- I love you uncle Bastian
-Terlempar ke dimensi kerajaan
-Isteri simpanan bos kejam
-Gairah cinta isteri muda
-One night stand with mister William
-Mantra cinta gadis pemikat
__ADS_1