ISTERI SIMPANAN BOS KEJAM

ISTERI SIMPANAN BOS KEJAM
RUMAH SEDERHANA


__ADS_3

Sekitar satu jam kemudian Devan sudah sampai di rumah yang akan menjadi tempat tinggalnya untuk waktu yang tidak bisa ditentukan.


"Rumahnya yang mana?" tanya Devan kepada bagus.


"Bagaimana sih Tuan Devan ini, tentu saja rumahnya di depan kita." jawab Bagus.


"Maksudmu?" tanya Devan.


"Ini rumah yang akan kita tinggali, tuan. rumah ini adalah rumah tuan Javier, Tuan Javier dan Nyonya Sahara kalau kemari hanya beberapa hari saja untuk melihat perkembangan dari tempat ini." jawab Bagus.


"Bukankah perkebunan ini milik mami?" tanya Devan.


"Milik Nyonya Sahara ataupun Tuan Javier itu sama saja, Tuan. tapi mulai sekarang anda akan tinggal di sini." jawab Bagus.


Devan yang melihat rumah tidak terlalu mewah seperti rumah yang dia huni selama ini.., tentu saja kedua alisnya terlihat tidak sepadan. pria itu menatap rumah itu dengan tatapan mata yang begitu mencibir. hidupnya selama ini berkecukupan bahkan bisa dibilang melebihi, namun ketika melihat rumah berlantai satu namun besar itu tentu saja pria itu hanya menggelengkan kepalanya.


"Aku akan tinggal di apartemen atau aku akan beli rumah di sekitar sini yang penting rumah itu harus bagus." ucap Devan.


"Maafkan saya tuan, seperti perintah dari nyonya dan Javier kalau anda tidak boleh pergi dari sini, Tuan dan Nyonya sudah memerintahkan saya untuk menjaga Anda. apalagi beberapa hari ini akan ada seorang wanita yang akan membantu anda untuk mengelola bisnis perkebunan ini." ucap Devan .


"Kamu gila ya, masa aku harus tinggal di rumah seperti in rumah ini jauh dari pemikiran yang aku miliki." Devan yang terus menggerutu.


"Tapi Tuan, ini adalah tempat yang sudah ditempati oleh Mami anda ketika dia di Indonesia. jadi anda akan tinggal di sini, Jika Tuan meminta untuk pergi dari sini kemungkinan besar Tuan Javier tidak akan memperbolehkannya." jawab Bagus.


"Gila, ini benar-benar gila. aku harus tinggal di tempat seperti ini? tempat ini lebih layak disebut sebagai tempat orang miskin. Lihatlah rumahnya sederhana perabotannya tidak mewah bahkan aku tidak menyukai tempat ini." Devan yang terus menggerutu padahal dia hanya melihat dari luarnya belum masuk ke dalam rumah itu.


Seorang wanita tua keluar dari rumah itu dan menyambut Devan.


"Selamat pagi, tuan muda." Panggil bibi tua.


"Selamat pagi." jawab Devan dengan suara yang begitu kasar.

__ADS_1


"Tuan, silahkan masuk saya akan memperlihatkan rumah ini." ucap Bagus.


"Tidak usah, dari luar saja sudah nampak tidak bagus Kenapa harus masuk ke sana. pasti rumahnya tetap saja jelek.":jawab Devan dengan kata-kata yang benar-benar tidak pantas.


Bibi pembantu yang ada di tempat itu tentu saja menatap Devan dengan tatapan mata yang tidak menyukai pemuda tersebut.


"Kenapa pemuda ini kata-katanya begitu kasar, menurut informasi yang aku dapatkan dari Nyonya Sahara kalau putranya ini masih berusia 19 tahun. tapi kenapa kata-katanya sangat kasar seperti ini." guman bibi tua dengan ekspresi yang benar-benar tidak bisa terkata ketika dia melihat dan mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Devan.


"Tuan, apakah saya harus mengatakan hal ini kepada tuan dan nyonya?" tanya Bagus.


"Kamu tidak usah mengancamku seperti itu, dengarkan aku baik-baik. Aku tidak suka dengan rumah ini." jawab Devan.


Entahlah, terasa bagus tidak bisa mengatakan apapun. pria itu tidak bisa berbicara dengan baik bahkan kata-katanya selalu menyinggung orang lain, bahkan kedua saudaranya sangat kesal dengan dirinya.


"Jika anda tidak mau tinggal di sini itu terserah anda, Tuan. tapi saya yakin anda tidak mempunyai uang untuk membeli atau menyewa rumah yang lebih baik dari ini." ucap bagus yang membuat Devan seketika menatap tajam kepada Bagus.


Memang dia ke Indonesia membawa apa? dia hanya membawa beberapa pakaian, rekeningnya kosong sebelum tanggal yang sudah ditetapkan oleh Javier. dia tidak akan mendapatkan apapun sebelum itu. mendengarkan kata-kata yang diucapkan oleh Bagus tentu saja Devan hanya terdiam. beberapa hari lagi pernikahan Ronald dan Aliana, namun sekarang dia berada di Indonesia dengan semua kebodohan yang sudah dia lakukan.


Sesaat kemudian wanita itu pria itu pergi dari tempat itu untuk memasuki rumah yang sudah dia dapatkan. Jika dia ingin menyewa rumah yang lebih baik itu tidak mungkin karena dia tidak mempunyai uang. dia hanya mempunyai beberapa ratus dolar saja, itu artinya dia tidak akan bisa bertahan dengan itu semua.


"Silahkan masuk, tuan muda." bibi tua yang mempersilahkan Devan masuk ke rumah tersebut. tatapan mata Devan menatap semua perabotan yang mungkin harganya lumayan mahal di Indonesia.


"Kalau aku tidak punya uang lihat saja seluruh perabotan yang ada di tempat ini bisa aku jadikan uang." guman Devan dalam hati. baru memasuki rumah itu saja dia sudah mempunyai pemikiran untuk menjual barang-barang yang ada di tempat itu. Entahlah pemikiran seperti apa yang dimiliki oleh Devan, pria itu benar-benar seperti brengsek yang tidak mempunyai harga diri sama sekali.


"Di mana kamarku?" tanya Devan.


"Mari saya tunjukkan tuan muda, bibi tua yang kemudian mengajak devan ke sebuah kamar.


"Kenapa tidak di kamar ini saja?" tanya Devan.


"Itu kamar tuan dan nyonya, tidak ada yang boleh memasuki kamar itu jika bukan tuan dan nyonya." jawab bibi tua.

__ADS_1


"Pasti di dalam ruangan ini penuh dengan barang-barang berharga. aku yakin Mami meletakkan beberapa barang-barang berharganya di tempat ini." guman Devan dalam hati.


Di tempat tersebut memang ada beberapa kamar, walaupun rumahnya cuma satu lantai tapi rumah itu bisa dibilang rumah yang besar. tatapan mata Devan nampak menatap ruangan kamar yang sudah dibuka oleh bibi tua. tatapan matanya menatap tempat itu, di sana ada laptop barang-barang elektronik dan lain sebagainya.


"Lumayan juga kalau aku bisa mendapatkan uang banyak dan aku bisa menyulap tempat ini menjadi tempat yang begitu hebat." ucap Devan.


Bagus yang berada di belakang Devan tentu saja pria itu hanya menggelengkan kepalanya, dia tidak pernah mengira kalau putra dari majikannya itu adalah pria berotak kecil. usia Bagus dan Devan memang berbanding jauh sekitar 5 tahun. namun pemikiran yang dimiliki oleh Bagus lebih bijaksana sedangkan Devan Walaupun dia anak orang kaya tapi pemikirannya itu sebesar biji kacang .


"Apakah Tuan mau aku masakkan sesuatu?" tanya bibit tua.


"Masakan aku stik, barbeque. sosis panggang, lalu buatkan aku iga bakar mentega saus pedas." pinta Devan yang membuat bibit tua nampak menatap bagus dengan tatapan mata yang penuh dengan pertanyaan.


** Bersambung **


Mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.


- my little wife


- Isteri kesayangan tuan besar


- ku balas pengkhianatan mu


- I love you uncle Bastian


-Terlempar ke dimensi kerajaan


-Isteri simpanan bos kejam


-Gairah cinta isteri muda


-One night stand with mister William

__ADS_1


-Mantra cinta gadis pemikat


__ADS_2