ISTERI SIMPANAN BOS KEJAM

ISTERI SIMPANAN BOS KEJAM
PULANG


__ADS_3

"Hem... Baiklah kalau begitu, aku akan mengijinkan mu untuk pulang beberapa hari. tapi Devan yang akan mengantarkanmu pulang ke sana." ucap Sahara.


"Tidak usah, Nyonya. saya bisa pulang sendiri, hari ketiga saya akan kembali ke sini." jawab Risa.


"Tidak, kalau kau menolaknya maka aku tidak akan mengijinkan mu untuk kembali ke tempatmu." jawab Sahara.


Akhirnya mau tidak mau Risa mengiyakan perkataan Sahara.


"Habis subuh Besok aku akan membangunkan Devan, karena yang aku tahu rumahmu itu berada di desa terpencil kan?" tanya Sahara yang membuat Risa menganggukkan kepalanya.


Benar apa yang dikatakan oleh Sahara, karena Risa berasal dari desa yang benar-benar terpencil.


"Heh..."


terlihat Risa benar-benar menghela nafasnya dengan sangat kasar, maksud hatinya adalah ingin kabur dari semua sikap menjengkelkan yang ditunjukkan oleh Devan. namun yang terjadi malah Sahara meminta Devan Untuk mengantarkan Risa kembali ke desanya.


"Mengapa pria ini harus mengantarkan aku kembali ke rumah, pasti saat berada di tempatku pria itu akan mencibir ku, mengejekku dengan kata-katanya yang benar-benar menusuk hati." ucap Risa dalam hati.


"Segeralah kau tidur, karena besok pagi aku akan mengantarmu!" seru Afgan.


"Memangnya siapa yang memintamu untuk mengantarku, Bukan aku kan." jawab Risa yang membuat Devan nampak melotot.


"Jangan melotot seperti itu padaku, lihat saja aku pasti akan mencolok matamu." ucap Risa yang kemudian pergi dari tempat itu. padahal dalam hati Devan benar-benar sangat bahagia karena dia akan mengantarkan wanita yang benar-benar membuatnya jatuh cinta.


Terlihat Devan berbicara kepada papanya dan mengutarakan keinginannya, Javier nampak mengiyakan permintaan putranya.


"Terserah Kalau kau mau berada di sana, sekitar 3 hari tapi kau harus ingat segera kembali dan bawalah pekerjaan di sana. Kalau tidak, perkebunan kita akan terbengkalai gara-gara kau liburan ke tempat itu." ucap Javier yang membuat Devan nampak mengangguk.


"Baiklah, papa. aku akan membawa beberapa peralatan, papa tenang saja." Jawab Devan.


Keesokan hari terlihat Devan sudah memasukkan barang-barangnya ke dalam mobil tanpa sepengetahuan Risa.


KRINGGGG...


pukul 5 pagi akhirnya Devan sudah menunggu Risa keluar dari kamarnya, terlihat pria itu terus menunggu kedatangan Risa. beberapa menit kemudian Risa sudah keluar dan berjalan menuju mobil Devan.


"Kau ini kemana saja, aku sudah menunggumu dari tadi. kau kira aku ini supirmu apa!" seru Devan.


"Ngapain juga sih aku harus selalu bertengkar denganmu, tidakkah Kau menyuruh Bagus untuk mengantarku saja daripada kau dan aku bertengkar gara-gara ini." ucap Risa yang kemudian masuk ke dalam mobil itu.


"Terserah, kalau kau tidak mau masuk..akan ku telfon Bunda." ucap Devan yang membuat Risa langsung masuk ke dalam mobilnya.


"Dasar sok jual mahal," ucap Devan.

__ADS_1


Terlihat Risa tidak mau membicarakan apapun.


Di setiap perjalanan tidak ada perkataan yang keluar dari mulut Risa dan Devan, terlihat mereka berdua nampak terdiam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.


Di sebuah tempat yang begitu nyaman, di sebuah tempat yang terlihat benar-benar sangat menyejukkan mata.


"Di mana rumahmu? belok ke kanan atau ke kiri atau lurus aja?" tanya Devan kepada Risa.


"Belok kanan nanti lurus aja mentok di tempat itu adalah rumahku." jawab Risa.


Sekitar 5 menit kemudian


Di sebuah tempat sebuah rumah kecil yang terlihat tidak ada bagusnya sama sekali, rumah sangat sederhana dengan tanaman dan kebun yang melingkari tempat tersebut.


"Yang mana rumahmu?" tanya Devan kepada Risa.


"Rumah sederhana itu adalah rumahku." jawab Risa yang membuat agar nampak menatap sebuah rumah mungil dengan kebun luas yang membentang di rumah itu.


Apakah itu rumahmu?" tanya Devan.


"Ya itu adalah rumahku." jawab Risa.


Saat menatap rumah itu terbesit suatu kata yang benar-benar membuat Devan nampak sangat terkejut. Bagaimana tidak, di sebuah rumah sederhana yang tidak besar sama sekali serta beberapa tanaman yang masih menancap erat di tanah.


"Oh ya, apakah kau tidak mengajakku untuk masuk sebentar?" tanya Devan.


"Memangnya kenapa aku harus mengajakmu masuk? tidak mungkin kau mau masuk kerumah jelek seperti itu." jawab Risa.


"Kau bilang tadi walaupun itu rumah jelek, tapi di dalamnya penuh dengan kenyamanan dan kasih sayang." ucap Devan yang membuat Risa mengangguk.


Tak berselang lama.. terlihat seorang pria menatap Risa yang sedang berbicara dengan seorang pria yang berada di luar rumahnya.


"Risa!" seru seorang pria.


"Fadli!" Risa yang terlihat menatap seorang pria. terlihat pria yang bernama Fadli sudah mendatangi Risa sembari melambaikan tangan dan tersenyum begitu menawan.


"Mengapa wa aku tidak pernah kau balas?" tanya Fadli kepada Risa.


"Maaf, kau tahu sendiri kan aku sangat sibuk." jawab Risa.


"Apakah kau sudah lupa dengan calon suamimu ini?!" seru Fadli yang membuat Devan langsung menatap pria itu. tatapan matanya melotot yang membuat Fadli terlihat kebingungan dengan pria yang bersama dengan kekasihnya tersebut.


"Apa-apaan kau ini, kau selalu bilang aku ini calon istrimu. padahal kau itu adalah tukang selingkuh." jawab Risa yang kemudian mengajak Devan untuk masuk ke rumahnya.

__ADS_1


"Siapa dia?!" seru Fadli.


"Aku adalah calon suaminya." jawab Devan yang kemudian mendorong pria itu dan mendorong tubuh Risa untuk segera masuk ke rumahnya sendiri.


"Hei!!!" seru Fadli.


"Jangan teriak-teriak, kamu kira aku ini pria budek apa." jawab Devan yang kemudian meminta Risa untuk segera masuk. sedangkan Risa sendiri terlihat wanita itu sedikit mendapatkan bantuan dari Devan karena pria itu mengusir kekasihnya yang selalu suka berselingkuh tersebut.


Langkah kaki Risa memasuki rumahnya, sedangkan Devan tentu saja pria itu menatap rumah sangat sederhana milik Risa.


"Apa kamu betah tinggal di sini?" tanya Devan yang membuat Risa langsung menatap tajam kepada pria itu.


"Ini adalah rumahku, Tentu saja aku betah. kamu kira selama ini aku tinggal di mana? Risa yang selalu tidak suka dengan kata-kata yang diucapkan oleh Devan.


"Rumah ini sederhana sekali, aku cuma mau bilang seperti itu." Devan yang terlihat merasa bersalah karena kata-katanya sudah menyinggung Risa.


"Kamu itu sukanya selalu menghina orang lain, Apakah tidak pernah terbesit di pikiranmu itu untuk menghargai orang lain? kamu minta dihargai tapi kamu tidak bisa menghargai." ucap Risa yang terlihat meletakkan barang-barang di tempatnya.


Sesaat kemudian wanita itu mulai menelpon seseorang untuk memintanya mengantar pesanannya sebelum maghrib tiba.


"Apakah itu foto orang tuamu?" tanya Devan yang membuat Risa menganggukkan kepalanya.


"Iya, itu foto almarhum kedua orang tuaku." jawab Risa.


** Bersambung **


Mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.


- my little wife


- Isteri kesayangan tuan besar


- ku balas pengkhianatan mu


- I love you uncle Bastian


-Terlempar ke dimensi kerajaan


-Isteri simpanan bos kejam


-Gairah cinta isteri muda


-One night stand with mister William

__ADS_1


-Mantra cinta gadis pemikat


__ADS_2