
"Aku akan mengompres dadamu, kemungkinan kau mengalami sesuatu hingga membuatmu sesak nafas." ucap Sahara sembari memberikan kompresan di dada Javier.
"Tentu saja kau ingin mencari perhatianku, Apakah kau mau menelanjangiku kemudian kau akan berteriak dan mengatakan Aku hendak memperkosa mu?!" seru Javier.
Saat mendengar perkataan seperti itu Sahara begitu tersinggung dengan semua perkataan yang keluar dari mulut Javier.
"Dengar ya Tuan Javier, Aku tidak mempunyai pikiran kotor seperti itu. Aku tahu di mana posisiku dan aku tidak akan pernah berusaha untuk menggoda mu, aku sudah tahu di awal perjanjian kita itu kalau aku hanya bertugas menjadi pengasuh putramu. jadi jangan pernah berpikir aku akan menggodamu dan menginginkan status sebagai istrimu!" seru Sahara yang kemudian meninggalkan baskom itu dan keluar dari kamar Javier.
Sahara harus menerima kepahitan terus menerus dihina oleh Javier, walaupun pria itu tidak pernah sekalipun melukai Sahara secara fisik. namun secara mental pria itu memberikan kata-kata yang begitu menyiksa.
"Apa pria itu mengira aku akan menggodanya, aku tidak akan Sudi melakukan hal itu. menjadi istrinya akan membunuhku mendengar kata-katanya saja sudah membuatku berulang kali hendak merasakan kematian." guman Sahara yang kemudian keluar dari kamar Javier dengan kekesalan yang sangat luar biasa.
Mau dikatakan seperti apapun Javier tidak akan pernah berubah, kata-katanya selalu saja pahit di telinga Sahara. walaupun seperti itu Sahara antara mampu dan tidak mampu dia harus tetap berada di sana demi Ronald.
Setelah melihat sahara pergi dari kamarnya nampak pria itu begitu kesal, selalu saja mulutnya itu tidak bisa dikondisikan selalu saja mulutnya itu mengatakan sesuatu yang sangat menyebalkan. dia selalu membuat Sahara merasakan sesuatu yang sangat membuat dia marah.
"Heh.., Kenapa mulut ini tidak bisa dikontrol sama sekali, kenapa aku selalu saja membuat dia marah. Lihatlah dia sudah melarikan diri dengan semua kata-kataku yang sangat pedas." ucap Javier sembari menahan kekesalannya karena melihat Sahara pergi. tentu saja wanita itu tidak akan mau lagi menyentuh dirinya dia tidak akan mau lagi mendekati pria itu dengan segala cara.
Tatapan mata Javier menatap Sahara yang sudah pergi dari kamarnya. Entah mengapa tiba-tiba Javier merasa bersalah karena pria itu telah menghina Sahara, padahal biasanya Javier tidak akan pernah merasa bersalah atau perasaan apapun kepada Sahara. karena pria itu hanya menganggap Sahara sebagai pembantu yang bekerja padanya.
Namun berbeda dengan hari ini, tiba-tiba tatapan mata Javier menatap Sahara yang begitu marah. pria itu benar-benar merasa bersalah ingin sekali Dia berlari dan meminta maaf kepada wanita itu.
"Kenapa sih mulut ini tidak bisa direm, aku selalu saja menghina dia. padahal dia hanya bermaksud untuk menolong ku."ucap Javier yang merutuki dirinya sendiri.
Sahara telah keluar dari kamar Javier, langkah kakinya menuruni anak tangga menuju tempat Ronald berada. sesaat kemudian salah satu pembantu mengatakan kalau ada seorang tamu yang ingin bertemu dengan Javier.
"Nona Kania ada seorang tamu, katanya dia rekan bisnis Tuan Javier!" seru salah satu pembantu kepada Sahara.
"Namanya siapa?" tanya Sahara.
"Entahlah Nona, Saya tidak tahu." jawab si pembantu.
"Baiklah, kau katakan kepada tuanmu kalau ada tamu. setelah itu mintalah tamu itu untuk masuk, karena aku harus mengurus Ronald." jawab Sahara yang kemudian membawa Ronald.
__ADS_1
"Baik nyonya." jawab salah satu pembantu.
Seorang pria datang ke tempat Javier, Entahlah Ada apa dan kenapa. terlihat setelah Javier melihat pria itu ada di tempatnya tiba-tiba saja dia langsung berdiri dari kursi rodanya.
"Apakah kamu sudah melakukan apa yang aku minta?" tanya Javier.
"Sudah tuan, kami sudah membereskan orang itu sampai ke akar-akarnya." jawab anak buah Javier.
"Baguslah kalau begitu, nanti kamu carilah Jeremi bilang padanya untuk mengurus sisanya Aku tidak ingin pria itu masih hidup bagaimanapun caranya." pinta Javier.
"Baik Tuan, oh ya tuan. Lalu bagaimana dengan anak dari pria itu?" tanya anak buah Javier.
"Jangan melakukan apapun kepada putranya, taruh anak itu di asuhan atau di manapun. jangan membunuh anak itu karena aku juga mempunyai anak kecil.' jawab Javier yang kemudian meminta anak buahnya untuk segera pergi.
Entah apa yang diperintahkan oleh Javier namun kelihatannya itu mengenai sesuatu.
"Oh ya, tuan. Apakah kami juga harus membereskan tuan Galedo bersama dengan anak buahnya?" tanya anak buahnya.
"Baiklah Tuan, Saya akan menunggu Anda Oh ya apakah Anda akan berjalan atau menggunakan kursi roda?" tanya anak buah Javier.
"Apa kamu bodoh, jika aku keluar dengan jalan kaki maka mereka semuanya akan waspada. dengan begini kita akan tahu siapa saja penghianat itu jika mereka berani menunjukkan batang hidung mereka lihat saja apa yang akan aku lakukan." jawab Javier yang membuat anak buahnya langsung menganggukkan kepalanya.
Javier sudah keluar dari rumahnya sedangkan Sahara tidak tahu kalau pria itu sudah pergi, terlihat Javier menitipkan pesan kepada salah satu pembantunya jika Sahara mencarinya maka dia harus mengatakan kalau pria itu pergi bersama anak buahnya.
TIGA PULUH MENIT KEMUDIAN
"Di mana pria itu?" tanya Javier saat berada di salah satu bangunan perusahaanya.
"Pria itu ada di dalam, Tuan." jawab anak buah Javier.
"Baguslah kalau begitu." jawab Javier yang kemudian berjalan mendekati sebuah tempat yang akan menjadi tempat pemakaman dari pria yang sudah berusaha membunuhnya itu.
Langkah kaki Javier mendekati ruangan itu, tatapan matanya menatap seorang pria yang mempunyai badan sedikit gemuk.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan, berani sekali kamu membawaku kemari?!" teriak si pria.
"Kenapa aku tidak boleh membawamu kemari, Seharusnya aku yang mengatakan hal itu. berani sekali kamu berusaha untuk membunuhku, berani sekali kamu berusaha untuk menyakitiku!!" teriak Javier dengan raut wajah yang begitu marah. seketika Javier meraih pistol di salah satu tangannya.
"Kamu tahu apa ini? berani sekali kamu berusaha untuk membunuhku!!" teriak Javier.
Tak ada kata yang dikeluarkan oleh pria itu, sudah kepalang tanggung dia sudah berada di tangan Javier tidak mungkin dia mengatakan kalau dia tidak tahu apa-apa.
"Katakan Siapa saja yang berusaha membunuhku, jika tidak akan kubunuh seluruh keluargamu." ancam Javier yang membuat pria tua sekaligus mantan rekan bisnis Javier itu tersenyum.
"Kenapa aku harus mengatakannya padamu?" tanya si pria sembari tersenyum.
"Tidak apa-apa, kamu tidak perlu mengatakan hal itu padaku, karena aku juga pasti tahu siapa saja yang sudah menghianatiku setelah itu akan kubuat mereka merasakan bagaimana rasanya mati di tanganku." ucap Javier yang membuat si pria langsung terdiam.
** bersambung **
Mohon dukungannya di novel baruku, dan jangan lupa dukung novelku yang lain.
- my little wife
- Isteri kesayangan tuan besar
- ku balas pengkhianatan mu
- I love you uncle Bastian
-Terlempar ke dimensi kerajaan
-Isteri simpanan bos kejam
-Gairah cinta isteri muda
-One night stand with mister William
__ADS_1