Istirahat Sebentar

Istirahat Sebentar
Wulan dan Donny (Mendapatkan Namun Kehilangan)


__ADS_3

Pagi hari yang terik itu dirusak oleh suara bom, tembakan, teriakan kesakitan dan tangis kehilangan. Sudah hampir limabelas tahun Negara ini perang saudara. Sepagi ini Kota Putih, sudah riuh ramai oleh perang membebaskan kota itu dari tangan para pemberontak.


Diantara para tentara muda itu terselip seorang pemuda yatim yang gagah berani, Donny Al-Madyan namanya. Dia salah satu tentara muda terbaik, posisi garda terdepan dalam perang ini. Bersama dengan kesembilan orang teman lainnya.


Malang nasibnya hari ini. Ketika matahari sudah semakin tinggi, dan panasnya terasa semakin menyengat. Dia terkena tembak di posisi dada kanan atas, tidak mematikan tapi cukup dalam. Darah segar mengalir dari tubuhnya. Dia jatuh tersungkur meminta bantuan.


Namun apalah yang dia harapkan, karena  nyatanya semua temannya yang ada di garda terdepan telah tewas terlebih dahulu. Dia merangkak lemah di tanah, diantara lalu lalang letusan peluru dan meriam. Menahan laju darah pada luka menganga yang ada di dada atas kanannya, sambil berteriak meminta tolong dan bantuan.


Masalah lain pun muncul, sudah ada beberapa meter dia merangkak menjauh dari medan pertempuran, rasa haus tiba-tiba menyerangnya. Kerongkongannya tercekik rasa kering yang amat sangat menyiksa. Kesadarannya pun menurun, dalam pelupuk matanya.


Dia melihat kedua orangtuanya tersenyum kepadanya. Dia melihat kenangan ketika ayahnya membunuh ibunya di depan matanya. Masa-masa kecil yang sulit tanpa orangtua dan makanan, serta masa remaja yang penuh perjuangan untuk bisa menjadi seorang pasukan elit.


Serta pendamping hidup yang setia. Lalu, tidak lama kemudian dalam hitungan detik dia pingsan. Kalah oleh rasa haus dan lelah, namun tidak kalah oleh hidup.


Pagi harinya. Pasukan pemerintah menang. Para tentara pemberontak lari terbirit-birit meninggalkan kota. Banyak korban berjatuhan dari pihak mereka dan pihak pemerintah. Kemudian bagaimana dengan nasib Donny?


Dia temukan oleh seorang gadis cantik, Wulan namanya. Dia hanya seorang gadis desa biasa. Wulan meminta para relawan membawanya ke rumahnya, karena rumahnyalah yang masih utuh di sekitar kota itu.


Di hari yang terik itu pula, Wulan merawat luka Donny. Mengompresnya dengan air ketika demam akibat luka itu menyerang tubuh kekarnya. Berkat ketelatenan Wulan merawatnya tidak lama berselang Donny tersadar.


Kata pertama yang diucapkannya adalah air. Dengan sigap dia lalu memberinya air. Perlahan tapi pasti Donny setengah tersadar, dia menatap lamat-lamat wajah cantik Wulan.


“Apakah aku sudah mati? Lalu masuk surga hingga bisa melihat bidadari?” tanya Donny.


Dalam kondisi yang setengah tersadar. Wulan tersenyum mendengarnya. Dia lalu menjelaskan jika setelah perang usai, dan dimenangkan oleh pihak pemerintah. Komandan pasukan memerintahkan untuk mengumpulkan tentara yang gugur dan dimakamkan dengan cara layak.

__ADS_1


Sedangkan untuk tentara yang masih hidup. Dibawa ke tenda-tenda darurat atau rumah penduduk yang masih layak untuk disinggahi. Untuk mendapatkan perawatan.


“Oh begitu. Jadi aku selamat,” ucap Donny.


Hening sejenak diantara mereka. Donny sebenarnya ingin sekali berkenalan, namun dia malu. Rasanya lidahnya keluh dan kata-kata yang ingin diucapkan menguap pergi dari pikirannya.


“Namaku Wulan,” ucapnya.


Gadis itu yang memperkenalkan diri duluan. Sambil mengulurkan tangan. Serta senyuman manis yg selalu dia bawa-bawa.


Yaa Tuhan. Donny terkejut dalam hati. Jantungnya berdegup lebih kencang. Dia tidak menyangka gadis itu malah menyebutkan namanya terlebih dahulu.


Donny membalas dengan cepat uluran tangan Wulan. Masih dalam suasana yang canggung. Mereka saling bersalaman. Saat itu juga kisah cinta itu dimulai.


Heii, apakah benar itu kisah cinta suci? Apakah benar itu cinta sejati? Apakah itu hanyalah nafsu belaka atau rasa kesepian karena ditinggalkan? Yaa Tuhan, sungguh perkara ini amat sangat sulit dimengerti.


Setelah kondisinya Donny pulih total. Komandan pasukan memanggilnya kembali untuk bertugas. Donny menerima panggilan mulia tersebut, tapi sebelum dia pergi ke Ibukota. Dia meminta izin satu minggu untuk menyelesaikan urusannya yang penting.


Yaa, urusan itu adalah rencana untuk menikahi Wulan. Dia ingin sekali menikahinya dengan rasa penuh cinta kasih. Dia ingin membeli dan membangun rumah sederhana dengan kebun anggrek yang indah di halaman depan rumahnya.


Anggrek adalah bunga kesukaan Wulan. Donny sangat paham itu. Di depan rumahnya juga, dia ingin menanam kokoh pohon maple yang cukup besar. Menambah asri dan keindahan rumah itu.


Dia ingin sekali memberikan semua itu untuk Wulan. Serta membesarkan anak-anak mereka bersama, hingga mendapat penuh cinta dan kasih sayang dari orangtua. Hal yang tidak mereka dapatkan sejak mereka masih kanak-kanak.


Namun sayangnya. Ketika dia menyatakan keinginannya itu. Ternyata Wulan, masihlah istri sah dari seseorang pejuang biasa yang ikut membela tanah airnya, yang tidak tahu kondisinya saat ini seperti apa. Entah sudah wafat ataukah masih hidup.

__ADS_1


Hanya satu hal yang pasti. Wulan dan keluarganya tetap menunggu. Sampai ditemukan kepastian kondisi dari suaminya itu. Nama suami dari Wulan tersebut adalah Huda. Dia pemimpin pasukan dari desanya yang pro pada pemerintahan.


Menyesalkah Donny? Sedihkah Donyy?


Ternyata tidak. Donny berkeyakinan jika Wulan juga mencintainya. Hanya saya ia terkekang oleh adat istiadat dan peraturan agama. Donny yang semenjak kecil ditinggal cinta dan kasih orangtua, dan tidak memiliki siapa-siapa.


Tahu apa dia tentang adat istiadat dan agama? Bahkan tentang cinta. Tahu apa dia? Satu minggu berlalu. Kini saatnya Wulan melepas kepergian Donny. Bersama beberapa prajurit dari desanya.


Wulan melepasnya di stasiun kereta yang akan membawa Donny ke Ibukota. Dalam perjalanan menuju peron Wulan tidak henti-hentinya menangis, dan Donny tidak henti-hentinya juga menghiburnya dengan lagu-lagu yang indah dan penyemangat untuk Wulan.


Dia berjanji, jika dia akan baik-baik saja. Berjanji, jika suatu saat nanti mereka akan bersatu. Tapi, Wulan tidaklah selugu yang Donny kira. Ayah dan Ibunya meninggal dunia saat dia masih kecil, oleh para tentara penjajah, saat negeri ini masih dijajah oleh negara tetangganya.


Dia dirawat oleh paman dan para saudaranya. Dia juga sudah biasa hidup susah, hingga mental dan fisiknya sudah cukup terasah. Sejak saat peperangan meletus, desanya dilengkapi oleh persenjataan yang lengkap serta pasukan yang bisa dibilang cukup hebat.


Karena desanya amatlah strategis. Dia terletak ditengah-tengah perbatasan antara wilayah kedaulatan pemerintah, dan wilayah kekuasaan pemberontak. Jadi Donny bisa tenang meninggalkan Wulan, dan juga harus tetap berhati-hati terhadap sisa pemberontak yang kemungkinan masih ada.


Di saat itu juga Wulan memberi tahu Donny jika dia sedang hamil. Apa? Wulan hamil? Inikah buah dari hubungan terlarang mereka selama ini? Astaga. Apa jadinya jika paman, para saudara dan kedua orangtua suaminya tahu. Jika Wulan sedang mengandung anak dari lelaki lain.


Astaga. Ini amatlah rumit. Alangkah terkejutnya Donny. Rasa bahagia dan sedih muncul bersamaan. Lagu mendapatkan dan kehilangan menggaung di sekitarnya. Entah darimana lagu itu dia juga tidaklah tau. Dia hanya bisa berucap, “Aku berjanji padamu akan kembali secepatnya. Karena aku juga ingin membesarkan anak kita bersama. Aku ingin dia merasakan kasih sayang dari kedua orangtuanya, hal yang sudah tidak kita dapatkan sejak kecil," ujar Donny.


Wulan tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya bisa tertunduk dan menangis. Donny yang melihat airmata Wulan mulai menetes terasa sakit, rasanya bagai disayat sembilu. Betapa Donny mencintai gadis ini.


Inilah untuk pertama kalinya Wulan kembali menangis. Setelah lama dia tidak menangis. Terakhir kali dia menangis adalah ketika wafatnya kedua orangtuanya.


“Janganlah menangis sayang. Aku mohon hapus airmatamu. Di tengah terik matahari siang aku akan selalu mengingatmu. Mengingat bagaimana saat kita pertama kali bertemu dulu."

__ADS_1


Donny memeluk Wulan. Dengan pelukan hangatnya sambil mencium kening dari kekasihnya itu.


“Tunggulah aku dengan setia. Aku pasti kembali. Aku akan menikahimu secara layak. Secara istiadat dan agama. Lalu merawat anak kita bersama.”


__ADS_2