Istirahat Sebentar

Istirahat Sebentar
Wulan dan Donny (Mengubah Takdir)


__ADS_3

Dia celingak celinguk menatap sekitarnya. Dia baru ingat. Ini adalah rumah Wulan. Lalu, luka-luka yang ada ditubuhnya. Adalah luka-luka bekas pertempuran yang dirawat oleh Wulan. Apa yang sebenarnya terjadi. Belum hilang rasa kebingungannya. Dari balik pintu ada yang masuk dan berkata kepadanya.


“Tolong jangan bergerak dulu. Lukamu belum sepenuhnya kering,” ucapnya.


Donny mengenali suara itu. Itu suara Wulan, kekasihnya. Benar sekali, itu kekasihnya yang memakai kerudung merah. Apakah ini mimpi? Dia mencoba menekan luka yang ada di dada kanannya. Mencoba meyakinkan dirinya. “Ouch sakit sekali,” pekik Donny.


Wulan buru-buru menghampirinya. Heran dengan prajurit yang sedang dia rawat ini. “Apa yang kamu lakukan?” tanya Wulan.


“Tidak apa-apa aku hanya sedang meyakinkan,” ucap Donny tersenyum.


Wulan segera membersihkan darah yang kembali menetes, dengan sapu tangan yang direndam dulu kedalam air bersuhu normal. Donny menikmati sekali masa-masa ini, rasanya seperti mimpi, namun ini nyata. Apakah ini yang namanya kesempatan kedua yang dimaksud kakek itu?


“Namaku Wulan,” ucapnya kemudian, membangunkan Donny dari lamunan.


Yaa Tuhan. Donny terkejut dalam hati. Jantungnya berdegup lebih kencang. Dia tidak menyangka ini adalah nyata. Mereka saling bersalaman. Donny ingat masa-masa ini. Kali ini peristiwa ini terjadi lagi pada dirinya. Pada saat ini juga, dia paham. Kisah cinta mereka berdua telah dimulai.


Waktu bergulir amat cepat. Wulan dan Donny menjadi semakin dekat di tengah perang-perang kecil yang masih berkecamuk melawan sisa-sisa pemberontak dan simpatisannya. Donny sungguh memang tergila-gila dengan gadis ini. Hingga dia benar-benar hanya mengikuti kata hatinya, tidak mendengar logika. Apalagi mendengar pendapat orang-orang sekitarnya.


Setelah kondisinya pulih total. Donny ingat, jika disaat ini. Komandannya akan memanggilnya lagi untuk kembali bertugas. Donny menerima panggilan tersebut, tapi sebelum dia pergi ke Ibukota. Dia meminta izin satu minggu untuk menyelesaikan urusannya yang penting.


Yaa, urusan itu adalah membicarakan masa depannya dengan Wulan. Dia ingin membeli sebidang tanah yang cukup luas, dan membangun rumah sederhana dengan kebun anggrek yang indah di halaman depan rumahnya. Anggrek adalah bunga kesukaan Wulan.


Donny sangat paham itu. Di depan rumahnya juga, dia ingin menanam kokoh pohon maple. Hingga menambah asri dan keindahan rumah itu. Dia ingin sekali memberikan semua itu untuk Wulan. Dia sangat ingat itu, dia hanya tinggal mengulanginya lagi. Dia hanya perlu memperbaiki kesalahan-kesahalan yang telah dia perbuat di kesempatan pertama.


Hingga tidak memberatkan hidup Wulan. Wulan terkejut ketika tahu, jika Donny sudah mengetahui statusnya yang masih sah sebagai istri seorang pejuang desa. Padahal Wulan belum menceritakan tentang itu kepadanya. Apakah pamannya yang bercerita ke Donny. Pada saat Wulan menanyakan itu, Donny hanya mengangguk sambil tersenyum.


Donny meyakinkan Wulan jika dia akan benar-benar menikahinya. Dia akan berusaha menyakinkan dan meminta izin pada orangtua suaminya, serta pamannya. Dia akan berusaha memperbaiki itu. Entah bagaimanapun caranya nanti. Satu minggu berlalu.


Kini saatnya Wulan melepas kepergian Donny. Bersama beberapa prajurit dari desanya. Wulan melepasnya di stasiun kereta yang akan membawa Donny ke Ibukota. Dalam perjalanan menuju peron Wulan tidak henti-hentinya menangis, dan Donny tidak henti-henti menghiburnya dengan lagu-lagu yang indah dan penyemangat untuk Wulan.


Kali ini, tidak ada pemberitahuan jika dia sedang hamil. Tidak ada, kali ini mereka menjalaninya sesuai tuntunan norma agama dan adat istiadat yang ada di desanya. Hal yang paling utama juga. Donny tidak ingin terlalu dalam membebaninya. Namun tetap saja, ada mata yang melihat jika hubungan mereka itu terlarang. Mata yang menaruh curiga, hingga tumbuh bibit benci.


“Aku berjanji padamu akan kembali secepatnya. Karena aku ingin menikahikmu dan membesarkan anak kita bersama. Aku ingin anak kita merasakan kasih sayang dari kedua orangtuanya. Hal yang sudah tidak kita dapatkan sejak kecil," ucap Donny.


Ucapan yang hampir sama ketika mereka hendak berpisah. Wulan tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya bisa tertunduk dan menangis. Sambil memberikan kalung buatan tangannya, untuk Donny. Kalung dengan rantai putih kecil, berinisial nama mereka berdua.


“Janganlah menangis sayang. Aku mohon hapus airmatamu. Di tengah terik Matahari siang aku akan selalu mengingatmu. Mengingat bagaimana saat kita pertama kali bertemu dulu.” Donny memeluk Wulan.


__ADS_1


Donny sedang duduk termenung di dalam tendanya. Ia ingat saat-saat ini. Inilah saat para sisa-sisa pemberontak menyerang dengan taktik gerilya. Donny bersiap-siap untuk melakukan perlawanan. Komandan dan para pasukan lainnya dia beritahukan agar untuk bersiap-siap.



Awalnya ada beberapa orang yang tidak percaya, namun setelah diyakinkan kembali.. Akhirnya, mereka percaya, terutama teman-temannya yang gugur saat serangan itu. Mereka diharapkan agar lebih waspada dan berhati-hati lagi.



Selepas beres urusan dengan pemberontak disini. Selebihnya Donny tinggal menunggu dengan tenang kekasihnya datang menuju tempat ini. Maka dari itu dia sangat berhati-hati sekarang. Tidak ingin melakukan kesalahan sekecil apapun.



Kemudian, mereka semua ada didalam tenda masing-masing dengan persenjataan yang lengkap. Bertingkah seolah-olah mereka sedang tertidur dan tidak tahu apa-apa. Namun, sudah dalam posisi siap tempur. Pasukan yang menjaga gerbang diminta waspada pada sisi timur. Karena dari sanalah mereka memulai serangan. Benar saja, tidak butuh waktu lama menunggu. Alarm tanda bahaya berbunyi.



Serangan gerilya dari tentara pemberontak, dimulai. Kali ini, pasukan pemerintah yang sudah mendapat informasi dari Donny. Tengah dalam kondisi siap. Donny keluar dari tendanya. Dengan senapan canggih, menembaki para pemberontak yang menyerang.



Dia sudah amat paham situasinya dan berusaha sebaik mungkin untuk memusnahkan para pasukan pemberontak. Satu per satu dengan senapannya, Donny membantai para pemberontak yang menyerang camp nya.




Ditengah kebingungannya, dia lengah. Dengan mudah Donny menembakkan beberapa peluru ke arah kepalanya. Tembakannya tepat mengenai kepala Sofyan. Hingga dia jatuh dari kudanya. Dia terpelanting, tapi dengan tangannya. Sebelum tubuhnya terjatuh membentur tanah, dia masih sempat menggebuk paha kudanya.



Hingga kudanya kaget dan berlari kencang tanpa arah. Menabrak Donny yang ada di depannya dengan amat keras. Bajunya sempat tersangkut di pelana kuda tersebut, dan Donny terbawa hingga ke tepian jurang. Untungnya dia juga membawa sebilah pisau. Dengan pisau itu dia merobek bajunya yang tersangkut di pelana. Dia pun selamat sementara kuda itu meluncur deras jatuh ke bawah jurang.



“Akhirnya sudah selesai,” ucap Donny lirih.



Begitu juga dengan pasukan pemerintah lainnya. Mereka secara besama-sama meneriakkan lantunan kemenangan, yang saling bersahut-sahutan. Hingga suara mereka sampai memenuhi seisi bukit tempat mereka membangun basis militer ini.

__ADS_1



Pertempuran itu berakhir dengan kemenangan pasukan pemerintah yang dibantu oleh warga setempat. Komandan pasukan pemerintah meminta para anggotanya untuk mendata siapa saja pasukan yang gugur di medan pertempuran kali ini.



Enam orang gugur dari pasukan pemerintah. Donny terkejut, bukankah ia sudah memberitahukan jika semua pasukan harus bersiap-siap. Bukankah ia juga sudah memberikan senjata lebih kepada orang-orang yang gugur itu. Tapi, mengapa orang-orang yang gugur itu. Jumlah dan orang-orangnya masih sama dengan yang kemarin?



Sungguh ini membuat dirinya bertanya-tanya, hingga sulit untuk tertidur. Ada satu hal juga yang membuat Donny menjadi kepikiran. Yaitu kalung pemberian Wulan. Kalung itu hilang entah kemana, saat dia duel dengan Sofyan. Sungguh, Donny merasa apa yang dia lakukan sudahlah amat benar. Tapi mengapa hasilnya masih sama?



Kemudian, disisi lain. Ada seorang wanita yang mengalami siksaan pedih di desanya. Ia sampai dipasung dan dibiarkan setengah kelaparan. Di hari ketiganya, wanita itu berhasil kabur dari rumah pasungan itu. Pergi menuju kekasihnya, karena tanpa sengaja ia mendapat kabar.



Jika kekasihnya ada di desa lain, yang tidak begitu jauh dari desa tempatnya tinggal. Ia berjalan dengan apa adanya. Hanya bermodal tekat dan keyakinan, jika semua akan baik-baik saja sampai ia bertemu dengan kekasihnya. Tanpa ia sadari, ia telah diikuti oleh mata yang menyimpan dendam serta kebencian.



Menurut cerita dari komandannya dulu. Setelah tujuh hari para pasukan pemberontak melakukan serangan gerilya. Ada seorang gadis cantik yang mencarinya. Siapa lagi kalau bukan Wulan. Hanya saja waktu tepatnya dia tidak menanyakan kepada komandannya.


Maka dari itu. Sedari pagi buta, Donny sudah menunggu di depan gerbang desa. Menanti, ingin menjemput langsung kekasihnya. Lalu, waktu pun berganti. Pagi berganti siang, siang berganti sore, dan sore pun berganti malam.


Donny bingung dan lelah. Diliputi tanda tanya besar tentang kondisi kekasihnya. Mengapa Wulan tak kunjung datang? Apa ada sesuatu yang terjadi ditengah perjalanannya? Apakah dia baik-baik saja.


Dia memutuskan untuk menjemputnya keluar desa. Dia tidak bisa hanya berdiam, sementara siapa tahu Wulan sedang membutuhkan bantuan. Dia kembali ke tendanya. Mempersiapkan segalanya. Persiapan beres, dan dia kembali keluar tenda untuk mencari Wulan.


Belum lama dia berjalan, masih di bukit kecil tempat tendanya berdiri. Berlari seorang gadis cantik ditengah remang-remangnya malam yang disinari cahaya purnama. Pantulan cahaya purnama, membuat tubuh gadis itu terlihat amat indah disetiap lekukannya.


Donny menatap gadis yang berlari itu. Dia adalah Wulan, kekasihnya. Alangkah bahagianya Donny. Tapi Donny, janganlah senang dulu. Sebab Wulan lari ke arahmu, bukanlah tanpa sebab. Dibelakangnya, sudah ada Harun, ayah dari Huda dan beberapa anak buahnya. Mengejar Wulan hingga masuk ke desa ini.


Mereka sempat kehilangan Wulan, saat pengejaran. Namun dipertemukan lagi di desa ini. Pertempuran kecil pun tak bisa dihindari. Donny yang berusaha melindungi Wulan, bertarung habis-habisan dengan Harun dan anak buahnya. Dimanakah teman-temannya? Dimanakah komandannya? Apakah mereka sedang ada urusan lain? Hingga membiarkan dia melawan puluhan orang ini sendirian.


Walaupun dia menggunakan senapan canggih. Donny tetap terpojok, karena kalah jumlah. Namun dia tidak mau melepaskan genggaman tangannya kepada Wulan. Mereka terus berlari, Harun dan anak-anak buahnya terus memburunya.


Hingga ke tepi jurang. Akhirnya Donny paham akan satu hal, dia hanya diberi kesempatan kedua. Bukan untuk mengubah takdir. Dia terima itu dengan ikhlas, karena kali ini. Walaupun mati, dia telah bersama dengan orang yang terkasih.

__ADS_1


Mereka paham, jika Harun dan anak-anak buahnya tidak akan meninggalkan mereka hidup begitu saja. Tidak ada pilihan lain. Mereka pun tersenyum, lalu saling menggenggam tangan. Menjatuhkan diri mereka ke dalam jurang, secara bersamaan.


__ADS_2