
Masih di hari yang sama, ditempat yang sama dan di waktu yang hampir bersamaan. Di area SMA Negeri Jaga Diri Jakarta. Taqi yang sehabis melaksanakan ibadah Shalat Jum’at di masjid sekolah bergegas pulang ke rumah untuk istirahat.
Taqi mengambil tas, pamitan dengan beberapa teman-temannya yang masih ada di kelas dan teras sekolah. Termasuk Neea yang sedang asik main hp di mejanya, di baris kedua paling depan. Taqi menegurnya, Neea hanya membalas sapaannya tanpa meliat ke arahnya.
Karena masih sibuk dengan hp-nya. Membuat Taqi semakin penasaran dengan gadis ini. Cuek dan cantik, bener-bener tipenya dia banget. Dia menuju parkiran motor yang saat itu sudah lumayan sepi.
Tinggal sekitar tujuh motor lagi yang ada disana. Termasuk motor besarnya, Kawasaki Ninja dengan warna merah menyala. Motor gagah kesayangannya. Tepat sebelum dia mendekati motornya. Tiba-tiba ada seseorang yang masuk dengan motornya.
Secara terburu-buru, dan hampir menyenggol pagar gerbang depan. Security yang menjaga meneriakinya. Namun orang itu tetap melaju dan memarkirkan motornya yang juga dengan terburu-buru namun rapih pada tempatnya.
Dalam hati Taqi bergumam,”Ini karet gelang sampe nyenggol gue. Gue hajar ini orang.”
Orang itu membuka helmnya dan celingak celinguk melemparkan pandangannya tak tentu arah, yang pada akhirnya menatap ke arah Taqi. Lalu menghampirinya dengan sedikit berlari. Cari larinya lucu, kayak pinguin datang bulan.
“Orang ini bukan anak siswa sini,” gumam Taqi dalam hati.
Perawakannya sedang, tidak tinggi dan tidak pula pendek. Tubuhnya berisi. Mengenakan jaket kulit coklat dengan celana jeans. Serta motor Honda CBR 150R yang dia kendarai menambah kesan maco orang ini.
Ketika membuka helm wajahnya amatlah tampan, namun terkesan terlalu lembut untuk seorang cowok. Dia semakin mendekati Taqi, seperti ada yang dia cari dan tanyakan. Mau apa orang ini?
“Maaf Mas. Mau nanya apa kenal dengan yang namanya Neea. Anak kelas 3 IPA 1?” tanya orang itu dengan sopan.
__ADS_1
Taqi sedikit kaget ada orang luar yang tiba-tiba bertanya tentang Neea. “Maaf Mas. Memangnya ada keperluan apa yaa?” balas Taqi menanya balik.
Orang luar itu tidak langsung menjawab. Malah tertawa kecil melihat tingkah Taqi. “Saya cewek Mas, bukan cowok. Masa dipanggil Mas, hehehe,” ucapnya.
Astaga, Taqi menatap orang itu dari bawah hingga atas. Tampilannya sama sekali gak mencerminkan jika dia seorang cewek. Mungkin jika diperhatikan dari wajahnya baru sedikit ketahuan.
Karena potongan rambutnya saja seperti Toni Kroos, pemain timnas Jerman yang kini bermain di Real Madrid. “Ma … maaf kalo gitu Mas. Ehh Mba maksudnya,” ucap Taqi gugup salah tingkah.
“Iya gak apa-apa. Ini bukan yang pertama kali kok saya disangka cowok,” balasnya sambil melemparkan senyum canggung ke Taqi. “Gimana Mas pertanyaan saya tadi?” tagih orang itu pada Taqi.
“Ohh … pertanyaan barusan. Iyya benar Neea memang sekolah disini,” ucap Taqi.
“Syukurlah saya gak nyasar. Cuma agak terlambat,” ucap si cewek yang kayak cowok.
Kisah Taqi berlanjut. Si cewek yang kayak cowok tadi bertanya pada Taqi, dimana letak ruangan kelas 3 IPA 1. Taqi menjelaskan dengan singkat. Jika jalan saja lurus, lewati saja koridor ini. Lalu belok kanan melewati ruangan tata usaha dan perpustakaan.
Di samping perpustakaan ada tangga ke atas. Naik sampai mentok ke lantai tiga. Ruangannya ada persis di sebelah kiri ketika sampai di anak tangga teratas. Taqi pikir dia hanya ingin memastikan letaknya. Agar dia tidak menunggu Neea terlalu lama dalam perjalanan dari kelas ke parkiran.
Namun nyatanya dengan langkah yang cepat si cewek yang kayak cowok itu bergerak menuju lantai tiga. Taqi mau menarik tangannya untuk melarangnya karena dia bukan anak siswa sini. Tapi sudah terlambat dia sudah masuk ke koridor pintu masuk ke ruangan-ruangan sekolah. Taqi hanya bisa menghela napas sambil bergumam kecil, “Cepet amat itu makhluk. Kayak cecurut.”
Taqi tidak lantas mengejarnya. Dia sudah terlanjur malas. Taqi hanya info ke security yang berjaga. Jika ada anak dari luar sekolah yang masuk untuk menemui salah satu siswa sini di kelas 3 IPA 1. Security pun paham apa yang disampaikan oleh Taqi. Mereka sempat berbincang-bincang sejenak.
__ADS_1
Security memberitahu kepada Taqi. Jika orang tadi itu sudah ada sekitar lima kali mondar mandir di depan sekolahan. Sempat berhenti untuk terima telpon di seberang sekolah. Lalu pada akhirnya, masuk juga ke sekolahan.
Securityawalnya sudah menaruh curiga. Tapi berhubung tadi meliat orang itu mengobrol dengan Taqi. Security kira dia teman Taqi, hingga sempat hilang kecurigaan. Namun nyatanya kenalannya Neea, dan main asal serobot masuk ke dalam sekolah.
Securitysudah bersiap untuk memantau. Takut ada hal-hal yang gak diinginkan terjadi. Walaupun Neea terkenal dengan imej baik. Tapi tetap aja untuk jaga-jaga. Security yang bernama Imam itu, ke toilet terlebih dulu karena kebelet mau buang air kecil.
Kemudian, Taqi bergegas menaiki motornya. Dia merogoh kantong celana, baju dan tiap kantong yang ada di tasnya. Untuk mencari kunci motor, yang ternyata baru dia ingat tertinggal di laci meja kelasnya. Dia menggerutu, “Capek banget harus balik ke lantai tiga, mana sudah lapar, mau makan dirumah.”
Dia pun pada akhirnya melangkah gontai menuju lantai tiga lagi. Melewati koridor pintu masuk yang gelap karena disisi kiri dan kanannya terdapat pohon yang rindang. Melewati ruangan tata usaha yang pintunya tertutup rapat. Ke depan lagi melewati ruangan perpustakaan yang sunyi.
Grusuk. Grratak. Ssshh. Ssshh.
“Suara apaan itu?” tanya Taqi. “Ahh, palingan kucing kawin,” ucap pikirnya sesaat. “Ehh, tapi kucing kawin masuk darimana?” Taqi mulai bingung sendiri.
Akhirnya dia mencoba melihat ke dalam perpustakaan yang saat itu pintunya sedikit terbuka. Menyisakan sedikit ruang hanya untuk sekedar mengintip apa yang ada di dalam. Tidak ada siapa-siapa. Sepi, dingin dan agak gelap seperti ruangan tempat nenek-nenek ganti kulit.
Penjaganya juga sepertinya sudah pulang. Daripada perpustakaan, tempat ini lebih terlihat seperti area kuburan Belanda yang hampir gak pernah diziarahi. Tapi tunggu dulu. Di rak pojok kanan ada buku yang seperti berserakan dan sesuatu yang bergerak-gerak. Apa itu?
Ternyata, “Astaghfirullah,” ucap Taqi terkejut. Cewek yang kayak cowok tadi sedang berciuman bibir dengan Neea. Taqi seolah-olah tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Mereka berdua berbuat mesum di perpustakaan sekolah ini. Gila parah banget kelakuan mereka berdua.
Neea dipojokkan bersandar pada rak buku, dan si cewek yang kayak cowok. ******* bibir Neea dengan bibirnya, penuh gairah. Tangan kirinya meraba dada Neea yang montok. Sedangkan tangan kanannya, menyingkap rok Neea ke atas.
__ADS_1
Hingga terliat pahanya yang putih mulus. Lalu berusaha memasukkan jemarinya ke dalam ****** ***** Neea. Sampai Neea merenguh dan mendesah kecil. Mereka terlihat seperti sudah biasa melakukannya.
Mereka berdua bisa melakukan demikian karena sudah tau kalo cctv ruangan ini sedang rusak. Saat ini masih dalam kondisi perbaikan. Sepertinya, ini sudah mereka rencanakan atau memang kebetulan ada kesempatan.