Istirahat Sebentar

Istirahat Sebentar
Kejutan Besar (Part 1)


__ADS_3

Sambil menunggu Veryn dan Pak Shetra yang ingin mengambil beberapa keperluan untuk Risa, aku duduk di kursi yang ada di koridor bangsal Arjuna. Suasana bangsal ini cukup ramai, tidak seperti biasanya yang sepi.


Pak Shetra bilang sii, karena ada salah satu suster yang ulang tahun hari ini, yaitu suster Arin, dan beberapa temannya ada yang ingin memberinya kejutan. Para suster itu sudah konfirmasi ke atasan dan para petugas keamanan yang ada di rumah sakit ini, agar tidak terjadi kesalahpahaman.


Dengar-dengar mereka ingin memberikan kejutan besar, wajarlah kalau sampai konfirmasi ke atasan dan pihak keamanan. Aku duduk di bangku yang memang sudah disediakan pihak rumah sakit ini, aku enggan menambahkan kata jiwa di belakang rumah sakit ini. Terkesan aneh dan sadis untuk Risa.


Aku duduk di depan ruangan Chakra yang berada di persimpangan atau tepatnya di pertigaan koridor. Jika aku menengok ke kiri, aku akan langsung melihat pertigaan koridor itu dan ruangan Astina.


Lalu, ruangan paling pojok yang berada di jalan buntu koridor adalah ruangan Hrudadali tempat penyimpanan alat-alat kedokteran. Aku bisa cukup hapal ruangan-ruangan di rumah sakit ini karena ibuku pernah bekerja disini, dan beliau sering membawaku. Terutama pada saat aku masih kecil. Makanya ada beberapa suster dan dokter yang sudah amat aku kenal.


Kira-kira Veryn dan Pak Shetra lama apa tidak yaa? Soalnya bosan juga nihh, kalo cuma nunggu seperti ini. Di sini bau obatnya sangat menyengat di tambah lagi, aku sepertiya samar-samar mendengar, seperti ada suara-suara aneh di dalam ruangan Chakra.


Pemandangannya juga sangat membosankan. Taman yang ada di depanku ini, kurang terawat. Bunga-bunga yang tidak terurus, tanaman menjalar yang kusut, daun-daun kering yang tidak dibersihkan secara berkala.


Ditambah lagi koridor ini juga kurang sekali penerangan cahanya. Padahal baru jam lima sore, tapi sudah cukup gelap di dalam koridor ini. Benar-benar mencekam banget suasananya. Ini mah yang sehat aja bisa jadi sakit kalo kelamaan disini.


Para suster-suster ini berlalu lalang untuk mempersiapkan kejutan kali yaa, karena keliatannya sibuk sekali daritadi. Menyiapkan kejutan di sore hari, setelah pekerjaan selesai. Kreatif dan saling peduli dengan teman yaa mereka.


Dengan baju dan peralatan yang digunakan. Aku sudah bisa menebak kalau mereka ingin mengerjai suster Arin dengan berpura-pura menjadi hantu suster ngesot. Trik dan kejutan lama yang membosankan, apanya yang kejutan besar kalau kayak begini. Suster Arin memang penakut, tapi apa bisa dia dikerjai dengan trik lama seperti ini? Dia kan cerdas.


Mereka ada di ruangan Astina, tempat berkumpulnya para suster. Sedangkan suster Arin ada di ruangan Hrudadali. Sedang membersihkan ruangan karena dipinta oleh Ibu Ursa selaku atasannya, yang tanpa sadar padahal dia cuma dikerjai.


Atasan yang baik, beliau tidak mau dipanggil dengan sebutan Dokter. Beliau lebih senang dipanggil dengan sebutan Ibu. Ramah dan peduli terhadap bawahannya. Namun sayang sekali, sampai di usia nyaris kepala empat. Dia belum menikah.


Hmm, aku kira kejutan besar yang seru. Ternyata cuma seperti itu, nambah membosankan deh. Padahal aku sangat mengharapkan kejutan besar saat ini. Kejutan yang benar-benar bisa bikin kaget dan terngiang-ngiang terus di ingatanku.


Aku menopangkan dagu di kedua tangannku yang bertumpu pada teras pembatas koridor dan taman, sambil memetik beberapa daun pohon jeruk nipis yang berada tepat di depanku. Hitung-hitung untuk mengurangi kebosananku.


Srekk. Srekk.


Suara apa itu? Aku menengok ke sisi sebelah kiri. Ohh..ternyata acara kejutannya sudah di mulai. Aku berdiri untuk melihanya lebih jelas. Pintar sekali make-up ala hantunya. Wajahnya benar-benar menjadi sulit dikenali. Sampai bisa gak kebentuk wajah orang seperti itu.


Riasan mata yang menghitam, seluruh wajah seperti bara api yang menyala. Lalu, wahh memang benar-benar hebat para suster itu. Kakinya pun dirias seakan benar-benar lumpuh, dengan darah dan luka besar yang terkoyak sehingga daging  dan tulangnya kelihatan.


Perlahan-lahan ia mendekati pintu ruangan Hrudadali, dan aku ingin sekali melihat reaksi suster Arin begitu melihat wujud hantu itu. Hehehehe, sepertinya cukup menyenangkan. Kalo saja hp ku tidak lowbat. Pasti aku akan ikut merekam.

__ADS_1


Dia sudah ada di depan pintu, suster yang akan mengagetkan suster Arin sudah ada di depan pintu, dengan riasan hantu ala suster ngesot. Itu pintu dia ketuk apa dia buka yaa. Tapi kayaknya lebih seru kalo dia ketuk. Terus suster Arin membukanya dan kaget.


Aku mengedepankan tas kecil yang awalnya berada di samping, lalu tanpa sengaja aku menjatuhkan pulpen. “Ihh ribet, gak tahu orang mau senang-senang apa!” gerutuku sambil mengambil pulpenku yang terjatuh.


Setelah mengambil pulpen itu dari lantai, aku menaruhnya kembali di tempatnya yang tepat dalam tasku, supaya tidak jatuh lagi. Ini juga gak tahu kenapa pulpen bisa ada di tas main. Padahalkan seingatku ada di tas buat kuliah.


Aku berdiri lagi. Kemudian melihat ke depan ruangan Hrudadali. Ihh, suster yang ngerjain tadi sudah gak ada? masa masuk pintunya cepat banget? dia ketuk apa dia buka dan masuk sendiri yaa?


Aturan mahh ketuk dulu pintunya, biar dibuka sama suster Arin. Kemudian dia kaget melihat sosok suster ngesot itu, lalu surpriiise. Bukankah begitu lebih baik. Biar kayak di acara-acara prank gitu.


Jadi, sekarang tinggal menunggu teriakan suster Arin dari dalam ruangan dan para suster berhamburan datang untuk mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Disertai tiupan lilin dan pemotongan kue ulangtahun.




Waktu hening aku rasakan selama satu menit. Lama sekali? Kok, gak teriak-teriak? Emm, aku berpikir sejenak. Lalu ada baiknya aku lihat saja ke dalam ruangan itu. Mengapa suster Arin gak teriak, ada kemungkinan dia pingsan begitu melihat sosok hantu itu.




Namun ketika tepat di persimpangan, aku melihat ada sosok putih lagi yang keluar. Sama seperti yang tadi, kali ini hantunya juga suster ngesot. Tapi, make-up hantunya tidak begitu bagus seperti yang pertama tadi. Kali ini terkesan asal-asalan, malah aku masih bisa mengenalinya.



Dia suster Sari yang berpura-pura jadi suster ngesot. Aku langsung memberhentikan langkahku, kemudian menatapnya dengan keheranan. Mengapa dua-duanya harus hantu suster ngesot? gak ada yang jadi buto ijo, kolong wewe atau semacamnya. Biar bervariasi gitu.



Dia menoleh ke arahku, dia tahu jika aku perhatikan. Dia menatapku dan memberikuisyarat agar tetap tenang, dengan menempelkan jari telunjuk tangan kanannya ke bibir. Tiba-tiba dari dalam ruangan Astina yang ada di sebelah kirinku, keluar suster Gerson menyambar tanganku dan berbisik. “Sstt tenang saja. Jangan takut itu suster Sari.”



“Ii … iiyya,” jawabku dengan gugup dan heran.

__ADS_1



“Tidak usah gugup dan ketakutan begitu. Nanti kita lihat reaksinya Arin hehehe, pasti menyenagkan,” kata suster Gerson.



Dengan nada senang. Sambil melihat gerakan suster Sari yang lucu di bawah lantai. Suster yang lain pun hanya bisa tertawa kecil dari dalam ruangan mengintip di sela-sela jendela. Melihat gerakan-gerakan aneh yang dibuat suster Sari, ketika hendak mencapai pintu ruangan Hrudadali.



 “Kenapa harus dua?” tanyaku pada suster Gerson.



Suster Gerson terlalu asik melihat tingkah suster Sari yang lucu di bawah lantai, sampai tidak menyadari pertanyaanku. Akhirnya, aku mengulangi pertanyaanku lagi. Kali ini dengan suara yang cukup keras untuk bisa di dengar. “Suster!” ucapku.



“Hmm, iyya ada apa?” sahutya.



Akhirnya dia mendengarkanku. “Kenapa hantunya mesti ada dua? terus sama lagi. Sama-sama suster ngesot?” tanyaku pada suster Gerson.



“Dua? Dua apanya?” suster Gerson balik bertanya padaku.



“Itu loo yang jadi suster ngesotnya. Kenapa mesti ada dua?” jawabku dengan ku pertegas di setiap pengucapannya.



“Dua? orang cuma satu kok. Mengkhayal kali kamu,” jawab suster Gerson dengan agak kebingungan mendengar ucapanku.

__ADS_1


__ADS_2