Istirahat Sebentar

Istirahat Sebentar
Horor Rumah Pinggir Hutan (Part 2)


__ADS_3

Sampai di depan pintu rumah, Wulan cukup kaget. Karena mendengar suara wanita yang ketawa cekikikan saling bersahut-sahutan satu sama lain. Wulan berpikir positif, lalu memberanikan diri untuk mengetuk pintu rumah.


“Assalamualaikukm,” ucap Wulan.


Wulan menunggu jawaban dari dalam rumah. Tapi jangankan jawaban. Suara ramai orang tadi juga malah hilang. Dia sempat bingung, kok bisa seperti itu? tapi sekali lagi pikiran positifnya berhasil menemukan jawabannya.


“Mungkin saja tadi itu suara tv,” gumam Wulan.


Dan akhirnya, dia kembali mengetk pintu dan mengucap salam. Kali ini tidak ada jawaban. Hanya saja pintu langsung ada yang membuka. Ternyata itu Lik Eti yang masih berpakaian lusuh seperti habis bangun tidur.


“Ohh, kamu, Lan. Ayoo masuk,” ucap Lik Eti.


“Iyyaa, Lik. Terima kasih,” balas Wulan.


Melihat tampilan Lik Eti yang seperti orang habis tertidur pulas. Wulan diserang kebingungan. Jika Lik Eti, sedang tertidur pulas. Lantas siapa yang menonton tv barusan. Lalu, sekali lagi pikiran positif Wulan mengatakan.


Bahwa Lik Eti sedang menonton, lalu ketiduran karena ngantuk. Kemudian, dia datang mengetuk pintu. Membangunkan Lik Eti dari tidurnya. Itulah yang ada di dalam pikiran Wulan saat ini.


Tapi belum ada dua langkah di masuk ke dalam rumah tersebut. Wulan menengok ke arah belakang secara cepat, dan menatap lamat pada halaman rumah Lik Eti nya itu. Lik Eti yang melihat tingkah Wulan tersebut menjadi bertanya-tanya.


“Ono opo, Lan?” tanya Lik Eti.


“Itu loo, Lik. Barusan kayak ada yang ngintipin kita,” jawab Wulan.


“Ngintip? Sopo? wong gak ada orang kok. Manaa?” tanya Lik Eti.

__ADS_1


Lik Eti geleng kepala melihat tingkah Wulan itu. Dia menyarankan agar Wulan segera beristirahat. Mungkin dia kecapean, karena habis bekerja di perjalanan tadi. Lik Eti memberitahukan kepada Wulan.


Jika kamarnya ada di samping ruang tamu. Sedangkan yang di samping kamar mandi adalah kamar Lik Eti. Lik Eti juga mengkonfirmasi kepada Wulan, agar menghargai privasinya. Tidak sembarangan masuk ke kemarnya.


Jika tidak masuk ke kamar, apalagi pada saat dia tidak ada di rumah. Lik Eti juga berpesan. Besok pagi-pagi sekali dia akan berangkat pergi untuk mencari kekasihnya. Dia naik angkot saja, untuk motor dia biarkan Wulan memakainya untuk ke tempat kerja.


Sebelum makan, shalat dan tidur. Wulan mau membersihkan dirinya dulu. Dia menuju menaruh tasnya dulu di kamar. Kamar yang cukup luas dan bersih baginya. Dia mengambil handuk, menaruhnya di pundak dan berjalan ke kamar mandi.


Sedangkan Liknya sudah tidak tahu pergi kemana. Palingan sudah ada di kamar lagi melanjutkan tidur. Wulan pun bergegas ke kamar mandi, untuk sekedar membersihkan diri. Di kamar mandi.


Baru saja dia cuci muka dan kaki. Tiba-tiba pintu kamar mandi sudah ada yang menggedor-gedor dari luar.


“Oaalaah, Lik Eti, gak sabaran banget tohh,” gumam Wulan.


Akhirnya karena sudah digedor-gedor dari luar. Wulan pun terburu-buru. Selesai berwudhu, dia pun keluar. Tapi aneh, ternyata di luar gak ada siapa pun. Kosong melompong. Wulan tidak ambil pusing. Paling Lik Eti sudah kembali lagi ke kamarnya.


Tapi di dalam kulkas ada beberapa potongan daging yang masih segar. Namun dia tidak berani memasaknya, tanpa seizing dari Lik Etinya. Dia makan makanan alakadarnya saja, yang penting cukup hanya untuk mengganjal perut.


Selesai makan, Wulan tidak lantas tidur. Tanggung, Shalat Isya dulu. Nanti baru tidur. Akhirnya adzan Isya berkumandang. Dia pun melaksanakan shalat, lalu keluar sebentar untuk sekedar duduk-duduk di ruang tamu, sambil bermain hp.


Belum lama dia bermain hp. Tiba-tiba kenapa hawa rumah ini terasa bertambah dingin. Dinginnya itu aneh. Rasanya dia seperti ditiup-tiup oleh sesuatu yang dia sendiri tidak melihatnya.


Wulan juga merasakan jika bulu kudukknya mulai meremang lagi. Akhirnya dia memutuskan untuk masuk ke kamar dan tidur. Kasur yang emapuk dan bersih sudah menunggunya di kamar. Ia pun bergegas.


Pagi harinya dia kesiangan untuk Shalat Shubuh. Tidurnya amat sangat nyenyak malam tadi. Dia pun segeran mandi dan shalat. Dilanjut sarapan pagi dan kemudian berangkat kerja dengan sepeda motor matic milik Liknya.

__ADS_1


Dalam perjalanan, dia sempat memikirkan. Liliknya itu sibuk sekali. Pagi-pagi sekali sudah pergi lagi. Sampai-sampai tidak sempat membuat sarapan. Daging yang tadi malam dia lihat dalam kulkas masih utuh.


Setelah seharian bekerja. Wulan pun kembali pulang ke rumah Liliknya yang ada di pinggir hutan itu. Di perjalanan, dia melewati desanya dan sempat menatap cukup lama ke rumah reyotnya itu. Di mana tersimpan banyak sekali kenangan di rumah tersebut.


Sebelum tepat sampai di desa rumah Liliknya. Wulan sempatkan diri dulu untuk mampir ke warung pinggir jalan. Untuk membeli makanan buat disantap nanti malam. Dia membeli nasi bungkus dengan lauk ayam goreng dan tumis kangkung.


Tidak lupa dia juga membelikan untuk Liliknya juga. Dia sempat menelpon Liliknya, untuk menanyakan sudah beli makan apa belum. Tapi, karena kunjung tak dapat jawaban. Akhirnya dia memutuskan untuk membelikannya saja.


Tohh, kalau tidak dimakan sama Liliknya. Bisa dia simpan dan hangatkan untuk besok sarapan. Pada saat hendak membayar. Ibu-ibu pemilik warung sempat bertanya kepada Wulan.


“Tinggal di mana, Ndo’. Aku baru liat kamu?” tanya ibu si pemilik warung.


“Di rumah yang di pinggir hutan itu, Buu,” jawab Wulan.


Si ibu pemilik warung sempat menunjukkan wajah heran dan kebingungan di hadapan Wulan. Lalu kembali bertanya, “Kamu berani tinggal sendirian di rumah itu?”


“Gak sendiri, kok, Bude. Sama Lilik aku,” jawab Wulan.


Sambil berlalu pergi. Meninggalkan ibu itu dengan sejuta pertanyaan di dalam hatinya. Entah dari mana anak ini berasal tiba-tiba. Sudah ada di desanya, dan saat di tanya di mana tinggalnya. Gadis itu menjawab di rumah pinggir hutan.


Rumah yang dia dan bahkan orang-orang desa tahu. Jika rumah tersebut sudah hampir satu bulan di tinggal oleh penghuninya. Desas desus pun mulai merebak ke semua penjuru Desa Sukalewat. Mengenai gadis yang tinggal di rumah pinggir hutan.


Wulan pun sudah hampir sampai di depan rumah. Dia melewati halaman rumah yang cukup luas, yang kanan kirinya ditanami pohon-pohon jagung serta katuk. Entah kenapa, setiap Wulan melewati kebun jagung kecil ini.


Wulan seperti ada yang memperhatikan. Bulu kudukknya juga merinding, rasa dinginnya juga agak berbeda dengan sekitarnya. Setelah sampai di depan rumah, Wulan memakirkan motornya dulu.

__ADS_1


Alangkah kagetnya Wulan, mendengar suara senandung lagu berbahasa jawa. Siapakah yang sedang bersenandung ini. Lagu yang dibawakan mengisahkan tentang kesepian dan pengkhianatan.


__ADS_2