Istirahat Sebentar

Istirahat Sebentar
Hal Yang Tidak Dimengerti (Part 1)


__ADS_3

Dari pertemuan unik itu berlanjut ke kehidupan Anton, yang sebelumnya hampa. Seperti raga tanpa nyawa. Sejak hari itu, dia selalu teringat wajah Arum, meskipun sudah dia kesampingkan namun wajah itu selalu saja ada di ujung mata Anton yang tajam. Baik saat dia terpejam, maupun pada saat dia terjaga.


Mau makan teringat wajahnya, mau minum teringat wajahnya, mau tidur teringat wajahnya, mau mandi apalagi, mau kerja teringat wajahnya. Hanya ketika ikut menguburkan jenazah saudaranya Anton baru teringat Allah dan dosa-dosanya. Hingga dia menangis sejadi-jadinya di pemakaman.


Anton sadar betul akan hal itu, dia sadar mengapa wajah Arum sulit sekali dia lupakan, karena di kantor selalu saja


ada hal yang mempertemukan mereka. Baik hal kantor yang rumit sampai yang mudah. Dari hal yang serius, sampai dengan hal yang konyol mengundang tawa.


Dia tidak pernah sekalipun meremehkan khayalan tentang Arum. Karena apa yang di ciptakan dalam dunia khayalan, akan mempengaruhi kehidupan di dunia nyata, begitupun sebaliknya. Hal itu memang terdengar abstrak.


Namun psikologi modern setuju jika alam bawah sadar, memang tidak membedakan antara dunia nyata dan khayalan. Pikiran di alam bawah sadar, terutama jika di resapi dengan perasaan akan mempengaruhi sikap dan perilaku dalam dunia nyata.


Anton berharap apa yang dia khayalkan dapat menjadi kenyataan. Sore itu Anton terlihat sangat terburu-buru untuk bisa segera pulang. Saat menuruni tangga. Tepat di sambungan antara anak-anak tangga lantai satu dengan dua.


Anton bertemu dengan Arum yang juga terliat buru-buru hendak naik ke lantai atas karena ada urusan penting yang


mendesak. Tidak dapat dipungkiri lagi. Salah satu adegan yang sering ada di film India pun terjadi.


Bruakk.


Mereka berdua bertabrakan satu sama lain. Mereka saling terduduk jatuh. Masing-masing menutup mata untuk sejenak. Menahan rasa sakit sambil memegang serta mengelus bagian tubuh yang terasa nyeri. Perlahan mereka mulai membuka mata kembali.


“Aduh sakit, ukhh,” ucap Arum yang perlahan bersuara.


Anton yang mendengar dan melihat Arum merintih kesakitan, sontak mendekati dan meminta maaf. Dia memberi alasan jika dia sedang terburu-buru untuk bisa sampai pulang kerumah sebelum waktu Isya tiba.


Karena dia berencana ingin shalat Tarawih dan Witir berjama’ah di malam pertama Ramadhan ini. Mendengar alasan Anton bercerita polos itu, dengan nafas yang terengah-engah pula membuat Arum tersenyum.


Dalam hati dia berucap, “Pria ini sungguh amat shaleh.”

__ADS_1


Anton membantu Arum untuk berdiri kembali, sambil merapihkan baju. Setelah saling memastikan diantara mereka


baik-baik saja. Anton pun hendak melanjutkan perjalanannya. Namun baru lima langkah dia menuruni tanggga dengan cepat tiba-tiba Arum memanggilnya.


“Kak Anton!” teriak Arum.


Arum memanggil Anton dengan sapaan Kakak, karena usianya lebih muda sekitar tiga tahun dibanding Anton. Lagipula bagi Arum panggilan Bapak, dan Mas sangat tidak cocok untuk Anton yang terliat lebih muda dibanding usia kalendernya.


Anton kembali menengok ke arah Arum, menaiki tangga untuk sekali lagi memastikan jika dia tidak apa-apa.


“Arum gak apa-apa kan?” tanya Anton.


“Iyaa,” jawab Arum singkat.


Dengan senyuman manisnya. Senyuman yang bukan main indahnya bagi Anton. Jika tidak kenapa-kenapa lantas kenapa memanggil lagi. Anton menatap Arum dengan tatapan menyelidik. Kini mereka berdiri sejajar nafas mereka saling terdengar satu sama lain.


“Kak Anton nomor handphone nya berapa?” tanya Arum.


Alamak, Anton gugup. gak nyangka cewek secantik dan seseksi Arum meminta nomor handphone nya. Padahal ibu dan adik perempuannya aja gak pernah ada yang nanya kayak gitu kepadanya.


Tanpa banyak berpikir dan bicara lagi, Anton langsung menyebutkan dua belas digit nomor handphone nya. Nomor yang sejak kuliah dulu Anton pakai dan belum dia ganti hingga sekarang.


Arum mendengarkan dan mencatat di phone book handphone nya. Mengulangi kembali angka-angka yang Anton sebutkan, kemudian berterima kasih pada Anton yang telah memberikannya, tidak lupa disertai senyumannya yang indah dan mempesona.


“Sama-sama,” ucap Anton membalas dan pamit.


Ketika hendak pergi lagi, baru enam langkah kaki Anton menuruni anak tangga. Lagi-lagi Arum berteriak.


“Kakak!”

__ADS_1


Sontak Anton kembali menengok ke arahnya dan kembali naik. Dengkul Anton mulai terasa berat karena harus turun naik tangga seperti ini. Setelah tiba kembali di puncak tangga lantai dua tempat Arum berdiri.


Dengan nafas yang mulai tersengal-sengal Anton bertanya kembali, “ada apa?”


Mereka sama-sama saling diam sejenak, yang membedakannya Arum tersenyum sedangkan Anton melongo kebingungan. Arum menunjuk ke arah bawah dengan telunjuk kirinya sambil berbisik pelan.


“Itu resletingnya terbuka Kak,” ucapa Arum.


Astaga, Anton terkejut bukan kepalang. Anton langsung melihat ke arah bawah dan dengan cekatan menutup kembali garasinya. Pantas saja sejak tadi dia merasa dingin di areal kejantanannya.


Arum tertawa sambil menutup mulut dengan tangan kanannya. Anton masih sibuk menaikan resletingnya, sepertinya agak sedikit macet. Setelah semua tertutup rapat. Sekali lagi Anton izin pamit dan kemudian melesat diantara anak-anak tangga.


Arum yang menyaksikan itu berbalik badan. Terseyum sendiri sambil meliat ke awang-awang. Membayangkan sepertinya Anton adalah pria yang menyenangkan. Sambil melanjutkan kembali menaiki anak tangga dengan perlahan. Karena rasa terburu-burunya telah hilang melihat kejenakaan Anton.


Anton tiba di rumah tiga puluh menit sebelum adzan Isya berkumandang, dia juga sempat terlebih dahulu Shalat


Maghrib, walaupun waktunya sudah mepet banget. Huuffhh…ini adalah tiga tahun dia menjalani bulan suci Ramadhan di kantor yang sama.


Belum ada rencana untuk pindah. Karena apa yang dia inginkan dia dapatkan di sini. Apalagi entah mengapa dia merasa Ramadhan tahun ini akan ada yang berbeda. Setelah Shalat Maghrib di rumah.


Anton bersama keluarganya menjalankan ibadah Shalat Isya yang dilanjut Tarawih dan Witir berjama’ah di masjid. Pada saat berjalan bersama ke masjid ibunya memperhatikan kedua anaknya yang sudah beranjak dewasa.


Echa tetap dengan tatapan dingin, pendiam terhadap lingkungan sekitarnya. Namun memang begitulah pembawaannya, jadi ibunya tidak terlalu khawatir. Sedangkan si anak prianya ini entah kenapa semenjak memakai sandal tadi, jadi tertawa-tawa sendiri.


“Kenapa ketawa-ketawa sendiri Bang?” tanya ibunya.


Anton kebingungan ternyata ibunya sejak tadi memperhatikannya. Dengan singkat Anton hanya menjawab tidak ada apa-apa, dan langsung kembali melanjutkan perjalanan ke masjid. Karena biasanya di awal Tarawih kayak gini masjid suka penuh oleh orang-orang yang hendak shalat berjama’ah.


Dalam shalat dan dzikir entah mengapa Anton terkadang terbesit nama Arum. Bahkan ketika dia memejamkan mata yang telintas di benaknya adalah bayangan wajah Arum yang tersenyum anggun dihadapannya. Sungguh dia tidak mengerti apakah hal ini?

__ADS_1


__ADS_2