Istirahat Sebentar

Istirahat Sebentar
Kisah Horor Tengah Malam (Part 2)


__ADS_3

Syuaeb pulang dengan berjalan kaki sendiri. Membawa cangkul dan tempat bekal makan siangnya tadi. Ketika dia ingin melewati jembatan penghubung desa yang biasa dia lewati untuk ke kebunnya. Dia mendengar suara seperti, suara orang menangis.


Suaranya sepertinya berasal dari kolong jembatan Dia penasaran, siapa maghrib begini masih ada di kolong jembatan. Memang sii di kolong jembatan ini sering dipakai buat memancing ikan. Tapi apa iyaa sampai maghrib gini masih mancing?


Dia berhenti sejenak melongok ke bawah jembatan yang disana dia dapati. Ada pocong. Kain kafannya penuh tanah merah. Wajahnya pucat, matanya seperti mau copot keluar, lidahnya menjulur panjang dan hidungnya mengeluarkan darah yang tidak berhenti mengalir. Pocong itu bersuara, “Aeb temenin gue ngobrol, Aeb,”


Syuaeb kenal suara itu. Itu suaranya Jali. Seketika juga dia pingsan. Lalu paginya, dia terbangun di areal pemakaman sedang memeluk kuburannya Jali. Para warga yang menemukannya, langsung mengantarkannya kerumah.


Syuaeb seperti orang linglung. Setelah kejadian itu, dia hanya berdiam diri dan bengong dirumahnya. Istrinya yang melihat suaminya mengalami peristiwa mistis itu. Mencoba membawanya ke orang pintar untuk diobati.


Satu hari sebelum kejadian Syuaeb. Seorang gadis cantik, baru lulus SMA juga mengalami kejadian yang serupa, tapi tak sama. Fani namanya, anak ketiga dari pasangan Pak Agus dan Ibu Rena.


Ketika itu waktu sudah memasuki waktu maghrib. Fani yang kelelahan karena habis mencari kerja seharian. Berniat tidur-tiduran dikamarnya. Ibunya menegurnya dengan lembut, “Maghrib, Fan. Bangun dulu, shalat, nanti gampang tidur.”


“Adduhh, nanti dulu Bu. Capek banget ini. Cuma rebah-rebahan bentar doank kok, lagi juga. Fani kan lagi haid,” ucap Fani.


“Tapi pamali. Maghrib kaya gini tiduran. Duduk-duduk aja dulu. Dimana kek, diruang makan atau nonton tv,” ucap ibu menambahkan.


Fani tidak membalas ucapan ibunya. Dia malah terlelap memejamkan mata. Ibunya tidak bisa memaksakan anak gadis satu-satunya itu. Dia memang dimanja oleh ayah dan abang-abangnya. Jadinya terkadang suka bertingkah semaunya.


Ibunya meninggalkannya sendirian di kamar. Dia hendak shalat maghrib berjamaah dengan suaminya, dan dua anak laki-lakinya. Fani benar-benar merabahkan tubuhnya senyaman mungkin di tempat tidurnya.


Kakinya pegal-pegal karena naik turun angkot, serta jalan dari kantor yang satu ke kantor yang lain. Sempat mampir ke rumah temannya untuk diskusi perihal lowongan-lowongan kerja. Lalu, tubuhnya sudah bosan miring ke kiri.

__ADS_1


Dia sekarang ingin memutar miring ke kanan sambil memeluk bantal guling. Akhirnya itu pun dia lakukan. Dia balik badan dan miring ke kanan, masih dengan mata yang terpejam dan mendekap bantal guling.


Dia berusaha masuk ke dalam tidurnya lebih dalam. Namun, merasa ada yang aneh. Ini bantal guling kok di dekapnya lebar banget, dan ada bau tanah merahnya. Fani membuka matanya untuk memastikan.


Alangkah terkejutnya dia, setelah membuka mata. Mendapati apa yang dipeluknya itu adalah pocong dengan ukuran tubuh yang besar. Wajahnya hitam gosong seperti arang terbakar, matanya melotot melihat Fani dan lidahnya terjulur hingga leher. Secara spontan, Fani berteriak histeris.


Hingga orangtua dan abang-abangnya, bahkan warga sekitar. Berdatangan untuk melihat apa yang terjadi dengan Fani. Setelah kejadian itu, Fani tidak berani tidur sendiri, bahkan setelah menikah dan punya anak. Dia tetap tidak berani tidur sendiri, apalagi jika dikamarnya terdapat bantal guling.


Selepas kejadian mistis yang menimpa Fani dan Syuaeb. Para warga kampung percaya, jika arwah Jali tidaklah tenang. Para warga kampung berencana mengadukan itu ke orangtua Jali. Namun apa daya, melihat kondisi Haji Dulloh yang kian jauh dari kata waras, dan Ibu Saani yang sakit-sakitan. Mereka gak tega untuk mengadukannya.


Mereka coba mengadukannya pada Ustadz dan orang-orang pintar. Akhirnya mereka sepakat mengadakan selamatan, hasil patungan warga kampung. Mereka mengirimkan do’a untuk Jali, agar arwahnya tenang di alam sana. Tidak meneror warga kampung lagi.


Setelah selamatan, warga desa merasa aman. Arwah Jali tidak meneror warga desa lagi. Namun, sebulan kemudian. Kisah arwah Jali, kembali meneror. Kali ini korbannya adalah seorang pegawai kantor yang baru pulang kerja dengan menaiki sepeda.


Bukan tanpa alasan Sakur memilih desa ini untuk tinggal. Karena di desa ini dekat dengan kota yang sedang berkembang. Sarana tranportasinya juga cukup mudah, karena sudah tersentuh perkembangan zaman. Mungkin tinggal menunggu tiga atau lima tahun lagi. Desa ini, akan menjadi lingkungan perkotaan yang modern.


Kita kembali ke Sakur. Ketika itu, dia pulang dari kantor mendekati waktu maghrib. Cuaca saat itu mendung sekali. Hingga sudah seperti jam tujuh malam. Sakur menggunakan sepeda ontel yang ada boncengannya. Hadiah dari bossnya yang orang Arab.


Sakur memacu sepedanya cukup cepat. Karena takut kehujanan di jalan. Sampai di sebuah jembatan. Mendadak sepedanya jadi berat. Dia hanya berpikir, palingan ini sepeda bannya kempes. Makanya tidak dia terlalu hiraukan itu.


Ketika ingin melewati areal pemakaman warga. Perasaan Sakur, tambah tidak enak. Akhirnya dia berhenti. Mencoba untuk memutar balik. Baru dia ingin turun dari sepeda. Tiba-tiba, dibelakangnya ada yang bersuara, “Kok berhenti, Bang? rumah gue udah deket,” ucap suara itu dengan parau.


Sakur menoleh, dan mendapati ada pocong besar yang duduk di boncengan sepedanya. Dia pun turun dengan panik. Tapi, dia tak lantas kabur. Sakur malah membentak keras, “Jak (pergi).”

__ADS_1


Tapi pocong itu gak mau beranjak. Dia terus menerus menatap Sakur dengan matanya yang melotot, lidahnya yang terjulur dan hidungnya yang terus-menerus mengeluarkan darah. Sakur juga tak lantas gentar. Orang Aceh makin ditantang malah makin jadi beraninya.


Dia mencari-cari di kiri dan kanan, barang atau apapun untuk melawan pocong ini. Akhirnya menemukan batang kayu besar. Sakur ambil itu batang kayu dan hendak menimpakannya ke kepala pocong.


Pocong itu menghilang, namun beberapa detik kemudian. Dia muncul lagi di pohon pete besar yang ada di belakang Sakur. Sakur lempar itu batang pohon yang ada di tangannya, disusul dengan batu-batu yang dia temukan dibawah kakinya. Sambil mengucap shalawat dia timpuki pocong itu. Gak lama kemudian, pocong itu hilang tanpa ada di sekitar Sakur lagi.


Sakur bersyukur kepada Allah dan bergumam, “Bek macam-macam ngen ureung Aceh, Belanda manteng yang pakek meriam kamoe use. Pulom cuma pocong kuto lage kah. (Jangan macam-macam sama orang Aceh, Belanda aja yang pakai meriam kami usir. Apalagi cuma pocong kotor kayak kamu)."


Seminggu kemudian setelah kejadian keberanian Sakur. Kini giliran Romlah, mantan kekasih yang meninggalkan Jali. Suaminya Romlah adalah seorang sopir bus antarkota antar propinsi. Romlah sering ditinggal-tingal. Biasanya dia suka ditemani oleh keponakan dan ibunya yang menginap.


Namun kali ini, ibunya ada urusan dengan ayahnya di rumah saudaranya yang di Ciseeng, Bogor. Karena Romlah sedang hamil dan tidak bisa ikut. Jadilah dimalam itu, dia hanya berdua saja tidur dengan keponakannya yang masih kelas satu SMP.


Malam itu, tepat tengah malam Romlah haus. Dia terbangun dari tidurnya, ingin ke dapur untuk minum barang seteguk atau dua teguk air. Saat melangkah ke dapur, dia sedikit terganggu oleh suara yang ada di pintu rumahnya.


Dug. Dug. Dug.


Suaranya seperti ada yang membenturkan sesuatu ke pintunya. Romlah penasaran, tapi dia juga takut. Akhirnya dia juga membangunkan Umayah, keponakannya. Mereka berdua berniat melihat ada apa dibalik pintu. Tapi Umayah awalnya tidak mau dengan alasan sudah diingatkan oleh orangtuanya.


Kalau tengah malam dengar suara-suara aneh, jangan keluar dari kamar atau dari rumah. Di dalam saja baca do’a atau berdzikir. Namun, Romlah susah dibilangin. Dia tetap saja menyeret Umayah untuk melihat ada apa di depan pintu.


Mereka mengintip melalui jendela. Mereka melihat ada sesuatu seperti karung besar sedang menubruk-nubruk pintu. Setelah mereka perhatikan dengan seksama. Itu bukan karung. Tapi sesosok pocong yang sedang menunduk rukuk, menanduk-nanduk pintu mereka.


Mereka berdua panik ketakutan, lalu berlarian ke kamar. Pintu kamar langsung mereka kunci. Berharap pocong itu segera pergi, tapi siapa sangka. Pocong itu justru seperti ada di depan kamar mereka, sambil menanduk-nanduk pintu. Dug, dug, dug.

__ADS_1


Mereka berdua langsung masuk ke lemari pakaian yang besar. Dzkir dan do’a keselamatan mereka lantunkan agar pocong itu segera pergi. Namun hati Romlah seolah luluh dan mau mengikutinya. Ketika pocong itu menanduk-nanduk pintu sambil berkata parau, “Romlah, bukain pintunya. Aku mau ajak kamu kerumah.”


__ADS_2