Istirahat Sebentar

Istirahat Sebentar
Sedikit Tentangnya


__ADS_3

Gue kira selama ini sudah kenal banget sama dia, tapi nyatanya. Cuma sedikit yang gue tau tentangnya. Gue memang bodoh, gak tau apa yang bener-bener lagi dipikirin sama dia, padahal dia sudah nunjukkin semuanya ke gue. Walaupun cuma sekilas dan sebagian kecil aja.


Sejak sifatnya yang berubah itu, gue jadi penasaran. Apa yang ngebuatnya kayak gitu. Gue ikutin kemanapun dia pergi sebisa gue, kecuali ke toilet wanita. Gue punya teori tentang cewek selama pengalaman gue punya banyak temen cewek.


Dari temen cewek yang kalem, yang munafik, yang okem sampe yang player. Teori jika cewek itu cenderung nyembunyiin rasa frustasi dan sedihnya dalem bentuk amarah dan rasa kesel. Lalu, rasa amarah yang Luna munculin ke gue.


Gue duga adalah hasil dari rasa sedihnya. Namun rasa sedih akibat apa? Itulah yang masih jadi pertanyaan dalem benak gue. Sampe di suatu hari yang mendung. Gue berhasil ikutin dia sampe di sebuah mall di bilangan Jakarta Barat, tepatnya di mall Ciputra.


Gue ikutin sampe di sebuah restoran cepat saji bernuansa Jepang yang sepi, karena kebetulan hari itu masih siang dan cuacanya kurang bersahabat. Banyak yang bilang kayak gitu. Padahal tergantung dari manusianya sendiri.


Entah mendung atau panas asal manusia itu mau menerima keadaan, dia pasti bisa bersahabat dengan alam. Gue duduk tepat di meja sampingnya dan saling membelakangi. Dia enggak sadar keberadaan gue.


Karena gue pake sweater abu-abu bertudung dan kacamata hitam yang hanya nempel seadanya di hidung. Memesan minuman dan mulai bersiap denger apa aja yang terjadi padanya dari belakang mata ini.


Gue denger suara isak tangis dari dia. Ada apa ini? Inilah untuk pertama kalinya gue denger dia nangis, rasanya sakit banget. Hati gue terasa seperti di iris. Gue pengen ngedeket dan nenangin dia.


Tapi nanti gue bakal ketauan jika dalem beberapa hari ini gue selalu ngikutin kemana saja dia pergi. Ada yang datang, kayaknya itu ibunya dan satu orang lagi gue kenal dia. Dia Nina, temen deketnya juga.


Mereka berdua duduk di samping kiri dan kanan Luna. Nina mengambil kursi yang ada posisi lain dan nempatinnya di samping kanan Luna. Jika mereka berdua sampai harus datang dan nenangin Luna.


Itu berarti Luna memang lagi dalam kesedihan yang amat sangat mendalam. Jaraknya lumayan jauh sii, mudah-mudahan aja jarak segini cukup buat dengar isi pembicaraan mereka. Kemudian mereka pun memulai kata-kata.


Kata-kata yang mengalun lembut seperti alunan piano yang merdu, dan menyayat hati bagai biola. Kata-kata yang membuka tabir serta senyum dan air mata gue.


“Aku sangat mencintainya, Ibu,” ucap Luna.


“Siapa?” tanya ibunya.


“Siapa lagi kalau bukan Kak Riziq,” jawab Luna dengan air mata yang mulai menetes.


Seketika itu juga gue langsung balikin badan, masih dalam penyamaran gue yang sederhana ini. Menatapnya langsung dengan mata ini dari belakang tubuhnya. Mendegar sayup-sayup suara isak tangisnya. Di keramaian mall ini.


“Lalu kenapa lu sedih?” tanya Nina.

__ADS_1


Dia mengusap airmatanya, dan mengatur irama nafasnya yang tersedak sebelum ngejawab pertanyaan Nina. Dia pun menceritakan kisahnya. Seingat gue, waktu itu, di hari Minggu. Baru minggu kemarin Luna ke rumah gue.


Saat dia tiba di rumah gue, gue lagi baca novel Sherlock Holmes. Dia hujan-hujanan dan kedinginan. Dan gue tahu apa yang hendak ingin dia omongin. Dia hendak menyatakan perasaannya ke gue. Gue paham banget akan hal itu.


Gue semakin terlelap dalam pembicaraan mereka. Menopangkan pipi pada tangan kanan. Terhanyut dalam setiap keindahan dan kecepatan kata yang dia ucapkan. Sungguh kata-kata yang indah, jika ternyata dia juga mencintai gue.


Padahal sebelumnya gue hanya menduga-duga. Luna melanjutkan ceritanya. Dia bercerita ketika dia hendak berkata-kata. Tapi ternyata, ada telpon yang masuk dan gue sangat terburu-buru begitu ada berita tentang seseorang.


“Seseorang yang ternyata adalah tunangannya. Huu. Huu,” isak tangisanya meledak.


Luna bersandar pada lengan ibunya, dan Nina dengan simpatinya membereskan tiap helai rambut yang mengganggu dan menutupi wajah cantiknya.


Gue hanya bisa menopangkan wajah di lengan, tersenyum menatapnya dari belakang dan perlahan airmata mulai mengalir di pipi gue.


“Dia jahat Ibu, dia jahat. Kenapa dia enggak cerita tentang tunangannya itu. Jika dia cerita, pastinya aku akan jaga perasaan ini. Agar gak terlalu jauh mencintainya,” ucap Luna dengan lirih.


Walaupun menangis, nada bicaranya masih aja seperti orang kesel. Dia memang berbeda dengan gadis yang lainnya. Gadis yang aku cintai ini sungguh amat berbeda. Dia sederhana, natural dan apa adanya.


“Enggak Buu, dia jahat. Dia memang jahat. Dia cuma sedikit tau tentang aku, dan gak mau berusaha untuk lebih mengenal aku,” balas Luna dengan air mata yang tertumpah.


Gue menatap kosong ketika ibunya berkata demikian. Karena emang bener ada hal yang gak bisa gue certain ke dia. Namun, gue tetep berterima kasih pada Tuhan. Kau memang benar-benar ada Tuhan.


Aku selalu berharap, jika ada yang mencintaiku walaupun sebentar, dan aku tidak menyangka jika itu adalah dia. Sungguh, aku sangat beruntung Tuhan. Bisa dicintai oleh gadis yang aku cintai.



“Yaahh, begitulah Clou. Kisah yang gue dapet ditengah usaha gue buat dapetin sesuatu tentang perubahan sifat yang dialaminya,” ucap gue sambil menyeruput es jeruk.



Beberapa hari kemudian gue dateng ke rumah Claudia. Bukan untuk mengecek kondisi kesehatan. Melainkan untuk ceritain sedikit tentangnya pada sahabat sekaligus Dokter yang ngerawat gue ini.


__ADS_1


Gue merasa beruntung banget punya temen cewek yang cantik, pinter dan bisa di andelin kayak dia. Ditambah lagi dia pandai menjaga rahasia. Claudia bertanya kepada gue, apa gue bener-bener suka dan cinta sama Luna.



Sudah pasti jawaban dari pertanyaan itu adalah, ‘iya’. Dari jawaban barusan merembet ke pertanyaan Claudia yang lain. Claudia bertanya, kenapa gue gak ceritain aja semuanya ke dia. Tapi gue jawab, kalau itu tidaklah mungkin.



“Kenapa gak mungkin? Dia juga suka kan sama lu?” tanya Claudia lagi.



“Karena gue takut nyakitin hatinya lebih dalem lagi, Clau,” ucap gue dengan nada yang mulai meninggi.



Gue berdiri di depan jendela. Menatap hujan dan waktu yang semakin lama mendekatkan gue pada akhir hidup ini. Gue lanjut bercerita kepada Claudia. Pada saat Luna datang ke rumah gue. Gue gak sengaja kepikiran kalo Claudia adalah tunangan gue.



Itu membuat dia langsung terdiam. Lain ceritanya, jika waktu itu kalau gue berkata. Claudia adalah dokter yang merawat gue. Di siang, dan malam. Jika dia tahu itu, maka dia akan bertanya.



Tentang penyakit gue. Karena aku gak akan bisa lama kasih dia kebahagiaan. Bagaimana bisa gue berterus terang sama dia tentang keadaan gue ini. Memberinya cinta lalu ningglain dia untuk selamanya dan membuatnya bersedih karena yang dia miliki hanya kehilangan.



Sungguh menyakitkan. Jika kita mencintai seseorang, tapi orang tersebut udah memilih cinta yang lain. Tapi, lebih menyakitkan lagi. Kalau kita mencintai seseorang dan tau jika orang tersebut juga mencintai kita, tapi kita gak bisa memilikinya.



“Tu—Tuhan. Jika usiaku tidak lama lagi. Maka, di mana pun dia berada dan dengan siapa pun dia nanti. Bahagiakanlah dia Tuhan. Karena aku sangat mencintainya.”

__ADS_1


__ADS_2