
Malam itu, langit gelap, tertutup awan mendung hampir di setiap penjurunya. Tidak ada setitik pun cahaya rembulan yang menggantung menerangi. Angin bertiup amat riuh kencang dengan dingin menusuk hingga ke tulang, diselingi sahut-sahutan petir yang menggelegar mengagetkan.
Beberapa menit kemudian turunlah air berkah dari langit. Terkadang hal ini tidaklah disukai oleh sebagian orang. Karena dianggap mengganggu aktivitas mereka. Namun tidak dengan kedua pasangan muda mudi ini.
Lihatlah senyum indah mereka di tengah hujan nan lebat ini. Mereka sedang menunggu kelahiran dari anak pertama mereka. Si pria yang tampan perkasa, dengan tabah menemani dalam proses kelahiran.
Sedangkan si wanita yang cantik jelita, walaupun terlihat dalam kondisi yang tidak baik. Namun tetap memasang wajah seolah semua akan baik-baik saja. Dia akan selamat dan bayinya sehat. Lalu mereka bertiga akan hidup damai, tentram dan sejehtera lahir bathin.
Proses kelahiran yang sangat sulit. Si wanita mengalami pendarahan yang sangat luar biasa hebat. Namun tim dokter berusaha sebisa mungkin untuk menyelesaikan dengan baik proses kelahiran ini.
Hingga tidak lama berselang lahirlah seorang bayi perempuan yang sangat cantik. Meskipun dengan tangisan yang terdengar sedikit berbeda dari bayi pada umumnya. Entah apa itu pastinya hanya ahlinya yang mengetahui.
Akhirnya, kini si pria sudah resmi menjadi seorang ayah. Dia terlihat amat sangat bahagia. Dengan tingkah yang agak terburu-buru, dia langsung melantunkan suara adzan di telinga putri mereka, meskipun dengan agak terbata-bata. Karena bercampur haru tangis bahagia.
Lalu, bayi itu langsung diberikan kepada suster untuk diurus. Karena si pria harus bergegas menemui si wanita yang terbaring lemah setelah melahirkan. Di lihatlah jika wanitanya sudah tidak bisa tertolong lagi.
Hingga beberapa menit kemudian, karena mengalami pendarahan yang parah, dia menghebuskan nafasnya menghadap Sang Pencipta. Dengan sisa-sisa tenaganya, dia berucap, “Tolong jaga anak kii… ta,” pinta si wanita dengan lemah sebelum menutup mata untuk selamanya.
Malam itu. Di tengah hujan itu. Tidak lama setelah dilahirkan. Gadis kecil tersebut resmi menjadi yatim.
Empat tahun berselang. Di rumah yang terletak jauh dari keramaian hingar bingar kota besar. Di sebuah rumah sederhana nan indah berwarna biru langit, terletak di atas bukit kecil yang hijau. Suasananya sangat ramai banyak orang, namun terkesan sepi tanpa ada jiwa kebahagiaan.
Dipenuhi oleh orang-orang berbaju hitam yang berlalu lalang. Sanak famili yang datang serta para sahabat dan beberapa orang yang dikenal ikut hadir guna melihat sosok baik itu untuk terakhir kalinya.
__ADS_1
Yaa… kini, si pria yang tampan perkasa itu telah meninggal dunia. Menyusul kematian si wanita empat tahun yang lalu. Penyakit yang dia derita selama dua tahun ini telah mengalahkannya. Tugas yang dititipkan oleh istrinya, belum tuntas semua ia sempurnakan.
Anaknya yang kini baru berusia empat tahun belum terlalu mengerti apa yang telah terjadi dengan ayahnya. Karena di depan anaknya, ia selalu ceria dan bahagia. Anaknya tidak mengerti jika di hari ini dia sudah resmi menjadi yatim piatu.
Dengan memakai kerudung merah warisan ibunya. Dia hanya duduk termenung di atas ayunan kayu yang dibuatkan oleh ayahnya. Sambil memeluk boneka beruang pink. Boneka yang diberikan oleh ibunya, yang sengaja dibeli sebelum dia lahir.
Mereka masuk dengan tangisan dan keluar rumah juga dengan tangisan. “*Orang-orang ini sedang apa*?” tanyanya dalam hati.
Lalu, dia kembali hanya terdiam tanpa suara lagi. Menatap redup dengan mata sendunya kepada setiap orang yang datang dan pulang. Saling bersalaman, saling berpelukan. Ada beberapa yang saling menguatkan. Memasukan uang ke dalam wadah besar yang atasnya ditutup oleh sehelai selendang.
Melihat orang-orang itu duduk takzim menatap ayahnya yang sedang tertidur di dipan panjang. Ada beberapa yang melantunkan ayat-ayat suci atau beberapa do’a serta shalawat. Sungguh, walaupun gadis kecil itu tidak begitu mengerti apa yang terjadi.
__ADS_1
Namun perlahan air mata menetes membasahi pipinya yang putih menggemaskan. Membentuk dua parit tipis yang jernih yang mengalir lembut. Tertahan sejenak di dagu, membulat. Lalu jatuh membuncah menghujam bumi, yang membuat langit cerah perlahan menjadi gelap tertutup oleh awan mendung seketika.
Dua tahun kemudian. Usia gadis kecil itu, kini sudah enam tahun. Dia tumbuh menjadi anak gadis yang sangat cantik. Kulitnya putih, rambutnya lurus panjang dan agak pirang, alisnya tebal. Matanya bundar, bibirnya tipis, pipinya kemerahan. Dan lihatlah jika dia tersenyum. Masya Allah, lesung pipinya sangatlah manis mempesona.
Namun dibalik semua keindahan itu dia berbeda dengan teman-teman seusianya. Di saat teman-teman seusianya saling bermain dan bercengkrama dengan sesama dan dengan orang tua mereka. Bermain, berlari, menari dan berteriak sesuka hati.
Dia hanya bisa menatap dari kejauhan. Dalam keheningan dan kesendirian. Duduk termenung di tengah ketidak mengertiannya terhadap hidup. Aini, nama gadis kecil itu. Justru dengan cerdas membenak dalam hati bertanya dimanakah orang tuanya? mengapa dia ditinggalkan seorang diri? apakah mereka pergi untuk kembali?
Tanpa ayah dan ibu ketika dia membuka mata di pagi hari. Ingin rasanya dia berteriak untuk memanggil dan mencari kedua orang tuanya, namun apa daya sekecil apapun suara. Tidak akan ada yang keluar dari tenggorokannya.
Karena sejak kecil dia sudah dinyatakan bisu oleh dokter. Semua teman seusianya menjauhinya, dan ketika ingin mendapatkan perhatian dari sosok orang tua. Dia juga tidak menemukannya. Sungguh malang nasib Aini kecil.
Hampir di setiap harinya dia hanya termenung duduk di atas ayunan kayu buatan ayahnya. Memeluk boneka beruang pink pemberian ibunya. Tak jarang air mata jatuh menetes di pipinya yang tembem dan kemerahan itu.
Ahh.. mungkin sudah banyak juga air matanya yang menetes menghujam bumi. Air mata yang membuat langit pun seolah bersedih dan menangis menyaksikannya. Menyaksikan Aini kecil menangis sambil berdo’a mencari wajah Tuhan agar dipertemukan dengan orangtuanya.
Dalam balutan hujan ini, di mana pintu-pintu langit terbuka. Aini kecil ingin bertanya langsung pada-Mu, tanpa perantara. Hanya dengan kepolosan dan kesendirian. Dia mendongakkan kepalanya ke arah langit. Menaruh sejenak bonekanya, dan menengadahkan kedua tangannya. Meminta-minta belas kasih-Mu, Wahai Tuhan.
Berharap ada guratan atau lukisan kedua orang tuanya di langit sana. Sebentar saja, dia hanya ingin sebentar saja melihat kedua orangtuanya tersenyum kepadanya. Iyaa, sungguh. Hanya sebentaar saja.
Sambil bertanya polos, “Kapan aku akan berkumpul bersama kalian? ingin aku terbang ke langit, Tuhan untuk menemui kalian disana, namun sayapku masih terlalu kecil.”
Begitulah yang Aini lakukan ketika dalam kesepian, begitu juga dalam hujan. Aini membenci hujan.
__ADS_1