Istirahat Sebentar

Istirahat Sebentar
Bulan Turun Ditendaku


__ADS_3

Awalnya aku membenci suamiku. Amat sangat membencinya. Itu disebabkan oleh pernikahan kami yang terkesan secara paksa. Ayahku adalah seorang raja kecil dari kawasan kerajaan besar suamiku.


Dia adalah anak satu-satunya dari Raja Anveer. Putra mahkota dari Bangsa Shidar, dan pewaris tunggal tahta Mandeera Diraja. Rajanya yang sepuh meminta anaknya harus menikah terlebih dahulu. Jika dia mau menduduki tahtanya.


Jadilah putra mahkota itu, memilih anak-anak gadis para bangsawan dan para raja bawahannya. Untuk dipersunting menjadi istri. Akulah yang terpilih, Shaiveera. Putri dari Kerajaan Angkapura. Anak sulung dari Raja Mahisya.


Alangkah kejamnya dunia kurasa saat itu. Karena aku dipaksa menikahi pria yang bahkan baru pertama kali aku temui ketika kami melantunkan janji-janji suci pernikahan. Disitu aku menangis sejadi-jadinya. Meratap perpisahan dengan kedua orangtua dan adik-adikku.


Aku dibawa oleh suamiku ke kerajaannya. Disini, yang awalnya aku kira bagaikan di neraka dunia. Justru malah kebalikannya. Para keluarga kerajaan menerimaku dengan amat baik. Begitu pula anggota dewan dan para penduduknya. Aku benar-benar bak ratu kayangan di negeri ini.


Baru tiga bulan menikah, ayah mertuaku wafat. Jadilah suamiku yang menaiki tahta. Sungguh aku merasakan cintaku mulai bersemi untuknya. Selama tiga bulan menikah, sebagai suami dan putra mahkota.


Dia tidak pernah menunjukkan sikap kasar dan semena-mena terhadapku. Walaupun orangnya itu keras dan amat sangat pemarah. Namun dia tidak pernah sekali pun memukul perempuan. Dia calon raja yang adil, bijaksana dan pemberani.


Terbukti pada saat naik tahta. Semua kemampuan yang ada padanya, dia gunakan untuk kemakmuran rakyatnya. Ketiga sifat baik yang ada pada dirinya seperti. Adil, bijaksana dan pemberani benar-benar dia pakai dengan sebaik-baiknya. Negeri kami hidup damai dan makmur hingga beberapa tahun ke depan.


Hingga pada suatu malam yang dingin aku bermimpi mencari-cari suamiku. Dimana dia? dan sedang apa dia? Tidak biasanya dia meninggalkanku seorang diri.


Dalam mimpi itu aku berada dalam sebuah tenda usang. Dingin dan lapar menyerangku. Ingin keluar dari tenda ini. Tapi diluar sana amat sangat gelap. Wahai Dewa, apakah suamiku lupa, jika aku sangat takut dengan gelap?


Trrikk, astaga. Apa itu? Ahh, lilin penerang tenda ini padam. Mengapa tiba-tiba mati. Padahal rasanya nyaris tidak ada angin yang masuk menerobos ke dalam tenda. Namun, entah mengapa lilin ini tiba-tiba padam.

__ADS_1


Dalam gelap aku mencari-cari pemantik api, lilin lain dan lampu minyak. Tapi, ke semuanya tidak aku temukan. Ohh, Dewa. Sangat gelap sekali disini. Apa aku keluar saja dari tenda ini. Atau aku buka sedikit tenda ini?


Akhirnya gue memutuskan untuk keluar. Karena sepertinya entah kenapa diluar sana lebih terang daripada di dalam kemah usang ini. Entah ini hanya perasaanku saja, atau memang benar diluar sana lebih terang.


Aku berjalan keluar dari kemah usang. Merasakan basahnya rumput hutan ini dengan bertelanjang kaki. Anehnya kenapa diluar sini aku tidak merasakan dingin. Rasanya malah hangat dan nyaman, beda sama di dalam kemah.


Lalu, yang membuat hati ini kian penasaran adalah di depan sana seperti ada cahaya yang tidak terlalu terang namun terkesan ramah dan nyaman. Aku yang terlampau penasaran. Menghampiri dan mendekat ke sumber cahaya itu.


Tidak terlalu jauh dari tempat gue berdiri. Hanya perlu melewati beberapa bukit kecil dan em[pat pohon besar. Pohon besar seperti beringin kembar dan yang ada di halaman kerajaan. Namun dua pohon lainnya sudah tumbang. Seperti bekas tertiup angin.


Mengingat-ingat kerajaan. Aku jadi teringat lagi dengan suamiku raja gagah nan pemberani dari Bangsa Shidar. Bangsa lahirnya ksatria-ksatria berkuda. Atau jangan-jangan cahaya itu buatan suamiku. Ahh, romantic sekali dia. Aku pun semakin semangat untuk menghampiri sumber cahaya itu.


Dengan berlari-lari kecil aku melewati bukit-bukit rendah dan dua pohon besar yang masih kokoh berdiri dan dua lagi tumbang. Sesampai di sumber cahaya. Aku terkejut dengan apa yang gue liat. Ohh Dewa.


Hingga aku tidak merasa gelap dan kesepian lagi. Namun, tunggu. Jika semua ini suamiku yang melakukannya. Dimanakah dirinya? Hati ini mulai terbakar rasa rindu ingin berjumpa dan memadu kasih dengannya. Dimanakah dia? mengapa belum muncul juga?


Bahkan jejaknya kakinya saja tidak ada. Di rerumputan ini cuma ada jejak kakiku saja. Tidak ada jejak kaki lain yang menandakan kehadiran orang, selain diriku. Aku merinding. Aku langsung menelungkupkan tanganku ke dada. Melihat ke kiri dan ke kanan. Ke depan dan ke belakang. Ke atas dan ke bawah. Tidak ada yang aneh.


Semuanya biasa saja. Hanya kehadiran seribu lilin ini yang aneh, dan cuaca hangat ini juga aneh. Daripada diserang pikiran yang bukan-bukan, mending gue balik ke kemah usang itu. Setidaknya aku bisa berlindung disana daripada di alam terbuka seperti ini.


Aku pun segera berlari-lari kecil menuju kembali ke kemah usang. Tapi tunggu dulu sekali lagi hal aneh pun terjadi. Kali ini lebih tidak masuk akal. Saat aku berlari-berlari kecil menuju kemah usang itu.

__ADS_1


Aku baru menyadarinya. Ternyata sepanjang jalan aku kembali ke kemah. Telah ada dan menyala lilin-lilin yang bentuk, panjangnya sama seperti seribu lilin yang ada di tepi kolam tadi. Jumlahkanya juga ratusan atau bahkan ribuan.


Sepanjang jalan dari tepian kolam hingga kemah usang itu. berjajar seribu lilin. Hingga aku tidak bisa leluasa untuk berjalan apalagi berlari. Karena takut kena lili-lilin ini dan kena tumpah air lelehannya yang panas. Lalu, dimanakah suamiku?


Makin mengerikan kondisi disini. Akhirnya aku panggil-panggil dia. Hal aneh pun terjadi lagi. Aku seperti kehilangan suara. Aku teriak memanggilnya tapi tidak ada suara yang keluar bahkan terdengar. Aku berusaha sekuat tenaga untuk berteriak. Namun yang ada hanya gerak bibir aja. Tidak ada teriakan bahkan ucapan sekecil apapun yang terdengar.


Aku hanya mendegar suara hatiku. Aku mulai diserang perasaan takut berkali-kali lipat, dan hal aneh pun terjadi untuk ke sekian kalinya. Kali ini aku baru menyadari.


Jika ada beberapa lilin yang sedari tadi aku tabrak-tabrak sampai terjatuh dan airnya mengenai kakiku. Anehnya, aku yang tidak memakai alas kaki, tidak berasa panas kena tumpahan air lelelah lilin itu.


Bahkan lilin masih tetap menyala waktu sudah jatuh dari posisi sebelumnya. Sumpah ini semua aneh banget. Makin merinding diriku, rasanya ingin buru-buru masuk ke dalam tenda. Menunggu suamiku, siapa tahu sebentar lagi dia akan tiba.


Akhirnya, aku sampai di kemah usang. Kondisinya masih seperti tadi. Dingin, gelap dan usang. Padahal diluar sana terang benderang seribu lilin tapi jangkauan cahanya seperti tidak dapat menembusnya.


Di tengah kedinginan dan kegelapan di dalam tenda ini. Tiba-tiba sesuatu yang paling aneh malam ini terjadi. Atap kemah usang ini tiba-tiba terbuka lebar tanpa aku tahu penyebabnya. Srruaakk. Bunyinya sampai membuat aku terkejut


Membuatku secara otomatis langsung menatap ke atas. Di atas sana langit malam berhias bebintang dan Bulan Purnama bersinar lembut tanpa menyilaukan mata, dan hal paling mustahil pun terjadi lagi.


Purnama itu seolah menggantung dan diturunkan perlahan ke arahku. Secara perlahan-perlahan dan perlahan. Cahayanya menenangkan tanpa menyilaukan dan keidahannya. Ohh, Dewa. Tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata, tanpa aku merasa takut tertimpa karena berada di bawahnya. Kemudian.


Aku terbangun, ternyata itu mimpiku satu minggu yang lalu. Saat aku ceritakan mimpi itu ke suamiku. Dia menamparku dengan keras dan berkata, “Kurang ajar. Celakalah kamu, mimpimu itu tidak mempunyai arti lain. Melainkan kamu akan mendapatkan raja dari jazirah Saba’ itu.”

__ADS_1


Aku menjadi sakit hati kepada suamiku. Ke esokan harinya, kerajaan kami dikepung oleh Raja A’la, raja dari jazirah Saba’. Seorang raja cacat yang berhasil membangkitkan bangsa Hadid dan menyatukan dua kerajaan besar yang ada disekitarnya.


Dalam jangka waktu satu minggu. Mereka berhasil menaklukkan kerajaan kami. Hingga disinilah aku saat ini. Di pesta pernikahan dengan raja Bangsa Hadid itu. Sedangkan suamiku, berhasil ditangkap dan dipenggal kepalanya. Ahh, lebih tepatnya. Mantan suamiku.


__ADS_2