Istirahat Sebentar

Istirahat Sebentar
Cinta ? (Part 1)


__ADS_3

Safa dan Marwa. Mereka berdua dengan pakaian anak-anaknya yang lucu, dipenuhi dengan warna-warni gambar bunga. Sedang berada di ruang makan dengan kakeknya. Kakek Ismail, namanya. Safa dan Marwa, masing-masing memegang segelas susu segar. Langsung ambil dari peternakan kambing milik kakeknya.


Mereka sangat suka susu kambing dari peternakan kakeknya. Rasanya masih segar dan enak. Pantas mereka berdua menjadi anak-anak yang sehat dan montok. Lihatlah pipi-pipi bulat mereka yang menggemaskan. Rasanya seperti ingin mencium dan mencubitnya.


Mereka asik sekali meminum susu itu. Tampang serius mereka amat menggemaskan. Kakek Ismail mengamati mereka dari kejauhan. Sambil tersenyum, menyimpan susu yang lainnya dalam wadah penyimpanan khusus.


Sayang sekali, sebelum susu-susu itu habis mereka minum. Si oren, kucing mereka datang menerjang dengan tiba-tiba. Entah darimana asalnya, yang pasti alasannya adalah. Dia mengincar seekor tikus yang ada di belakang lemari pakaian.


Kedua gadis kecil itu kaget. Hingga gelas susu dalam genggaman tangan mereka tumpah ke lantai. Mata mereka berkaca-kaca. Saling memeluk dan berjalan pelan bersama-sama. Mendekati kaki kakeknya, untuk mencari kenyamanan akibat rasa terkejut tadi.


Kakeknya jongkok menyambut tubuh kedua gadis mungil itu. Tersenyum, menghapus butiran air mata yang mulai mengalir di pipi mereka. Menatap mereka dengan penuh kasih sayang, kemudian memegang bahu mereka dengan lembut.


“Gak apa-apa, nanti Kakek berikan yang baru untuk kalian berdua,” ucapnya.


Namun mereka berdua masih tetap terisak. Kakeknya menghela napas dalam-dalam, perlahan duduk selonjor di lantai ruang makan. Dia membersihkan sisa-sisa air susu di bibir mungil kedua malaikat kecilnya.


Lalu mendudukan  mereka berdua di pangkuannya. Mendendangkan sebuah cerita yang amat sangat indah. Cerita kesukaan mereka. Cerita tentang masa kecil Sang Rasul, junjungan dan panutan mereka.


Di petenakan yang cukup besar ini. Safa dan Marwa hanya tinggal bertiga dengan kakeknya. Tidak ada siapa-siapa lagi disini. Dulu pernah ramai sekali dengan banyak orang dan sanak saudara.


Tetapi satu per satu, penghuninya pergi dengan kenangan yang pahit, dan tidak pantas untuk diceritakan lagi. Apalagi diceritakan kepada Safa dan Marwa yang sedang tumbuh, dengan segala rasa ingin tahu dan kepolosannya.


Rumah besar dan peternakan kambing yang dulu dipenuhi dengan riang tawa ini. Sekarang sudah menjadi suram, seolah-olah penuh kutukan. Tetapi Safa dan Marwa tidak terlalu mempedulikan itu.


Sebab mereka punya Kakek Ismail yang selalu pandai bercerita kepada mereka. Kakeknya selalu bercerita tentang kisah-kisah perjuangan dan kisah-kisah indah para nabi dan rasul. Karena ia yakin.


Kedua cucunya itu adalah anak-anak yang kuat penuh dengan perjuangan, yang suatu saat nanti berhak atas manisnya kehidupan. Kedua gadis itu sangat tertarik jika kakeknya bercerita. Wajah mereka fokus dengan sesekali mengedip-ngedipkan kedua bola mata bulatnya.


Ditengah cerita, Safa bertanya kepada kakeknya. Apa yang bisa membuat Nabi Muhammad S.A.W kuat menjalani cobaan dan hinaan dari kaumnya? Safa ingin mengetahuinya, karena ia juga ingin kuat seperti beliau.


“Kalian mau tahu apa itu?" tanya kakeknya.

__ADS_1


Mereka berdua mengangguk bersamaan. Sungguh menggemaskan.


“Itu adalah cinta,” ucap kakeknya.


Kakek Ismail mengucapnya perlahan dan penuh perasaan terhadap kata itu. Seperti mempunyai harapan yang tinggi akan kata-kata itu. Kakek mengibaratkan cinta adalah seperti sayap-sayap burung yang akan membawa kita terbang kemana saja.


Membuat kita bisa memandang seluruh isi dunia dengan suka cita. Kakek juga mengibaratkan cinta sebagi senjata yang amat sangat hebat, yang bisa membuat orang lemah menjadi kuat, dan yang kuat menjadi tak berdaya.


Marwa si bungsu hanya memahami cinta secara sederhana, dia pun seperti diam paham. Sedangkan Safa, justru berpikir jika cinta itu adalah hal lain. Membayangkan jika mempunyai sayap-sayap dan senjata itu. Itu pasti menyenangkan.


“Kakek, kalau begitu. Safa ingin cinta,” ucapnya.


Kemudian, dihari-hari berikutnya. Safa selalu menanyakan perihal cinta. Sampai-sampai kakeknya bigung harus menjawab apa. Safa dan Marwa suka sekali musik. Mereka berdua senang bernyanyi.


Marwa memiliki suara yang amat merdu. Sedangkan Safa, selain memiliki suara yang merdu ia juga pandai menari. Melihat Safa menari, Marwa ingin sekali mengikutinya. ”Kakek dapatkah aku menari seperti Safa?” tanyanya.


Kakeknya tersentuh mendengar pertayaan dari cucunya itu. Dia lalu beranjak dari tempat duduknya. Dia menggendong cucunya di depan sambil berputar-putar menari seperti Safa.


“Kakek, apakah ini yang dinamakan cinta?” tanya Marwa.


Kakeknya mengangguk sambil menjawab dengan lirih, “Iyaa, Nak.”


Safa pun terdiam sejenak mendengar penuturan Marwa dan kakek. Ternyata sesederhanakah itu cinta? cinta memang sederhana, hanya manusianya saja yang rumit. “Suatu saat nanti, kalian akan mengerti, dan jika kalian beruntung. Kalian akan menemukan cinta sejati,” ucap kakek.


“Seperti apakah cinta sejati itu kakek? dan dari mana datangnya?” tanya Safa.


“Cinta sejati itu akan datang, jika kalian saling bertatap dan bertemu untuk pertama kalinya. Saat itu waktu seolah berhenti. Seluruh semesta seperti takjub menyampaikan salam, dan yang paling bisa kalian rasakan adalah. Saat itu jantung kalian akan berdegup dengan kencang.”


“Hanya jantung yang berdegup kencang? apakah cinta tidak memerlukan mata untuk memandang?” tanya Safa.


“Tentu tidak, Sayang,” ucap kakek.

__ADS_1


Kakek Ismail mencium penuh kasih ubun-ubun kedua cucunya itu. Safa dan Marwa sudah terbiasa dengan perilaku kakek yang seperti itu. Biasanya, jika ada jawaban yang ditambahkan dengan ciuman di ubun-ubun kepala. Pasti disertai dengan tangisan dari kakeknya.




Delapan belas tahun kemudian. Di sebuah aula pertunjukkan. Seorang gadis berambut panjang hitam bergelombang bernyanyi dan menari dengan merdu serta anggun di atas panggung besar nan megah.



Gaun putih yang ketat dan mewah membungkus ketat tubuh indahnya. Kakinya bergerak dengan irama teratur. Posisi badannya sempurna. Lagu yang dibawakan sesuai dengan warna vokalnya. Ketika lagu dan musik selesai.



Para hadirin tak kuasa untuk berdiri dan memberikan tepuk tangan meriah. Dengan anggun gadis itu membungkuk dan membalasnya. Lalu dijemput dan dibimbing dengan sopan dan perlahan oleh panitia acara untuk kembali ke tempat duduknya.



Pertunjukkan yang berikutnya adalah pertunjukkan sulap. Gadis itu menunggu dan menikmati pertunjukkan dengan penuh kesenangan. Tidak ada lagi susu tumpah sekarang, tidak ada lagi juga ruang keluarga sempit untuk menyanyi dan menari.



Safa sudah berubah menjadi gadis yang mempesona. Usianya sudah terbilang dua puluh satu tahun. Dia sudah dewasa dan menjadi gadis yang amat sangat cantik. Ia sudah menjadi penyanyi dan penari terkenal.



Dari satu kota ke kota lain. Dari satu pesta ke pesat lain. Dari satu undangan ke undagan lain. Safa sudah menjadi gadis yang berpendidikan dan terhormat. Begitu juga dengan Marwa, dia sudah menjadi pengacara yang hebat.



Harapan dan keinginan kakeknya terhadap keduanya, sejauh ini sudah terwujud. Safa dan Marwa sudah mengecap manisnya hidup, yang tak pernah dirasakan oleh kedua orangtuanya. Tidak pernah dirasakan oleh anggota keluarga lainnya, bahkan oleh kakeknya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2