Istirahat Sebentar

Istirahat Sebentar
Horor Rumah Pinggir Hutan (Part 1)


__ADS_3

Wulan nama gadis itu. Usianya baru sekitar tujuh belas tahun. Dia sebatang kara saat ini. Ibunya belum lama meninggal. Sedangkan ayahnya telah menikah lagi dengan wanita lain, dan membiarkannya hidup seorang diri di rumahnya.


Wulan bertahan hidup dengan bekerja sebagai buruh di perkebunan teh. Oleh seorang Ibu Hajah yang iba melihat nasibnya. Ibu Hajah Ayu namanya. Dari bekerja di perkebunan teh miliknya. Upah dari hasil kerjanya. Amat sangat lumayan cukup untuk bisa memenuhi kebutuhan hidupnya.


Tapi yang menjadi masalah adalah rumahnya yang sudah tua dan reyot itu. Peninggalan dari eyangnya. Rumah itu bisa dibilang sudah tak layak pakai. Maka dari itu, Wulan bekerja keras dan giat menabung untuk bisa memperbaiki rumah tersebut.


Rumah yang terletak di pinggir jalan raya itu, sudah amat kuno dibanding rumah-rumah lain yang ada di sekitarnya. Semilir angin bisa masuk melalui celah-celah dinding rumah yang sudah pada retak dan bolong.


Hingga membuat hawa yang sangat dingin bagi Wulan. Kebocoran atapnya juga sudah cukup parah, makanya tidak heran. Jika terjadi hujan deras. Hampir seisi rumah tersebut akan kebasahan semua. Termasuk kamar yang Wulan tempati.


Lalu, tiba-tiba. Di suatu malam yang amat dingin. Di tanggal 10 Januari 2023. Bibinya yang bernama Suketi, adik dari almarhum ibunya, datang menemuinya. Wulan terkejut, karena bibinya ini sudah lama tak berkunjung, dan kabar terakhir yang dia dengar juga. Liliknya ini sedang merantau ke kota.


Wulan biasa memanggil bibinya ini dengan panggilan Lik Eti. Dalam Bahasa Jawa, lik adalah panggilan untuk lilik. Yaitu adik dari ayah atau ibu. Tak peduli laki-laki atau perempuan. Lik Eti sangat iba dan prihatin.


Melihat kondisi Wulan yang tingal di rumah reyot seperti ini. Meskipun rumah ini besar, namun nampaknya sudah tak layak pakai lagi, perlu renovasi besar-besaran. Lik Eti menawarkan Wulan untuk ikut dengannya. Pindah ke rumahnya yang ada di pinggir hutan.


“Kamu pindah saja. Ke tempat Lilik. Walaupun rumahnya gak sebesar ini. Tapi kan lebih layak untuk ditempati,” ucap Lik Eti.


“Rumah Lilik kan lumayan jauh, nanti pekerjaanku di kebun teh gimana?” ujar Wulan.

__ADS_1


“Yaa kan Lilik sudah punya motor nanti kamu bisa pulang pergi kerja naik motor Lilik. Kamu bisa naik motor, kan?” balas Lik Eti.


Wulan mengangguk pelan. Sambil mengunyah rengginang boleh pengasih dari Ibu Hajah Ayu tadi pagi.


“Yoo wess. Untuk malam ini kamu puas-puasin dulu tidur di sini. Beres-beres baju dan segala macamnya. Besok sepulang kerja langsung ke rumah Lilik gak perlu ke sini lagi. Mohon maaf, besok Lilik gak bisa jemput, karena ada urusan. Jadi kamu naik angkot dan jalan kaki saja dulu,” jelas Lik Eti.


Ke esokan paginya. Wulan menjalankan aktivitasnya seperti biasa. Dia bekerja di kebun teh milik Hajah Ayu. Selesai bekerja, dia sempat ke rumahnya dulu untuk mengambil barang-barang yang dia perlukan nanti saat pindah ke rumah Lik Eti.


Dia berangkat dengan menggunakan angkot, lalu nanti dilanjut jalan kaki kira-kira seratus meter dari jalan raya menuju rumah Liknya itu. Di dalam mobil angkot. Wulan mulai membayangkan rumah Lik Eti yang berada tepat persis di pinggir hutan larangan itu.


Rumah tersebut terletak di paling ujung dari Desa Sukalewat. Lokasinya benar-benar ada di pinggir hutan. Atau lebih tepatnya perbatasan antara wilayah pedesaan dengan lingkungan hutan larangan.


Lalu untuk rumah Lik Eti yang dia tempati sekarang ini. Rumah ini dulunya adalah rumah untuk istri kedua eyang kakung mereka. Rumahnya sii nyaman banget. Bersih dan indah karena Lik Eti orangnya memang resik, gak suka dengan yang berantakan.


Udaranya sejuk dan segar. Kualitas jalanannya sudah bagus, meskipun belum di aspal. Jarak dari rumah Lik Eti ke tempatnya bekerja sekitar tiga puluh lima kilometer. Dengan waktu tempuh biasanya sekitar empat puluh lima menit.


Rumah ini berada sendirian di pinggiran hutan. Tidak ada bangunan atau rumah lainnya. Tetangga terdekat berjarak sekitar empat ratus meter. Cukup jauh memang. Di tambah lagi rumahnya jarang-jarang. Tidak seperti di desa Wulan, yang tiap-tiap bangunan rumahnya sudah berjejer cukup rapat.


Salah satu alasan Wulan menerima ajakan Lik Eti adalah karena rumah dia yang didesanya sudah amat sangat reyot. Dia belum punya cukup uang untuk renovasi. Di tambah lagi saat ini sedang musim hujan. Wulan takut tiba-tiba ketika dia sedang tertidur, rumah itu roboh menimpanya.

__ADS_1


Rumah Lik Eti yang berada di pinggir hutan ini juga sebenarnya biasa saja. Jauh dari kata mewah. Rumah ini cukup kecil, berlantai satu dengan ukuran delapan kali sembilan meter. Seingat Wulan, dulu tembok luar dan dalamnya berwarna putih polos.


Dengan lantai keramik. Memiliki dua kamar tidur, satu ruangan serba guna untuk ngumpul dan makan, dan satu kamar mandi. Walaupun terkesan seadanya. Bagi Wulan saat ini, tempat itu adalah tempat ternyaman untuknya.


Tidak jauh dari rumah itu juga, beberapa ratus meter di samping kanan rumah. Terbentang sungai yang cukup besar. Sungai khas pedesaan yang banyak sekali terdapat batu-batu besar, yang bahkan ada yang sampai sebesar rumah. Sungai itu, dari dulu sampai sekarang selalu digunakan untuk mandi dan mencuci pakaian oleh para penduduk sekitar.


Setelah sekitar empat puluh lima menitan dalam lamunan menikmati perjalanan di dalam angkot. Sampailah Wulan di dekat area rumah itu. Kini, dia tinggal melanjutkan perjalanannya hanya dengan berjalan kaki.


Melewati jalan-jalan setapak yang sedikit bebatuan alami. Hari sudah hampir gelap dan mendung. Wulan harus segera cepat sampai di rumah, kalau tidak ingin kehujanan. Tapi, dia teringat pesan dari Lik Eti.


Jika dia jarang sekali masak. Oleh karena itu, Wulan mampir dulu ke pemukian desa. Untuk membeli makan di warung desa setempat. Cukup sulit Wulan mencari warung di desa ini, sekalinya ada.


Hanya menjual singkong, ubi dan jagung rebus saja. Bagi Wulan itu tidak masalah, yang penting malam ini perutnya terisi, dan bisa tidur nyenyak untuk mempersiapkan tenaga dalam menghadapi hari esok.


Akhirnya menjelang adzan maghrib. Wulan baru akan sampai di depan rumah Lik Eti. Dinginnya sore menjelang malam di dekat rumah ini. Entah mengapa sampai menusuk tulangnya. Lalu Wulan juga bingung, entah sejak kapan bulu kudukkunya meremang.


Sampai di depan pintu rumah, Wulan cukup kaget. Karena mendengar suara wanita yang ketawa cekikikan saling bersahut-sahutan satu sama lain. Wulan berpikir positif.


“Umm…palingan di rumah Lik Eti, saat ini sedang ada banyak tamu,” gumam Wulan. Sambil berjalan lebih mendekati pintu.

__ADS_1


__ADS_2