Istirahat Sebentar

Istirahat Sebentar
Horor Kakak Caca Cantik (Part 1)


__ADS_3

Sungguh sial diriku akhir-akhir ini. Setelah dipecat dari pekerjaan. Kini musibah lain menimpa diriku. Istriku tercinta telah wafat terlebih dahulu menghadap yang Maha Kuasa. Dia tertabrak kereta api, ketika hendak pulang ke rumah selepas berbelanja di pasar.


Meninggalkan aku dan anak perempuanku yang masih berusia dua tahun empat bulan. Karena belum mempunyai penghasilan yang tetap. Aku memutuskan untuk kembali tinggal di rumah orang tuaku di daerah Depok.


Meninggalkan rumah kontrakan kami yang nyaman dan dekat masjid raya ini. Aku pun memutuskan, begitu sampai di rumah ibuku. Aku akan mejual motorku. Hartaku satu-satunya yang tersisa.


Rumah ibuku amatlah luas. Pekarangan depan dan belakangnya juga. Di pekarangan belakang, dibuat peternakan ayam oleh almarhum ayahku yang seorang pensiunan pegawai negeri sipil. Dari situ saja sudah cukup untuk menghidupi ibuku dan keluarga adikku.


Yaa, sebenarnya alasan aku malas untuk tinggal di rumah ibuku, adalah karena. Di sana ada keluarga adikku. Aku paling malas dan benci bertemu dengan iparku. Ada banyak alasan mengapa aku membencinya.


Pertama, dia adalah seorang pengangguran. Pekerjaannya tidak tetap, bahkan ada banyak yang bilang. Kalau dia adalah seorang dukun. Kedua, tidak pernah shalat dan puasa. Ketiga, entah mengapa adik dan ibuku sangat menyayanginya.


Bukan iri. Tapi bingung saja, orang kaya benalu seperti itu. Diperlakukan layaknya seorang raja. Orang itu tidak ada tahu dirinya. Biaya lahiran dan aqiqah saja dari ibuku. Sudah seperti itu bukannya mencari kerja, tapi malah foya-foya.


Main kesana kesini dengan teman-temannya. Jalan-jalan sampai sering ninggalin anak istri hingga berhari-hari. Ke semua itu, biayanya dari ibuku. Entah kenapa ibu dan adikku sayang sekali sama orang yang bahkan lebih rendah dari anjing jalanan itu.


Akhirnya, aku sampai di rumah ibuku. Ibuku menyambutku dengan suka cita. Dia memeluk erat dan menciumi Amira, anak perempuan manisku. Adikku menyapa dan mencium tanganku, aku pun mencium anak perempuannya.


Adikku yang bernama Anggie juga sudah mempunyai anak bernama Caca, usianya sekitar lima tahun. Sebenarnya ini adalah anak keduanya. Anak pertamanya meninggal saat baru berusia satu hari setelah dilahirkan.


Caca senang sekali bermain dengan Amira. Pada saat pertama kali kami, sampai. Baru di halaman depan, Caca sudah berteriak-teriak memanggil Amira kegirangan. Kini Amira diajak bermain di ruang tamu oleh Caca.


“Di mana Mando?” tanyaku pada Anggie.


“Mas Mando lagi ada urusan di luar, Bang,” jawabnya.

__ADS_1


“Kerja?” tanyaku lagi.


Anggie hanya menggeleng lemah. Sudah pasti orang tu hanya keluyuran, mana mungkin dia bekerja. Bodohnya aku yang masih bertanya soal itu. Aku dibantu ibu dan adikku membereskan kamar yang akan kami pakai nanti.


Ini adalah kamarku dulu sewaktu sebelum menikah. Aku membereskan pakaian dan berkas-berkas penting lainnya ke dalam lemari. Lalu kemudian beristirahat dengan anakku. Sempat sedikit berbincang-bincang dengan ibu.


Ibu memintaku untuk mengurus peternakan ayam yang ada di pekarangan belakang. Gak perlu bekerja di kantor lagi. Aku mempertimbangkan tawaran dari ibu secara matang. Karena sangat sayang ijazah S1 Ekonomi ku.


 Ibu juga bercerita, jika akhir-akhir ini ada hal yang tidak beres, yang terjadi pada beberapa ayam. Ayam-ayam itu ada yang mati dengan luka menganga di leher. Seperti habis di gigit oleh sesuatu.


Karena lelah dan mengantuk. Aku tidak terlalu menghiraukan apa yang dibicarakan ibu. Aku segera ke kamar. Lebih memilih untuk beristirahat di kamar bersama dengan anakku Amira. Sampai tidak terasa, sudah sore hari.


Waktu maghrib pun mulai menyapa. Setelah melaksanakan ibadah shalat maghrib berjamaah di masjid dekat rumah. Aku pulang kembali ke rumah dengan perasaan yang tidak enak. Kampung ini sepertinya semakin suram saja. Berbeda dari yang sebelumnya.


Orang-orang yang ibadah di masjid semakin sedikit. Penerangan juga semakin memburuk. Anak-anak muda lebih banyak berkumpul dan ngerokok di pinggir-pinggir jalan dibanding berada di masjid untuk ibadah atau mencari ilmu.


Memang pada dasarnya sudah males mahh susah, gak ada obatnya. Di sampingnya ada Anggie dan ibu yang sedang menggendong Amira. Aku perhatikan wajah mereka seperti orang yang panik ketakutan, ada apa ini?


“Ada apa ini, Buu?” tanyaku sambil mengambil Amira dari ibu.


Kasihan ibu kalau terus-terusan menggendong Amira. Bisa encok nanti, karena berat badan Amira sudah sekitar tiga belas kilo. Lumayan montok untuk ukuran anak berusia dua tahun empat bulan.


Aku juga melihat Mando seperti sudah bersiap-siap, hendak kemana dia? membawa senter dan pakaian hangat.


“Ada apa ini, Buu?” tanyaku lagi.

__ADS_1


Ibu dan adikku saling tatap dengan wajah sedih. Sedangkan, Mando. Ahh.. jangankan menatap dan berbicara dengannya. Mencium bau badannya yang kayak bandot saja aku sudah eneg dan muak.


“Caca hilang, Bang,” ucap Anggie kemudian, dengan lirih.


Aku terperanjat kaget. “Kok, bagaimana bisa!?” tanyaku dengan nada meninggi.


Anggie bercerita jika dia juga tidak tahu pasti kapan Caca hilang. Karena pada saat dia dan ibu sedang menyiapkan masakan untuk makan malam di dapur. Tiba-tiba ruang tamu terasa hening dan sepi.


Tidak seperti biasanya, karena Caca selalu bermain dengan heboh dan berisik disitu. Dia suka berteriak-teriak menyanyi dan menari-nari lagu koplo. Ada tetangga yang melihat jika Caca diajak oleh ayah kami.


Loo, bagaimana mungkin? Apa itu tetangga lupa, jika ayah kami sudah meninggal beberapa bulan lalu?


Akhirnya Mando laporang ke Ketua RT, dan menyiapkan beberapa orang muda untuk membantu mencari Caca selepas maghrib ini. Aku pun ikut mencarinya, karena aku tidak mau keponakanku yang cantik itu kenapa-kenapa.


Setelah mengganti pakaian shalat. Aku pun menyiapkan senter dan baju hangat untuk aku pakai dalam mencari Caca. Diluar sudah ada beberapa orang dan Ketua RT yang berkumpul. Aku pun bergegas membaur bersama mereka.


Ada yang melihat Caca berjalan ke arah barat, tepatnya ke jembatan penghubung antar desa yang di bawahnya mengalir sungat yang masih amat sangat deras. Konon sungai ini juga katanya masih banyak buayanya.


Oleh karena itu kami harus bergegas, kami harus bergerak cepat untuk bisa menemukan Caca. Ada sekitar sepuluh orang yang ikut serta mencari Caca, termasuk aku dan Ketua RT kami sendiri.


Orang-orang yang ikut mencari Caca. Semuanya orang warga baru. Tidak ada satu pun dari mereka yang aku kenal dan menjadi teman masa kecilku. Hanya si Ketua RT ini sajalah yang aku kenal. Dia Bang Ipin, seniorku waktu belajar silat dulu di Padepokan Kyai Sapin.


Kami membagi dua kelompok masing-masing terdiri dari lima orang. Aku ikut kelompok Bang Ipin. Sementara yang lain ikut kelompok si Mando kodok bangkong. Kami pun berpencar dan mulai mencari Caca.


Belum lama kelompokku berjalan. Tiba-tiba ada seekor anjing hitam besar yang mengikuti kelompokku. Anjing hitam besar itu berlari-lari kecil mengikuti kami. Aku pun panik, tapi mengapa yang lainnya tidak?

__ADS_1


Apakah hanya aku saja yang bisa melihat anjing hitam besar itu?


__ADS_2