
Ada empat orang sahabat, yang pertama. Dia adalah seorang pria, yang kedua dia adalah seorang laki-laki. Orang yang ketiga adalah seorang cowok dan yang ke empat, keturunan Adam berjenis yang kelamin pria juga. Jadi kesemuanya adalah pria. Rumah mereka juga tidak jauh jaraknya, masih di dalam satu kecamatan. Di daerah Jakarta Barat.
Mereka sahabat kental semenjak SMA. Kemana-mana selalu bersama. Susah dan senang bersama. Berangkat kuliah bersama, walau beda fakultas dan beda jam kuliah, hanya kampusnya yang sama. Mereka selalu makan bersama, nonton bola bersama dan jalan-jalan bersama. Memliki kegemaran olahraga yang sama, yaitu sepakbola dan menolak santet.
Mereka semua memang selalu bersama-sama. Tapi mereka tetap normal, mereka bukan homo. Mereka hanya seorang jomblo. Mereka tidak ingin pacaran. Karena cuma buang-buang waktu. Pikir mereka, pacaran itu.
Jadi suami istrinya belum pasti, tapi dosanya sudah pasti. Mereka mau sukses dulu, baru bicara tentang wanita dan pernikahan. Kini, mereka semua telah dewasa. Mereka sukses di profesi yang masing-masing mereka pilih dan jalani.
Khalid yang kuat menjadi seorang atlit angkat besi. Sudah sering menyumbang mendali di setiap kejuaraan. Yusuf yang playboy jadi aktor spesialis film horor. Umar yang pandai bicara jadi pengacara kondang.
Sementara Ali yang kalem dan alim menjadi seorang peneliti. Dari ke empat pria tersebut. Siapa yang sangka, Ali yang paling kalem dan pemurung diantara mereka. Justru melepas masa lajang duluan.
Hari ini, waktu sudah menunjukkan hampir pukul tujuh malam. Mereka berangkat ke tempat resepsi dengan menggunakan jasa transportasi online. Karena masing-masing dari mereka malas pakai mobil. Macetnya gak kira-kira banget. Mending pakai transportasi online, biar di mobil mereka bisa santai-santai.
Yusuf yang playboy memakai setelan jas hitam mahal favoritnya. Membuat dia terlihat tampan rupawan. Umar juga memakai setelan jas merah paling bagus miliknya, membuat dia terlihat elegan namun tetap santai.
Sedangkan Khalid pakai baju kemeja formal hijau lengan panjang, celana bahan berwarna hitam dan sepatu pantofel hitam. Lalu baju dimasukkan, membuat Yusuf nyeletuk, “Lid, lu pengen wawancara kerja!?”
“Iyaa lu, culun banget,” tambah Umar.
Sekilas Khalid melihat penampilannya dari bawah ke atas. Menimbang-nimbang sejenak. Ternyata bener juga yang dibilang oleh kedua temannya. Penampilannya kayak orang mau wawancara kerja.
Akhirnya, Khalid meminjam setelan jas punya Umar, yang ukuran badannya sama dengannya. Mereka berangkat dengan mobil yang dipesan Yusuf. Gak lama menunggu, mobil Honda Brio merah pun sampai di depan rumah Umar, yang menjadi tempat ngumpul mereka malam ini.
Mereka masuk ke dalam mobil transportasi online tersebut. Driver online itu menyapa dan memastikan lokasi tujuan mereka dengan nada manja sambil cubit-cubit genit Khalid yang ada di kursi depan. Pokoknya tingkahnya kayak belatung jambu yang kelagat keleget gak bisa diam.
__ADS_1
“Sekali lagi gak bisa diem. Gue banting retak usus besar lu,” ucap Khalid mengancam driver itu.
“Aww, ganteng-ganteng kok kasar siii, iihh,” ucap si driver dengan heboh.
Yusuf bergumam dalam hati, “Pantes nihh driver kelagat keleget kaya belatung jambu. Ternyata banci tohh. Kok bisa lolos jadi driver online, pakai jalur dalam kali yaa.”
“Udah Mas jalan aja. Kita buru-buru,” ucap Umar tegas.
“Mas? ihh enak aja panggil aku Mas. Ses, panggil aku Ses Maria. Situ ganteng-ganteng ngomongnya medok amat sii, abis main Ketoprak yaa.” balas si driver banci mengejek Umar.
“Lahh di account pengenal, namanya Maryono?” ucap Yusuf, mulai kesel.
“Maryono siang. Kalo malem yaa Maria,” jawabnya sambil menjulurkan lidah.
Pada akhirnya. Kelakuan si driver banci dapat diredam oleh Khalid yang mengancam kalo dia tidak segera diam dan antar mereka ke lokasi tujuan. Khalid akan mencekik dan memotong-motong tubuhnya untuk dijadiian makanan kelinci tetangganya. Mungkin disini Khalid lupa kalau kelinci itu hewan herbivora.
Driver online itu pun terdiam tenang, dan mereka berjalan menuju masjid di bilangan Jakarta Selatan yang menjadi tempat pernikahan Ali, sahabat kental mereka. Malam ini sangat dingin. Karena hampir seharian hujan deras. Ditambah lagi ini hari Sabtu.
Suasana cukup macet karena pasti banyak orang keluar rumah untuk jalan-jalan, terutama yang sudah berkeluarga. Ingin main keluar untuk menikmati suasana akhir pekan. Baik itu yang sama keluarga maupun yang sama selingkuhan.
Suasana malam nan dingin, ditemani hiruk pikuk jalanan ibukota, rintik-rintik hujan yang terkadang masih turun membasahi. Sungguh membuat mereka bertiga menjadi mengantuk. Namun, ketika mereka hendak ingin memejamkan mata. Suasana nyaman menjadi sirna dan berganti angker.
“Ini bau apa yaa? kok baunya kayak mercon,” ucap Umar.
“Bukan. Ini mahh, bau kabel kebakar!” seru Khalid meninggi.
__ADS_1
“Iyya nihh, gue juga nyium. Baunya kayak tabunan atau kabel kebakar gitu,” ujar Yusuf.
Mereka menutup hidung dan saling tatap serta menengok kesana dan kesini. Mencari darimana asal bau ini. Kemudian mata mereka, tertuju kepada diver yang saat itu mukanya memerah. Menelan ludah dan dahinya berkeringat. Khalid bertanya, “Lu kentut yak?”
Si driver diem aja. Seolah gak denger ucapan Khalid. Tapi dari dahinya keluar keringet bertambah banyak. Baunya juga makin menjadi-jadi. Bikin napas sesak, dan leher terasa dicengkeram beban berat. Ini seperti genosida.
“Ehh, lu kentut yak, gue nanya serius ke elu!?” bentak Khalid.
“Maaf Mas. Ketelepasan aku. Tadi sebelum ambil orderan, aku makan burger keju pake sambel rujak,” ucap si driver online.
Kaampreet. Bleuketupruk. Balakaciprut. Maling kancuutt. Kecoa berbuntuut. Semua umpatan yang dimiliki Khalid, Umar dan Yusuf terlontar untuk si driver tersebut. Seenaknya aja dia kentut, gak permisi dan gak ada basa basinya.
Seketika Khalid yang duduk disampingnya mau muntah. Umar langung buka jendela. Sedangkan Yusuf, seolah-olah tulang-tulangnya melemah dan malaikat maut sudah melambai-lambaikan tangan kepadanya.
“Gila bau banget. Udah gitu kena mata juga pedes!” bentak Umar.
“Lagi luu biasa makan nasi uduk. Gaya-gayaan makan burger, pakai sambel rujak lagi. Sekarang jadi keguguran kan usus lu,” ucap Khalid kesal.
“Yaa namanya juga nyobain Mas. Mumpung promo,” respon si driver dengan manja ke Khalid.
“Udah-udah. Buka-bukain dulu semua jendelanya biar pergantian udara!” seru Yusuf.
Semua jendela mobil akhirnya dibuka terlebih dahulu, untuk pergantian udara. Umar sampai ngunyah permen mint buat hilangin enegnya. Sedangkan Yusuf dan Khalid sedikit keluarin kepala keluar. Untuk hirup udara segar.
Tidak lama kemudian. Mereka pun sudah sampai di Masjid At-Taqwa, di daerah bilangan Jakarta Selatan. Masjid megah yang kental dengan nuansa Timur Tengah. Tanpa mereka sadari bahwa bau kentut kabel kebakar itu masih menempel di baju-baju mereka.
__ADS_1