Istirahat Sebentar

Istirahat Sebentar
Beraninya Kau Pergi


__ADS_3

Di hari itu, tepatnya di hari Sabtu pertengahan Bulan Desember. Adam berjanji akan datang ke rumahnya setelah urusan pekerjaannya selesai. Dia datang untuk memperkenalkan diri. Namun bukan hanya untuk sekedar memperkenalkan diri. Karena cerita tentangnya pasti sudah banyak didengar orang tuanya dari Hawa.


Tapi, Adam juga berencana untuk meminta izin melamar putrinya. Meminta izin kepada kedua orang tua Hawa untuk bisa sesegera mungkin meminangnya. Hari dan malam itu memang terbilang hari dan malam yang sulit, karena sudah sedari pagi hujan lebat. Matahari sama sekali tak terlihat, walau hanya untuk sekelebat. Cuacanya sangat dingin menusuk.


Hawa sudah besiap. Dandan yang sopan dan cantik, memakai pakaian dan aksesoris yang terbaik. Ibu dan Ayahnya juga sudah bersiap menanti sang pria shaleh yang mau melamar putrinya tersebut.


Ia sangat kagum kepada sosok pria yang bisa mengubah putrinya menjadi orang baik. Mengeluarkannya dari jeratan narkoba dan kecanduan alkohol. Aneka makanan lezat pun tersedia, rumah dan beberapa ruangan pun dihias.


Hanya adiknya saja yang tidak bisa hadir karena sedang ada acara kampus diluar kota. Mereka pun menunggu dengan tenang sambil bercerita tentang sosok Adam. Walaupun terliat tenang, namun dalam hatinya, Hawa terasa gugup dan tidak sabar akan kedatangan sosok pangerannya.


Di waktu yang sudah dijanjikan Adam tak kunjung datang. Tumben sekali dia bisa telat. Dalam benak Hawa, “Ahh… paling dia terlambat sejam karena macet, soalnya hari ini hujan sangat lebat dari pagi sampai malam. Bahkan ada beberapa daerah yang sudah terendam banjir. Semoga saja dia diberikan jalan keluarnya.”


Lalu, sang waktu pun kian bergulir menelan malam semakin larut. Dalam benak Hawa, “Ahh… paling dia terlambat karena ada urusan kerjaan mendadak dan terjebak macet.”


Kemudian sang waktu pun semakin bergulir menelan malam, semakin tenggelam. Hingga rasa lelah pun menerjang. Semua persiapan dan makanan sudah dibereskan dan kedua orangtuanya pun tidak bisa menunggu terlalu lama, karena harus beristirahat.


Dihubungi pun Adam tidak bisa. Di telpon, di wa di sms. Semuanya tidak ada yang direspon. Dalam benak, Hawa bergumam. “Apakah dia mengkhianatiku lagi? apakah sebutir keraguan dalam diriku ternyata benar adanya beraninya dia pergi seperti ini lagi.”

__ADS_1


Serentak teriak suara hati Hawa, “Dasar pendusta! beraninya kau pergi!”


Namuan, di sudut terdalam hatinya, Hawa tetap terus memanggil Adam. “Oohh… sayang. Ohh sayang apa yang terjadi? Ohh kekasih, di mana ikrar janji yang sudah kau ucapkan itu?”


Rasa sedih, marah, dikhianati, penasaran, sayang dan rindu menjadi satu dalam diri Hawa saat ini. Hingga dia tidak bisa memejamkan mata barang semenitpun. Ruangan kamarnya amat sangat sepi. Namun pikirannya amat sangat ramai menggelora.


Matanya hanya bisa menatap pintu dan handphone, berharap Adam akan mengetuk pintu atau memberi kabar lewat pesan singkat atau telpon. Tentang apa yang terjadi kepadanya dan bagaimana kondisinya sekarang ini. Itu saja sudah cukup bagi Hawa.


Dingin malam menusuk diri hingga ke tulangnya, namun itu sama sekali tidak dia rasakan. Karena perlahan dengan perlahan, dan santun air mata mulai membasahi pipinya. Berkali-kali dia menelpon tapi handphonenya seperti tidak aktif.


Ingin rasanya Hawa keluar rumah di malam itu untuk mencarinya, berteriak memanggil-manggil namanya. Tapi dia sendiri tidak tau dimana kekasih hatinya itu berada. Matanya terus menatap hingga pagi hari, jiwanya resah, hatinya tidak tenang. Pikirannya khawatir dan penuh dengan rasa cemas.


Di pagi hari sekitar jam lima pagi dia mendengar kabar dari temannya dan mendapat info dari berita televisi yang sedang dia tonton. Ternyata dugaan Hawa benar. Dia telah pergi, dan kali ini dia pergi ketempat dimana dia sendiri pun tidak tahu jalan untuk kembali. Dia mendapati kenyataan jika yang tercinta benar-benar telah pergi ke tempat yang jauh. Malam telah mengambilnya dari Hawa.


Mendapati jika Adam yang dicinta telah tewas. Dalam sebuah kecelakaan beruntun yang terjadi di dekat ruas pintu tol Bekasi, ketika dia ingin berkunjung ke rumahnya setelah kunjungan keluar kota untuk urusan pekerjaan.


Hawa hanya bisa terdiam, seketika itu juga semua panca indranya seperti terasa lumpuh, tubuhnya sangat lemah. Bahkan cuma untuk mengeluarkan airmata pun dia tidak mampu. Semua keluarga, teman dan orang-orang terdekat berusaha untuk menghibur dan menguatkannya, namun hasilnya sia-sia. Hawa sedang rapuh.

__ADS_1


Coba kalian bayangkan. Bagaimana rasanya ditinggal pergi oleh orang yang dicinta ketika sedang sayang-sayangnya. Coba kalian bayangkan. Bagaimana rasanya ditinggal mati oleh orang yang sedikit lagi akan mengucapkan janji suci pernikahan dengan kalian. Pastinya, kehilangan cinta hati itu. Bagaikan raga tak bernyawa bukan?


Kemudian, saat menghadiri pemakaman Adam. Hawa hanya bisa termenung melihat jasadnya yang terbungkus kain kafan putih diturunkan secara perlahan. Tangisnya pecah ketika dia  menatap pusaranya. Saat hati dan cinta ini sudah berlabuh dan tertambat dengan sempurna, namun ternyata inilah akhir kisahnya.


Seorang teman menemui Hawa, memberikan flashdisk Adam yang berisi cerita untuk novel berikutnya. Cerita perjuangan hidup seorang gadis melewati masa sulit dalam hidupnya, cerita dari Adam yang terinspirasi dari sosok Hawa.


Cerita yang benar-benar memberitahukan betapa besar cinta yang Adam miliki untuk Hawa. Hari-hari berikutnya Hawa hanya bisa lalui dengan lamunan, tangisan dan senyuman di saat dia mengenang hal-hal indah yang pernah dia lakukan bersama Adam.


Di tiap harinya selalu dia sempatkan waktu untuk mengingat tiap detail lekuk wajah dan sikap bijaknya, serta janji yang Adam ucapkan olehnya. Hingga tidak pernah terpikir dia akan sangat membutuhkannya saat dia menangis.


Di tiap harinya dia selalu menyempatkan diri untuk mengenang akan wajah polos dan tingkah Adam yang super kocak gak ketulungan. Hingga dia tertawa dan tersenyum sendiri melupakan semua keluh kesahnya terhadap dunia. Namun setelah semua itu, dia selalu berteriak dalam hati dan bahkan dalam lirih.


“Oh, sayangku. Oh, kasihku. Mengapa cinta seperti ini? Betapa kejamnya Dunia ini, di saat aku disuruh untuk mencinta dan memberikan segalanya. Namun aku dibiarkan hidup tapi tanpamu. Sesuatu seperti hilang dalam hatiku saat ini.”


“Membuat nafasku sesak, mataku melemah, namun suaraku melembut. Kebutuhanku akan Allah benar-benar jelas malam ini. Aku ingat akan nasehatmu saat pertama kali kita berdua mulai dekat. “


“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram. Kata-kata dari firman Allah itulah yang pernah kau ucapkan padaku, dan aku tidak mengira jika aku sangat membutuhkan kata-kata itu disaat ini.”

__ADS_1


__ADS_2