
Dikisahkan bahwa, malam itu di hari Sabtu. Fikri baru saja menyelesaikan makam malamnya di sebuah warung nasi sederhana, yang sekaligus menjadi tempat ngumpul-ngumpul dengan para sahabatnya. Sesama driver ojek online.
Belum ada sepuluh menit selesai makan, ada sebuah orderan masuk di aplikasi ojek online nya. Setelah dia lihat, ternyata orderan paket makanan dari seorang anak muda yang minta diantar kerumahnya di daerah Jakarta Selatan.
Sudah malam, Fikri berniat ingin pulang dan beristirahat. Tapi berhubung hari ini sepi pesanan. Sedari pagi sampai malam dia hanya dapat tiga pesanan. Maka dari itu Fikri gak berani menolak rezeki tersebut. Dia memberanikan diri untuk terima orderan itu.
Fikri bertanya kepada temannya yang sudah senior tentang lokasi tempat mengantar makanan tersebut. Selain diberitahukan perihal titik lokasi dan patokan dari lokasi tersebut, temannya juga berpesan kepada Fikri.
“Hati-hati, Fik. Di situ daerahnya sepi. Takut ada begal atau dedemit,” ucap si driver senior.
“Siap, Bang. Ane jalan dulu yaa, Bang,” balas Fikri.
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Dapat orderannya juga gak macam-macam. Setelah masakan jadi. Fikri langsung mengantarnya ke alamat yang dituju. Kebetulan yang mesan juga sudah share lokasinya.
Fikri mulai menyusuri jalan sambil berpatokan dengan arah yang ditunjukkan hp-nya. Ternyata cukup jauh juga pesanan yang dia antar, dan ketika melintasi suatu daerah pemakaman. Tiba-tiba tubuhnya terasa dingin. Jaket ojek online yang dia pakai, terasa tidak berguna.
“Ini bener gak sii, alamatnya. Masa sampe ke aeral pemakaman gini?” gumam Fikri, mulai merasa ada yang tidak beres.
Ada sekitar tiga kali dia hanya berputar-putar di areal pemakaman tersebut. Tapi tidak menemukan alamat yang dia cari. Akhirnya dia coba bertanya pada pedagang sate yang kebetulan lewat. Karena kalau hanya berdasarkan google map, biasanya suka keliru juga.
Benar saja, ternyata Fikri salah jalan. Harusnya ketika berada di jalan besar tadi Fikri naik ke atas. Lewat flyover, kalau dia lewat bawah, gak ada jalanan yang langsung menuju ke alamat ini. Pasti muter-muter dulu. Baru ketemu itu alamat.
Akhirnya Fikri kembali ke jalan besar. Untuk lewat flyover ke alamat tersebut. Si anak muda yang pesan orderan mengirim pesan wa ke Fikri. Menanyakan posisinya, karena lama sekali pesanannya itu belum juga sampai. Dia dan adiknya sudah kelaparan.
__ADS_1
Fikri pun berhasil sampai di kompleks perumahan alamat si pemesan. Suasana komplek perumahan itu sangat sepi. Fikri sempat minta izin kepada security kompleks untuk mengantar makanan tersebut, dan dia pun diberikan izin dan dibukakan portal oleh si security. Tanpa menanyakan detail alamat tempat dia mengantar makanan.
Lokasi kompleks perumahan pemesan makanan, sepertinya masih cukup baru dan beberapa fasilitas masih ada yang dibangun. Ada beberapa jalan yang masih berupa tanah merah. Masih banyak pepohonan juga. Rumah-rumahnya masih sedikit. Ada beberapa rumah juga yang sudah jadi, dan ada beberapa juga yang masih setengah jadi.
Setelah masuk lebih dalam, hampir sampailah Fikri di lokasi tujuan. Sebuah rumah yang letaknya nyaris di ujung kompleks. Dari jauh, rumah tersebut bersebelahan dengan rimbunan pepohonan beringin dan asem yang besar-besar, yang memanjang ke belakangan sisa-sisa tanah dari kompleks perumahan tersebut.
Fikri merasa agak sedikit gak enak saat itu. Apalagi ketika dia melihat ke arah rumah si pemesan makanan. Ada sesosok putih dengan kain terikat di atasnya. Sudah berdiri menunggu di depan rumah tersebut.
Fikri mencoba semakin mendekat, kemudian dia kaget melihat sosok putih yang ada di depan rumah tersebut. Ternyata itu adalah pocong yang tinggi dan besar. Fikri tak berani untuk mendekat. Rasanya dia ingin segera putar balik dan berjalan pulang.
Namun, ada telpon dari si pemesan makanan. Menanyakan sudah di mana posisinya? kenapa makanannya lama sekali?
Fikri pun mengangkat telpon tersebut, serta menjelaskan alasannya,”Ma… maaf, Mas. Sebenarnya saya sudah dekat rumah, Mas. Tapi saya takut lagi buat ngedekat. Soalnya ada pocong besar banget di depan rumah Mas.”
“Iyaa, Mas. Kalau gak percaya coba Mas nya lihat aja sendiri,” pinta Fikri.
Sejenak tidak ada suara dari si pemesan makanan tersebut. Lalu, ketika dia perhatikan lagi sosok pocong tinggi besar yang ada di depan rumah itu, telah menghilang. Tidak tahu kemana perginya dan sejak kapan hilangnya.
“Hallo, Mas. Itu tadi cuma temen saya aja yang iseng. Sekarang sudah bisa ke sini yaa, Mas,” tambah si pemesan makanan.
Fikri pun mendekat ke rumah tersebut yang ternyata kondisinya sepi tanpa penghuni. Lampunya pun mati. Gelap dan mencekam, seperti sudah lama tidak berpenghuni. Fikri coba melongok ke dalam rumah tersebut mengucap salam sambil berteriak-teriak, “Pakeet! pakeet!”
Tetap tidak ada jawaban dari dalam rumah. Perasaan Fikri semakin gak enak. Apalagi nomor si pemesan makanan juga tidak aktif. Akhirnya dia photo rumah tersebut untuk dia jadikan bukti laporan jika suatu saat dari pihak kantor ada yang menanyakan perihal orderan ini.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang lagi, Fikri pun menaruh makanan pesanan tersebut di pagar rumah itu dan buru-buru balik pulang ke rumah. Tapi, dia terasa menjadi bingung. Ke arah mana pintu keluar kompleks ini. Dari tadi dia hanya seperti sedang berputar-putar saja.
Dia melihat jam tangannya. Dia terkejut ternyata sudah ada sekitar setengah jam dia hanya berputar-putar di kompleks ini. Belum sembuh kebingungannya itu. Tiba-tiba, Fikri merasa motornya berat. Seperti ada yang duduk di jok belakangnya. Fikri memberanikan diri mengintip lewat kaca spionnya.
Penasaran siapa yang tiba-tiba ada di jok belakangnya. Dalam hati dan pikirannya, dia mengira jika pocong tadi lah yang ada di jok belakangnya. Namun, perkiraannya tersebut salah. Karena yang ada di jok belakangnya adalah makhluk yang amat sangat buruk rupa.
Sekonyong-konyong makhluk itu seperti memperlihatkan wajahnya. Rambutnya gimbal, menutupi hampir seluruh wajahnya hitam bagai aspal baru yang masih panas. Matanya berwarna putih tanpa ada kornea hitam di dalamnya.
Hidungnya panjang dan pipih ke depan bagai paruh bebek. Mulutnya melebar, hingga ke kuping, dan ada dua taring besar di gigi bagian bawahnya. Terasa hawa panas dan bau amis yang pekat keluar dari makhluk tersebut.
Dalam keadaan ketakutan dan panik, Fikri membaca Ayat Kursi, Surar Al Ikhlas, Al Falaq dan An Nas, serta Shalawat Jibril. Memohon bantuan dan pertolongan dari Sang Raja Manusia, dari Sang Tuhan sesembahan manusia. Nafas Fikri seolah menjadi sesak, dan pandangannya menjadi kabur dan gelap.
“Mas bangun, Mas,” seseorang mengguncang-guncang tubuh Fikri.
Guncangannya cukup keras. Membuat Fikri terbangun dari tidurnya yang amat sangat terlelap.
“Mas kenapa tidur di sini, Mas?” tanya pria yang membangunkan Fikri dengan wajah keheranan.
Fikri yang belum begitu pulih benar kesadarannya itu, berusaha mencerna sekelilingnya. Dia melihat jam tangannya. Setengah enam kurang lima menit, malam beranjak pagi dan rintik-rintik hujan perlahan turun dari langit yang gelap.
Fikri melihat sekeliling tempat dia terbangun dari tidurnya, kemudia tersentak kaget. Dia mengingat kengerian yang di alaminya tadi malam. Ternyata dia tertidur di teras rumah tempat dia mengantar pesanan makanan tadi malam. Kepada pria yang membangunkannya itu, Fikri menceritakan semua hal yang dia alami tadi malam.
“Rumah ini memang kosong, Mas. Dari awal dibangun sampai sekarang, belum ada orang yang mau nempatin,” ucap pria itu, yang ternyata penjaga kompleks.
__ADS_1
Di jam segini biasanya dia memang suka berpatroli. Akhirnya, Fikri memutuskan untuk pulang. Dengan harapan tidak mengalami lagi kejadian, seperti yang tadi malam dia alami.