Istirahat Sebentar

Istirahat Sebentar
Kisah Horor Naik Gunung


__ADS_3

Selamat malam, semoga kalian semua senantiasa berada dalam lindungan Allah Azza Wa Jalla. Nama gue Rio. Gue mau sekedar ceritain pengalaman gue naik gunung bareng keempat teman-teman gue.


Nama gunung dan nama-nama lokasi serta nama-nama temen gue sengaja gue gak telalu ceirtain secara detail dan sengaja gue samarin juga. Karena untuk menjaga citra baik dan privasi semua elemen yang saling berkaitan di cerita ini.


Sebenarnya gue gak mau cerita, tapi bathin gue kadang selalu terdorong untuk bercerita dan berbagi perihal cerita ini. Agar menjadi referensi bagi temen-temen yang lain jika ingin naik gunung.


Ok, gue langsung aja ke inti cerita. Pada saat itu siang hari sekitar jam dua siang, kami sampai di gunung yang hendak kami ingin daki. Di atas tadi sudah gue infoin kan, kalo gue berangkat dengan keempat temen gue. Jadi total ada lima orang sama gue.


Tapi pada saat kami naik, gak sengaja sandal gue kemasukan kayak semacam ranting pohon gitu. Gue berhenti sejenak untuk beresin dan keluarin ranting kecil pohon tersebut dan sandal. Hingga gue disusul dan tertinggal dari teman-teman gue yang lain.


Setelah gue bangkit dan ingin melanjutkan perjalanan lagi. Gue agak bingung. Karena gue hitung dari belakang. Teman-teman gue ada lima orang, belum termasuk sama gue. Apakah itu orang dari rombongan lain yang tertinggal atau apa?


Rasyid (nama samaran). Teman gue yang paling tinggi jangkung ini, memanggil gue untuk buruan cepatan jalan. Jangan kebanyakan bengong sendiri. Akhirnya gue pun melanjutkan perjalanan.


Di mulai dari sini, gue udah persiapin hati dan mental gue. Gue udah punya firasat kalau peristiwa buruk bakal terjadi di pendakian gue kali ini. Akhirnya, dengan membaca Bismillah. Gue lanjutin perjalanan lagi.


Hingga sampai di sebuah pos. Berhubung hari sudah malam, kami berlima memutuskan untuk beristirahat dan membangun sebuah tenda. Api unggun kecil pun kami nyalakan, beberapa makanan dan minuman kami hidangkan.


“Ada yang mau shalat, silahkan. Ada yang mau istirahat, silahkan. Atau kalau ada yang mau makan sama minum juga silahkan,” ucang Bang Ical (nama samaran), orang yang paling tua dalam pendakian gunung kali ini.


Entah emang karena ucapannya dia barusan, atau karena apa. Gue juga gak ngerti. Tiba-tiba ada orang yang datang. Ngakunya sii, pendaki lain yang buat tenda di sekitar tenda kita. Dia dengar-dengar ada makanan atau cemilan gitu lah.

__ADS_1


Makanya dia datang untuk sekedar mengobrol sama minum kopi. Dia duduk disamping Pandi (nama samaran), tepat di seberang gue. Hanya saja dipisahkan oleh api unggun. Gue perhatikan ini orang kok rada aneh.


Doyan banget sama kopi pahit. Bilang mau makan atau  ngemil tapi gak satu pun makanan atau cemilan dia cobain. Orang ini berambut cepak, badannnya kecil kurus, matanya belo, hidungnya rada mancung.


Lalu, hal yang paling membuat gue makin penasaran sama orang ini adalah. Ketika dia berdiri hendak pamit sama kami. Gue lihatin terus dia, dan ternyata. Kakinya itu gak napak ke tanah, kayak melayang di udara.


Orang itu mungkin merasa kalau dari tadi gue perhatiin. Dia pun berbalik badan dan melihat ke arah gue. Namun hanya dalam sekedipan mata, orang itu tiba-tiba menghilang. Bagai asap tersapu angin.


Sampai sini, teman-teman gue masih pada belum menyadarinya. Hanya gue yang sadar kalau dari awal kita naik gunung itu, udah banyak hal-hal yang gak beres. Gue juga belum mau cerita. Karena berhubung gue yang paling muda. Gue takut nanti disangka manja dan pengecut. Akhirnya, gue pun memilih untuk diam dan terus melanjutkan perjalanan.


Ke esokan harinya. Kami tiba di sebuah tempat di mana ada banyak sekali orang dan Tim Sar. Kabarnya sii ada pendaki yang tersesat, lalu ditemukan sudah dalam keadaan meninggal. Lama kematiaan kira-kira sekitar sudah ada dua hari. Penyebab kematian masih diselidiki. Apakah karena hypothermia atau karena hal lain?


Kami yang penasaran sempat melihat-lihat lokasi kejadian dan mayat, dan ketika kami melihat mayat itu. Ternyata, mayat yang sudah diperkirakan dua hari meninggal itu adalah orang yang tadi malam datang ke tenda kami untuk minum kopi.


Kami pun melanjutkan perjalanan kembali. Walaupun nyaris dari separuh hati dan pikiran ini sudah gak nyaman dengan perjalanan naik gunung ini. Namun, pesona alam indah dan udara segar ini, terlalu sayang untuk dilewatkan begitu saja.


Malam pun kembali tiba. Sama seperti malam sebelumnya. Kami berlima memutuskan untuk beristirahat dan membangun sebuah tenda. Api unggun kecil pun kami nyalakan, beberapa makanan dan minuman kami hidangkan.


Bedanya kali ini, suasananya sepi mencekam. Tidak ada satu orang pun yang mau duduk-duduk diluar tenda untuk menikmati malam dengan bintang gemintang. Semuanya duduk dan terlelap langsung di dalam tenda.


Gue yang masih belum diserang rasa kantuk. Mencoba untuk kembali keluar, kembali melihat dan ingin menikmati bintang gemintang. Ketika gue buka tenda, gak jauh dari gue berdiri ada Bang Ical yang lagi duduk-duduk menikmati malam sambil bersenandung dengan bahasa sunda.

__ADS_1


Gue coba mendekatinya lalu menyapanya, dia pun menyapa balik gue. Lalu, kami pun mengobrol sampai hampir lupa waktu. Di sela-sela kami ngobrol Bang Ical (nama samaran) memberikan gue minuman.


Gue pun menerimanya langsung dari tangannya. Saat gue ambil itu minuman dari tangannya. Gue menyadari ada satu hal yang ganjil yang ada pada diri Bang Ical. Gue melihat kakinya terbalik.


Jari-jari dan kuku-kukunya menghadap ke belakang, sedangkan tumitnya menghadap ke depan. Gue gak panik, tapi perlahan gue mulai tahu aja, siapa yang sedari tadi gue ajak ngobrol. Dia meminta gue untuk nemenin dia buang air kecil.


Yaa udah, gue temenin dia untuk buang air kecil. Sampai lumayan jauh dia ngajak gua ninggalin tenda dan teman-teman gue. Dia ketawa-ketawa cengengesan dengan suara yang cukup mengerikan. Dia pikir gua takut?


“Ehh...!” bentak gue sambil menepuk punggungnya.


“Lu pikir gue takut1? dari awal lu senandung pakai bahasa sunda, gue udah sadar kalau lu itu bukan Bang Ical. Karena Bang Ical itu orang jawa, dia gak bisa bahasa sunda. Apalagi nyanyi pakai bahasa sunda!” ujar gue.


Orang yang di samping gue ini, si Bang Ical palsu masih ketawa cengengesan dengan mata yang melotot hingga bola matanya mau keluar.


“Eii, bumi ini milik Allah. Allah gak menciptakan jin dan manusia, melainkan hanya untuk beribadah kepada-Nya,” ucap gue lagi.


Kali ini, orang itu langsung menghilang dalam sekejap kedipan mata gue. Gue langsung balik ke tenda. Dalam perjalanan, gue gak henti-hentinya membaca Ayat Kursi dan Shalawat.


Setiap ada pergerakan yang mencurigakan, entah itu di semak-semak atau di pepohonan. Gue langsung tendang sambil berteriak takbir. Alhamdulillah, gue pun sampai di tenda kembali dengan selamat, berkat perlindungan dari Allah Ta’ala.


Sekian cerita dari gue, semoga bermanfaat bagi kalian yang hendak naik gunung. Agar kita sama-sama sadar kalau yang hidup di bumi ini bukan hanya kita dan hewan-hewan.

__ADS_1


Tapi juga ada makhluk lainnya yang bahkan tidak kasat mata. Namun, tetap saja. Manusia adalah yang paling tinggi derajatnya. Terutama yang dekat dengan Allah.


__ADS_2