Istirahat Sebentar

Istirahat Sebentar
Kisah Horor Asep Metal


__ADS_3

Namanya Asep Hasanudin. Orang-orang dekatnya memanggilnya dengan sebutan Asep Metal. Alasannya sudah bisa ditebak, itu karena dia suka sekali musik metal dan orangnya terlampau berani. Lebih tepatnya nekat. Pekerjaannya adalah driver professional.


Malam minggu itu Asep terbangun dipinggir jalan. Dia juga lupa kenapa dia bisa ada disini, yang dia ingat hanyalah, jika dia ingin pulang kerumah. Setelah satu minggu ini harus lembur bawa bule dari Australia. Selama satu minggu itu, Asep tidur di ruangan yang sudah disediakan kantornya untuk para driver.


Asep bingung malam ini sudah jam berapa? Karena kendaraan sudah sangat sepi, angkot sudah berhenti beroperasi, dan jam tangannya ketinggalan di ruangan driver. Satu hal yang dia ingat jalan ini sudah dekat dengan rumahnya.


Dia ingat juga ada satu jalan pintas. Jalanan yang belum lama ini dibangun. Awalnya jalan itu adalah areal hutan dan rawa yang dibeli sama pengembang properti. Untuk dijadikan jalan alternatif dan perumahan elit.


Kalau saja yang pada beli itu rumah di daerah situ tahu, jika rumahnya adalah bekas areal hutan dan rawa yang angker. Pastinya mereka enggan untuk membeli rumah di daerah itu. Warga-warga kampung sekitar situ aja kalau sudah lewat waktu maghrib. Pada ogah lewat jalan itu.


Namun, berbeda dengan Asep, pulang pergi kantor dia biasa lewat situ. Bahkan sampai malam hari pun dia sering lewat jalan situ. Karena baginya itu jalan pintas yang efektif untuk cepat sampai kerumahnya.


Asep kadang sering diingatkan oleh satpam perumahan, kalau lewat situ harus hati-hati. Tapi, memang dasar si Asep Metal. Dia santai-santai aja setiap kali melewati jalan itu. Hebatnya, dia tidak pernah mengalami kejadian aneh apapun. Seperti yang orang-orang ceritakan selama ini.


Malam ini pun, Asep pulang melewati jalan bekas areal hutan dan rawa itu lagi. Di pintu masuk perumahan. Dia melihat Mang Ujang, satpam perumahan yang berjaga sedang asik santai minum kopi.


Sebelum memasuki areal perumahan, Asep menyapa Mang Ujang. Tapi, Mang Ujang cuma diam aja. Malah melengos waktu dia sapa. Asep berpikir, paling itu orang lagi ada masalah sama istrinya. Kelihatan dari tampangnya yang kusut, kaya dompet tanggung bulan.


Asep melewati jalan yang masih banyak ditumbuhi pohon-pohon besar seperti pohon asem, pohon beringin, pohon sukun dan pohon mangga. Menurut cerita warga sekitar, di daerah pepohonan sini banyak kuntilanaknya yang pada bergelantungan.


Benar aja, baru beberapa langkah masuk dikawasan pepohonan ini. Di depan, Asep melihat sudah ada yang banyak bergelantungan. Sambil ketawa cekikikan, “Kiiii. Hihihihi. Kiiii. Hihihi.”


Mereka bergelantungan di ranting-ranting pohon dan dahan-dahan pohon. Ada yang putih dan ada yang merah. Mereka tertawa terus sampai membuat Asep merasa terganggu. Lalu, takutkah Asep?


Bukan Asep Metal namanya kalau dia merasa takut, dia membentak kawanan Mba Kunti tersebut, “Pada diem gak. Atau nanti gue perkosa!”

__ADS_1


Bentakan Asep amat manjur. Gak berapa lama, kawanan kunti pun terdiam. Tenang dan gak bersuara kembali. Asep pun melanjutkan perjalanannya. Dia sampai dipinggir danau buatan kecil.


Denger-denger dari orang-orang, di kisaran danau ini ada glundung peringis. Ia adalah sosok hantu kepala buntung. Kemunculannya biasanya suka ditandai dengan terdengarnya suara orang seperti sedang menangis.


Lagi asik-asik jalan tiba-tiba, gluduk. Ada sesuatu yang jatuh seperti buah kelapa di depan Asep. Asep kaget, perasaan disini gak ada pohon kelapa. Dia perhatikan apa yang tadi jatuh itu. Ternyata kepala orang tanpa tubuh. Kepalanya botak matanya hitam, meneteskan air mata sambil meringis seperti menahan sakit. Takutkah Asep?


Ternyata tidak, bukan Asep Metal kalau dia bisa takut. Kepala itu ditendangnya sekuat tenaga dengan kaki kanannya. “Brenggsek, bikin kaget orang aja!” bentaknya keras.


Duaagg.


Kepala itu pun melayang entah kemana. Asep melanjutkan perjalanannya lagi. Kali ini dia merasa pundaknya agak pegal. Rasanya berat kayak memikul sesuatu. Dia menoleh ke kanan pundaknya, dan ternyata.


“Minta gendong.”


Ada sosok anak kecil. Tanpa mata, hidung dan daun telinga. Hanya ada mulut yang lebar dan gigi yang penuh darah. Sedang nangkring dibahunya. Asep tidak terkejut, dia bersikap tenang. Dia menghitung dalam hati, dan pada hitungan ketiga.


Asep membanting sosok anak kecil yang minta gendong itu, sambil berkata, “Minta gendong sama bapak moyang lu, kerdil.”


Sosok anak kecil itu pun seperti langsung pergi menyingkir. Asep mulai jenuh dengan perjalanannya. Dari tadi banyak banget demit yang menganggunya. Tapi, sudah setengah perjalanan, nanggung. Jadi Asep lanjutkan saja.


Tohh, sampai sejauh ini dia bisa mengatasi semua gangguan itu. Di depan Asep melihat kayak ada sosok seseorang. Memakai pakaian kerja. Kemeja putih dan celana bahan wana hitam. Sangat terlihat jelas, karena malam ini purnama sangat benderang. Sosok itu membelakangi Asep. Ahh, akhirnya ada temen buat ngobrol juga.


Asep berniat mendekatinya dan mengajaknya ngobrol. Ketika di dekati orang itu seperti mencari sesuatu. Asep bertanya kepadanya, “Maaf Mas malam-malam gini, lagi nyari apa?”


Sosok itu tidak menoleh ke Asep dia masih tetap mencari sesuatu di sekitar rerumputan. Dia berkata, “Ini Mas. Saya lagi nyari mata saya.”

__ADS_1


Asep sedikit merasa seperti salah dengar. “Emm maksudnya kacamata yaa?” tanyanya.


“Bukan, Mas. Tapi beneran mata saya,” ucapnya.


Dia menoleh ke Asep. Asep mendapati jika orang itu matanya hilang satu. Darah pun deras mengalir dari hidungnya dan matanya yang hilang. Wajahnya pucat pasih. Terkejutkah Asep?


Nyatanya tidak. Asep malah menjambak rambutnya dan menampar dengan keras wajah dari sosok tersebut. “Kurang asem, lu pikir gue takut!?” bentak Asep.


Plak. Plak. Plakk.


Asep menampar sosok itu di pipi kiri dan kanan. Hingga keluar lagi mata yang satunya. Lalu meninggalkannya begitu saja, yang kali ini lebih kesulitan karena harus mencari dua matanya yang copot.


Sudah hampir sampai. Asep sudah bisa melihat lampu-lampu penerangan di gangnya. Di ujung jalan Asep melihat ada sosok pocong yang tinggi besar. Kain kafannya kotor penuh tanah merah, wajahnya hitam dan gradakan seperti aspal rusak.


Asep melewatinya begitu saja. Tapi dalam hati dia bersiap-siap. Jika ini pocong sampai macam-macam, bakalan dia sengkat dan piting itu pocong. Kemudian Asep sudah melewati ujung jalan. Dia masuk ke gang sempit tempat rumahnya berada.


Di depan gang tersebut, ada sosok nenek-nenek tua yang bungkuk. Rambutnya putih acak-acakan. Hidungnya panjang dan bengkok layaknya paruh burung. Kedua matanya mencuat keluar. Tangannya menengadah ketika Asep lewat di depannya, sambil berucap, “Minta duitnya, Dee.”


“Engak ada. Kerja sana kalo mau dapat duit,” ucap Asep.


Asep pun terus berjalan hingga sampai di dekat rumahnya. Ia heran mengapa banyak bangku dan orang lalu lalang. Ada juga yang membaca Yaasin dan dirumahnya terpasang bendera warna kuning. Asep lalu mempercepat langkah kakinya, segera masuk ke dalam rumah.


Di dalam rumah dia melihat ada tubuh terbujur kaku, di atas dipan rendah dan tertutup kain berwarna putih transparan. Baru dia ingin mendekati dan melihat jenazah siapa itu. Tiba-tiba ada tetangga yang melayat dan membuka tutupan wajah jenazah tersebut.


Ternyata jenazah itu adalah dirinya. Asep terkejut bukan main. Akhirnya dia teringat jika malam ini, dia terlibat kecelakaan. Mobil angkot yang dtumpanginya tabrakan dengan mobil truk pengisi bahan bakar. Asep yang saat itu duduk di depan, samping sopir angkot tidak bisa berbuat banyak.

__ADS_1


Kini, dia hanya bisa menatap lamat-lamat kedua anak dan istrinya, yang sedang menangis disamping jenazahnya. Tanpa bisa menyentuh dan bersuara kepada mereka. Memberitahukan, jika Ayah sudah pulang.


__ADS_2