Istirahat Sebentar

Istirahat Sebentar
Wulan dan Donny (Kesempatan Kedua)


__ADS_3

Beruntunglah negeri ini memang cukup subur. Jadi penduduk dan orang-orang yang sedang terlantar seperti dia. Tidak khawatir akan kelaparan. Karena berbagai macam tumbuhan sayur dan buah dapat dengan mudah tumbuh subur dan berkembang di negeri ini. Sudah sekitar tiga hari dia berjalan. Mengarungi hutan, perbukitan, pedesaan bahkan sungai.


Panas dan dingin sudah dia lalui. Hujan dan terik sudah dia lewati bersama. Dengan berharap bisa bertemu dengan kekasihnya. Bertemu dan berkumpul bersama dengan ibu dan calon buah hatinya. Apapun resikonya akan dia hadapi dan terima. Dia juga berkeyakinan jika Wulan juga melakukan hal yang sama, seperti apa yang dia lakukan.


Hanya saja dalam kondisi dan situasi yang berbeda. Namun tetap dalam kenangan dan suasana hati yang sama. Dia yakin sekali akan hal itu. Pada hari ketiga perjalanan, akhirnya dia sampai. Pagi hari itu terlihat mendung. Langit berwarna abu-abu gelap.


Sepertinya akan turun hujan lebat di desa ini. Donny bergegas tidak ingin banyak membuang waktu, walau sudah nyaris tiga hari ini dia belum tertidur nyenyak. Rasa kantuk teramat sangat menggelayutinya. Donny sampai di gerbang desa Kayu Putih. Tempat para sahabat dan komandannya berkumpul.


Dia melihat banyak lalu lalang warga sekitar dan para pasukan dengan wajah yang riang gembira. Masih dalam masa euphoria kemenangan. Warga-warga yang tidak sengaja bertemu wajah dengannya, memberikan senyuman kepadanya. Tanpa menunggu lama, Donny langsung bergegas ke atas bukit.


Tempat pasukan utama mendirikan markas darurat. Sesampainya di atas, dia melihat tempat itu sudah sangat rapih dan bersih. Rerumputannya kembali menghijau dengan sempurna. Tenda-tenda berdiri kokoh seperti semula lagi. Donny melemparkan pandangannya kesana kemari. Mencari kekasihnya.


Berharap dia baik-baik saja dan dalam kondisi selamat.  Dia melihat salah satu sahabat baiknya sedang sarapan di atas gundukan bukit kecil. Dia menghampirinya dan menanyakan kondisinya. Juga berharap dapat info mengenai kondisi Wulan, kekasihnya.


“Pagi Im, gimana kabarmu?” tanyanya.


Sahabat Donny yang sesama pasukan utama itu terkejut. Hampir keselak makanan yang sedang dia makan, dia menjawab Donny dengan pelukan haru dan tangis. Lalu berteriak kepada semua orang jika Donny masih hidup. Alangkah bahagianya kawan-kawan sesama pasukan utama dan komandannya. Mengetahui Donny masih hidup, dan kembali sedang dalam kondisi yang segar bugar.


Mereka menggotong-gotong Donny, melempar-lemparnya ke udara dan memberikannya makan dan minuman yang enak untuk menyambutnya. Setelah pesta penyambutan meriah yang singkat itu selesai. Donny menanyakan kepada kawan-kawannya. Perihal seorang gadis yang datang kesini untuk mencarinya. Donny menceritakan ciri-ciri dari gadis tersebut.

__ADS_1


Para sahabatnya diam seribu bahasa. Tidak ada yang berani menjawabnya. Hanya komandannya yang berani untuk menjawab dan bercerita kepadanya. Komandan Fadhl, mengajaknya ke atas bukit. Langit semakin gelap dan hujan mulai turun rintik-rintik, ketika mereka sampai di tepian jurang.


Mereka berhenti disana, Donny ingat tempat ini. Ini adalah tempat dia terjatuh pada saat duel, dengan wakil pimpinan pemberontak sekitar dua minggu lalu. Komandan Fadhl mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya. Dua buah kalung, dan memberikannya kepada Donny. Dia menerimanya, dia tahu kalung itu miliknya dan yang satu lagi adalah milik Wulan.


“Dimana dia sekarang?” tanyanya.


Komandan menunjuk ke arah jurang dan berkata. “Dia ada disana.”


“Ada disana? maksudnya?” tanya Donny.


Dia mulai terlihat bingung dan hilang kendali. Tubuhnya bergetar dipenuhi rasa takut akan kehilangan.


Komandan Fadhl bercerita kepada Donny. Jika sekitar enam hari yang lalu, ada seorang wanita yang mencarinya. Keadaan wanita itu cukup memprihatinkan. Ada beberapa luka di kening dan kakinya. Serta pakaian dan rambutnya sudah sangat acak-acakan. Dia mencarinya, mengaku keluarga darinya.


Wanita itu bersedih ketika mendengar apa yang terjadi pada Donny. Dia amat terpukul dan bersedih. Selama pencarian dirinya, wanita itu selalu menunggu di tepi jurang ini.  Berharap ada kabar gembira dari hasil pencarian Donny, namun hari berganti hari, sampai hari ketiga, Donny tak diketemukan juga.


Lalu tim pencari juga segera dibubarkan, karena harus bersiap untuk mobilisasi ke kota-kota lain. Untuk membersihkan sisa pemberontak. Belum sempat hari berganti, wanita itu memilih untuk menyusul jatuh ke jurang tersebut. Para saksi mata yang melihat, berteriak meminta bantuan.


Pencarian pun dilakukan, dari beberapa personil pasukan yang tersisa dibantu oleh penduduk desa. Selama tiga hari pencarian dia tidak diketemukan. Dia hanya meninggalkan ini di tepian jurang, dua kalung yang dipakainya dan dipakai oleh kekasihnya.

__ADS_1


“Maaf, Don. Kami gak bisa berbuat banyak untuk menyelamatkannya,” ujar Komandan Fadhl.


Hujan turun dengan derasnya. Hingga tidak ada yang tahu, jika saat itu Donny menangis dengan sejadi-jadinya. Dia bersujud di tepian jurang itu, meratapi kehilangan kekasihnya. Tiba-tiba, ada seorang kakek datang mendekatinya. Berbicara kepadanya menawarkan kesempatan kedua untuk bisa bertemu kembali dengan kekasihnya.


Donny bingung, dari mana datangnya kakek ini. Karena seingat dia, sejak tadi dia hanya berdua saja dengan komandannya, di tepian jurang ini. Dia perhatikan dan mengingat sesuatu, jika kakek ini adalah orangtua yang dia beri setengah perbekalannya waktu ditengah perjalanan menuju desa Kayu Manis. Kakek itu kembali menawarkan kepada Donny.


Jika dia ingin kesempatan kedua untuk bertemu dengan kekasihnya, Kakek itu bisa mewujudkannya. Donny tambah bingung. Komandan Fadhl lebih kebingungan lagi, karena dia melihat, tiba-tiba Donny seperti berbicara sendiri, dia meracau yang bukan-bukan perihal kesempatan kedua. Komandan Fadhl mengira jika Donny sedang berdo’a. Tapi, dibanding berdo’a. Donny lebih mirip sedang berkomunikasi dengan seseorang, namun entah siapa itu.


“Wahai Kakek. Jika engkau bisa memberikan aku kesempatan kedua untuk bertemu dengan kekasihku. Berapa pun nyawa seperti ini, akan aku berikan,” ucapnya lirih.


Di tengah hujan yang semakin deras membasahi rasa perihnya kehilangan orang yang dicintai. Setelah berucap itu, si kakek hilang bagai kabut yang tertiup angin. Dia hilang seperti asap yang mengepul di udara.


Donny tertatih dalam sujudnya, dia seperti hilang kesadaran. Matanya mengantuk, tubuhnya terasa lemah dan nyeri di beberapa bagian. Gelap semakin lama, semakin menguasainya dan dia pun terlelap.


Namun rasa sakit di beberapa bagian tubuhnya, membuatnya terbangun kembali. Dia membuka mata, dan mendapati dia di tempat yang berbeda. Bukan di tepian jurang dalam kondisi hujan bersama komandannya. Dia celingak celinguk menatap sekitarnya.


Dia baru ingat, ini adalah rumah Wulan. Lalu, luka-luka yang ada ditubuhnya. Adalah luka-luka bekas pertempuran yang dirawat oleh Wulan. Apa yang sebenarnya terjadi. Belum hilang rasa kebingungannya. Dari balik pintu ada yang masuk dan berkata kepadanya.


“Tolong jangan bergerak dulu. Lukamu belum sepenuhnya kering,” ucapnya.

__ADS_1


Donny mengenali suara itu. Itu suara Wulan, kekasihnya.


__ADS_2