
LAUT MATI
Malam dingin dan dipenuhi gemuruh angin kencang. Disertai hujan lebat mengobrak-abrik ketenangan malam itu. Tiga orang anak hanya bisa bercerita di rumah salah satu anak tentang betapa hebatnya kakek dari masing-masing mereka.
“Apa kalian tahu tentang kakekku,” tanya Ba’da memulai obrolan.
Kedua temannya menggeleng. Karena bagaimana teman-temannya bisa tahu kakekknya. Sementara nongkrong bareng mereka aja gak pernah.
Ba’da melanjutkan cerita tentang kakeknya yang dia dapat dari ayahnya. Dia bercerita jika kakeknya adalah orang hebat. Kakeknya yang telah membunuh Raja Mongol paling hebat, yaitu Genghis Khan.
Entah baca buku sejarah yang mana ayahnya si Ba’da. Ceritanya sangat menyesatkan. Tapi, anak yang lain seolah-olah, malah percaya. Mereka malah gak mau kalah menceritakan kehebatan kakeknya masing-masing.
“Cuma itu? berarti masih hebatan kakek gue donk. Apa kalian tahu Vlad Tepes!?” tanya Jacky.
Ba’da mengangguk mengiyakan kalau dia tahu. Sedangkan Fatih menggeleng kepala. Dia tidak tahu Vlad Tepes dengan alasan belum pernah ngaji bareng dia. Kedua temannya protes kepada Fatih, menyebut kalau kebodohan Fatih sudah hampir diambang batas kemanusiaan.
“Vlad Tepes itu raja paling terkejam sepanjang sejarah, Fat. Dia asal muasal cerita Dracula. Bukan anak ngaji Al Falah!” bentak Jacky kepadanya.
“Ouww gitu, terus kaitannya sama kakek lu apa, Jack?” tanya Fatih penasasaran.
“Dia orang kejam Fat, dan kakek gue yang telah berhasil membunuhnya,” ucap Jacky dengan bangga.
Faith gak minder. Fatih menyindir kalau apa yang sudah dilakukan oleh kedua kakek dari teman-temannya itu biasa-biasa saja. Hingga menimbulkan kesal di hati kedua temannya. Secara bersamaan mereka bertanya, “Emang kakek lu bisa apa, Fat?”
Fatih tersenyum dan menjawab, “Hmm, kalian semua kalah olehku. Kalian tahu laut mati?” tanyanya kepada teman-temannya.
Teman-temannya pun mengangguk mengiyakan. Fatih pun berkata lagi, “Itu kakekku yang membunuhnya.”
“Yaa salaam,” ucap Ba’da dan Jacky secara bersamaan.
__ADS_1
ANUMERTA
Di sebuah tempat ada test untuk kenaikan pangkat angkatan laut. Syaratnya mudah saja, siapa prajurit yang bisa menahan napas paling lama di dalam air. Maka dia akan dinaikkan pangkat sesuai dengan lamanya dia menahan napas.
Setelah serangkaian seleksi administrasi dan psikotest, terdapat tiga orang prajurit yang berhak mengikutinya. Sementara prajurit yang lain hanya bisa pasrah terhadap nasibnya. Karena tidak bisa ikut syarat kenaikan pangkat yang relatif mudah ini.
Akhirnya tiga orang itu pun di test. Di sebuah danau yang cukup dalam. Prajurit pertama bernama Fatih. Dia bersiap dan mulai menyelam. Sekitar sepuluh menit dia menyembul keluar. “Sepuluh menit, duapuluh detik!” teriak penguji.
Dengan pencapaian itu Fatih berhak menyandang kenaikan pangkat Kolonel. Alangkah senangnya perasaan Fatih. Lalu lanjut prajurit kedua, dia bernama Ba’da. Dia bersiap, penguji memberikan aba-aba, dan dia menyelam.
Lalu, sekitar limabelas menit kemudian. Dia menyembul ke permukaan. “Limabelas menit, empatpuluh lima detik!” teriak penguji.
Woww, sungguh fantastis. Dengan pencapaian itu Ba’da berhak memperoleh kenaikan pangkat hingga menjadi Komodor. Girang benar si Ba’da dia sampai keliling mondar mandir di danau itu. Lanjut ke prajurit yang ketiga, dia bernama Jacky.
Sama dengan kedua rekan-rekannya. Dia pun bersiap, dan begitu aba-aba diberikan. Dia menyelam. Sudah sepuluh menit berlalu. Pilinan waktu berjalan lagi. Hingga kini sudah limabelas menit.
Hingga tigapuluh menit kemudian. Dia nongol dan mengambang. Hingga gelar yang diberikan kepadanya adalah, Anumerta.
MUDA BELUM TENTU HEBAT
Pagi hari yang lembab di kota Halimun. Malamnya diguyur hujan yang lebat selama hampir lima jam. Asap-asap pabrik bercampur dengan sejuknya embun menambah suasana kota kecil yang lembab ini kian romantis.
Pemukiman-pemukiman modern dan pemukiman-pemukiman klasik bergaya abad delapan belas. Menghiasi tatakota ini. Di lorong-lorong gelapnya para penjaja surat kabar mengabarkan berita yang sangat mengejutkan.
Tentang wanita muda berusia duapuluh tahun, yang menikah dengan pria tua berusia tujuhpuluh tahun. Sungguh luar biasa bukan. Persepsi penduduk kota terbagi menjadi tiga, dengan berita tersebut.
Ada yang bilang itulah cinta sejati. Ada juga yang bilang si wanita hanya mengincar harta dari si pria tua. Karena usia si pria paling tinggal beberapa tahun lagi. Ada juga yang tidak memiliki pendapat dan persepsi apapun.
Belum habis rasa terkejut para penduduk. Dua hari setelah pernikahan itu tepatnya pada malam Jum’atnya sang wanita muda diberitakan meninggal. Menurut pemeriksaan dari tim forensik kepolisian. Wanita muda tersebut meninggal karena tertusuk benda tumpul dan berkarat.
__ADS_1
Satu minggu setelah pemberitaan yang mengejutkan warga kota itu. Surat-surat kabar kota lembab tersebut, kembali dikejutkan dengan pernikahan lintas zaman. Seorang pemuda berusia duapuluh tiga tahun. Menikah dengan seorang wanita tua berusia delapan puluh tiga tahun.
Sama seperti yang sebelumnya. Pernikahan ini juga membuat persepsi penduduk menjadi terbagi. Lalu, nasib si pemuda pun tragis. Pria muda tersebut dikabarkan meninggal pada malam hari. Di malam pertama pernikahannya.
Setelah mereka melangsungkan pesta. Menurut info dari pihak kepolisian. Kuat dugaan, pria muda tersebut meninggal karena meminum susu yang sudah basi. Menyebabkan pencernaannya lengket dan berkerut.
MATADOR
Di sebuah restoran mewah, Ardan hanya bisa menatap lesu pada makanan yang telah disajikan untuknya. Sebagai kritikus makanan, dia bosan dengan menu-menu makanan yang ada di kota ini.
Dia mau hal yang baru, yang unik, yang kreatif. Namun tetap ada di lingkungan sekitarnya. Lalu dia melihat ke sampingnya. Ada dua orang asing yang makan dengan begitu lahapnya. Ardan penasaran.
Dia lalu memanggil pelayan dan menanyakan menu apa yang dimakan oleh dua orang asing tersebut. Hingga mereka makan dengan lahap dan nikmat. Ternyata benar, menu yang disajikan untuk kedua orang asing tersebut adalah menu yang luar biasa.
“Menu itu bernama, El Matadore,” ucap si pelayan.
Akhirnya Ardan memesan menu tersebut. Namun sayang, menu tersebut tidak bisa dipesan secara langsung. Bahan dasar dari menu tersebut adalah daging banteng yang kalah dalam pertandingan matador, di tiap akhir pekan. Jika ingin memesannya harus satu minggu terlebih dahulu.
Lalu, waktu untuk memesan juga sudah habis. Terakhir adalah di jam sepuluh hari ini, sementara serakang sudah jam duabelas. Ardan tetap memaksa. Jika dia tidak dapat menu itu, dia akan membuat tulisan kritikan yang akan menjatuhkan restoran ini.
Akhirnya si pelayan memasukkan namanya ke dalam daftar pemesan El Matadore, di minggu depan. Waktu pun bergulir begitu cepat. Ardan kembali ke restoran tersebut. Dia mengkonfirmasi jika sudah memesan tempat dan makanan dari satu minggu yang lalu.
Tempat dan hidangan pun disiapkan. Setelah matang, disajikan di atas meja Ardan. Sungguh nikmat rasanya masakan ini. Ardan memakannya dengan lahap. Namun, ada satu hal yang menurutnya kurang adil.
“Mas maaf. Saya mau tanya. Kok daging punya saya lebih kecil yaa, dibanding daging orang yang minggu kemarin makan?” tanyanya.
“Iyaa, Pak. Karena Bapak kebagian buah zakarnya banteng," jawab si pelayan.
Setelah kejadian itu. Ardan berhenti menjadi kritikus makanan. Dia beralih profesi menjadi paranormal.
__ADS_1