
Malam ini, masih sama dengan malam-malam yang sebelumnya. Aku mendengar pertengkaran ayah dan kakek lagi. Ini sudah yang ketiga kalinya dalam minggu ini. Ayah sangat marah jika ditegur oleh kakek.
Padahal kakek menegurnya bukan tanpa alasan. Itu disebabkan ayahku adalah seorang pengangguran dan pemabuk. Ibuku yang selama ini bekerja membanting tulang untuk menafkahi keluarga kami. Itu pun masih sering kena omelan dan tamparannya.
Kakek sering meminta ibu untuk menceraikan ayahku, karena dirasa dia itu pria yang tidak berguna. Namun, sering juga ibuku menolaknya. Berharap suaminya akan menjadi orang yang baik lagi. Berjanji dia akan membantu suaminya, untuk bisa bangkit dari keterpurukan. Karena perusahaan miliknya yang bangkrut.
Tapi apa mau dikata. Sudah hampir tiga tahun ini ayahku seperti itu. Dia berubah, yang tadinya membanggakan, menjadi menjijikkan. Bahkan dalam beberapa minggu ini. Aku sudah enggan berbicara dengannya.
Aku terlelap sebentar di kamarku yang sempit dan sumpek ini, yang setiap hujan deras kena tampiasan dari luar. Kerongkonganku kering. Rasa haus seperti mencekikku. Aku keluar dari kamar untuk minum air dilantai bawah.
Aku menuruni anak tangga rumahku secara perlahan. Baru tiga turunan anak tangga. Aku seperti mendengar suara aneh. Sumbernya berasal dari ruang makan. Aku perlahan menuruni anak tangga. Suaranya seperti seseorang yang memukuli sesuatu.
Duaag. Bletakk. Duagg.
Aku mengintip dibalik tirai ruang makan. Untuk melihat apa yang terjadi. Astaga, aku sungguh terkejut melihat apa yang sedang terjadi. Aku melihat ayahku sedang memukuli seseorang.
Dia berada cukup jauh dari tempatku mengintip. Posisinya membelakangiku. Dengan palu gada yang dia punya. Dia memukuli seseorang dengan sekuat tenaga. Duaag. Bletakkk. Takk. Dugg.
Darah terkadang muncrat terhempas ke baju dan wajahnya. Cipratannya juga mengenai dinding dan meja makan kami. Sedangkan ibuku, hanya bisa terduduk diam dikursi makan tidak jauh dari ayahku. Dia tidak berani menatap apa yang sedang diperbuat oleh ayahku. Ibu hanya menutup mata dan sesekali menangis.
Sungguh sangat mengerikan apa yang dilakukan oleh ayahku. Lalu yang menjadi pertanyaan besarku adalah. Siapa yang sedang dipukuli oleh ayahku? Atau jangan-jangan. Astaga, jangan-jangan itu kakek.
Aku bergidik ketakutan membayangkan itu. Spontan langkah kakiku mundur dan menyenggol kaleng cat yang ada di lantai. Hingga menimbulkan bunyi. Gawat, aku takut ketahuan ayah.
__ADS_1
Aku mencari tempat untuk bersembunyi, dan tidak aku dapati tempat lain selain belakang pintu kamar mandi. Aku berharap ayah tidak bisa menemukanku disini. Aku segera bersembunyi. Kemudian aku intip dari celah pintu. Aku dapati dia sedang mencari-cari sumber suara tadi. Suara yang sedikit mengganggu fokusnya saat memukul tubuh tadi.
Dari celah pintu wajahnya dipenuhi oleh darah korbannya. Tatapan matanya tidak sehangat tatapan mata ayahku dulu. Tatapan mata yang kini aku lihat adalah tatapan mata iblis, penuh kebencian dan kejam.
Palu gada yang dia pakai tadi masih tergenggam di tangannya. Jika ia masuk ke kamar mandi ini. Aku hanya bisa pasrah menerima nasibku. Jika aku tutup pintunya juga, ia pasti akan lebih curiga.
Tapi nyatanya ia tidak masuk ke dalam kamar mandi ini. Ia kembali membalikkan badan dan menuju ke ruang makan kembali. Inilah kesempatanku untuk kabur dari rumah ini. Aku pun berlari ke pintu. Namun pintunya terkunci, dan aku pun tidak menemukan kuncinya.
Aku mendengar suara langkah kaki lagi yang seperti hendak ke mendekati tempatku berdiri. Aku buru-buru lari ke lantai atas. Masuk ke dalam kamarku dan mengunci pintu dari dalam. Berharap keadaan akan segera membaik, lalu aku bisa keluar dari rumah ini melalui jendela kamarku. Tapi, hujan amat deras diluar. Kabutnya juga tebal malam ini, aku nyaris tidak bisa melihat apa-apa diluar. Bagaimana ini?
Apakah aku tetap keluar atau berdiam diri dulu disini sampai pagi, dan merencanakan kabur di esok hari. Aku perhatikan jika kamarku cukup aman. Aku mendorong lemari pakaianku secara perlahan ke arah pintu. Agar jika ayahku ingin berbuat macam-macam, ia tidak bisa dengan mudah membuka pintu kamarku.
Pada akhinrya, aku terlelap, dan terbangun di pagi harinya. Ahh, syukurlah aku masih hidup. Ini saatnya untuk kabur dari rumah ini. Aku melihat situasi diluar rumah. Astaga, masih hujan juga rupanya. Malah sudah menyebabkan banjir. Ahh, apa itu?
Aku melihat dari jendela kamarku. Ayah dan ibu habis dari luar. Ayah seperti habis membeli makanan dan ibu mengikuti di belakangnya. Tahu begitu seharusnya aku tadi bangun lebih awal. Kini, aku terjebak lagi dirumah ini.
“Tinaa, Tinaa!” pekik ayahnya.
Ayah memanggilku? ada apa? lalu apa yang harus aku lakukan? aku bingung setengah mati. Sikap apa yang harus aku ambil. Akhirnya aku tidak menyahut panggilannya, dan tidak juga menghampirinya.
Hal yang tak terduga pun terjadi. Dia mengetuk pintu kamarku dengan lembut dan berkata, “Tina ini ayah bawakan makanan dan minuman, karena dari semalam kamu belum makan,” ucapnya.
Astaga, apa maksud semua ini? atau jangan-jangan ia ingin menjadikanku seperti hewan qurban. Ia memberikanku makan yang banyak terlebih dahulu. Lalu aku … ahh, sudahlah lebih baik aku disini saja berjaga-jaga. Tapi, tidak bisa dipungkiri. Perutku amatlah lapar.
__ADS_1
Akhirnya aku geser lemari yang menghalangi pintu kamarku. Ku buka pintunya, dan kudapati sepiring nasi goreng dengan telor dadar kesukaanku. Serta susu hangat dan air putih disampingnya.
Aku menelan ludah, dan akhirnya lepas kendali memakan semua hidangan ini. Tanpa peduli ini diracun apa tidak. Sebab nasi goreng dengan telor dadar hangat dan susu hangat di pagi hari. Sangat sulit untuk dilewati begitu saja.
Aku makan semuanya, menunggu reaksinya di satu jam kemudian. Hasilnya aku tidak apa-apa. Sungguh aneh apa yang terjadi dirumah ini. Ataukah tadi malam itu yang aku lihat hanya mimpi. Atau bisa juga halusinasiku.
Tapi, tadi malam itu sungguh nyata. Yaa, ini pasti nyata. Aku tidak bisa menemukan jawabannya sendiri. Baiklah, aku akan bertanya kepada ibu dan memastikan apa yang sebenarnya terjadi.
Jika memang tadi malam itu benar kakek yang dihabisi oleh ayah. Harusnya ibu teriak minta tolong. Atau jangan-jangan cinta ibu yang telah membutakan dirinya. Kemudian, ayah kemana kan mayat kakek?
Sebaiknya untuk lebih aman, aku pergi saja dari rumah ini. Aku menuju pintu depan, dan ternyata dikunci. Kuncinya juga tidak ada disekitar pintu ini, pasti ayah menyimpannya. Aku buka paksa pintunya gak ke buka juga. Aku dobrak, bahuku terasa sakit.
“Siapa itu dipintu!?” teriak ayah.
Aku mendengar langkah kakinya perlahan berjalan menuju tempatku. Tanpa pikir panjang aku langsung berlari ke samping. Berniat untuk bersembunyi. Aku masuk ke kamar ibu. Aku berniat bersembuyi didalam lemarinya. Aku buka lemari itu.
Bruugh.
Belum sempat aku masuk kedalamnya. Dari dalam lemari ada sesosok tubuh yang jatuh berdebam ke lantai, dan itu adalah sosok ibuku. Kepalanya penuh dengan darah dan remuk. Memar-memar nyaris di sekujur tubuhnya.
Tenryata … sosok yang tadi malam dipukuli ayah dengan palu gada hingga mati adalah ibuku. Jadi yang tadi malam duduk disampingnya, serta yang mengikuti ayah itu? mungkinkah itu arwahnya?
Aku menoleh ke ujung kamar. Mendapati sesosok bayangan seperti sosok ibuku. Dia berdiri melayang menatapku. Wajahnya separuh rusak. Matanya keluar, rahang kanannya bengkok, kupingnya tak henti-henti mengeluarkan darah. Ia berucap lirih, “Pergilah, Nak!”
__ADS_1
Aku terkejut mendengar ucapannya. Seketika itu juga aku bangkit berdiri. Namun, baru aku ingin beranjak pergi. Dari pintu sudah muncul ayah membawa palu gada. Matanya memerah penuh amarah, dan ia menghantamkan palu gadanya ke kepalaku.
Duagh.