Istirahat Sebentar

Istirahat Sebentar
Malam Menjelang Pergantian Tahun Baru


__ADS_3

Entah mengapa pada saat ini rasanya, aku seperti bisa melihat mimpiku tanpa terlelap. Aku bisa melihat jelas jika di depan mataku, ada sebuah gundukan bukit kecil yang ditengahnya ada seorang gadis kecil berusia sekitar tiga atau empat tahun.


Dia sendirian, tanpa ada orang tua atau siapa pun yang bersamanya. Tatapan matanya kosong. Wajahnya bulat menggemaskan. Dia menggendong-gendong boneka berbentuk manusia yang ada di genggaman lengannya yang gemuk.


Di sebelah kiri sudut pandanganku ada kumpulan asap hitam yang mengepul dan mengeluarkan bau yang tidak sedap. Seperti bau amis dan kotoran yang bercampur aduk. Sehingga aku tidak terlalu fokus pada gundukan yang ada di depan mataku.


Gadis kecil tersebut bergerak perlahan dan menuju sebuah kursi yang ada di dekatnya. Dia kemudian duduk dengan gelisah di kursi itu. Sebuah kursi kayu berwarna coklat dengan ukiran yang aneh mengelilingi kursi tersebut.


Entah seperti ukiran tulang atau ukiran tanaman menjalar. Aku melangkah perlahan maju untuk melihat dengan jelas, ternyata gadis kecil itu tidak sendirian. Dia dikelilingi oleh bebeapa orang-orang dewasa yang berbaris dan membentuk lingkaran di sekitarnya.


Gadis kecil tersebut nampak ketakutan pada kerumunan barisan orang yang melingkarinya itu. Seolah-olah sedang mengobservasi dan hendak menghukum gadis itu. Aku merasa kasihan pada gadis kecil tersebut dan ingin sekali segera menolongnya.


Karena sewaktu barisan lingkaran orang-orang itu bergerak maju ke arahnya, semakin keras dan menyedihkan suara gadis kecil itu dalam menunjukkan ketakutannya. Tanpa pikir panjang lagi aku bergerak lari untuk membantu dan menolong gadis kecil itu.


Berlari menaiki bukit kecil itu, menerobos barisan lingkaran yang mengelilinya dan melihat keadaan gadis itu. Setelah hal itu semua aku lakukan. Aku berhasil sampai di dekat tempat gadis itu berada.


Aku merapikan beberapa helai rambut yang menghalagi pandanganku. Lalu mulai fokus ke gadis kecil itu. Namun apa yang aku lihat sangat jauh dari harapanku dan amat sangat mengerikan. Karena gadis yang aku lihat ketakutan dari kejauhan itu, ternyata tidak memiliki wajah.


Ukiran yang ada di kursi kayunya tempat dia duduk. Ternyata terbuat dari isi perut manusia. Aku sangat ketakutan dan panik melihat hal itu. Aku berjalan mundur menjauhi gadis itu yang kepalanya mulai diposisikan ke arahku. Untuk melihatku.


Kakiku seperti tersangkut sesuatu ketika aku berjalan mundur, sehingga aku terjatuh di tanah bukit kecil itu. Tapi, setelah aku raba dan mengenggam tanah penyebab aku terjatuh. Aku merasakan ada yang aneh pula dari gundukan bukit kecil ini.


Ternyata aku tersangkut tangan manusia. Aku melihat ke arah kiri dan kanan untuk melihat apakah sebenarnya bukit ini. Bukit ini tidak terbuat dari tanah, bebatuan atau pun rerumputan. Aku melihat wajah ayah, ibu dan abang-abangku.


Bahkan teman-teman yang aku kenal. Terutama Selfie, aku melihatnya dalam keadaan terbaring dan penuh darah di sekujur tubuhnya. Aku meluruskan pandanganku, ternyata bukit ini terbuat dari gundukan mayat orang-orang yang aku kenal, yang sudah mengering dan tidak bernyawa.


Gadis kecil itu masih memposisikan wajahnya ke arahku dan samar-samar aku mendengar suaranya yang melengking dan terkesan penuh dengan ke putus-asaan, berkata. “Apakah kamu yang berikutnya?”



Aku lantas terbangun dari tidurku. Ahh, syukurlah. Itu hanya mimpi. Ternyata aku masih disini. Masih di rumah sakit menunggu dan menjaga Selfie di malam ini. Malam pergantian tahun baru 2023. Kasihan Selfie, sudah tiga hari ini terbaling lemah di rumah sakit.



Orang-orang di malam pergantian tahun mahh, pada seneng-seneng. Pada jalan-jalan, pada liburan, makan-makan. Ehh ini malah tiduran di rumah sakit. Terbaring lemah karena kena *anemia* parah.



Ayah dan ibunya berada jauh di Palembang. Dia adalah seorang anak rantau. Aku kasihan ketika mengetahui kondisinya. Aku pun memutuskan untuk menjaga dan menungguinya di rumah sakit ini. Mulai dari pagi ini, hingga esok.


__ADS_1


Selfie sendiri yang memintaku datang ke rumah sakit ini. Aku yang gak pernah dirawat dan merawat keluarga sakit di rumah sakit. Kurang tahu seluk beluk dan tata cara apa saja yang harus dilakukan untuk menjaga dan menunggu orang di rumah sakit.



Aku hanya sekedar membantu dan menunggu Selfie dengan sebisaku saja. Selfie takut kalau tidur di rumah sakit ini sendirian. Karena pernah waktu dia tidur, tiba-tiba ada suara langkah kaki namun hanya sebatas telapak kaki saja sampai lutut yang berdarah-darah.



Tidak ada tubuhnya. Sontak hal itu amat sangat membuat Selfie ketakutan. Selain itu kadang Selfie juga sering melihat ada anak kecil berlumuran darah di kolong tempat tidurnya. Sambil ketawa cekikikan.



Selfie, Selfie. Kebanyakan baca cerita horor si lu. Jadinya kebayang-bayang sendiri kan. Padahal di ruangan melati ini. Dia juga gak sendirian. Ada pasien lain di depannya. Seorang bapak-bapak, tinggi besar, rambutnya gondrong dan mempunyai bewok yang lebat.



Di lihat dari kondisinya. Sepertinya si bapak itu habis kecelakaan. Karena kepalanya di perban, mata kanannya juga ditutup perban. Tangan kirinya juga di perban dan darah merembes dari kain perban yang membalut tangannya itu.



Selain bapak-bapak tadi. Di samping kanannya Selfie persis, juga ada pasien cewek sepantaran kami. Rambutnya panjang, matanya cekung, pipinya tiris. Tapi orangnya tinggi banget. Kayaknya, ini orang model yang lagi kena *typuss* dehh.




Dia menaruhnya di meja dekat ranjang Selfie, lalu keluar begitu saja dengan langkah terburu-buru. Jangan-jangan lagi kebelet boker. Menu makan malam pasien malam ini. Sayur soup, ayam goreng dan buahnya pepaya.



“Mau gue suapin apaan dulu, Sel?” tanyaku.



“Mmm… pepaya aja dulu, Mel,” jawab Selfie.



Aku mengambil pepaya tersebut dengan garpu dan hendak menyuapinya ke mulut Selfie. Namun pepaya nya licin dan terjatuh ke lantai. “*Allahu Akbar*.” sontakaku menyebut takbir, dan mengambil pepaya yang terjatuh tadi di kolong tempat tidur pasien.


__ADS_1


Ingin aku taruh tempat sampah. Tapi anehnya itu pepaya gak ada. Lalu, pada saat aku kembali duduk tegak untuk meminta maaf kepada Selfie, karena telah menjatuhkan pepaya nya. Si Selfie juga gak ada.



Bapak-bapak pasien yang ada di depan, dan cewek di samping Selfie juga gak ada. Pada kemana mereka? Hp ku berbunyi setelah dari tadi sepi dari apapun. Tapi ketika aku lihat, ternyata ada sekitar sebelas panggilan tak terjawab dari ibu.



“Aneh, perasaan ini hp gak di silent, terus sekarang kenapa baru bunyi. Padahal ada sebelas panggilan masuk dari ibu,” ucap Melly.



Akhirnya, dia mengangkat panggilan masuk dari ibunya tersebut. “Hallo, *Assalamulaikum*, Buu. Ada apa?” ucap Melly.



“*Waalaikum salam. Alhamdulillah*. Melly kamu dari mana aja, Nak?” tanya ibunya.



“Aku lagi dirumah sakit, Buu,” balas Melly.



“Di rumah sakit? sama siapa? memangnya siapa yang sakit?” tanya ibunya lebih lanjut.



Melly pun menceritakan di rumah sakit mana dia saat ini. Sedang apa dan sama siapa. Serta berapa lama dia sudah ada di rumah sakit ini. Pikir dan seingatnya belum ada satu harian dia berada di rumah sakit ini.



Namun reaksi ibunya sangat diluar dugaan. “*Astaghfirullah*, Melly!” ucap ibunya.



“Kenapa, Buu?” tanya Melly.



“Istighfar, Nak. Rumah sakit yang kamu sebut tadi itu, sudah lama gak beroperasi. Sudah lama tutup. Jadi gedung kosong terlantar sudah sekitar lima tahunan. Info yang ibu dapat juga dari teman-teman kamu yang lain. Kalau si Selfie itu sudah meninggal tiga hari yang lalu karena kurang darah, akibat dari kecelakaan. Kamu itu sudah menghilang selama tiga hari tiga malam, Nak. Ayah dan abang-abangmu sampai mencari-cari kamu kemana-mana,” ucap ibunya menjelaskan.

__ADS_1



Lalu Melly, merasa lemah seketika. Setelah mendengar penjelasan dari ibunya itu. Samar-samar dia seperti mendegar ada suara langkah kaki yang mendekat kepadanya.


__ADS_2