
MILIK PEMDA DKI
Usia kehamilan istri tercinta Sabeno saat ini sudah memasuki jalan enam bulan. Ini adalah calon anak keduanya. Terakhir usg dokter menyatakan, jika bayi yang dikandung istrinya perempuan. Jika begitu, Sabeno sangat bersyukur sekali. Anaknya sudah sepasang nanti.
Seiring bertambahnya usia kehamilan dan perut istrinya yang semakin membesar. Semakin bertambah pula masalah yang Sabeno hadapi. Istrinya itu ngidamnya unik. Dia minta jalan-jalan terus hampir tiap sore dengan naik motor.
Masalah utamanya adalah. Jalan yang dilaluinya saat ini semenjak dicabutnya PPKM amat sangatlah ramai. Bawa kendaraannya baik itu mobil pribadi atau angkutan umum. Baik itu yang beroda dua atau lebih.
Pada ngebut-ngebut semua. Pada saling balap membalap. Salip menyalip. Hingga membuat Sabeno merasa khawatir, takut pada saat dia boncengin istrinya buat ajak jalan-jalan. Ada yang nyenggol motornya.
Akhirnya, Sabeno punya ide. Dibuat tulisan di komputer dengan huruf yang besar-besar. Lalu di print dan dia laminating agar gak gampang basah dan lecek. Lalu dia pasangkan tali di tulisan tersebut.
Pada saat hendak jalan-jalan sore untuk memenuhi rasa ngidam istrinya tersebut. Sabeno langsung memakaikan tulisan itu ke tubuh istrinya. Dia kalungkan di belakang istrinya. Tepatnya di pundaknya.
Hebatnya, jangankan mendahului, membalap atau menyalip motorya. Untuk mendekat saja, motor dan mobil tidak ada yang berani. Karena penasaran, ketika sudah beres jalan-jalan sore. Si istri coba melihat tulisan yang ada di pundaknya tadi.
Disitu tertulis besar-besar kata dengan huruf hitam. ‘MILIK PEMDA DKI’.
“Pantesan mobil dan motor gak ada yang mau ngedeket. Tulisannya aja kayak gini. Lu pikir gue mobil truk sampah!!” bentak istrinya, jengkel.
Sabeno hanya ketawa-ketawa saja. Menganggap itu pujian dan tanda terima kasih dari istri cantik tercintanya.
SUARA NYAMUK
Malam hari yang gerah. Ditambah lagi Sabeno susah tidur. Bagaimana mau tidur nyenyak, dari tadi dia diganggu terus sama suara nyamuk yang seolah bernyanyi di telinganya. Membuat dia jadi terbangun terus.
Ngiiingg… ngiingg…
Suara nyamuk tersebut amat sangat mengganggu Sabeno. Akhirnya dia ketemu ide. Dia mengoleskan obat anti nyamuk itu ke sekitar telinganya. Namun, hasilnya lebih parah. Dia malah jadi susah tidur, karena kupingnya jadi panas.
Sabeno putus asa dan hanya bisa tertuduk diam di pinggir tempat tidurnya. Pada saat yang bersamaan. Dia melihat ada seekor nyamuk yang sedang menghisap darah dari pahanya yang burik itu.
__ADS_1
Pikiran jahat langung saja merasuki Sabeno. Dia tidak berpikir untuk menepok nyamuk yang ada di pahanya itu. Dia punya rencana yang lebih licik dari itu. Dia membiarkan nyamuk itu menghisap darah kotornya.
Darah yang dia anggap keturunan dari darah bangsawan Mesir Kuno. Dia terus perhatikan nyamuk itu sudah mulai kekenyangan. Perutnya sudah buncit, dan melihat juga jika nyamuk itu sudah menguap. Itu pertanda nyamuk itu sudah mulai mengantuk.
Benar saja, nyamuk itu memang berniat untuk terbang. Tapi kemudian terjatuh, karena kekenyangan dan mengantuk. Dia terjatuh tepat di bantal tidur Sabeno dan saat itu juga Sabeno membalas dendam.
“Sooolali lali, lalaa oo laa. Biasanya tak pakai minyak wangi.”
Sabeno menyanyi di kuping nyamuk tersebut untuk menganggu tidurnya. Alih-alih mengganggu nyamuk tersebut. Jusru malah istrinya lah yang terganggu. Tengah malam, lagi hamil, dia melihat suaminya nyanyi-nyanyi sendiri sambil goyang kayang.
Alhasil, sandal pun melayang tepat ke wajah Sabeno. Plaakk.
KURANG YAKIN
Sore itu, Sabeno berniat untuk jalan-jalan berkeliling di kampungnya. Dia bosan di rumah terus. Kena omel istrinya terus. Dia keluar dengan memakai sandal favoritnya. Sesampai di dekat halaman masjid.
Sabeno tidak sengaja menginjak ee ayam. Dia liat di sendalnya itu. “Kok, mirip ee ayam yaa? ucap Sabeno kurang yakin.
“Ihh, iya nih. Rasanya becek-becek anget gitu. Ini mahh bener ee ayam,” gumamnya.
Tapi Sabeno masih saja kurang yakin. Dia memutuskan selain mencolek, dia juga mendekatkannya ke hidung dan menciumnya dengan lamat-lamat dan penuh dengan perhatian penuh.
“Aiih, ini benaan ee ayam. Baunya kayak ketek si abah,” ucapnya lebih lanjut
Namun, karena masih juga kurang yakin. Pada akhirnya kali ini. Sabeno bukan hanya mencolek dan menciumnya. Tapi juga sedikit mencicipinya. Lalu dia pun sedikit berpikir kalau rasa ini bukanlah yang biasa.
“Astaga, ini mahh bener ee ayam. Pulang dulu ahh,” ujar Sabeno kemudian.
Sesampai di rumah. Dia ditanya sama istrinya kenapa pulang lagi, padahal belum lama keluar. Sabeno hanya menjawabnya sambil lalu. Kemudian menuju ke kamar mandi. Malah untuk mencuci kakinya yang tidak kenapa-kenapa.
Beres cuci kaki di kamar mandi, Sabeno keluar lagi hendak jalan-jalan sore. Dia dapati istrinya masih duduk-duduk di bangku teras depan sambil makan mie ayam pangsit. Melihat suaminya hendak keluar lagi. Istrinya pun bertanya.
__ADS_1
“Mau kemana lagi, Bang?” tanya istrinya.
“Mau jalan-jalan sore bentar,” jawab Sabeno.
Dia pun memakai kembali sandal yang ada ee ayamnya tadi. Istrinya yang melihat itu keheranan, dan bertanya kepada Sabeno. “Bang, itu kan sandal kena ee ayam?”
“Yaa tapi kan ini sandal favorit Abang, De,” jawab Sabeno.
Istrinya tepok jidat pake mangkok mie ayam, “Terus tadi ke kamar mandi Abang ngapain?”
“Yaa cuci kaki laah, Dee,” jawab Sabeno santai sambil mengedip-ngedipkan matanya ke istrinya.
“Yaa ampun, Bang. Bego lu gak berperikemanusiaan,” ujar istrinya.
SOSOK TINGGI BESAR DAN BOTAK
Sabeno pun kembali melanjutkan jalan-jalan sorenya. Ketika sampai di lapangan bola kampungnya, Sabeno sempat terkejut dan kasihan. Dia melihat anaknya hanya bengong menatap kawan-kawannya yang ceria bermain bola.
Sabeno yang iba, akhirnya mendekati anaknya. Dia berdiri tepat di samping anaknya. Dia menatap polos sikap anaknya itu. Seolah-olah dia bisa membaca jika anaknya sangat ingin bermain bola dengan teman-temannya.
“Nak, yang sabar yaa,” ucap Sabeno.
“Sabar kenapa, Pak? Ilham lagi jadi keeper jangan diajak ngbrol nanti kebobolan,” ujar anaknya.
Sabeno yang mendengar perkataan anaknya itu kaget. Akhirnya dia berpura-pura menjadi tiang gawang sejenak. Lalu kemudian pergi dari lapangan itu. Melanjutkan jalan-jalan sorenya yang indah di hari yang sejuk ini.
Tidak lama kemudian, permainan bola anaknya dan teman-temannya sudah selesai. Tepat setengah jam sebelum adzan maghrib berkumandang. Permainan hari ini dimenangkan oleh tim Ilham dan kawan-kawannya.
Temannya yang menjadi lawan bertandinya pada permainan bola sore ini, sempat protes ke rekan satu timnya. Karena menyia-nyiakan peluang emas di depan gawan Ilham.
“Mud, lu kenapa tadi sia-sian peluang emas? Kalau itu goal kan, kita bisa imbang dua sama,” ucap Juki.
__ADS_1
Dengan nada gemetar ketakutan, Mahmud menjawab, “Sumpah, tadi gue ngeliat sosok tinggi besar dan botak di depan gawang Ilham.”