
Kemudian, kisah pun masih berlanjut di pagi harinya. Setelah beberapa malam penuh dengan ketenangan tanpa ada gangguan apa pun selama mereka syuting dan bekerja di sini. Karena mereka semua berkomitmen hanya untuk bekerja saja di gunung ini. Tidak untuk berbuat macam-macam.
“Tadi malem itu disini kayak ada…” ucap Andi memulai obrolan.
“Hantu,” Adit melanjutkan kalimatnya.
“Bukan,” jawab Andi dan Woro. Menggeleng bersama.
“Setan,” ucap Adit lagi.
Mereka masih menggeleng. Adit semakin bingung. “Siluman, pocong, genderuwo, kuntilanak, kuyang, suster ngesot, babi ngepet, buto ijo, kolor ijo, kolor kendor, koruptor, caleg kampanye.”
Adit menyebutkan hampir semu makhluk menyeramkan yang ada hampir di seluruh nusantara ini. Tapi mereka berdua tetap saja menggeleng bersama.
“Terus apaan?” tanya Bang Salim. Mulai kesel.
“Maung, Bang,” jawab Woro.
“Maung? macan maksudnya?” selidik Bang Salim
“Iyaa Bang. Macan.” jawab Andi menegaskan.
Wajah Andi dan Woro terlihat menjadi sangat panik ketakutan. Pantas pagi-pagi buta sudah rame ngumpul dan ngborol. Tapi apakah memang bener ada macan kah di sini?
“Waduh ada yang langsung lihat beneran, Aa?” tanya Tian dengan logat sunda. Penasaran sambil terlihat menelan ludah.
Sedangkan Adit masih ngikutin aja sambil sesekali ngengaruk kakinya karena gatal kena rerumputan. Sedangkan Bang Salim sekali lagi bertanya kepada Andi dan Woro, apakah mereka berdua benar-benar melihatnya?
“Enggak. Tapi ada kotorannya di deket rumah ini. Gede banget,” jawab Andi, yang juga di iyakan oleh Woro.
“Serius itu ‘ee macan. Bukan ‘ee si Aleh? Si Aleh kan makannya banyak, badannya juga gede?” tanya Bang Salim dengan nada becanda.
__ADS_1
Membuat Adit dan Tian sedikit tertawa. Tian kemudian menanyakan kepada Andi dan Woro, dimana letak posisi itu ‘ee sekarang. Tapi mereka berdua menjawab kalau ‘ee itu sudah mereka bersihkan.
Sambil menunjukkan sisa bekas ‘ee yang sudah dibersihkan tersebut. Bahkan baunya pun sudah gak tercium. Membuat kami jadi meragukan cerita mereka berdua. Jangan-jangan mereka mengigau karena kecapean syuting di lokasi gunung seperti ini.
“Udah sekarang lu berdua mending mandi dulu dehh biar fresh. Terus sarapan. Biar lanjut kerja lagi. Lu berdua paling cuma kecapean, dari kemarin ngurusin set sama pawang hujan. Daripada pagi-pagi ngurusin ‘ee. Lu berdua nanti bisa istirahat dulu sekitar setengah jam. Tiduran-tiduran aja dulu gak apa-apa,” ucap Bang Salim memberikan dispensasi kepada mereka.
Mereka berdua menuruti perkataan Bang Salim tersebut. Tapi mereka tetap berpesan kepada kami jika malam ini mesti lebih hati-hati. Kami pun membalas dengan anggukan lemah. Syuting sudah memasuki hari ketiga di Gunung Salak.
Alhamdulillah, sama sekali gak ada kejadian aneh, maupun hewan buas. Seperti macan, beruang atau sejenis hewan-hewan yang lainnya. Kami selesai syuting biasanya sampai jam sepuluh malam. Paling lama bisa sampai jam sebelas malam.
Lalu, setelah syuting kadang dilanjut ngobrol-ngobrol santai sama beberapa kru dirumah warga, tempat mereka menginap sampai sekitar jam dua belas malam. Pokoknya semua terkendali dan aman. Hingga sampai akhirnya. Pada malam kelima, kru kamera bernama Mas Syam jatuh sendiri pas lagi jalan.
Malam itu, kira-kira sehabis waktu Isya. Dia lagi jalan ke arah kamera, lalu tiba-tiba jatuh sendiri begitu aja. Awalanya mereka kira, dia emang pengen rebahan di itu rerumputan gunung yang dingin. Tapi, dia langsung bangun kembali dengan keadaan bingung. Adit dan beberapa kru yang ada di sekitar situ membantunya untuk berdiri kembali.
Dia menepuk-nepuk debu dan beberapa rumput yang nempel di baju dan celana, sambil berkata, “Aneh nihh. Tadi gue berasa, kaki gue kayak disengkat.”
“Disengkat? sama siapa? Sergio Ramos apa Martinez?” tanya Adit. Tidak serius menanggapi.
“Hahh? Maksudnya? siapa yang keganggu? dan siapa yang gangguin siapa?” tanya Adit mulai menanggapi dengan serius.
“Yaa pasti kamu tahu lahh, Dit. Kalo kita emang gak sendirian di area sini,” jawab Mas Syam. Sambil melangkah menjauh meninggalkannya.
Adit lalu berpikir cukup keras, dia merasa rancu banget omongan cameramen tadi. Dia bilang kita emang gak sendirian. Yaa jelaslah, kan ada kru-kru yang lain juga. Aneh banget itu bocah, kebanyakan kena angin malem kali yaa.
Kemudian, ke esokan malam. Salah seorang kru make up artis menjerit kencang dan berlari ketakutan dari sebuah kamar kosong. Dia ditenangin oleh orang-orang. Lalu, dia cerita kepada kami semua.
Dia cerita, pas tadi dia lagi nyantai-nyantai di kamar kosong itu. Dia sempat buka-buka simpenan video bokepnya. Tiba-tiba ada sosok hitam, gede dan berbulu hampir di semua badannya muncul.
Hening diantara kami semua, ketika mendengar penjelasannya. Kru lain yang ikut mendengarkan, ada yang menahan napas. Ada yang ketakutan. Ada juga yang menyalahkan dia. Karena berbuat hal-hal buruk ditempat yang bisa dibilang area sakral.
“Terus dimana dia sekarang?” tanya Bang Salim. Mencoba tenang dan menenangkan.
__ADS_1
“Hilang di tembok itu Bang, kayak kehisap ke dalam tembok,” ucap si kru yang ketakutan.
Semua orang terlihat takut dan masih terdiam saling menatap satu sama lain. Hanya Adit dan Bang Salim yang masih merasa dan berasumsi kalau kru itu cuma kecapean. Dibawa istirahat bentar juga kembali fit seperti semula lagi.
Pemikiran Adit dan Bang Salim masih terjaga dari hal-hal yang berbau mistis dan makhluk gaib. Mereka masih punya alasan yang logis untuk menjelaskan secara sederhana. Kalau kecapean lahh yang membuat beberapa kru jadi mengalami hal-hal yang mereka bilang aneh.
Sampai disini Adit masih santai dan belum percaya, kalau semua itu adalah ulah hantu. Hingga, Adit dan Bang Salim baru mulai sedikit percaya ketika Angela, si pemeran utama wanita. Mengalaminya langsung di depan mata mereka sendiri.
Waktu itu ada pengambilan scene di malam hari. Dia sempat tidur bentar diruang tengah. Tempat kami mengambil beberapa scene artis lain. Angela beristirahat sejenak tidur di sofa properti yang ada di ruang tengah tersebut.
Dia memakai selimut panjang untuk melindungi diri dari hawa dingin yang menusuk. Lalu tidak lama kemudian. Dia lalu kayak mengigau gitu. Menggumam-gumam dan merintih, ngomong-ngomong sendiri. Dalam posisi tertidur dengan mata tertutup. Sampai akhirnya dia terbangun sendiri.
Teman-teman sesama pemain film dan kru juga ada diruangan yang sama. Mereka melihat ke arah Angela. Ada sesama pemain wanita yang memegang keningnya untuk memastikan kondisinya, dan ternyata dia memang gak lagi demam.
“Kenapa, Ngel?” tanya Adit yang juga ada diruangan.
“Barusan kayak ada yang masuk ke badan gue. Gue lagi tidur-tiduran di sofa. Tahu-tahu, kaki gue susah digerakin dan merembet ke atas badan gue. Kuping gue kedengeran suara nggiiing kenceng banget. Terus gelap,” jawabnya.
Kami semua berusaha bersikap tenang dan terlihat gak ngerasa takut. Mencoba berusaha menari alasan logis terhadap hal yang baru saja dialami oleh Angela. Ada beberapa pemain film lain yang menyebut jika Angela hanya sedang bermimpi.
“Gue gak mimpi apa-apa, tapi gue ngerasain banget. Badan gue susah digerakin,” ucap Angela mengelak dan menjelaskan.
Adit berusaha untuk mencari penjelasan secara logis tentang apa yang barusan dialami oleh Angela. Tapi gak dapat. Kemudian, Ketika memasuki hari ke tujuh proses syuting di Gunung Salak, sekali lagi Andi menyaksikan sendiri sebuah kejadian mistis.
Kali ini Andi gak bisa jelasin apa-apa secara logis. Intinya pada saat itu meeka sudah mulai melakukan syuting di kamar mandi. Lokasi kamar mandinya, melewati lorong kamar tempat salah satu kru didatangi sosok bayangan hitam tinggi gede berbulu kemarin.
Adegannya sii simple, disini, Tian yang kebagian jatah pengambilan scene ketakutan karena teman-temannya mati satu per satu ketika habis memakai kamar mandi ini. Lalu, dia penasaran dengan apa yang sebenarnya ada di kamar mandi ini.
Pada film yang sedang dibuat ini. Tian diceritakan berperan sebagai seorang content creator yang hampir di setiap aktivitasnya membawa kamera. Tian berniat untuk membuat konten tentang kamar mandi tersebut.
Dia mulai introducing dan menceritakan tentang hal-hal yang dialami oleh teman-temannya dalam dua bahasa. Yaitu, Inggris dan Sunda. Karena di dalam cerita film ini, Tian adalah seorang anak blesteran Ingris dan Sunda. Lalu, hal-hal yang aneh pun terjadi. bukan hanya sekali. Tapi berkali-kali. Hingga mengganggu proses syuting dan mental dari para kru, terutama Tian.
__ADS_1