
SUARA ANEH DALAM BEDUG
Dodi, Muaz dan Tengku sedang mengikuti kegiatan pesantren kilat di sekolahnya. Acara ini diadakan selama dua hari dua malam. Saat itu, setelah melaksanakan Shalat Tarawih berjamaah mereka berdua berencana untuk membaca Al Qur’an.
Tapi diluar dugaan teman-temannya, Dodi bukannya baca Al Qur’an. Tapi malah nonton bokep di kelas, lewat hp-nya. Muaz dan Tengku menasehatinya. Kalau ini Bulan Suci, jangan dikotorin sama hal-hal kayak gitu. Namun Dodi tidak mendengarkan.
Dia tetap diam di kelas nonton bokep. Sementara teman-temannya, membaur dengan peserta pesantren kilat yang lainnya untuk tadarus Al Qur’an. Malam pun semakin larut. Dodi yang sedari tadi nonton bokep pun mengantuk. Dia tidak sadar ternyata dia junub.
Kegiatan pesantren kilat kali ini. Tidak menyediakan para pesertanya untuk tidur di ruangan khusus. Mereka tidur bersama-sama dalam Masjid Sekolah yang memang besar. Dodi pun menyusul teman-temannya untuk tidur dan istirahat di Masjid. Bayangan wajah dan ******* para pemain bokep itu, masih terlihat dan terdengar jelas di bayang-bayang pikirannya.
Waktu sudah menunjukkan pukul tiga dini hari. Saatnya untuk membangunkan sahur. Si panitia pesantren kilat yang bernama Kak Yahya membangunkan peserta dengan cara memukul bedug besar yang ada di Masjid.
Trek, tek, tek, tek. Dugg, dugg.
“Loo, apaan ini?” gumam Yahya dalam hati. Dia seperti mendengar suara aneh dari dalam bedug Masjid.
Trek, tek, tek, tek. Dugg, dugg. Aaa..aaa..
“Astaghfirullahaladzim!” Yahya menyebut dengan keras, begitu mendegar ada suara teriakan dalam bedug.
Para siswa peserta pesantren kilat pun terbangun. Mereka bersama-sama menuju tempat bedug yang ditabuh oleh Kak Yahya. Bersama-sama mereka memeriksa kenapa suara bedug itu seperti ada suara orang yang berteriak.
Setelah memeriksa ke dalam bedug tersebut. Ternyata, di dalamnya ada Dodi yang sedang meringkuk kaku tak bisa bergerak. Badannya seperti terikat, untuk bersuara pun dia sulit. Hanya bisa menggerakkan kepala dan matanya.
__ADS_1
Para siswa peserta, panita, guru serta ustadz yang bertanggung jawab untuk kegiatan ini bingung dengan kondisi Dodi. Ada apa dengan dia? kenapa bisa kaku seperti itu? dan kenapa bisa ada di dalam bedug masjid juga.
Karena penasaran, akhirnya panita, guru dan ustadz. Setelah sahur dan shalat shubuh berjamaah. Melihat rekaman cctv di malam hari, pada saat semua siswa tertidur di masjid. Dari rekaman cctv itu mereka menyaksikan hal yang cukup mengerikan.
Mereka lihat di rekaman cctv tersebut. Jika kaki Dodi ada yang menariknya, lalu menyeretnya keluar dari masjid dengan cara kasar. Tapi tidak tahu siapa, karena yang menarik dan menyeret Dodi itu tidak ada wujudnya. Mereka hanya melihat wujud Dodi.
Setelah ditarik dan diseret sampai keluar masjid. Di rekaman cctv lain yang ada di dekat bedug. Dodi seperti ada yang mengangkat dan memasukkannya ke dalam bedug. Menyaksikan hal itu, semua orang yang ada di ruangan cctv masjid jadi saling tatap dan penuh curiga ke Dodi.
Akhirnya, mereka menanyakan ke teman-teman dekat Dodi. Apa yang Dodi lakukan sebelum tidur di masjid. Guru agama Islam yang bernama Pak Qomar dan Ustadz Zaid meminta teman-temannya itu agar jujur. Supaya Dodi dapat ditolong. Karena tubuhnya masih kaku sejak tadi.
Akhirnya Muaz dan Tengku menceritakan yang sebenarnya. Pak Qomar dan Ustadz Zaid hanya bisa menggeleng kepala dengan kelakuan Dodi. Akhirnya Dodi diminta bertaubat, istighfar dan menyebut nama Allah. Lalu, dengan bantuan Ustadz Zaid.
Badan Dodi bisa digerakkan lagi seperti sedia kala. Dodi diminta jangan mengulanginya lagi dan bertaubat dengan sebenar-benarnya taubat kepada Allah. Dodi paham serta berjanji akan melakukan taubatan nasuha.
Di malam harinya pukul dua dini hari, dimana peserta pesantren kilat yang lain sedang tertidur. Dodi tegak untuk melaksanakan shalat taubat dan tahajud. Disinilah ujian keimanannya dicoba. Ketika Shalat Taubat dua rakaat.
Di tahiyyat akhir. Ketika duduk diantara dua sujud, ketika jari telunjuknya mulai menunjuk. Dia terkejut karena entah dari mana seperti ada yang menarik. Dia berusaha agar tetap fokus, dia berusaha membuang rasa takutnya.
Karena biarpun lampu Masjid masih gelap. Masih dimatikan agar para siswa tidur lelap. Dodi merasa ada beberapa siswa lain juga yang ikut shalat bersamanya di belakang. Namun ketika, dia selesai shalat, dan melihat ke belakang.
Dia terkejut, karena tidak ada satu pun temannya yang bangun untuk shalat malam. Jadi yang tadi wudhu bareng dan shalat di belakangnya itu siapa? Dia berusaha agar tetap bersikap tenang. Tapi itu sia-sia. Begitu dia melihat sesosok pocong tinggi besar dengan wajah hitam melepuh sedang menatapnya dari kamar wudhu. Dodi ketakutan, dia lari dan bersembunyi di dalam bedug.
JANGAN MASUK!!!
__ADS_1
Amir, seorang anak berusia empat tahun berteriak menangis kelaparan di malam itu. Dia terkapar di lantai tanah gubug reotnya. Sudah hampir dua hari dia tidak makan apa-apa. Dia hanya minum air dengan ibunya. Lalu ayahnya datang, membawa ibunya ke ruang tengah.
Entah apa yang dilakukan mereka berdua dengan lilin dan kembang tujuh rupa. Sampai membiarkan Amir yang berteriak kelaparan pun tidak mereka hiraukan. Amir yang kelaparan, hendak masuk ke sebuah ruangan.
Namun ayah dan ibunya berteriak, “Jangan!!!”
Paginya, dari pengeras suara masjid, mengumumkan jika ada seorang anak perempuan berusia sepuluh bulan meninggal dunia.
Tiga bulan telah berlalu. Amir, seorang anak berusia empat tahun tahun. Berteriak menangis kelaparan di malam itu. Dia terkapar di lantai keramik rumahnya. Sudah hampir dua hari dia tidak makan apa-apa. Dia hanya minum air dengan ibunya. Lalu, ayahnya datang. Membawa ibunya ke ruang tengah.
Entah apa yang dilakukan mereka berdua dengan lilin dan kembang tujuh rupa. Sampai membiarkan Amir yang berteriak kelaparan pun tidak mereka hiraukan. Amir yang kelaparan, hendak masuk ke sebuah ruangan.
Namun ayah dan ibunya berteriak, “Jangan!!!”
Paginya, dari pengeras suara masjid, mengumumkan jika ada seorang anak laki-laki berusia sebelas bulan meninggal dunia.
Tiga bulan berlalu. Amir, seorang anak berusia empat tahun berteriak menangis kelaparan di malam itu. Dia terkapar di lantai marmer rumahnya yang tingkat tiga gedung mentereng. Sudah hampir dua hari dia tidak makan apa-apa. Dia hanya minum air dengan ibunya. Lalu ayahnya datang, membawa ibunya ke ruang tengah.
Entah apa yang dilakukan mereka berdua dengan lilin dan kembang tujuh rupa. Sampai membiarkan Amir yang berteriak kelaparan pun tidak mereka hiraukan. Amir yang kelaparan, hendak masuk ke sebuah ruangan.
Di ruangan itu keadaan pencahayaannya sangat buruk. Remang-remang, di sudut ruangan, ada lemari kayu besar. Amir mendekati lemari tersebut. Karena siapa tahu ada makanan disana. Ketika mendekati lemari tersebut.
Amir tercekat kaget. Karena mendapati ada sosok di atas lemari dengan posisi tengkurap menatapnya. Sosok itu serba hitam ke seluruhan badannya. Kepalanya botak tangan dan kakinya sama panjang. Matanya putih semua, hidungnya panjang seperti paruh burung dan mulutnya berliur. Sosok hitam itu menatap Amir dan menerkamnya.
__ADS_1
Paginya, dari pengeras suara masjid, mengumumkan jika ada seorang anak laki-laki berusia empat tahun meninggal dunia. Dia Amir, anak pasangan Subagyo dan Kumala. Tak lama setelah kematian anaknya. Mereka pun kembali miskin dan tinggal di gubug reot berlantaikan tanah lagi.