
Perang pun kembali pecah di perbatasan. Sisa-sisa pasukan pemberontak Anggur Merah. Mendapat pasokan senjata dan logistik dari negara tetangga, yang menghendaki kemerdekaan dan pemisahan diri dari negara Salju.
Ini, akan memakan waktu cukup lama. Korban-korban sudah semakin banyak berjatuhan dari kedua belah pihak. Banyak orangtua yang kehilangan anak-anaknya. Begitupun sebaliknya.
Banyak istri yang kehilangan suaminya. Adik kehilangan kakaknya, begitupun sebaliknya. Sanak saudara yang terpisah. Juga cita-cita dan harapan yang musnah.
Banyak tenda-tenda penampungan didirikan di daerah-daerah aman. Untuk menampung para pengungsi korban perang. Teriak tangis-tangis anak kecil sering terdengar sahut menyahut di penampungan.
Sedih dan getir amat terasa hidup mereka. Donny pun merasakan jika perang ini akan berlangsung lama. Ia amat sangat memikirkan keadaan Wulan dan bayi yang dikandungnya.
Anak dari buah cinta mereka yang terlarang. Ia berpikir, apa jadinya jika perang belumlah usai. Sementara bayi dalam kandungan Wulan kian membesar. Apa kata sanak saudara dan kedua orangtua suaminya.
Serta penilaian para penduduk desa. Jika Wulan sedang hamil. Sementara statusnya adalah masih suami orang. Donny baru menyadari perbuatannya, jika yang sudah mereka lakukan akan menyulitkan kehidupan Wulan.
Lima bulan berlalu semenjak perpisahan mereka. Donny termenung di camp tentara. Dia sedang beristirahat. Untuk paginya siap dikirim ke medan laga. Kali ini, kekuatan tentara pemberontak Anggur Merah sudah melemah.
Pasokan senjata dan logistik sudah tidak disuplai lagi oleh negera api. Sewaktu mereka mendapat sangsi internasional, karena membantu pemberontak. Donny teringat pada saat perpisahan di peron kereta.
Saat itu, Wulan bukan hanya menangis dan memberitahukan kehamilannya. Dia juga memberikan kalung buatan tangannya. Kalung yang indah bertuliskan nama inisial mereka.
Sungguh romantis. Kalung itu lah yang selama ini sedikit bisa mengobati kerinduan Donny akan sosok Wulan. Karena memang itulah tujuan Wulan membuat dan memberikan kalung itu kepada Donny. Agar Donny selalu mengingatnya.
Tidak melupakannya barang satu hembusan napaspun. Selama hidupnya. Donny bersiap-siap terlelap tidur. Persiapan untuk pagi besok. Target kali ini adalah perbatasan di tepi barat. Daerahnya bukit-bukit subur.
Alangkah senangnya Donny. Karena jika mereka berhasil menang lagi. Maka posisi pemberontak akan semakin terpojok. Jika terus melawan, mereka akan dimusnahkan. Jika menyerah mereka akan menjadi tawanan.
Ke semuanya itu, akan bermuara di desa Kayu Manis. Desa tempat Wulan tinggal. Jaraknya hanya sekitar duapuluh kilometer dari perkiraan lokasi pertempuran nanti. Alangkah herannya dia dalam hidup ini.
__ADS_1
Lima bulan berkeliling berjuang menumpas pemberontak, dengan mengelilingi negeri. Berakhir di tempat dimana ia ingin menua bersama dengan seorang gadis. Ia pun meletakkan kepalanya di bantal. Hendak tidur.
Namun, belum ada lima menit dia tertidur. Alarm tanda bahaya berbunyi. Ada apa ini? Apakah ada serangan dari tentara pemberontak? Hampir ditengah malam begini?
Ternyata benar. Ini serangan gerilya dari tentara pemberontak. Pasukan pemerintah yang sedang tertidur kocar kacir dibuatnya. Karena nyaris tanpa persiapan apapun.
Donny keluar dari tendanya. Sebelum sebilah obor dilemparkan ke atas tenda istirahatnya. Dia berusaha memahami situasi dan berusaha mencari senjata yang bisa dia pakai untuk mempertahankan diri.
Hanya sebilah pisau yang ada di celananya. Tapi bagi Donny itu sudah lebih dari cukup. Satu per satu dengan keahliannya Donny membantai para pemberontak yang menyerang camp nya.
Bahkan dia menantang seorang pemberontak yang menaiki kuda. Tapi pasukan pemberontak yang menaiki kuda itu, bukanlah orang sembarangan. Dia Sofyan, wakil pimpinan pasukan pemberontak.
Buronan yang paling dicari di negeri ini. Sebelum pisau Donny menusuk pahanya. Dia menenadangnya. Terpentalah pisau itu entah kemana. Lalu dengan cepat dia mengeluarkan pistolnya. Hendak menembak Donny.
Dengan sigap Donny menepisnya sebelum pelatuknya dia tekan. Namun dengan sigap juga Sofyan mencekik leher Donny. Dari perkelahian mereka, membuat kuda yang ditunggangi Sofyan menjadi ketakutan dan panik.
Menjadi menahan tangan Sofyan agar tidak lepas dari lehernya. Agar mereka bisa jatuh bersama-sama ke jurang tersebut. Karena sudah tidak ada lagi cara yang terpikirkan Donny untuk menghabisi Sofyan.
“Lepaskan tanganmu, brengsek,” ujar Sofyan.
Donny hanya tersenyum, dan berkata. “Tidak akan pernah.”
Namun malang nasib Donny. Di tepian jurang, ternyata Sofyan berhasil membuat kudanya berhenti dengan cara menusuk sebilah pisau ke paha kuda bagian kanan depan. Secara otomatis, kuda pun jatuh terpelanting.
Sofyan tertindih kudanya sendiri. Kepalanya terbentur batu pegunungan dengan amat kerasnya. Hingga nyawanya pun tak tertolong. Sementara Donny. Dia tetap terpental jatuh ke dasar jurang.
Pertempuran itu berakhir dengan kemenangan pasukan pemerintah yang dibantu oleh warga setempat. Komandan pasukan pemerintah meminta para anggotanya untuk mendata siapa saja pasukan yang gugur di medan pertempuran kali.
__ADS_1
Tujuh hari sebelum kejadian ini. Pagi hari di desa Kayu Manis. Pecah oleh tangisan haru dari seorang gadis muda yang sedang mengandung anaknya berusia sekitar enam bulan. Dia ditampar dan dilempar oleh keluarganya.
“Dasar ******. Wanita tidak tahu diuntung,” ujar Carla.
Dia adalah Ibu dari Huda. Alangkah murkanya ia begitu mengetahui menantunya yang sudah hampir satu tahun ditinggal anaknya itu. Bisa tiba-tiba hamil.
“Wulan, sungguh kamu telah melakukan sesuatu yang mungkar,” ucap Harun.
Ayah dari Huda, sekaligus pemimpin desa ini. Dialah yang bersih keras menyuruh Wulan untuk menunggu Huda. Ia berpikir, jika mayat anaknya belum diketemukan. Maka anaknya masih hidup.
“Nak, sungguh ayahmu bukanlah seorang penjahat dan ibumu bukanlah seorang pezina. Tapi mengapa kamu berbuat demikian,” ujar Shaleh.
Paman dari Wulan, yang merawatnya setelah kedua orangtuanya wafat. Mendapati kemenakannya berbuat aib seperti itu. Sunggu amat pedih hatinya. Dia sendiri tidak bisa berbuat apa-apa.
Karena pengaruh dan jabatan dari Harun amatlah kuat di desa ini. Pada akhirnya, Shaleh hanya bisa meratap. Saat keluarga Harun dan para warga. Memasung Wulan disebuah rumah kosong tak berpenghuni di sudut desa tersebut.
Kedua kakinya dirantai dengan belenggu besi pada sebuah pokok pilar di rumah kosong itu. Dia hanya diberi makan dan minum seadanya. Tempat istirahatnya hanya beralaskan tikar pandan yang kasar.
Atap rumah yang bocor, jendela yang rusak. Serta hewan-hewan pengerat yang terkadang menggerogoti kakinya. Serta kualitas udara yang buruk.
“Aduhai, jika bukan karena anak ini dan janji kami berdua. Alangkah baiknya aku mati saja.”
Wulan merintih. Dia menangis dalam sepi, dan berharap agar Donny juga melakukan hal yang sama untuknya. Bertahan pada janji mereka berdua, yang bahkan mereka tidak tahu kapan keadaan ini akan segera berakhir.
Kapan perang ini akan usai. Sudah tiga hari berlalu. Terdengar kabar dari warga yang lalu lalang melewati rumah pasung Wulan. Suara desas desus dari para warga menembus tembok beton rumah tersebut.
Memberitahukan Wulan jika pasukan utama pemerintah sedang ada di perbatasan tepi barat. Jaraknya, tidaklah jauh dari desa Kayu Manis tempat dia tinggal. Rencana melarikan diri Wulan dimulai. Rencana untuk menemui kekasihnya.
__ADS_1