
“Aku hendak pergi!” ucap Yaasin kepada istrinya di tenda pengungsian.
“Hendak pergi kemana?” tanya istrinya.
“Aku akan membebaskan tanah ini dari tangan penjajah,”
Istrinya terdiam dan tertunduk, karena apa yang dikehendaki oleh suaminya itu adalah sesuatu yang mulia. Dia tidak bisa menahannya. Apalagi memakinya dengan alasan jika dirinya dan anaknya juga membutuhkannya. Namun, tanah airnya lah yang lebih membutuhkannya.
“Jika aku kembali, bersyukurlah itu karunia dari Tuhan. Namun, jika aku tidak kembali. Tolong kamu tidak perlu mencariku. Tolong kamu jaga saja anak kita,” ucap Yaasin.
Dia mengatakan itu semua tanpa menoleh ke belakang. Karena dia takut, jika dia menoleh. Airmata akan tertumpah, dan keinginannya untuk berjuang akan runtuh. Dia berangkat menuju medan perang. Bergabung dengan para pemuda lainnya. Bergabung dalam satu barisan yang sama.
Hasrat kaum-kaum muda yang tidak akan pernah goyah dan letih, untuk memerdekakan tanah ini. Mereka rela mati bermandikan darah mereka sendiri. Meninggalkan orang-orang tersayang dan harta benda mereka.
Asal tidak menjadi budak hamba-hamba musuh. Musuh yang dulu datang memohon perlindungan, layaknya anjing kelaparan. Kini malah berubah serakah menjajah seperti serigala ******.
Aku kisahkan sebuah riwayat, pada kalian wahat sahabat. Kisah yang sudah bertahun-tahun lamanya terjadi. Kisah yang membuat hati ini bersedih dan mata ini menangis. Di sebuah tempat dimana kemuliaan dan keagungan terletak pada tempat yang sama.
Bukit-bukitnya yang indah. Udaranya yang segar. Tanah-tanahnya yang dulu sering dipijak para Nabi. Hasil alam yang melimpah. Semua penduduknya aman sentosa, dalam keadaan baik dan dihormati.
Namun kini. Karena merekalah kami berduka. Sungguh, ummat ini sedang sakit. Satu golongannya tertidur karena perdamaian palsu, dan segolongan lainnya disibukkan oleh masalah duniawinya.
__ADS_1
Pemerintahan yang korup dan perang saudara yang berlangsung lama. Membuat mereka sendirian melawan penjajah dan antek-anteknya. Hingga hati ini bersedih dan menangis melihatnya. Lalu aku ingat pemandangan ini.
Disebuah tenda kecil di areal pengungsian. Hayyat dan anaknya, Mahmud. Sedang bersantap roti kering sisa kemarin. Mahmud baru saja tersadar dari istirahat panjangnya. Anak kecil berusia tujuh tahun ini. Nyaris tewas terkena ledakan rudal saat dia hendak pulang kerumah, sehabis mengaji dengan para anak-anak seusianya, dimasjid dekat rumahnya.
Pada saat Mahmud terbangun, dia sudah ada diranjang rumah sakit darurat. Hampir seluruh tubuhnya diperban sana sini. Sempat bingung kenapa hanya ada ibu yang mengurusnya. Kemana ayahnya tercinta yang tampan rupawan itu, yang senyumnya sungguh membuat Mahmud kecil merindu.
Setelah pulih, Mahmud tidak dibawa kerumah. Melainkan ke pengungsian. Karena rumahnya telah hancur di bom oleh pesawat-pesawat penjajah. Di sudut tempat pengungsian. Mahmud hanya bisa mengelap airmata yang mulai menetes di pipinya. Baru kali ini dia hanya bisa melihat teman-teman seusianya bermain. Tanpa dia bisa ikut bermain juga.
Itu bukan tanpa alasan. Mahmud kehilangan hampir separuh kaki kanannya karena ledakan rudal yang terjadi di dekat masjid tempat dia mengaji. Dokter terpaksa mengamputasi kaki kanannya untuk menyelamatkan hidup anak kecil ini. Sebab hanya itulah satu-satunya cara untuknya.
Ditenda pengungsian ini, Mahmud dan yang lainnya lebih sering lapar daripada kenyang. Lebih sering terjaga daripada tertidur nyenyak. Lebih sering mendengar ledakan daripada kedamaian. Bahkan air bersih untuk sekedar mencuci muka pun jarang ada. Mereka hidup mengandalkan bantuan dari negara-negara tetangga yang masih peduli terhadap mereka.
Sudah tiga bulan semenjak kepergian ayahnya. Mahmud mulai menanyakan dimana keberadaan ayahnya. Ibunya bingung ingin menjawab apa. Dia hanya diam membisu setiap Mahmud menanyakan itu.
Di hari-hari berikutnya sungguh tiada hari tanpa Mahmud menayakan dimana ayahnya. Jawabannya, masih hampir sama dengan hari-hari sebelumnya. Ibunya hanya terdiam mematung. Ayahnya pun tak kunjung pulang. Meninggalkan tanda tanya besar di hati anak kecil itu.
Di hari-hari berikutnya. Mahmud mulai menangis-nangis sebentar. Mahmud juga tidak paham mengapa dia bisa menangis, yang dia mulai paham dan jadi pertanyaan, dimanakah ayahnya? kemana beliau?
Dengan teganya meninggalkan mereka berdua seperti ini. Di hari yang lain. Kondisnya masih belum ada perubahan. Ibunya masih berdiam dan membisu jika Mahmud menanyakan ayahnya. Sementara Mahmud semakin lama. Semakin banyak mengajukan pertanyaan kepadanya.
“Wahai Ibu dimana ayahku? aku rindu. Aku ingin melihat wajah tampannya?” tanya anak kecil itu penuh dengan perasaan dan harapan akan ayahnya.
__ADS_1
“Wahai Ibu jika ayah masih hidup. Dimana tempat ayah sekarang? aku minta alamatnya. Aku mau menemui ayah. Aku ingin menunjukkan hapalan-hapalan Al Qur’an ku kepadanya,” ucapnya lirih.
Pertanyaan itu juga sekali lagi hanya dijawab dengan isak tangis oleh Ibunya. Hingga Mahmud bertanya lagi dengan sebenar-benarnya pertanyaan seorang anak yang sudah mengikhlaskan kepergian ayahnya.
“Ibu dimanakah ayah? Jika sudah meninggal. Dimana kuburnya? aku ingin ziarah dan berdo’a untuknya. Semoga Allah menjadikanku termasuk golongan orang-orang yang bersabar,” ucap Mahmud dengan tangis.
Kali ini. Ibunya menangis dengan sejadi-jadinya. Dia mengajak anaknya keluar untuk menuju ke areal pemakaman para pejuang, dan berkata, “Ayahmu telah syahid, Nak. Beliau telah bersama kekasihnya. Nabi Muhammad SAW, sedang bercengkrama di dalam surga. Di tepi Telaga Kautsar. Ini adalah rumahnya sekarang. Ayahmu sudah tak terdengar, dan tak tersentuh lagi.”
Mahmud yang saat itu belum bisa terlalu paham. Hanya bisa diam. Tanpa tangis tanpa kata hanya berdo’a agar Allah menerima semua amal ibadah ayahnya. Menempatkan yang layak di sisi-Nya, dan membalasnya dengan balasan surga. Karena ayahnya adalah orang baik dan suka bershalawat kepada baginda Nabi Muhammad SAW.
“Sudah nasibku. Ini kehendak Allah,” ucap Mahmud dengan airmata yang tertahan.
Setelah itu, Mahmud langsung minta diantarkan ke pasar kepada ibunya. Ibunya bertanya mau apa ke pasar?
Dengan lugu Mahmud menjawab, “Sungguh kini aku adalah anak yatim. Aku hidup dengan ibu dan tanpa ayah. Aku ingin menjemput rezeki. Aku mau mencari kerja untuk menafkahi ibu. Aku kuat dan aku sehat.”
Dijawab oleh ibunya, “Wahai anak bertuah, jangan berputus asa ini semua cobaan Allah. Bersabar dan tabah, Nak.”
Sabar dan tabah. Hanya kedua hal itulah yang bisa mereka lakukan saat ini. Serta berdo’a agar semua musibah janganlah datang lagi. Cepat-cepat pergi menjauh, agar tanah ini aman dan tentram kembali, tidak ada pertumpahan darah lagi.
Ohh, tanah yang tercinta. Tanah tempat diturunkannya nabi-nabi pilihan. Walau ummat ini sedang tertidur, walau bangsa ini sedang sakit, walau sendirian dan kelelahan. Terus berjuanglah, semoga Tuhan melindungimu.
__ADS_1
Karena kalianlah para Rajawali yang tidak akan pernah tunduk. Kecuali pada Tuhan semesta alam. Oh iya, para sahabat Maghribi. Apakah kalian tahu nama dari tanah itu?