
PUNYA BIJI PALING BANYAK
Cerita ini adalah, sepenggal kisah gue di kantor lama. Mulai dari hiruk pikuk di lantai satu, sepinya lantai dua. Keramaian lantai tiga sampai jauh di mata dekat di hatinya Pasar Minggu dan MT. Haryono serta kantor-kantor Cabang.
Untuk di lantai satu, bagian operasional. Kenangan yang paling keinget banget adalah sewaktu masih di Hayam Wuruk. Waktu itu baru sekitar dua minggu joint, gue udah diminta buat kelilingin exit clearance karyawan yang kabur tanpa berita.
Dengan semangat yang membara, berbekal ilmu yakin serta dukungan moral dari Ibu Inna, gue kelilingin exit clearance itu mulai dari bagian operasional. Sesampai di bagian oprasional, ruangannya gak tau kenapa lumayan sepi.
Saat itu cuma ada Pak Tigor, Pak Catur, Pak Albert dan Pak Yudi semuanya dalam tempat duduk yang saling berdekatan, tapi Alhamdulillah beliau semua tetep normal kok. Masing-masing sudah pada menikah dan punya anak.
Gue bilang mau konfirmasi exit clearance ke Pak Catur, tapi dia bilang tunggu dulu dan mempersilahkan ane duduk. Lalu disinilah malapetaka itu terjadi. Tiba-tiba Pak Tigor berkata dengan logat Bataknya (gue juga gak tau dia itu orang Batak apa bukan).
“Di sini yang terhebat, yang punya biji paling banyak,” ucapnya.
Astaga, apa gue gak salah denger? dia bilang ‘biji’? dan yang terhebat dari mereka adalah yang bijinya paling banyak? Yaa Allah ada di tempat macam apa hamba? Lalu siapa mereka sebenarnya, yang bisa mempunyai koleksi sampai bisa diadu paling banyak?
Gue bawa dua aja udah berat. Kemudian mata picik Pak Tigor mengarah ke ane. Dalem hati gue teriak, “Habislah kau Bii, punya lu bakal jadi rebutan mereka untuk mendeklarasikan siapa yang paling kuat diantara mereka.”
Andai di saat itu penyakit sapi gila gue bisa dikeluarkan. Tapi beberapa detik kemudian ane baru sadar. Kalo ane bukan sapi. Namun, gak lama kemudian Pak Tigor berdiri dan bilang ke Pak Albert, “Udah jam istirahat nihh Pak, udah boleh main yaa?”
Pak Albert selaku manager pun menjawab dengan anggukan. Huuffhh, syukurlah ternyata mereka memang lagi mau main game, dan kebetulan memang gue yang datengnya mepet banget sama jam istirahat.
Gue masih penasaran game apa itu sebenarnya, namun yaa sudahlah. Lupakan, yang penting ‘punya’ ane aman. Itulah kenangan yang paling keinget di bagian operasional, yang dulu sampai sekarang orangnya tetep asik-asik dan bersahabat.
Hingga pindah ke Duren Sawit dan nambah beberapa Departemen. Lantai satu operasional tetep keren. Walaupun orang-orangnya tetep hasil dari kawin silang antara kertas HVS dan gunting rumput. Weeww.
__ADS_1
SELAMAT JALAN KAWAN
Minggu ini tanggal 13 Desember 2015. Tercatat sebagai hari yang cukup membuat hatiku bersedih dan air mata ini berlinang. Karena pada hari ini aku kehilangan salah satu teman sepermainan dan satu pemikiran denganku.
Teman yang kuat, rendah hati, pembela yang lemah, cerdas namun cenderung pendiam. Aku punya beberapa bait puisi untuk melepas kepergiannya. Aku membuat puisi ini dengan air mata yang tertahan dan rindu yang membuncah terhadap setiap kenangan ketika bersamanya.
Terlepas sudah genggaman tanganku. Putus sudah kebersamaan ini. Saat kau pergi. Aku kehilangan jati diriku. Mengapa hatiku berdebar. Mengapa aku meneteskan airmata. Mengapa aku merasa kehilangan dirimu.
Aku adalah jalanmu. Kau adalah kafilahku. Saat mencari rumahmu. Aku justru menemukan tempat tinggalku. Aku adalah ucapanmu, dan kau adalah hatiku. Saat kau tak bicarapun. Aku bisa mendengarnya. Sejak bersamamu. Aku menjadi mampu, yang sulit menjadi mudah dan yang jauh menjadi dekat. Selamat jalan kawanku,****Ultraman 3***.*
Semoga jasa-jasamu akan selalu dikenang di Bumi ini dan aku akan selalu berziarah ke makammu jika ada waktu. Karena jarak dari Grogol ke Tokyo lumayan jauh. Apalagi kalo ditempuh dengan cara ngesot sambil ngupil.
Ditambah lagi, gak ada yang jemput dan antar. Karena Kakek Sugiono lagi sibuk syuting kejar tayang film horor. Jadi aku hanya bisa berucap. Sampai jumpa di keabadian, kawan. Kami akan selalu mengenangmu.
Gue akuin, gue memang jarang banget mengobrol sama adek gue yang paling bungsu. Karena gue berangkat kantor terkadang sebelum dia bangun, dan pulang kantor juga terkadang di saat dia sudah terlelap tidur.
Namun di suatu pagi hari selesai Shalat Shubuh. Tiba-tiba gue meliat Ahsan lagi duduk termenung di depan pintu. Wajahnya polos, tatapan matanya kosng. Lagi kenapa tuhh anak? Duduk diem aja di depan pintu.
Gue menghampirinya, dan meliat ada sesuatu yang menancap di ujung jari telunjuk tangan kirinya. Seperti serpihan kayu yang menusuk. Pikir gue, kayaknya dia kesusuban kayu. Gue berkata, “Ahsan kenapa? kesusuban yaa? tolong tahan sakitnya sebentar yaa.”
Gue ambil tangannya. Gue sentuh dan gue cabut sesuatu yang ada di ujung jari telunjuknya itu, dan ternyata. Itu bukan serpihan kayu. Melainkan itu upil yang masih becek-becek licin. Sial dangkalan banget ini anak.
“Ahsan mau tidur lagi ahh,” ucapnya kemudian.
__ADS_1
Dia cuma berkata itu, berjalan menjauh ninggalin gue yang masih terpana karena kelakuan bocah ini. Ternyata memang benar kata Izul. Bocah yang satu ini jangan terlalu dimanja dan disabarin.
IKUTAN LONCAT
Di sebuah rumah sakit, ada begitu banyak wartawan yang ingin meliput berita yang cukup menggemparkan kota ini. Bagaimana tidak menggemparkan. Berita itu adalah tentang tiga orang pemuda yang kompak bunuh diri.
Dengan cara loncat dari atap gedung bertingkat lima. Entah nasib mereka yang kurang beruntung, atau hidup yang masih sayang kepada mereka. Ketika mereka loncat, berharap tubuh mereka menghantam aspal.
Nyatanya ada tiga mobil juga yang tepat berada dibawah mereka. Menyebabkan mereka hanya luka-luka saja. Tidak sampai membuat mereka bertiga, menghadap Sang Pencipta dengan cepat. Satu minggu telah berlalu.
Kini ada reporter yang berkesempatan untuk mewawancarai mereka. Si reporter menanyakan kepada mereka bertiga, alasan mereka kenapa ingin mengakhiri hidup ini. Padahal mereka masih muda. Jalan mereka masih panjang.
“Alasan saya ingin bunuh diri, karena saya diputusin sama pacar saya, Mas,” ucap Jacky dengan nada sedih.
“Ohh, begitu, yang sabar yaa, Mas,” ujar reporter.
Kemudian, si reporter menanyaka kepada si pemuda yang lainnya. Pemuda ini terluka cukup parah di kaki dan tangannya. Masih dengan pertanyaan yang sama, “Mas alasan ingin bunuh dirinya kenapa?”
Si pemuda bernama Badha ini pun menangis dan menjawab, “Tunangan saya selingkuh, Mas. Lebih menyakitkannya lagi selingkuhannya itu ayah saya sendiri.”
Si reporter merasa iba dengan pria bernama Badha ini. Tragis sekali kisah cintanya, wajar jika dia ingin mengakhiri hidupnya. Lalu dia bertanya ke pemuda yang ketiga. Pemuda ini sedari tadi cuma celingak celinguk melihat kedua temennya di wawancara.
Si reporter bertanya kepada pemuda bernama Fatih tersebut, “Untuk Mas sendiri, alasan bunuh dirinya sama yaa dengan mereka? karena permasalahan asmara?”
Fatih menggeleng lemah menjawab asumsi dari reporter tersebut. Si reporter bingung. “Lalu alasan Mas, ingin bunuh diri apa?” tanya reporter.
__ADS_1
“Saya cuma ikutan nemenin dua temen saya aja. Soalnya kesian kalau gak ditemenin,” ucap Fatih enteng.
Membuat si reporter hilang akal, dan akhirnya berhenti jadi reporter. Memilih beralih profesi menjadi dukun santet.