Istirahat Sebentar

Istirahat Sebentar
Wulan dan Donny (Airmata Wulan)


__ADS_3

Rencana melarikan diri Wulan dimulai. Ke esokan harinya, di setiap pagi sekitar jam delapan. Ada seorang yang akan membawakan makanan untuk Wulan. Dia juga yang membawa kunci rantai yang membelenggunya.Malam ini sudah larut.


Namun matanya tidak jua terpejam karena lelah. Dia terus mengusap-ngusap perutnya. Sambil membayangkan nanti jika rencananya berhasil, dan dia bertemu dengan Donny. Dia juga mencium-cium kalung yang dia buat untuk mereka. Kalung bertuliskan huruf depan nama mereka.


Kalung yang sama, yang dia buatkan dan dia berikan juga untuk Donny. Sebelum dia berangkat ke medan peperangan. Dia tidak peduli lagi terhadap perang yang sedang berkecamuk. Satu hal yang dia pedulikan saat ini adalah pertemuan kembali dengan kekasihnya, Donny. Pagi pun menyapa kembali.


Teriknya amatlah luar biasa. Namun justru cuaca yang seperti inilah yang dibutuhkan Wulan untuk memuluskan rencananya. Dia menunggu dengan tak sabar si pembawa makanan datang. Pintu diketuk, dan si pembawa makanan masuk. Dia adalah seorang wanita paruh baya yang angkuh.


Dia tidak pernah memperlakukan Wulan dengan baik. Semua makanan yang diberikan kepada Wulan adalah makanan sisa dari dia dan anak-anaknya. Padahal, jatah makan untuk Wulan sudah ditentukan oleh keluarga Huda. Tapi dia dengan sengaja mengurang-nguranginya. Dia menunduk, meletakkan makanan Wulan di bawah.


Dengan cepat Wulan langsung memukulnya dengan kayu hingga pingsan. Wulan lalu mencari-cari kunci rantai di saku baju dan celana dari si pembawa makanan. Ketemu, syukurlah. Wulan lalu membuka rantai yang membelenggunya. Dia juga menyimpan beberapa makanan yang diantarkannya dalam pakaiannya dan kantong.


Untuk dia makan nanti di perjalanan. Dia pun memakai sandal, mengambil jaket hangat si pembawa makanan. Lalu, buru-buru membuka pintu. Tanpa memeriksa kondisi diluar rumah terlebih dahulu. Ketika keluar dia hampir menabrak seseorang.


“Kamu mau kemana, Nak?” tanya Pamannya.


Dia cukup terkejut, menyaksikan Wulan yang bisa lepas dari belenggeu rantai besi itu. Dia menatap lamat-lamat anak dari kakaknya itu. Menatap anak perempuan yang sedari kecil tidak pernah mendapat kasih sayang orangtua.


“A—aku, ingin pergi, Paman,” ucap Wulan.


Shaleh tahu. Mungkin berita tentang para tentara yang membuat basis militer di desa tetangga, telah sampai di telinganya. Dia paham. Jika kemenakannya ini. Ingin sekali menemui kekasihnya.


“Pergilah, Nak. Jika ada tempat yang bisa memberikanmu kasih sayang. Melebihi apa yang kamu dapat disini,” ucap Shaleh.


Orangtua itu pun memberikan izin dan restu kepada kemenakannya. Dia melepaskannya dengan airmata yang tertumpah. Begitu pun Wulan, dia memeluk erat Pamannya yang sudah sangat baik mengurusnya. Satu-satunya keluarga yang dia punya di dunia yang kejam ini. Wulan pun pergi seorang diri.


Hanya ditemani oleh bayi yang dikandungnya. Dia berjalan menjauh dari penduduk desa ke suatu tempat di sebelah barat negeri. Dia dan kandungannya menyisihkan diri jauh dari desa tempat ia lahir. Sungguh berat dia pergi dari tempat kelahirannya itu. Namun mau bagaimana lagi.


Sebab para penduduk desa, terutama keluarga suaminya. Sudah amat sangat membencinya. Mereka menganggap dia sebagai aib keluarga dan pembawa sial untuk desanya. Wulan berjalan kaki menaiki dan menuruni bukit yang terjal. Menapak jalan-jalan yang kering dan basah selama berjam-jam.

__ADS_1


Sesekali terdengar suara desingan meriam dan lalu lalang pesawat tempur. Tapi dia tidak menghiraukannya. Dia terus berjalan dan berjalan. Sesekali juga dia istirahat. Bersandar pada pohon-pohon yang berbuah lebat.


Memakan bekal makanannya. Terkadang juga menggoyangkan atau menyambit-nyambit pohon buah. Agar jatuh buahnya, dan dia makan kemudian. Ia meminum air-air sungai yang dilewatinya. Kadang juga meminum air embun atau air genangan yang disitu ada banyak hewan-hewan serangga yang menepi di atasnya.


Salah satu indikator jika air genangan di hutan itu bisa diminum adalah. Ada banyak atau beberapa serangga yang suka hinggap atau berada di atasnya. Beruntunglah negeri ini memang cukup subur. Jadi penduduk dan orang-orang yang sedang terlantar seperti dia. Tidak khawatir akan kelaparan.


Karena berbagai macam tumbuhan sayur dan buah dapat dengan mudah tumbuh subur dan berkembang di negeri ini. Hanya saja musim salju di negeri ini lebih lama, dibanding dengancnegeri-negeri lainnya. Hingga penduduknya memberi ini Negera Salju.


Sudah sekitar tiga hari dia berjalan. Mengarungi hutan, perbukitan, pedesaan bahkan sungai. Panas dan dingin sudah dia lalui. Hujan dan terik sudah dia lewati bersama sang cabang bayi. Dengan berharap bisa bertemu dengan kekasihnya.


Bertemu dan berkumpul bersama dengan ayah dari cabang bayi, yang terkadang dia rasakan sudah bisa menendang-nendang di dalam perut. Apapun resikonya akan dia hadapi dan terima. Dia juga berkeyakinan jika Donny juga melakukan hal yang sama, seperti apa yang dia lakukan.


Hanya saja dalam kondisi dan situasi yang berbeda. Namun tetap dalam kenangan dan suasana hati yang sama. Pada hari ketiga perjalanan. Akhirnya dia sampai. Pagi hari itu terlihat agak menakutkan.


Langit terlihat seperti bewarna kemerahan. Orangtua-orangtua dulu percaya, jika langit paginya berwarna kemerahan.  Berarti di malam harinya, di daerah sekitar situ. Baru saja habis ada pertempuran besar. Wulan sampai di desa Kayu Putih.


Tempat para militer membuat basisnya. Dia melihat banyak lalu lalang warga sekitar dan para pasukan. Dia bertanya kepada salah seorang warga yang melintas di depannya.


Warga tersebut menjelaskan kepada Wulan. Bahwa di malam tadi ada pertermpuran besar antara pasukan pemerintah dan pasukan pemberontak, yang memakai taktik serangan gerilya. Serangan gerilnya tersebut berhasil dipatahkan oleh pasukan pemerintah.


Namun ada beberapa prajurit yang gugur, sisanya terluka. Sementara dari pasukan pemberontak banyak sekali yang mati, sisanya menjadi tawanan dan melarikan diri. Para pasukan pemerintah dari divisi utama dan cadangan. Saat ini sedang diminta mendata oleh komandan, siapa-siapa saja prajurit yang gugur tadi malam. Hati Wulan tersentak kaget dan cemas mendengar penuturan dari warga itu.


“Apakah dari prajurit yang gugur itu ada yang bernama Donny?” tanyanya.


Wulan terlihat sangat cemas, diliputi rasa takut yang teramat sangat dalam.


“Oh, maaf kalo itu. Aku tidak tahu. Tapi jika kamu keluarga dari salah satu prajurit. Cobalah naik ke atas bukit sana. Sebab mereka masih mendata dan mengumpulkan jenazah-jenazah prajurit yang gugur,” ucap warga.


Tanpa menunggu lama lagi Wulan langsung bergegas ke atas bukit. Tempat tadi malam pertempuran itu terjadi. Sesampainya di atas, dia melihat mayat-mayat bergelimpangan. Darah-darah segar mengalir. Wulan melemparkan pandangannya kesana kemari.

__ADS_1


Mencari kekasihnya. Jika dia masih hidup. Segera pertemukanlah dengan dirinya, dia sangat rindu. Namun jika memang sudah gugur. Izinkanlah dia melihat untuk yang terakhir kalinya, sebab dia sangat kehilangan.


“Maaf, disini bukan tempat umum,” tegur salah satu prajurit.


Wulan menatap pasukan yang menegurnya. Berharap dia tahu kondisi Donny.


“Apakah Donny masih hidup?” tanya Wulan.


Prajurit itu terdiam. Menatap Wulan dengan seksama.


“Apakah kamu keluarganya?” tanya balik si prajurit.


Wulan hanya mengangguk. Lalu prajurit itu membawa Wulan ke tepian jurang. Jurang tempat Donny terjatuh. Disana, sudah ada komandan yang sedang ikut memeriksa. Ada prajurit yang melihat.


Jika Donny jatuh ke jurang tersebut setelah berduel dengan Sofyan. Si wakil pimpinan pemberontak. Komandan juga menemukan sebuah benda di tepian jurang tersebut. Sebuah kalung dari tali sederhana, yang ada inisial D dan W. Inisial Donny dan Wulan.


Sang komandan dan prajurit yang lainnya hanya bisa menundukkan kepala. Saat Wulan menyambut kalung tersebut dengan tangisan yang pecah menyayat hati. Dia tersungkur di tepian jurang tersebut. Menangis sejadi-jadinya. Berteriak sejadi-jadinya.


Oh, Tuhan. Mengapa hidup begitu sulit baginya. Baru saja dia meneguk manis madu cinta, tapi kini sudah harus menelan pahitnya kehilangan. Wulan pun tetiba merasakan tubuhnya amatlah lemas. Kerongkongannya kering penuh dahaga.


Lalu, kesadarannya hilang. Wulan pingsan di tepi jurang tersebut. Esok hari kembali menyapa. Wulan yang terbangun menyadari dirinya sudah berada diranjang empuk dan kamar hangat salah satu warga, yang sudah baik hati mau menampungnya. Hatinya masih bersedih dan selalu bertanya.


“Oh Tuhan, mengapa hidupku seperti ini? apakah aku tidak berhak bahagia seperti yang lainnya.”


Komadan pasukan membentuk tim pencari untuk mencari Donny. Berharap bisa menemukannya dalam keadaan hidup. Atau minimal bisa menemukan jenazahnya agar dikebumikan secara layak dalam upacara militer.


Namun, sudah tiga hari pencarian. Tak ada tanda-tanda hidup atau mati dari Donny. Tim pencari tidak menemukan apa-apa. Bahkan secarik sobekan baju tidak ditemukan.


Tim sudah mencari sejauh hampir lima kilometer menyisiri sungai dan hutan di sekitar tempat kejadian. Hasilnya, nihil. Donny tidak diketemukan.

__ADS_1


Bagi Wulan. Apalah arti hidup ini jika yang dicintai dan mencintai sudah tidak ada. Hidupnya yang kering kini kembali kering dan kembali tidak bermakna. Kemana lagikah dia harus melangkah?


Apakah kembali ke desanya? Tempat dimana dia selalu dibenci dan dilecehkan. Ataukah ke tempat baru dimana tidak ada satu tujuan yang dituju. Juga tidak ada yang melindunginya dan menjamin nafkahnya beserta bayi yang dikandungnya. Harus kemanakah dia sekarang?


__ADS_2