
Jum’at di penghujung musim kemarau. Semua siswa kelas 3 SMA Negeri Jaga Diri, Jakarta Barat. habis melaksanakan Ujian Akhir Nasional dengan matapelajaran Matematika. Jauh dari keramaian hiruk pikuk siswa dan siswi yang saling mengobrol dan bercengkrama.
Duduk seorang pemuda tampan dan tinggi di pinggir lapangan sekolah, disamping masjid, dibawah pohon jambu susu yang rindang dan berbuah lebat. Pemuda itu duduk di bawahnya bukan karena sedang menunggu buah jambu susu itu jatuh.
Tapi dia sedang menggerutu dalam hati. Karena tidak mendengarkan instruksi dari kakaknya yang paling tua untuk berlatih latihan soal di buku matematika halaman seratus. Alhasil dia cukup kesulitan dalam menjawab.
Namun, itu telah berlalu, yang menjadi beban pikirannya sekarang bukanlah takut tidak lulus. Tapi takut nilai ujiannya tidak memenuhi harapannya. Dia orang yang perfeksionis dan sedikit kompulsif. Ada hal yang tidak sesuai sedikit saja, dengan apa yang dia harapkan. Moodnya akan jadi buruk, dan selalu kepikiran jika dia seharusnya bisa berbuat lebih baik lagi.
Taqiyudin Adi. Itulah namanya. Anak ketiga dari Adi Muhammad, pebisnis terkenal di Kota itu. Dia amatlah tampan, tubuh atletis, rambut bergelombang, matanya bulat dengan tatapannya yang tajam menyelidik, alisnya tebal dan seolah menyatu, hidungnya mancung, dagunya sedikit lancip dengan lesung pipi yang manis.
Dia juga salah satu siswa berprestasi disekolah ini. Dari kelas satu sampai tiga selalu masuk tiga besar peringkat terata,s dan sering juara 1 di kejuaraan beladiri capoeira. Kini moodnya sedang jelek.
Sekali saja menyinggung dia, apalagi menyinggung suara bicaranya yang mirip ******* perempuan. Akan langsung di hajar, tidak peduli itu golongan jin ataupun manusia, dan yang bisa memadamkannya hanya kedua orangtuanya
Tidak jauh dari tempatnya duduk. Ada seorang wanita yang sejak tadi memperhatikannya. Takut, sekaligus penasaran. Sudah sejak lima belas menit yang lalu menjalari pikiran dan tubuhnya.
Tapi, karena didorong oleh nafsu cinta dan jiwa yang ingin memiliki. Seorang gadis mungil nan cantik bernama Echa itu pun menghampirinya. Mencoba mengajaknya berbicara sambil berharap cintanya akan terbalas. Cinta yang sudah hampir dua tahun ini menyiksanya.
Echa gadis cantik nan pintar. Wajahnya manis, dengan rambut berponi dan kacamata yang selalu menemani penampilannya. Di balik tubuh mungil dan tampilan manisnya. Dia adalah seorang Ketua Osis yang galak.
Tercatat ada beberapa junior yang kedapatan merokok di kantin kena omelannya sampai ingin pindah sekolah. Tercatat pula ada dua orang seangkatannya yang menaruh hati kepadanya. Dia menolaknya dengan angkuh. Namun ketika di hadapan Taqi, semua pola tingkah keangkuhannya. Musnah dan hilang begitu saja.
“Taqi. Lagi apa?” tanyanya dengan lembut.
__ADS_1
Lalu, yang disapa dan ditanya hanya menoleh sejenak, dan kemudian memalingkan wajah kembali. Seolah tak peduli tehadap gadis cantik yang ada di sampingnya, yang datang dengan hasrat penuh cinta.
“Lagi sendirian yaa?” tanya Echa lebih lanjut.
Dengan nada yang sedikit lebih gugup dan bingung mau nanya apa. Karena melihat respon awal Taqi sudah seperti itu. Dia jadi takut untuk melanjutkannya.
“Berdua. Sama bayangan,” jawab Taqi ketus dengan tiba-tiba..
Echa sedikit tertawa. Sambil memberanikan diri duduk disamping Taqi lebih dekat. Namun Taqi nya malah sedikit menjauh menjaga jarak. Echa tidak sakit hati. Karena dia sudah biasa digitukan oleh Taqi.
Echa juga tau jika Taqi bukanlah orang dengan tipikal yang suka basa basi. Maka dari itu dia langsung to the point lagi untuk kali ini. Dia siap menerima semua jawaban yang akan diberikan Taqi kepadanya.
“Gimana tentang pertanyaan aku kemarin?” tanya Echa.
Karena setelah banyak soal pertanyaan Matematika tadi. Sekarang datang lagi gadis error yang menanyakan sesuatu, yang bahkan dia sendiri lupa. Membuatnya level jengkelnya dari tingkat kecamatan menjadi tingkat nasional.
“Pertanyaan aku kemarin siang dikantin. Kamu mau gak jadi pacar aku?” tutur Echa.
Echa tau mungkin saat ini bukanlah saat yang tepat untuk menyatakan cinta, karena sedang dalam masa Ujian Nasional. Tapi, cintanya tidak menghiraukan itu. Dia butuh jawaban. Dia butuh kepastian.
Njun memutar kedua bola matanya dan menghela nafas pendek. Ini sudah yang ke tiga kalinya dalam dua tahun terakhir Echa menyatakan cinta kepadanya. “Raa ….” ucap Taqi dengan lembut dengan logat desahannya yang sudah menjadi bawaan sejak lahir.
“Jawabannya, masih sama seperti yang sebelumnya,”ucap Taqi.
__ADS_1
Echa membeku seketika. Menunduk menahan tangis, namun dia berusaha kembali menegakkan kepalanya dengan rasa perih yang tertahan. Dengan bibir yang gemetar Echa berkata, “Alasannya masih sama juga seperti sebelumnya?”
Taqi hanya mengangguk singkat. Menatap Echa sekilas, kemudian meninggalkannya untuk bergegas Shalat Jum’at. Taqi meninggalkan Echa dengan luka hati yang nyaris bernanah karena tersayat mendamba dan menanti cinta darinya.
Berharap semua hal akan indah jika dia melakukannya bersama Taqi. Taqi yang dalam dua tahun ini selalu dia rindu. Angan-angannya jauh membayangkan menikah, hidup bersama, membesarkan anak-anak mereka, saling menemani di usia senja.
Namun Taqi, bahkan tidak mengingat kata-kata yang Echa ucapkan kemarin. Hatinya menangis, matanya berurai airmata. Ohh, Tuhan mengapa cinta sesulit ini baginya. Padahal dia memberinya semua senyuman dari bibirnya.
Namun Tqai tak pernah mempedulikannya. Sekarang dikatakan ataupun tidak dikatakan Taqi sepertinya tetap tidak akan pernah mengingatnya. Taqi yang dengan seenaknya melempar pesonanya.
Tetapi, ketika pesonanya dihargai dan dicintai. Dia pun pergi meninggalkan hati untuk dicaci. Maka disitulah cinta menjadi benci, karena jarak mereka hanyalah tergantung dari sakitnya perasaan hati.
Mulai terlintas dalam pikiran Echa. Apakah dia suka dengan wanita? Karena sudah cukup banyak wanita yang dia tolak mentah-mentah olehnya. Apakah benar gossip yang sedang beredar itu? “Yaa Tuhan, aku kira dia normal.”
Sebenarnya Taqi merasa kasihan juga terhadap Echa. Namun mau bagaimana lagi, cinta tidak bisa dipaksakan. Apalagi, ternyata Taqi sendiri telah jatuh hati kepada seorang wanita. Anak baru, pindahan sekitar enam bulan yang lalu.
Neea namanya, sungguh sempurna gadis ini bagi Taqi. Dia gadis yang amat sangat cantik dan menarik. Tubuhnya ideal dan sintal, wajahnya imut. Pipinya chubby dan kemerahan nampak alami, bibir dan hidungnya mungil. Tatapan matanya sendu. Alisnya tebal alami tanpa lukisan tangan. Sungguh amat sangat terpesona Taqi dibuatnya.
Dia juga mempunyai karakter yang sama dengannya. Taqi selalu dikejar oleh para wanita, dan cuek. Neea juga sama, dia dikejar oleh para pria sekolah ini. Namun dia cuek tak menanggapi.
Taqi merasa dia cocok dengan gadis ini, yang tanpa lama Taqi sudah dapat nomor kontaknya, dimana rumahnya, bahkan hampir hal-hal favoritnya. Semuanya dengan mudah dia dapat karena mereka satu kelas di IPA 1.
Semakin mengenal Neea. Taqi semakin suka dengan karakternya. Neea gadis yang mandiri, tidak bergantung pada pria, tegas, sedikit tomboy, jago karate dan pembawaannya tenang misterius.
__ADS_1
Berbanding terbalik dengan karakter Echa. Itulah yang menjadi alasan mengapa Taqi lebih memilih Neea. Namun hal itu langsung hancur lebur ketika dia mengetahui sisi lain dari gadis yang dia kagumi itu. Bukan sisi lain, tapi lebih tepatnya Neea yang sebenarnya.