
Namaku Radit, awal tahun ini. Adalah awal aku menjalani pendidikan profesi di salah satu rumah sakit di kota kecil Jawa Barat. Ini ceritaku saat aku sedang berada di bagian forensik. Curah hujan yang tinggi di akhir tahun ini.
Membuat rumah sakit ini, sedikit terendam banjir. Malam ini, aku sedang bertugas bersama salah satu seorang petugas jenazah. Aa Walid namanya. Orangnya tinggi besar dan rada kocak. Blesteran Sunda dan Arab.
Sehabis makan malam, perutku mules. Yaa ampun, berat banget cobaan hari ini. Kayaknya gak bisa ditahan lagi. Peess, perlahan tapi pasti ada gas yang sudah keluar dari lubang belakang. Untung saja gak sampai kedengaran suaranya.
Tiba-tiba ada bunyi lagi. Peess, ahh yang ini bukan punyaku. Baunya juga bukan. Punyaku baunya lebih ramah lingkungan, dan gak bau sangit gini. Baunya kayak tabunan ban dalem. Apa ada kabel yang kebakar atau apa yaa?
“Aa, ente kentut yaa?” tanya Walid.
Aku tersentak kaget. Kok dia tahu kalo aku kentut. Tapi sumpah, aku kentut cuma sekali, dan baunya pun ramah lingkungan. Aku pun menjawab pertanyaannya, “Iya Aa, tapi sumpah. Saya cuma sekali aja.”
Dia merespon ucapanku barusan. “Soalnya, ane juga daritadi nahan kentut, Aa,” ucap Walid dengan logat Sunda yang ke Arab-araban.
Sepertinya kami berdua sama. Sama-sama habis makan, terus mules. Dia daritadi nahan kentut, ehh malah jadinya betahak. Jadi yang tadi itu kecium baunya kayak tabunan ban dalem itu, betahaknya bukan kentutnya.
Jadilah kami dua orang pria tinggi besar yang sama-sama mules. Mau bab tapi gimana caranya? Terus bersihinnya juga gimana? Aku orang baru disini, dan kondisi rumah sakit ini juga sedikit terendam banjir.
Bahkan aku lihat sekilas tadi, pada saat hendak ke ruangan ini. Dua toilet terendam banjir. Mau ke toilet lantai dua, info dari Walid sedang diperbaiki. Mau ke toilet lantai tiga, jauh banget. Nanti yang ada malah keluar duluan di lift.
Seolah bisa membaca apa yang ada di dalam pikiran dan hati ini. Walid mengajakku untuk mengikutinya. Akhirnya aku ikutin rekan kerjaku yang gagah ini. Infonya sii, Aa Walid ini orangnya cuek dan pemberani.
Tapi cenderung nekat, sableng dan bahkan bisa dibilang sadis. Aku diajak keluar ruangan, berjalan gontai melewati genangan air-air banjir yang sepertinya semakin naik. Menahan perut sambil berharap selama perjalanan tidak ada satu pun ‘benda keemasan’ itu jatoh tanpa aku sadari.
Aku ikutin dia buat bab, dan gak tau kenapa kali ini aku nurut banget sama ini orang. Kami berdua menuju toilet masjid rumah sakit. Karena bangunan masjid kan tinggi banget, jadi toilet dan tempat wudhunya gak kerendem banjir. Airnya juga bersih. Bener-bener gak sia-sia aku ikutin si Aa Walid.
“Kok Aa Walid bisa tau banget, Aa?” tanyaku.
“Sama ini udah yang kedua kali, Aa. Ini rumah sakit kemasukan air banjir kayak gini. Maklum laah, resiko hidup di kota kecil dan rawan banjir. Jadi udah cukup biasa hadapinnya,” ucap Walid.
“Ouww pantesan,” ucapku singkat.
Dia bercerita, waktu pertama kali dia bab di masjid ini. Dia agak ngeri, soalnya waktu lagi bersih-bersih. Tiba-tiba kurung batang yang ada di pojokan masjid goyang-goyang sendiri. Saat aku tanya kenapa bisa kaya gitu. Walid hanya enteng menjawab, “Yaa takdirnya emang kayak gitu kali, Aa.”
__ADS_1
Yaa ampun, simple banget jawabnya. Mana tadi itu kurung batang aku pegang-pegang. Astaga, bener-bener sableng yaa ini si Walid. Tapi, akhirnya lega juga si. Untuk selebihnya aku akan mikir dua kali kalo mau makan pedes-pedes di malam hari.
Apalagi pas banjir dan kebagian jadwal kayak gini. Beruntung gak dalam kondisi hujan. Kalo hujan juga pasti nambah ribet tadi. Kami berdua pun kembali ke ruang jenazah. Lebih tepatnya di ruang istirahat dokter jaga.
Untuk membunuh waktu dan ilangin suntuk, aku menonton televisi yang ada diruangan tersebut. Berjaga, siapa tahu ada pasien yang datang untuk diminta visum atau otopsi. Kebetulan masih dalam euphoria Piala Dunia 2022 di Qatar. Jadi seru, apalagi jadwal pertandingan malam ini.
Belanda melawan Argentina. Messi bertemu dengan Van Dijk, di jam dua dini hari nanti. Pertandingan yang jam sepuluh juga masih belum selesai. Pertandingan yang mempertemukan antara Kroasia melawan Brazil.
Brazil mesti goalin sebelum adu penalty. Soalnya kalo sudah sampai adu penalty, biasanya Kroasia yang menang. Malam semakin larut, waktu sudah menunjukkan jam dua belas lewat lima belas. Ini mahh pasti bakalan adu penalty.
Aku mengecilkan suara televisi. Karena kedengaran agak kencang tadi. Baru aku kecilkan suara televisi. Aku dikejutkan oleh seperti suara orang berlari dan menggedor pintu ruangan. Padahal saat ini.
Hanya ada aku dan Aa Walid yang lagi rebahan main game online. Gedoran pintu itu, semakin keras hingga membangunkan Aa Walid juga dari rebahannya. Bahkan bukan hanya menggedor-gedor pintu.
Orang tersebut seperti berteriak. “Cek kuring bener! Abdi tidak mati ngalelepkeun. Abdi tiwas.”
Suara itu terdengar amat sangat jelas, diantara suara gedoran pintu yang juga keras. Aku yang kurang paham bahasa sunda, bertanya kepada Aa Walid, “Itu artinya apa, Aa?”
“Artinya, periksa saya dengan benar! Saya tidak mati tenggelam. Saya mati dibunuh,” ucap Aa Walid.
Aku tidak sempat melihat wajah orang tersebut. Aku hanya melihat bagian punggungnya saja. dia seorang wanita. Usia sekitar tiga puluh tahun. Tubuhnya gemuk berisi, rambutnya panjang hingga sepinggang. Dia mengenakan kaos santai merwarna merah dan celana pendek jeans di atas lutut.
Aku berusaha mengejar wanita itu. Namun, dia cepat sekali. Wanita itu pun tiba-tiba menghilang. Setelah hilang dari pandangan mata, aku berinisiatif mengecek ke security. Saat itu security yang berjaga bernama Pak Mail.
Karena bisa jadi, itu petugas jaga yang lain. Atau orang yang lagi nungguin pasien sakit. Atau bisa jadi juga, kenalan dari si Pak Mail. Saat aku temui, Pak Mail lagi asik main hp. Setelah mengucap salam, aku bertanya kepadanya.
“Maaf Pak, tadi ngeliat ada orang lari kesini gak?” tanyaku.
Si Pak Mail menjawab kalo sedari tadi dia berjaga. Gak ada orang yang mondar mandir keluar masuk di rumah sakit ini. Dia juga gak sedetik pun meninggalkan posnya. Dia selalu berjaga di pos sambil main hp.
“Waduuh, saya dari tadi jaga sambil main hp gak ada siapa-siapa, Aa. Memangnya kenapa?” ucap Pak Mail.
Mengetahui itu. Aku sangat terkejut. Karena aku berharap yang menggedor sambil teriak-teriak tadi adalah orang kenalan Pak Mail. Atau petugas juga, atau juga kerabat pasien yang sedang menunggu orang sakit. Lalu, siapa yang menggedor ruangan kami dan berteriak-berteriak tadi?
__ADS_1
Kali ini, Aa Walid pun ikut datang untuk membantuku mengkonfirmasi ke Pak Mail. Saat aku dan Aa Walid menceritakan kejadian yang baru saja kami alami. Pak Mail yang sudah cukup senior, sudah terbiasa dengan hal-hal seperti itu.
Sementara Aa Walid, dia juga baru mengalami hal yang sama seperti apa yang aku alami barusan. Pak Mail mengambilkan aku dan Aa Walid minum, dan kami pun sedikit saling bercerita. Hingga kami akhirya kembali ke ruangan masing-masing.
Waktu sudah menunjukkan jam satu dini hari. Aku melihat televisi, dan ternyata benar prediksiku. Brazil kalah adu penalty dari Kroasia. Sekarang tinggal pertandingan antara Belanda melawan Argentina.
Baru rebahan di tempat duduk, tiba-tiba saja telpon berdering. Aa Walid langsung mengangkat telpon tersebut. Lalu mengobrol sedikit dengan orang yang ditelpon. Setelah telpon ditutup. Aa Walid menginfokan kepadaku.
Bahwa akan ada jenazah yang dikirim dari kantor polisi. Jenazah itu akan dilakukan otopsi. Aa Walid langsung menelpon dokter forensik senior. Sementara aku, menyiapkan baju pelindung, dan peralatan untuk otopsi.
Tidak lama kemudian, sekitar setengah jam. Ambulans yang membawa jenazah tersebut datang. Diganosa pertama dari pihak kepolisian adalah. Jenazah ini mati karena tenggelam. Dengan kondisi wajah yang sudah membiru.
Kantong jenazah sudah dimasukkan ke ruangan. Berhubung dokter senior sedang izin ke toilet sebentar. Aku dipersilhakan untuk memulai duluan. Aku pun membukanya dan melihat wajahnya.
Aku merasa seperti pernah melihatnya. Sosok jenazah wanita ini, sama dengan sosok wanita yang berlari setelah menggedor-gedor pintu tadi. Wanita dengan tubuh gemuk berisi. Rambutnya panjang hingga sepinggang.
Dia mengenakan kaos santai merwarna merah dan celana pendek jeans di atas lutut. Tidak lama kemudian, dokter senior pun datang. Dokter bernama Wahid, yang sudah cukup lama bekerja dirumah sakit ini.
Kepada Dokter Wahid, aku menceritakan. Kejadian yang aku alami, sebelum kedatangan jenazah ini. Berbekal dari teriakan itu. Dokter Wahid dan aku sepakat untuk membuktikannya. Kemudian aku dan Dokter Wahid, melakukan tes paru apung positif.
Hasilnya adalah, jika jenazah itu ternyata. Bukan mati tenggelam, melainkan ditenggelamkan. Persis, sesuai dengan teriakan sosok wanita dipintu tadi. Setelah jam tugas selesai, aku diperbolehkan pulang oleh Dokter Wahid.
Sesampai di rumah, aku sempat menonton berita sebentar. Ingin tahu berita tentang hasil pertandingan antara Belanda melawan Argentina. Tapi belum selesai aku mendengar beritanya. Aku sudah keburu mengantuk.
Diantara keadaan sadar dan tidak sadar. Aku terngiang-ngiang dengan suara wanita yang menggedor-gedor ruangan jagaku tadi. Aku seperti mengingat-ingat jenazah yang baru aku otopsi.
Seperti wajah dan perawakannya. Kemudian aku berpikir, apakah jenazah itu memberikan pesan agar aku lebih teliti dalam memeriksa tubuhnya. Lalu, tak lama kemudian. Aku tertidur lelap di depan televisi.
Sosok wanita itu, mendatangiku dalam mimpi. Sosok wanita itu tidak lagi membelakangiku, tapi kali ini berhadap-hadapan. Sosoknya mirip dengan jenazah yang aku otopsi tadi. Dalam mimpiku, sosok itu tidak berkata sepatah katapun. Wanita itu hanya tersenyum manis kepadaku.
Setelah kejadian itu, aku terus mengikuti perkembangan penyelidikan dari jenazah itu. Terungkaplah, bahwa jenazah itu adalah korban dari istri pertama seroang pengusaha oleh-oleh jajanan ringan di Jawa Barat.
Motifnya adalah iri dan sakit hati. Karena suaminya lebih sering ke rumah korban yang di kota kecil, untuk menemuinya. Daripada menemui dan bersama dengan si pelaku, yang usianya sudah kepala lima. Pelaku berasalan, bagaimana dia tidak iri dan sakit hati.
__ADS_1
Usaha itu dirintis oleh orangtuanya. Lalu suaminya yang kini menjalankannya. Setelah sukses, malah menikah lagi dengan janda di kota kecil. Janda itu dia berikan rumah mewah dan mobil mewah dari hasil usaha orangtuanya tanpa sepengetahuannya.