
Jum’at pagi di awal bulan Ramadhan. Sepetinya semua akan berjalan baik-baik saja. Kondisi badan Anton sangat sehat walaupun akhir-akhir ini sering lembur hingga pulang larut malam malah terkadang kehujanan.
Cuaca baik. Langit biru menghampar luas dan sesekali awan putih cerah melintas diantaranya. Matahari tanpa ragu-ragu berdiri gagah di singgasananya untuk menyelimuti seluruh permukaan bumi dengan cahaya lembutnya di hari ini.
Anton tiba dikantor tepat lima belas menit sebelum jam masuk. Sempatkan diri Shalat Dhuha empat rakaat sebagai tanda syukur dan terima kasih sebab masih diberikan kesempatan untuk bisa beraktivitas di hari ini.
Lalu sebagai permohonan do’a agar dimudahkan dan dilancarkan segala urusannya di hari ini. Setelah selesai melakukan ritual paginya itu. Anton pun dengan semangat menyambut setiap pekerjaan dan segala dinamikanya di hari ini. Siap bertempur kalau istilah ksatrianya.
Begitu ada dihadapan komputernya dia mulai mengerjakan semua pekerjaannya. Tidak lupa menyapa teman-teman di samping kiri dan kanannya. Depan dan belakangnya. Hari pertama puasa ini dia amat sangat bersemangat.
“Pagi Dina. Pagi Katherin,” sapa Anton pada kedua rekan kerjanya itu yang paling akrab itu.
“Pagii,” kedua temannya itu balas menyapa.
“Mas Anton cerah banget hari ini,” lanjut Dina menambahkan dengan pipi tembem dan senyum gigi kelincinya yang imut-imut itu.
“Iya, kayaknya cerah dan ceria bingits hari ini,” tambah Katherin dengan mata sipitnya ikut menyapa.
Anton tertegun dibilang seperti itu oleh Dina dan Katherin. Dia meliat keadaan dirinya, terutama baju dan yang paling utama keadaan resletingnya. Semuanya dalam keadaan baik, mungkin memang hatinyalah yang dalam keadaan cerah.
Sehingga terpancar di wajahnya. Anton membalasnya hanya dengan senyuman simpul, karena bingung pengen bales dengan kata-kata apa. Di bilang biasa aja tapi dia terliat berbeda, di bilang berbeda tapi rasanya dia biasa aja.
Walaupun Anton adalah satu-satunya orang yang berpuasa dan beragama Islam di department ini, teman-temannya yang lain sangat menghormati dan menghargainya. Teman-temannya tidak ada yang makan, minum di depan Anton.
Sekitar dua jam bekerja dengan semangat juang bak pahlawan empat lima. Tiba-tiba entah dari mana perasaan itu muncul Anton tidak tau. Tiba-tiba dia teringat Arum dan tanpa diduga orang yang dipikirkan itu muncul, berjalan jauh dihadapannya.
Dia perlahan berjalan lembut selangkah demi langkah seperti ingin mengambil kitab suci di barat. Senyumnya dia tebar penuh dengan pesona, tak ketinggalan angin lembut ikut menerpa wajah indonya.
Hingga mengibarkan rambutnya yang hitam lurus. Suara lembut lirik dan musik India pun terasa terdengar melantun di telinga Anton.
Saaajnaa…aaa…(sayang).
Sejenak Anton larut dalam pesona keindahan itu. Sebelum panggilan dari Katherin membagunkannya dari khayalan, Katherin memberi info kepada Anton jika dia dipanggil Ibu Yuli ke ruangannya.
Sepertinya ada hal penting yang hendak ingin dibicarakan kepadanya. Sambil berdiri dan melangkah ke ruangan Manager Accounting, Anton masih curi-curi pandang memperhatikan Arum dengan pesonanya itu.
Arum memakai kemeja lengan panjang berwarna ungu, celana panjang hitam dan so pasti semuanya ketat. Membuat setiap lekukan tubuh indahnya sangat terliat jelas. Pagi itu Arum ke bagian finance pasti ingin membuat pengajuan bbk petty cash untuk cabang.
Dari dalam ruangan Anton masih bisa melihat Arum berbincang-bincang dengan seseorang di bagian finance. Aduuh wajahnya itu loo. Sempurna sekali, seperti tidak ada celah untuk dihina. Pembicaraan Anton dan Ibu Yuli berlangsung tidak lama.
Mereka hanya membicarakan tentang sekitar pekerjaan dan ada rencana untuk mengirim Anton keluar kota. Untuk membantu tim audit. Mengaudit cabang. Kurang lebih rencana itu bakal direalisasikan sehabis Idul Fitri.
Dua orang audit, satu perwakilan dari accounting dan satu orang lagi dari bagian HRGA serta used car untuk memeriksa stock mobil yang ada di cabang sana. Entah cabang mana mereka akan di kirim, nanti menunggu hasil keputusan rapat lagi. Apakah ada penambahan atau tidak.
Selesai dari ruangan itu, Anton celingak celinguk berharap Arum masih ada di bagian finance, namun nyatanya dia sudah tidak ada. Lalu yang terpikir oleh Anton bukanlah betah atau tidak nanti dia diluar sana.
Dua minggu perjalanan dengan destinasi Lampung, Bontang, Bali dan berakhir di Makassar. Bukanlah hal yang mudah untuk Anton yang seorang anak rumahan. Tapi bukan itu yang menjadi fokus perhatian Anton. Justru yang dia khawatirkan adalah bagaimana nanti jika dalam jangka waktu dua minggu itu dia tidak bisa melihat Arum.
Yaa Allah. Entah perasaan apa ini? Lagi-lagi Anton sungguh sangat tidak mengerti hal yang dia rasakan ini. Apakah ini benar-benar cinta? Mengapa yang terlintas dan terpikir selalu saja tentangnya.
Tanpa terasa sudah memasuki malam kelima belas Ramadhan, Witir sudah pakai kunut dan sebentar lagi juga sudah malam Nuzulul Qur’an. Sungguh zaman yang aneh, malam-malam Ramadhan yang indah serta syahdu cepat sekali berlalu.
Anton masih menjalani hari-harinya seperti biasa dengan tampilan dan semangat yang luar biasa. Bagaimana tidak? Hari demi hari dia semakin dekat saja dengan sosok Arum yang selalu dia tinggikan di hatinya itu.
Setiap shalat Dzuhur dan Ashar di musholla kantor mereka selalu bersama. Entah memang direncanakan oleh salah satu diantara mereka ataukah hanya kebetulan semata, hanya Allah yang tau.
Kawan-kawan mereka hanya bisa melihat jika sebelum shalat mereka selalu berjalan bersamaan, mengobrol, bercengkerama yang kemudian Anton menjadi imam shalat Arum. Awalnya Anton merasa gugup, kikuk dan merasa gak layak.
Tapi karena Arum yang selalu memulai duluan, Anton hanya mengikuti permainannya saja. Meski baru segitu aja tapi Anton girangnya sudah bukan kepalang. Hinga mulai terbesit di hati Anton pertanyaan.
“Apakah Arum sudah punya pacar?”
Sudah berhari-hari lamanya Anton ingin menanyakan hal itu pada Arum, namun takut. Takut karena secara tidak langsung pertanyaan itu adalah tanda jika dia menaruh hati kepadanya, dan ingin Arum menjadi kekasihnya.
__ADS_1
Intinya pada dasarnya dia takut jawaban yang keluar dari mulut Arum mengecewakan hatinya nanti. Karena tidak dapat dia pungkiri lagi, hatinya memang sudah tertambat pada sosok anggun nan cantik tersebut.
Namun entah pertanda apa ini? Ketika di siang hari yang panas pada bulan Ramadhan itu, sehabis menunaikan ibadah shalat Jum’at di masjid yang ada di sekitar pemukiman warga yang dekat dengan kantor tempat dia mencari nafkah.
Di lobi resepsionis dia bertemu dengan Arum yang terduduk sendiri sambil bertopang dagu. Anton yang meliatnya mendekati dan menegurnya. Sedikit basa-basi dia menanyakan apa yang sedang dilakukan oleh Arum di sini.
Arum yang sejak dari tadi memang menunggu kedatangan Anton. Ditengah lalu lalang orang baru balik istirahat dan mengerjakan shalat Jum’at. Arum amat sangat senang begitu Anton menegur dan bertanya demikian padanya.
Dia mulai bercerita jika hari ini dia tidak berpuasa karena berhalangan. Rasanya lemes banget. Dia ke resepsionis biar ada temen ngobrol, sebab resepsionis yang bernama Nanda ini memang sangat suka sekali ngobrol.
Saat ini dia sedang shalat Dzuhur dan sementara memberikan tanggung jawab menjaga resepsionis pada Arum. Arum menyebut alasannya tidak berpuasa dengan nada manja andalan dia seperti biasa. Jika dia sedang kedatangan tamu. Anton menjawabnya juga dengan nada candaan khasnya.
“Kedatangan tamunya ada berapa? Kalo lebih dari satu Kakak yang terima satunya lagi dehh,” ucap Anton.
“Yang dateng cuma satu, Kak. Jadi Kak Anton gak perlu repot-repot. Hahaha,” balas Arum
Lagi asyik mengobrol tiba-tiba datang anak bagian mekanik. Sok deket sama Arum dengan memanggil Arum pakai sebutan sayang. Bukan hanya itu pria Jawa dengan muka item berminyak itu juga memanggil Arum dengan sebutan Nyimas.
“Nyimas Arum lagi apa?” tanya mekanik bernama Pramono itu.
Sudah begitu main sapa Arum dengan panggilan nyimas segala. Memangnya sekarang ini lagi ada di Taman Keputren Hastinapura?
“Adduhh Nyimas bibirnya itu loo. Aku jadi pengen ngejambak,” tambahnya, makin jadi kurang ajarnya.
Arum yang mendengar itu cuma bisa diam sambil sesekali nyegir jijik ke arah Pramono. Sementara Anton berteriak dalam hati.
“*Kampret ini cebong! Kalo misalnya lagi gak puasa, sudah gue tombak ini jeroan nangka*!”
Anton mulai menghitung mundur apakah dia mau jadi Hulk atau Si Buta Dari Goa Hantu untuk patahin leher lengkuas Jawa ini. Rasa kesal Anton sudah mendidih hingga ubun-ubun. Ditambah lagi.
Bukan cuma itu, Pramono juga makin menjadi-jadi merayu Arum. Mulai dari bilang kalo Arum itu lebih cocok jadi artis atau jadi model. Ketimbang kerja jadi karyawan, yang dapat capek doang dan diomel-omelin.
Bilang Arum lebih cocok ikut Putri Indonesia dan membawa harum nama Indonesia di ajang Miss Universe. Segala macam pujian dia lontarkan ke Arum hingga akhirnya. Bibit parises ini bertanya.
“Nyimas Arusm udah punya pacar apa belum sii?” tanya Pramono.
*Jedeerr*.
__ADS_1
*Allahu Akbar*. Bagaikan suara petir di siang bolong. Kenapa malah spesies lemper langka ini duluan yang nanya kayak gitu. Pertanyaan yang sudah lama membenak dalam diri Anton. Tanpa berani dia ungkapkan.
Arum terdiam. Sedangkan Pramono menunggu jawaban, begitu pula Anton. Namun lama mereka menunggu jawaban. Arum tidak juga bersuara sampai Pak Syam, supervisor bagian bengkel memanggilnya.
Pramono menjawab panggilan supervisornya itu, ketika hendak meninggalkan lobi resepsionis dia masih bertanya dan berkata lain kali akan melanjutkan obrolan yang seru ini.
Dalam hati Anton, “*Serunya dimana? Orang pas diajak ngobrol sama dia aja, Arum cuma diam*.”
Tapi Anton juga penasaran banget tuhh sama jawabannya Arum. Selepas Pramono pergi, mereka kembali menyempatkan diri untuk mengobrol. Walau rasanya sudah berbeda karena ada intervensi dari Pramono tadi.
Mereka mengobrol hingga Nanda kembali dan jam besar di lobi resepsionis itu sudah menunjukan pukul satu siang pertanda jam istirahat telah selesai. Sebelum berpisah, saat hendak berjalan menaiki tangga.
Sebenarnya Anton masih penasaran banget sama jawaban Arum. “Dia udah punya pacar apa belum?”
Huuffhh… tapi yaa sudahlah. Saat baru dua langkah naik tangga Arum memanggilnya, dia menengok dan menatapnya. Arum pun tersenyum menatapnya, sambil berucap kencang.
“Kak Anton udah punya pacar apa belum!?”
Nanda yang ada disampingnya tertawa lebar sambil berkata, “Ciiieee.”
Anton kikuk, bingung, gugup hingga tergagap. Tidak tau apa yang harus dia katakan. “Emm gimana yaa,” tutur Anton.
Arum masih menatapnya menunggu jawaban. Nanda masih berkata, “Ciiieeee.”
“Emm… rahasia.”
Yaah. Cuma itulah jawaban yang keluar dari hasil berpikir cepat Anton selama sepuluh detik itu.
“Aiihh songong,” ucap Arum, dengan nada kesal.
Sementara Nanda tertawa tambah lebar di sampingnya. Sampai terbahak-bahak. Dalam tawa senyum bahagia. Anton membalikkan badan meninggalkan Arum yang memasang wajah dongkol.
Segera pergi kembali ke meja kerjanya untuk melanjutkan aktivitas. Namun di tengah aktivitasnya, dia berpikir dan coba menganalisa. Pertanda apa ini? Jangan-jangan Arum juga merasakan hal yang sama seperti yang dia rasakan selama ini.
Perlahan Anton mulai mengerti arti dari semua hal ini. Dari langit sana secara pelan-pelan ada suara yang berbisik pada Anton. Pelan, lembut namun jelas. Suara bisikan itu berbunyi.
*Jodoh*.
__ADS_1
\**cieeee*…\*